
Apartemen Pram, 10.30 am.
Pram terbangun dari tidurnya. Seluruh badannya masih pegal-pegal karena perjalanannya dari Jogja. Apalagi setelah sampai ia segera mengurusi ponselnya yang hilang dan memulihkan lagi kontak di dalamnya. Ia juga harus menyusun rencana tentang apa yang harus ia lakukan pada si Jelek Sarah.
Sebenarnya ia ingin sekali tidur lagi, namun getaran ponselnya seolah menolak untuk diabaikan.
21 missed call from Jelek.
3 missed call from Liona.
4 missed call from Reihan.
Pram menghembuskan napas kasar lalu berdiri. Ya, dia memberi nama kontak Sarah dengan 'Jelek' sesuai apa yang Pram lihat tentang tampilan Sarah selama ini.
Sebelum bangun dari kasur Pram menyentuh panggilan dari Liona, salah satu dari banyak teman wanitanya.
"Hey? How is it goin'?" Kata Pram mengawali perbincangannya di telepon.
Wanita yang ada di seberang telepon segera menjawab dengan nada sedikit kesal, "serious? You've been making me insane! I can't call you and now you asking me how is it going? Are you.."
Prama segera memotong omelan Liona, "B**abe calm down okay? I'm fine. I'm just lost my phone. Come to my apartment if you want to hit me."
Liona mendengus, lalu menjawab cepat. "I'll be right there."
🥀🥀🥀
Kembali kepada kemacetan Jakarta adalah pilihan buruk yang dibuat Sarah. Namun, Pram lah yang membuatnya harus mengambil pilihan itu. Ia sudah janji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun, termasuk Pram, mengambil kendali dalam hidupnya. Jadi, ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Pram sekarang juga.
Setelah turun dari angkot dan berjalan sekitar 200 meter, Sarah segera memasuki apartment yang ia duga milik Pram. Wajahnya mendongak menatap apartment super besar itu.
"Wah sialan. Ternyata kekayaan Pram bukan bohongan." Sarah bergumam.
Ia melangkah masuk, menaiki lift hingga kelantai lima belas, dan mencari kamar bernomor sesuai dengan yang ada di layar ponselnya. Setelah sampai ia segera menekan bel. Namun setelah menunggu 10 detik, tidak ada tanda pintu di depannya akan terbuka. Ia mencoba menekan sekali lagi. Namun masih sama, pintu itu tetap rapat tak bercelah.
"Ini orang tidur apa meninggal sih!" Sarah menggerutu sambil menggaruk kepalanya. Sekali lagi ia mencoba menekan bel, kali ini ia menekannya berulang-ulang dengan tidak sabar.
Pintu itu akhirnya terbuka. Menampakkan tubuh jangkung Pram yang berantakan dalam balutan hanya celana pendek selutut. Dengan penampilan bak binaragawan sehabis mengelilingi Ka'bah, Pram sukses membuat Sarah bungkam selama lima detik.
"Kamu ngapain kesini?" Pram memecah keheningan. Ia menatap Sarah dengan amarah, apalagi penampilan Sarah yang tidak berubah: rambut kuncir kuda, kaos, dan celana jeans.
Sarah terkesiap lalu menjawab, "aku mau menagih perjanjian kamu! Pekerjaanku gimana? Katanya kamu mau ngembalikan pekerjaanku? Kamu tau kan, kalau--"
Pram menutup mulut Sarah dengan tangannya, membuat bibir Sarah gepeng. Ia benar-benar sudah jengah dengan makhluk ini. "Jangan berisik, saya bakal balikin kerjaan kamu. Tapi syarat dan ketentuan berlaku."
Pram tidak melepaskan genggaman tangannya dibibir Sarah. Ia justru menyeret bibir wanita itu hingga mereka masuk ke ruangan Pram.
"Kamu kira aku kambing apa?!" Ucap Sarah tidak terima bibirnya di seret seperti itu.
Pram tidak menjawab dan meninggalkan Sarah. Sarah akhirnya duduk. Ia menatap sekelilingnya. Ruangan ini lumayan luas, ruang tamu dan dapur berdampingan tanpa sekat. Sofa yang ia duduki berwarna putih gading, sementara perabotan yang lain didominasi warna putih susu. Berada di sini seolah-olah berada di rumah sakit, batin Sarah.
Tiba-tiba seorang wanita dengan mata biru dan rambut pirang keluar dari kamar, tentunya adalah kamar Pram. Sarah kaget dibuatnya. Bagaimana tidak? Wanita ini keluar dengan rambut berantakan dan baju yang terlihat acak-acakan seperti terburu-buru dalam memakainya. Kekagetan Sarah bertambah ke level lebih tinggi setelah Pram juga keluar dengan seluruh badannya yang lebih berkeringat daripada tadi.
Aku benci pikiran kotorku!!! Sarah menjerit dalam hatinya.
"Hey? Kamu siapa?" Wanita tadi bertanya kepada Sarah. Karena masih kaget, Sarah justru terdiam seperti orang idiot.
"Bukan siapa-siapa, Liona. Cuma sales asuransi."Pram menjawab dengan enteng.
"Owhh she's cute... Nice to meet you." Liona tersenyum dan mengajak bersalaman. Namun Sarah tetap diam. Ia menatap Pram tajam.
Liona mengerutkan dahi. Ia merasa tersinggung dengan jawaban Sarah yang menurutnya sangat tidak sopan. Bahkan, kini Liona menaruh curiga pada Sarah.
"So who are you? His another girlfriend? How could you? How much he gave you? "
Sarah naik pitam. Walaupun cantik, mulut wanita didepannya lebih mirip ular. "You're out of your mind, Miss. I'm not his girlfriend and I won't be. Why? Because both of you," Sarah menunjuk Liona dan Pram, "are just a bunch of dummies tryin' to look like you're nice but actually you are not at all."
"Damn you!" Liona menarik baju Sarah dan berusaha melampiaskan emosinya.
"Liona please," Pram berusaha menengahi dan melerai kedua wanita ini. "She means nothing okay?"
"Oh, now you're looking after her? Damn you Prama, damn you!"
"Liona please don't be childish! Just go home and take some rest! " Kali ini Pram membentak wanita bermata biru itu.
"What?! You want me to go? After all things I gave to you? What the hell goin' on you?!"
"You better to go. You'll be fine."
Plak! Sebuah tamparan jatuh tepat di pipi Prama. "I'm not fine. Don't make it right, Prama. You hitting me right at my face!"
Prama tak bisa menahan emosinya. Ia akhirnya menyeret Liona keluar dari apartemennya secara paksa. "Just take your long trip. And don't ever show up again!" Prama berteriak lalu menutup pintu. Sementara diluar Liona masih menggerutu dan berusaha masuk untuk menghajar Prama.
🥀🥀🥀
Kini Prama sudah berpakaian. Ia mengenakan kaos berwarna abu-abu. Sarah di depannya hanya mengamati Prama dengan tatapan bingung.
"Ini surat perjanjian kerja sama kita." Pram menyodorkan map berwarna hijau. Tatapannya masih datar, seolah-olah barusan tidak terjadi apa-apa.
Sarah membuka map tersebut, membaca poin-poin dalam perjanjian tersebut. Seperti yang sudah Pram prediksi, Sarah pasti akan menolak.
"Nggak." Ucap Sarah tegas. "Saya maunya bekerja sebagai jurnalis. Bukan tukang iklan."
"Itu impas. Kamu sudah membuat saya kehilangan investor, jadi kamu harus bantu saya mengelola cabang yang berantakan di Bogor."
"Heh, saya itu bukan lulusan marketing. Saya itu kerjanya di bidang jurnalistik kamu itu bisa bedain nggak sih!" Sarah berteriak kesal dengan kebodohan orang di depannya.
"Saya tahu kok. Emang kamu pikir saya nggak tahu kalau waktu lulus kuliah kamu pernah kerja di periklanan?"
Sarah mematung. Darimana Prama bisa tahu? Apakah ini yang dinamakan the power of orang kaya? Bisa menjadi mata-mata dan menggenggam semua data?
"Kamu kan lulusan komunikasi," Prama melanjutkan. "Pasti tahu caranya narik konsumen dan investor. Lagian saya bakal bayar kamu juga."
"Tapi saya maunya balik ke Newsantara."
"Kalau kerja kamu bagus, saya bakal narik semua perkataan saya ke Pak Tito. Plus, saya akan merekomendasikan kamu untuk naik jabatan di sana."
Mata Sarah terpejam. Ia sangat ingin kembali menjadi keluarga kantor berita terbesar di Indonesia itu. Namun disisi lain, ia ingin hidupnya tenang tanpa gangguan Pram. Sebenarnya ia bisa berusaha masuk ke kantor berita itu sendiri, namun ia juga butuh pekerjaan selagi menunggu kesempatan itu datang.
"Setuju." Sarah berkata mantap. Walaupun tanpa membohongi diri sendiri, ia masih diselimuti keraguan.
"Good. Besok datang ke restoran saya. Kita adakan meeting pertama kita."
Baik Sarah maupun Pram akhirnya menandatangani surat perjanjian itu. Mungkin itu hanyalah kertas. Namun, cepat atau lambat mereka akan menyadari bahwa lewat kertas itu, hidup mereka tak akan sama lagi.
🥀🥀🥀