
Smesco Convention Hall.
19 pm.
Bising keramaian terus bergema di hall yang luas itu. Lelaki, wanita, anak-anak, semua terlihat gembira. Bagaimana tidak? Di panggung megah sana, tengah berdiri sepasang kekasih yang kini resmi menjadi suami-istri.
"Sialan, kamu." Wanita dengan postur pendek memukul pundak temannya."Kenapa ngajak aku ke tempat beginian, sih? Buang-buang waktu."
Wanita satunya, yang terkena pukul tadi, memutar bola mata jengah. Baru saja mereka sampai di depan pintu masuk, namun temannya ini sudah cerewet. "Ayo Sarah. Kita udah terlambat. Kamu terlalu banyak omong."
"Aku janji sama kamu Thea, ini yang terakhir."
Dua gadis yang nampak kontras itu segera memasuki hall. Mereka berdua memang berbeda jauh. Gadis yang bernama Thea tadi memiliki postur hampir sempurna. Tubuhnya tinggi berlekuk. Dress merah marun yang di kenakannya sangat cocok dengan tubuhnya yang sintal. Apalagi ukuran dress yang panjang namun terbelah di salah satu bagian paha, membuat benda putih mulus itu terbuka jelas ketika Thea berjalan. Sedangkan Sarah? Gadis ini hanya memakai celana jeans biru tua, dengan kaos putih bertuliskan "Slankers". Demi Tuhan! Ya, dia hanya memakai jeans dan kaos! Dan jangan lupa sepatunya. Bukan flat shoes apalagi heels. Hanya sneakers. Namun Sarah tetap berjalan cuek, padahal seluruh orang di hall ini memakai pakaian super mewah.
"Lain kali, kamu pake baju bener dikit kenapa, sih Sarah? Apa susahnya beli dress?" Sekarang Thea yang uring-uringan. Temannya ini benar-benar gila. Apalagi raut wajah Sarah yang innocent ditengah lautan manusia kaya itu semakin membuatnya ingin membakar Sarah hidup-hidup.
"Ini salah kamu. Aku nggak suka acara beginian. Terlalu glamour. Menghambur-hamburkan uang, tau!" Sarah mencoba membela diri walaupun yang menjadi pengantin wanita di sana adalah atasannya. Namun ia tidak terlalu kenal dan tidak merasa peduli sama sekali. Apalagi dia tidak kenal dengan pengantin prianya. Menyebalkan!
"Demi Tuhan, Sarah! Kamu ini salah satu tamu undangan VIP di sini! Kita mewakili perusahaan. Mereka menghargai artikel-artikelmu. Tunjukkan sikap menghargai kamu!"
"Kalau kamu mengajak aku kesini cuma mau menghina style-ku, lebih baik aku pergi. Lagipula aku nggak suka pamer tubuh." Sarah tersenyum mengejek sambil pergi menjauh. Meninggalkan Thea yang masih sempat menghujat,
"Pakaian kamu itu sama sekali belum bisa dibilang style, Sarah!"
🥀🥀🥀
Sarah berjalan perlahan sambil melipat tangan di depan dada. Kadang ia berjalan ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, persis seperti orang kebingungan. Sebenarnya orang yang melihatnya lebih bingung lagi. Bagaimana tidak? Lihat saja penampilannya yang seperti anak hilang. Tidak ada yang menyangka bahwa orang sinting bernama Sarah ini adalah wartawan muda berbakat dengan artikel-artikelnya yang kritis dan tajam.
"Kami sangat senang sekali kalian datang. Kami benar-benar berterima kasih atas kehadiran kalian." Suara wanita di atas panggung mengusik pendengaran Sarah. Wanita pendek itu segera menoleh ke panggung. Ternyata si pengantin perempuan yang berbicara.
Tadinya Sarah hendak pergi ke tempat lain. Namun matanya lebih dulu menangkap sosok tak asing di samping si pengantin wanita.
"Nggak mungkin..." Sarah menggeleng perlahan. Tubuhnya seakan membeku. Seluruh sarafnya tidak dapat berfungsi. Tidak salah lagi. Itu Ray. Lelaki itu benar-benar Ray. Lelaki yang selama seminggu terakhir hilang tanpa jejak.
Orang yang selama hampir 12 tahun ia cintai dalam diam.
"Kenapa kamu tega banget?" Suara Sarah teredam tepuk tangan riuh untuk pasangan berbahagia di depan sana. Ternyata Ray menghilang karena ini.
12 tahun.
12 tahun ia berjuang keras mendapatkan hati Ray.
12 tahun ia berjuang membuka mata Ray lebar-lebar, bahwa hanya ialah yang sanggup mencintainya dengan tulus.
12 tahun yang melelahkan untuknya menangis dan berlari mengejar cinta Ray yang setiap detik terasa kian jauh.
Sekarang, Ray sudah bahagia. Namun bukan dengan dirinya. Bukan dengan wanita jelek yang tidak tahu malu seperti dirinya. Harusnya Sarah sadar, apa yang lelaki sempurna seperti Ray harapkan dari dirinya? Wanita jelek dan tidak ada menarik-menariknya sama sekali?
Seharusnya aku sadar sedari dulu.
Sarah segera berbalik. Jangan tanya lagi soal matanya. Bulir bening sudah jatuh sedari tadi. Seberapa pun lelahnya punggung tangannya mengusap matanya, air itu tetap saja mengalir.
Bug.
Sarah menabrak seseorang. Ia meringis karena hidungnya sakit ketika benabrak benda keras di depannya. Saat tangannya meraba-raba benda di depannya, yang ia rasakan justru sesuatu yang bidang dan rasa hangat yang melingkupinya.
Eh? Ini dada siapa?
Mau tidak mau, Sarah mendongak. Matanya langsung menangkap wajah lelaki yang tengah menatapnya tajam. Matanya cokelat terang, dengan hidung lancip dan bibir tipis yang dikelilingi rambut-rambut halus hingga ke dagu.
"Maaf." Sarah segera pergi dari hadapan lelaki itu. Ia tidak peduli dengan tatapan aneh yang lelaki itu berikan.
Mungkin, setelah ini ia harus membeli banyak tisu. Karena ia yakin, dua tiga hari menangis sama sekali belum cukup menggantikan kenangan selama dua belas tahun.
¤¤¤