I'M Sorry For Being Ugly

I'M Sorry For Being Ugly
Sepuluh



Pagi ini masih seperti pagi-pagi yang biasa menurut Sarah. Ia bangun, mencuci muka, lalu pergi ke meja makan. Namun sebelum sampai ke meja makan, ia melihat ibunya tengah menyiapkan piring sarapan untuk Bapak, lalu untuk Pram. Ngomong-ngomong soal Pram, ia sendiri telah memutuskan untuk berdamai dengan monster itu. Awas saja kalau Pram berani mengingkari janjinya semalam!


Di meja makan kecil keluarganya sudah duduk Bapak, lalu disampingnya Ibu, dan terakhir tentunya orang yang paling ingin ia hempaskan yaitu Pram.


"Sarah, ayo makan sini." Ajak Bapak sumringah.


Namun Sarah hanya terdiam. Ia berharap kata-kata itu keluar dari ibunya. Sedetik kemudian ia sadar, menunggu ibunya berbicara padanya adalah hal yang sia-sia. Entah sejak kapan ia kehilangan sosok Ibu, dan tentu ibunya telah melepasnya dari status anak. Sungguh, ironi ini benar-benar mencekiknya.


"Sudah bicara dengan bapakmu, Pram?" Pak Sas memulai perbincangan. Selama Pram ada di sini, Pak Sas meminjaminya handphone. Hal itu sangat membantunya untuk terus terhubung dengan restorannya.


"Iya Pak. Proyek kita ternyata lebih cepat dari dugaan saya. Mungkin beberapa hari lagi saya sudah balik ke Jakarta." Pram menjawab. Matanya sesekali melirik Sarah. Tentu, Pak Sas melihat gelagat Pram tersebut. Lagipula Pak Sas sering memergoki mereka berdua bertengkar sebelumnya.


"Kamu balik ke Jakarta kapan Sarah?" Pak Sas mengubah perhatiannya ke Sarah. Yang diajak bicara justru hanya diam sambil menatap Pram. Seolah meminta jawaban.


"Sarah pulang sama saya Pak." Pram menyahut cepat.


Alis pak Sas terangkat sebelah. "Kalian ini ada hubungan spesial ya?"


Sarah langsung melotot. Ia tidak meyangka bapaknya akan berpikiran ke sana." Nggak Pak. Kita ada urusan bisnis."


Pak Sas mengangguk sambil ber-oh ria. "Ya sudah. Kamu bawa saja si Sarah. Nggak di balikin juga ndak papa."


Sarah tersenyum kecut. Memang kadang sifat humoris bapaknya tidak bisa dikondisikan.


🥀🥀🥀


"Bu... Ini Sarah." Katanya sambil menunggu pintu itu terbuka.


ceklek. Wajah ibunya muncul, tatapannya datar. Membuat nyali Sarah ciut.


Pintu itu hendak ditutup kembali. Namun, Sarah segerah menyelipkan tangannya ke dalam, mencegah ibunya untuk memutus kesempatan ini. Melihat hal itu, Ibu Sarah memutar bola matanya, seakan bosan dengan semua omong kosong ini. Ia segera berbalik, membiarkan Sarah masuk.


Sarah menutup pintu lalu terdiam beberapa saat, menatap ibunya yang sok sibuk melipat pakaian.


"Dua tahun lebih ibu menghukum Sarah." Sarah memulai percakapan. Namun bisa ditebak, ibunya hanya bungkam sambil terus melipat baju.


"Sarah harus ngapain supaya Ibu maafin Sarah?" Suara gadis itu mulai serak. Matanya mulai berair.


Tidak ada jawaban. Lagi, ibunya sibuk melipat pakaian.


Sarah tidak bisa menahan air matanya. Seiring dengan basahnya mata, kakinya bersimpuh tepat di depan ibunya. Dengan suara terpatah-patah ia berkata, "Tolong Sarah, Bu. Tolong maafin Sarah. Ibu jangan diam aja! Apa yang harus Sarah lakuin?"


Ibunya berdiri. Ia menatap Sarah masih dengan raut yang tak dapat dimengerti. Untuk pertama kalinya sejak kalimat terkahir ibunya dua tahun yang lalu, Ibunya kali ini berkata, "Masih sama. Sebelum kamu balikin Kirana, saya bukan ibu kamu."


Ibu Sarah lalu beranjak dan keluar kamar. Sarah menghembuskan napas dengan amat berat. Kalimat barusan tertancap kuat di dalam dadanya.


🥀🥀🥀