I'M Sorry For Being Ugly

I'M Sorry For Being Ugly
Empat



"Pokoknya aku nggak mau tau, dia tetap harus dipecat." Pram menatap tajam lelaki paruh baya di hadapannya. Walau rambutnya mulai memutih, raut wajahnya tetap tegas. Membuat Pram selalu kagum kepada orang ini.


"Kamu pikir ini mainan? Om nggak bisa melepas aset berharga di perusahaan ini begitu saja. Apalagi hanya karena seorang ponakan yang kekanak-kanakan." Tito, direktur utama salah satu perusahaan surat kabar itu menatap Pram heran. Ada apa dengan lelaki ini?


"Om, aku jelas-jelas sudah diperlakukan tidak hormat sama 'aset berharga' om itu. Dia jelas menghina aku. Juga menghina keluarga kita. Dia secara terang-terangan menghina Pram dalam blog-nya. Dan, kemarin dia marah-marah nggak jelas di tempat kerjaku. Itu yang namanya profesional?" Pram berusaha menceritakan kejadian kemarin dengan menggebu-gebu. Bisa dibilang, ada beberapa bagian yang ia lebih-lebihkan.


Masa bodoh! Ia hanya ingin balas dendam. Dan itu tidak salah sama sekali!


Pram semakin mendramatisir ceritanya ketika tahu bahwa ekspresi Tito mulai membuktikan kalau ia percaya apa yang dikatakan Pram.


"Sudah, cukup. Sekarang kamu boleh pergi."


Tito menghembuskan napas panjang. Matanya menatap kosong punggung Pram yang hilang ditelan pintu.


Ia sudah memutuskan.


¤¤¤


Sudah lebih dari tiga tahun Sarah mendedikasikan seluruh kemampuannya untuk tempat ini. Seharusnya Sarah tidak perlu merasa terkejut ketika Pak Tito memanggilnya. Namun ia masih saja merasa berdebar ketika ia dipanggil. Karena walau tiga tahun bukan waktu yang singkat dan tempat ini masih terlihat sama, namun pasti ada saja pengajaran baru di sini. Bahkan berada di dalam lift sendirian masih membuatnya belum rileks sama sekali.


Ting!


Pintu lift mulai terbuka. Semakin membuat Sarah penasaran, mengapa Pak Tito memanggilnya. Apa dia akan diberi bonus? Atau akan ada kenaikkan pangkat?


Sarah menahan kegirangan yang meletup-letup di dalam batinnya. Rasanya ia benar-benar akan meledak!


"Heh, minggir. Kamu pikir ini lift Bapak-mu?!"


Sarah terdiam. Suara bariton penuh kebencian itu membuatnya mematung. Bingung harus berbuat apa. Matanya lurus menatap wajah menyeramkan di depannya.


"Kamu tuli? Minggir!" Pram terpaksa mengibaskan tangan besarnya di depan wajah Sarah. Ia tidak sudi walau hanya menepuk pundaknya. Ia tidak akan menyentuh perempuan jelek ini. Sampai kapanpun.


"Eh," Sarah segera kembali ke dunia nyata. Setelah sadar bahwa lelaki menyeramkan itu adalah Pram, langsung saja mukanya berubah cemberut. Kilatan emosinya segera bangkit, apalagi mengingat kejadian kemarin. Sarah maju selangkah. Mengikis jarak di antara mereka.


"Kamu ternyata nggak punya sopan santun! Saya juga bakal minggir kok. Saya nggak mau lama-lama lihat mukamu yang kusut dan abstrak macem terasi!" Begitu kalimat hinaan selesai meluncur dari bibirnya, Sarah segera pergi menjauh. Tidak lupa ia menginjak kaki Pram. Supaya Pram sadar kalau dia tidak ada pantas-pantasnya sama sekali ditulis Sarah dalam artikel.


"Aaargghh! Sialan! Dasar cewek aneh! Jelek!" Pram mengumpat sambil menatap Sarah yang pergi tanpa berdosa.


¤¤¤


"Apa? Saya dipecat?" Sarah menganga sambil menatap bos-nya heran. Lelucon apa ini?


What a fucking joke!


"Saya merasa kamu belum cukup profesional di sini. Saya sangat menyayangkan perlakuan kamu kepada narasumber kita kemarin. Apalagi tulisan di blog-mu itu."


Api amarah dalam diri Sarah semakin berkobar. Ia sudah tahu siapa yang Pak Tito maksud.


Pasti si Pram-pram sialan itu!


"Mohon maaf sebelumnya, Pak. Tapi bukan saya yang salah. Saya sudah melakukan semuanya dengan baik. Cuma si Pram-pram itu saja yang kelewat sombong."


"Pak.  Lagipula artikel di blog saya itu valid, Pak.  Kalau bapak nggak percaya saya bisa kirimkan semua buktinya ke Bapak sekarang juga.  Saya yakin apapun yang terjadi di blog saya sama sekali tidak akan mempengaruhi perusahaan kita. Blog saya independent."


"Keputusan saya tidak berubah, Sarah. Silahkan kamu pergi. Masih banyak waktu dan tempat lain untuk kamu belajar."


Sarah mengepalkan kedua tangannya. Apa belum cukup si Pram-pram itu mengacaukan wawancaranya? Sekarang ia mengacaukan pekerjaannya.


Sudah! Ini semua sama sekali tidak lucu! Ia harus segera bertindak!


¤¤¤


"What?! Kok bisa sih?!" Thea berteriak keras, tepat di telinga Sarah. Membuat wanita itu melotot dan menjitak kepala sahabatnya itu.


"Bisa nggak, sekali aja kamu nggak lebay?"


"Huwaaa.. Masa iya kamu dipecat? Terus nanti aku di sini sendiri gitu? Nanti nggak ada yang nemenin aku ngobrol tau!" Thea masih berceloteh ria di samping Sarah. Sebagai sahabat Sarah yang sudah klop banget, apa yang dirasakan Thea terbilang wajar. Apalagi pemecatan ini terkesan tiba-tiba dan asal muasal sebabnya masih abstrak.


"Biasa aja kali. Kontrakkan kita kan sebelahan!  Kenapa lebay gitu sih,  kamu?"


Thea memajukan bibir. Mau sampai kiamat, wanita bernama Sarah memang tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.


"Ih! Nanti nggak ada kedelai hitam lagi disini tau! Entar nggak ada lagi bahan bully-annya si gendut Bimo!  Siapa sih yang nyebarin berita miring tentang kamu?"


"Aku tahu siapa orangnya. Ini, aku lagi mau kasih perhitungan."


¤¤¤


Restoran bergaya Eropa itu terlihat ramai. Para pelayan sibuk berlalu-lalang meyambut para pelanggan yang lapar. Sebenarnya, bukan hanya sekedar cita rasa yang ditonjolkan restoran ini, namun juga suasana klasik dan mewah, serta lampu-lampu temaram yang romantis. Sudah bisa ditebak, kalau pengunjung disini adalah orang-orang berdasi dan berdompet tebal.


Kesibukan bukan hanya terjadi di tempat makan pengunjung, namun juga dibalik layar. Tempat dimana makanan mewah nan lezat dihasilkan.


Pram mengamati para pekerjanya yang sibuk memasak ini itu. Berdiri tegap, dalam balutan baju chef putih kebesarannya. Lengan bajunya ia gulung hingga ke siku. Tak lupa juga membuka dua kancing teratas bajunya. Membuat sedikit dadanya terekspose. Namun, mampu membuat para koki wanita mau berlama-lama mengamatinya. Kepulan asap disertai bau daging sapi yang tengah direbus mengisi sudut-sudut ruangan. Lelaki itu sibuk memberi arahan. Tubuhnya sibuk berjalan dari satu sudut ke sudut lain, demi mendapatkan cita rasa yang pas pada setiap menu yang mereka sajikan.


"Permisi, Bos. Ada sedikit kegaduhan di depan." Salah satu pekerjanya menghampiri. Merusak semua harmoni dalam dapur ini.


"Kegaduhan gimana, ha?" Pram bertanya sambil mengangkat alis. Pekerjanya tadi segera menuntunnya ke tempat kejadian. Begitu sampai, Pram benar-benar terkejut.


Bagaimana mungkin ia tidak terkejut? Jika sekarang, dihadapan banyak pelanggannya, seorang gadis pendek dengan mata berkilat tengah berjalan ke arahnya. Ada sejuta dendam di matanya.


Gadis itu berhenti. Berjinjit depannya.


Pram bingung harus berkata apa. Mulutnya baru akan terbuka, namun sebuah tangan mungil telah lebih dulu jatuh dipipinya.


Plak!


"Dasar licik! Sekarang Anda puas, ha?!"


¤¤¤