I'M Sorry For Being Ugly

I'M Sorry For Being Ugly
Enam



Hari ini Jakarta diguyur hujan. Jalanan basah oleh tetesan air. Tempiasnya pun mengenai jendela-jendela rumah.buliran nya yang bening menempel pada kaca.


Sarah masih sibuk mengamati buliran hujan satu jam terakhir. Ia masih benar-benar kecewa dengan hidupnya. Tadi pagi ia mengemasi semua barangnya dari kantor Pak Tito. Membuat sahabat baiknya selama di Jakarta, Thea, heboh dan histeris.


"Kamu mau pergi? Nggak! Nggak boleh! Nanti aku sendirian... hiks..hiks..." Thea meraung-raung dipundaknya saat itu. Membuat bajunya basah oleh titik air mata.


Sarah sendiri tidak tahu mengapa ketidaknyamanan lelaki angkuh bernama Pram sangat berpengaruh, bahkan dapat membuatnya kehilangan pekerjaan. Sebenarnya, bukan masalah finansial yang ia kecewakan, namun lebih ke disanalah passion-nya benar-benar dibutuhkan. Lewat artikel berita yang selama ini ia tulis, ia belajar banyak hal. Ia belajar untuk dapat memandang sesuatu dari berbagai sisi. Kecuali satu hal, tentang lelaki bernama Prama Mahendra. Sarah hanya dapat memandang Pram dalam sisi negatif. Lelaki sombong, mulut cabai, dan pasti terlalu dimanjakan orang tua. Bahkan ketika semua orang memuji wajahnya yang katanya tampan, Sarah sudah terlanjur eneg dan dongkol. Semua kelebihan orang itu tidak lebih besar dari sifat menyebalkannya.


Drrtt... drrtt...


Ponselnya bergetar. Ia segera menempelkannya ke telinga.


"Sarah? Berita itu benar?" Orang diseberang sana bertanya. Suaranya khas, dan Sarah sudah tahu siapa. Tanpa harus melihat nama di layar ponselnya.


"Iya, Yon."


Sarah dapat mendengar Deyon mendesah di seberang sana. "Kamu baik-baik aja, kan? Setelah ini kamu mau kemana?"


Tanpa sadar Sarah tersenyum kecil. Ayolah, siapa yang tidak merasa spesial ketika seorang Deyon, redaktur tampan yang menjadi incaran banyak wanita khawatir terhadapnya? Sarah tahu Deyon tidak mungkin menaruh rasa padanya. Namun setidaknya, ia boleh bahagia ketika tahu masih ada orang yang peduli dengannya.


"Mungkin habis ini aku bakal cari kerja ke tempat lain. Aku juga lagi asyik nulis di blog. Mungkin jadi editor perusahaan media lain."


"Wah, bagus kalau gitu. Aku jadi nggak khawatir kamu bakal luntang-luntung di Jakarta." Mereka berdua sama-sama tertawa.


Tawa mereka berhenti ketika Deyon bertanya, "besok kamu ada acara?"


Sarah terdiam. Menarik napas sebentar, lalu menjawab. "Aku besok pulang ke Jogja."


"Ke Jogja? Berapa lama?"


"Nggak tau. Mungkin... " Sarah menggigit bibirnya. Memikirkan kemungkinan paling buruk. "Sebulan?"


"Sebulan? Apa nggak terlalu lama, Sarah?" Tanpa Sarah ketahui, Deyon mulai berkeringat di tempatnya saat ini.


Sebulan? Apa jadinya sebulan tanpa tingkah aneh dan humoris Sarah?


"Aku pengen lepas dari kesibukan Jakarta dulu, Yon. Sumpek disini."


Sarah berbohong. Selain ingin memikirkan dimana tempat kerja yang cocok untuknya setelah ini, ia ingin memantapkan hati. Menata kembali hatinya yang masih tertinggal dalam kenangan masa lalu. Selain itu, ia juga ingin sekali lagi mencoba menyelesaikan masalah yang ia tinggal di kota itu.


Masa lalu. Musuh terbesar yang selalu menghantui malamnya sebelum tidur. Ray. Lelaki itu masih menjadi candu bagi hatinya yang mengering. Ray selalu mengisi setiap relung hampa dalam jiwanya. Setiap bibir Ray mengulas senyum, Sarah merasa ada air sejuk yang menyirami hatinya. Membuat semua terasa nyaman, bahkan ketika senyum itu bukan untuknya sekalipun.


Ia masih ingat betul hari itu. Hari paling bahagia dalam hidup Ray. Sebelumnya, apa yang membuat Ray bahagia pasti akan membuat Sarah bahagia pula. Namun, tidak hari itu.


Hatinya sempurna hancur.


Hari ketika Ray mengucap janji sehidup semati, bersama wanita cantik. Bukan dirinya.


Air mata Sarah tanpa sadar meleleh. Sudah berapa tetes air mata yang ia keluarkan untuk Ray? Sudah berapa kali hatinya remuk karena Ray tidak pernah sadar betapa besar cintanya kepada lelaki bermata hitam legam itu?


Mungkin dia yang naif. Dia saja yang terlalu berharap. Lagipula, mana mungkin seorang pangeran semanis Ray menaruh rasa pada wanita jelek seperti dirinya?


"Hallo? Sarah? Kamu masih di sana, kan?" Suara Deyon mengintrupsinya. Membuatnya menghirup ingus secara reflek.


"Kamu kenapa? Kamu sakit? Apa aku perlu ke sana?"


"Nggak, lah. Aku cuma butuh tidur mungkin." Sarah menjadi canggung. Deyon terlalu perhatian padanya.


"Kalau gitu, kamu istirahat oke? Jaga diri baik-baik."


Sarah menahan senyum. Deyon ini sudah mirip seperti Bapaknya di Jogja. "Oke. Siap, Bos."


¤¤¤


Deyon menatap layar ponselnya yang sudah mati. Senyumnya terus saja terulas, bahkan ketika Sarah sudah menutup perbincangan mereka.


Entahlah, Deyon tidak tau sejak kapan mulai bertingkah seaneh ini. Mula-mula, ia merasa terhibur dengan tingkah humoris dan geguyonann Sarah yang... demi Tuhan! Sangat receh sekali! Apalagi gaya berpakaiannya yang freak dan out-of-date. Semua hal aneh dari gadis itu selalu mampu menarik perhatiannya.


Apa mungkin ia menaruh hati pada Sarah?


Iya! Aku benar-benar jatuh cinta!


Senyum lagi-lagi tersungging di bibir Deyon. Rasanya aneh jatuh cinta pada Sarah. Selama tiga tahun mengenal wanita itu, Deyon dapat menyimpulkan bahwa Sarah bukan tipe cewek haus status. Apalagi penggila pacaran. Dia wanita bebas. Dia tidak ingin terikat.


Lalu, sampai kapan cintanya pada Sarah ia pendam?


Suatu saat, ia akan mendapatkan Sarah. Suatu saat, Sarah akan tahu seberapa besar cintanya. Suatu saat.


Dan itu bukan sekarang. Juga bukan waktu dekat ini.


¤¤¤


"Mbak jangan sok ngatur! Mbak bukan ibu atau bapak. Dan aku tau apa yang harus aku lakuin! Jadi stop sok peduli sama aku! Aku suka keluar malam karena aku suka bergaul. Aku punya banyak teman. Jadi jangan jadikan aku cewek kuper dan nggak menarik seperti Mbak!"


Entah apa yang saat ini tengah menancap di dadanya. Namun Sarah merasakan sakit yang teramat. Kata-kata dari adiknya berhasil membuatnya sadar, untuk yang kesekian kalinya, bahwa ia terlahir tidak secantik dan semenarik wanita lainnya.


"Mbak sadar. Mbak sadar kalau wajah mbak nggak secantik kamu." Kata Sarah serak. Ia sudah cukup terluka karena belum juga mendapatkan Ray. Sekarang ia memohon agar tidak lagi terluka oleh mulut wanita di depannya ini. Adiknya sendiri. "Mbak cuma ingin kamu sukses dan jadi orang baik. Kamu cantik, tapi kamu juga harus cerdas. Dan Mbak nggak mau kamu jadi wanita malam yang murahan!"


"Omong kosong!" Jawab adik Sarah keras sambil memalingkan wajahnya yang merah padam. Ia benci kakaknya. Ia benci disuruh belajar dan belajar. Ia butuh bersenang-senang. Ia bukan tipe kutu buku seperti kakaknya. Ia wanita yang suka belanja, ke bioskop, dan membeli banyak perhiasan. Ia bukan workaholic seperti Sarah.


"Aku bukan Mbak yang cuma tau kerja dan kerja! Aku nggak mau jadi kayak Mbak yang satu cowok pun nggak ada yang mau dekat-dekat sama Mbak."


Adik Sarah segera membalikan badan cepat. Kakinya melangkah keluar pintu. Dan membantingnya kasar. Ia bersumpah bahwa Kakaknya adalah wanita menyebalkan yang paling ia benci.


¤¤¤


Sarah membuka matanya dengan cepat.  Tangannya meraba kedua matanya yang entah sejak kapan mulai basah. Lalu lalang orang didepannya segera menyadarkan Sarah di mana ia sekarang.


"Astaga! Mimpi lagi! " Sarah segera menarik kopernya karena pesawat sudah menunggunya.


¤¤¤