
Menandatangani kontrak dengan manusia berotak lempeng macam Pram agaknya menjadi kesalahan terbesar dalam hidup Sarah. Harusnya ia sadar, ia bukan menandatangani kontrak kerjasama, namun kontrak kutukan. Baru kemarin ia membubuhkan tanda tangan, efeknya sudah terasa hari ini.
Jam 5 dini hari, ponselnya berdering.
"Hallo?" Sarah terpaksa menjawab telepon sementara matanya masih terpejam dan badannya masih menempel di kasur.
"Kamu ke apartemen saya sekarang."
Sarah mengernyit. "Hah? Hallo? Ini siapa? Saya bukan Sarah, saya temannya. Sarah lagi pergi umroh, pulangnya dua minggu lagi." Ia langsung melempar ponselnya jauh-jauh.
Ponselnya kembali berdering. Namun, Sarah tetap bergeming. Ia menulikan telinganya. Lagian, siapa Prama menyuruhnya datang ke apartemen jam 5 pagi?
***
Thea baru saja mau menyeruput coklat hangatnya. Namun, tidak jadi. Ada suara pintu diketuk yang membuatnya harus berdiri dan membukanya. Jangan berharap pada Sarah. Walaupun mereka satu kontrakkan semenjak kuliah, kalau ada tamu pagi-pagi pasti selalu Thea yang membuka pintu. Alasannya cuma satu: Sarah itu anti bangun pagi.
Ketika pintu ia buka, Thea kaget bukan main.
"Thea?" Orang tersebut menyapanya duluan.
Sementara Thea masih melolot. Bibirnya kaku. Bagaimana tidak? Di depannya berdiri sahabat lama yang sudah bertahun-tahun hilang kontak. Akhirnya hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, "Prama?"
"Sejak kapan lu tinggal di sini?" Prama tak kalah terkejut. Namun ekspresinya tidak jauh beda antara terkejut dan tidak. Mukanya sudah versi default dari Tuhan begitu.
"Ya ampun lu tambah ganteng aja." Canda Thea. Sementara Pram hanya membalas sekenanya. Setelah sedikit perbincangan, akhirnya Pram menjelaskan maksud dan tujuannya.
***
Baru saja kembali dalam mimpi, Sarah kembali diganggu suara cempreng dari luar pintu.
"Sarah!" Thea menggedor-gedor pintu kamarnya. "Sarah kalau kamu nggak keluar, aku bakar kamar kamu!"
"Nggak papa boss bakar aja! Aku udah bosen hidup!" Sarah menjawab asal. Ia semakin menenggelamkan wajahnya dalam selimut.
"Aduh, maaf Pram. Ini bocah kalau udah tidur emang suka kejebak di alam kubur, jadi susah banguninnya." Kata Thea kepada Pram yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Sialan." Pram menggerutu, berdiri, lalu melangkah ke pintu kamar Sarah.
"Kalau kamu nggak keluar juga, saya bakal main kasar!" Kata Pram sambil menahan emosi.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Saya hitung sampai tiga."
Masih tidak ada jawaban. Pintunya pun tidak terbuka sama sekali.
"Satu,"
Sarah masih tenggelam dalam selimutnya.
"Dua, "
Sarah semakin meringkuk dalam selimut.
"Tiga,"
Sarah tidak menggubris. Hal ini membuat Pram geram. Ia segera menendang pintu kamar Sarah hingga terbuka. Suaranya sangat keras sehingga membuat Sarah terlonjak kaget. Ketika mata Sarah terbuka, ia disuguhkan dengan pemandangan pintu kamarnya yang rusak, ditambah wajah Pram yang kecut bercampur pahit.
Pram melangkah masuk. Ia tanpa aba-aba menggeret Sarah. Sarah yang nyawanya masih tersangkut di alam kubur tidak sanggup berbuat apa-apa.
"Woi aku mau dibawa kemana woi!" Sarah berteriak tidak terima.
"Heh jangan seenaknya gini dong! Ya seenggaknya biarin aku siap-siap dulu!!!! Belum mandi ini woi!" Sarah berteriak tak kalah kencang.
Perkataan Sarah tak menggoyahkan Pram. Lelaki itu berkata enteng, "Halah nggak ada bedanya kamu mandi atau enggak, sama-sama bau ayam. Ayo cepat!"
Dengan pakaian Sarah yang hanya kaos dan celana training, Pram terus menyeret Sarah hingga masuk ke mobil.
Thea yang melihat kejadian ini hanya gigit jari. Antara kasihan dengan Sarah dan takut dengan Prama.
"The (dibaca Te) , lu jangan liat doang." Pram kini beralih pada Thea, "tolong siapin baju anak ini. Masukin koper, sama barang-barang yang essensial aja."
Thea hanya bisa menggangguk dan melaksanakan perintah Pram. Setelah selesai dengan koper dan barang-barang Sarah, Pram segera berpamitan pada Thea lalu pergi dengan mobilnya.
🥀🥀🥀
Sarah merasakan benda dingin dan kasar menempel di pipinya. Ia masih enggan untuk membuka mata. Namun, benda itu mengenai pipinya berulang-ulang.
"Heh, bangun!"
Sarah terlonjak kaget. Setelah sadar, ia baru tahu bahwa benda itu adalah ujung sepatu. Matanya melotot menatap Pram yang justru menatapnya datar.
"Nggak ada otak, ya, kamu! Kamu pikir muka saya keset kamu kasih sepatu!" Teriak Sarah geram. Tiba-tiba otaknya memutar kembali kejadian tadi pagi.
"Woi, aku dimana?!" Sarah berteriak panik. Ia melihat dirinya yang hanya memakai kaos dan celana training. Parahnya lagi, saat ini ia hanya berdua dalam mobil bersama Pram.
Pram menatap Sarah sebentar lalu membuka pintu mobil sambil berkata, "Kita ada di Bogor."
"HAH? KAMU GILA!" Sarah syok berat. Otak Pram memang sudah digadaikan di mana hingga berani membawanya sampai sejauh ini?
"Nggak usah lebay. Barangmu ada di kursi belakang. Saya tunggu di dalam." Pram lalu beranjak pergi meninggalkan Sarah.
Demi jadi jurnalis, demi jadi jurnalis...
Sarah mengulang-ulang terus mantra itu supaya ia tidak gelap mata dan menggorok leher Pram.
Saat Sarah keluar dari mobil, ia melihat sebuah bangunan lantai satu dengan cat putih gading. Bagian depannya terdapat pilar-pilar dengan warna senada, namun bedanya ada tambahan lumut. Kursi-kursi juga ditumpuk di depan bangunan tersebut. Dibelakang tumpukan kursi terdapar rolling door yang menutup sebagian besar bangunan ini. Di samping kiri bangunan itu terdapat lahan kosong yang ditumbuhi tanaman, namun sudah kering. Mungkin ini dulu taman? pikir Sarah. Sementara itu, di samping kiri bangunan terdapat rumah yang lebih kecil. Warnanya juga putih gading, tapi lebih terawat dan tidak di tumbuhi lumut.
Tiba-tiba sosok Pram muncul dari dalam rumah kecil itu seraya berteriak, "saya nyuruh kamu kerja! Bukan melongo kayak orang idiot!" Ia lalu masuk lagi ke dalam.
Sarah hanya bisa memonyongkan bibirnya. Menekan emosinya, Ia melangkah sambil membawa kopernya. Tunggu, koper?
Sarah segera berjalan menyusul Pram. Setelah melihat bentuk Pram, ia langsung mengintrogasi, "Maksud kamu apa menculik saya? Terus sekarang kamu kok bisa ambil koper saya? Terus kenapa saya bawa koper? Apa coba maksud kamu berbuat seenaknya sendiri? Kita kerja sama,ya, bukan hidup bareng! Jadi tolong, jangan terlalu intervensi kehidupan saya!" Sarah akhirnya menyelesaikan uneg-uneg-nya. Yang diajak berbicara justru sibuk memainkan laptop.
"Sudah?" Pram menjawab. Namun wajahnya masih fokus ke laptopnya.
Sarah benar-benar geram. Tangannya terkepal, ia lalu melangkah dan menabok lengan kekar Pram. Tapi malah Sarah yang merasakan ngilu di tangannya. Namun ia tidak perlihatkan. Bisa jatuh martabatnya sebagai wanita super power.
"Oh, sudah berani main fisik dengan saya?" Pram berdiri. Mata coklat terangnya mencoba mengintimidasi mata hitam legam milik Sarah. Namun, diantara keduanya tidak ada yang terdistorsi sama sekali.
"Saya berani main fisik, ya, karena kamu juga! Coba aja kalau kita musyawarah baik-baik, pasti semua enak."
"Kamu yang tidur seperti mayat mana bisa diajak musyawarah. Lagian, di sini saya bos. Kamu bawahan."
"Dasar pikiran kaum konservatif!"
Pram memutar bola matanya jengah. Mau hingga sore, tidak ada habisnya berdebat dengan seorang pembuat berita. Ia akhirnya hanya menghembuskan napas kecil, lalu berkata, "mulai hari ini kamu tinggal di sini. Di samping sana restoran yang kamu hancurkan lewat artikelmu. Sekarang, kamu pelajari semua file di laptop itu. Nanti sore saya kesini, semua harus sudah kamu kuasai."
Sarah menganga lebar. Sementara Pram segera mengenakan jaketnya, lalu pergi melenggang dengan mobilnya. Sarah hanya bisa merutuk dan mengutuk: semoga ditengah jalan nanti mobil Pram ketiban meteor dan Pram hangus di dalamnya!
🥀🥀🥀