
Menjelang siang, Sarah segera mengangkat koper buluk hasil gajian pertamanya ke depan teras. Hari ini ia memakai kaos abu-abu dibalut hoodie bertuliskan 'slankers', celana jeans, dan sepatu warna abu-abu yang ia beli di pasar Beringharjo ketika ingin berangkat ke Jakarta untuk pertama kalinya.
Tiba-tiba teleponnya bergetar. Ia segera menggeser layar dan menjawab, "Hallo Bas? Kenapa?"
"Gimana keadaanmu? Jadwal kamu kesini udah lewat seminggu."
"Maaf Bas, kamu kan tahu aku masih di Jogja. Ini baru mau pulang lagi ke Jakarta. Besok kalau sempat aku kesana deh." Jawab Sarah. Tanpa disadari, Pram sudah ada di belakangnya.
"Kalau sempat? Emang yang butuh aku? Ini udah prosedur Sarah. Kita emang teman, tapi aku juga harus profesional nanganin kamu. Kamu nggak bisa seenaknya gitu dong." Jawab orang di seberang telepon denga nada naik satu oktaf.
"Iya, iya. Besok aku kesana oke?" Sarah memilih untuk mengalah. Akhirnya orang di seberang sana memutus teleponnya.
"Nggak nyangka saya, orang macem kamu punya pacar." Pram angkat suara sambil menyunggingkan senyum meremehkan. Suaranya yang masih terdengar mengerikan ditelinga Sarah sukses membuatnya naik pitam.
"Berapa kali sih, saya bilang tolong hargai privasi orang! Hobi banget nguping orang nelpon!"
Sambil mengikat sepatunya, Pram menjawab "Kalau nggak mau didengar obrolannya, jangan nelpon di teras. Di kamar mandi sana."
"Terserah." Balas Sarah seadanya.
Setelah berpamitan pada Sang Ayah, Sarah berangkat menuju Bandara Adisucipto dengan taksi. Pram pun demikian, namun mereka tidak berada dalam satu taksi. Pram memang yang mengurus kepulangan mereka, namun bukan berarti ia mau satu mobil dengan Sarah. Tidak akan. Ia lebih memilih mengendarai taksi yang berbeda.
"Kenapa taksinya harus beda sih? Saya tahu kamu orang kaya, tapi setahu saya orang kaya juga masih punya otak kok buat menyimpulkan kalau cara kamu tadi benar-benar lebay." Sarah mengoceh ketika mereka dalam antrean check in. Pram yang ada di depannya tidak menggubris. Lelaki yang saat ini memakai jas hitam itu sibuk dengan gadjetnya.
Sialan! Aku kayak ngomong sama setan! Teriak batin Sarah.
Setelah mereka check in, mereka berjalan dan menuju ruang tunggu. Pram berjalan lebih dulu dengan langkah kaki yang besar-besar. Sementara Sarah tertinggal jauh di belakang. Demi apapun, jika bukan karena pekerjaan yang ingin ia kembalikan, ia tidak sudi diperlakukan seperti ini oleh Pram.
Sarah menaikkan satu alisnya lalu melihat sekelilingnya. "Kenapa? Kamu nyewa semua kursi di ruang tunggu?"
"Saya nggak setolol itu. Saya cuma nggak mau dekat-dekat kamu. Nanti saya ketularan jelek. Pindah sana!"
Sarah melotot. Ingin rasanya ia menarik mulut Pram dan mengaitkannya di antara ban pesawat. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah mengalah. Ia akhirnya beranjak dan memilih duduk di barisan yang ada di belakang Pram.
"Kurang jauh. Saya masih bisa lihat kamu."
Sarah menautkan kedua alisnya dan berkata dengan nada jengkel, "Kalau nggak mau lihat saya, mending kamu nunggu di Bandara Juanda sana!"
Karena keasyikan bertengkar, tanpa terasa gate untuk penerbangan mereka telah dibuka. Pram segera berdiri dan masuk ke barisan penumpang yang akan memasuki pesawat, diikuti Sarah di belakangnya. Namun lagi-lagi Pram berkata enteng, "Kamu ngapain ngantre di sini?"
"Siapa yang ngantre? Saya mau masuk pesawat lah." Jawab Sarah tak kalah entengnya. Sementara Pram hanya terdiam sambil berusaha menyembunyikan tawanya.
"Mohon maaf, Ibu." Petugas bandara menghalangi Sarah. "Mohon dicek lagi boarding pass-nya."
Sarah kebingungan. Ia lalu mengecek boarding pass miliknya. Dan, matanya langsung membulat sempurna dan hampir copot.
"Saya nggak masuk penerbangan ini?" Sarah bertanya sekali lagi, berharap matanya salah membaca setiap huruf dalam boarding pass miliknya. Sementara Pram sudah masuk ke dalam pesawat.
Petugas Bandara itu hanya tersenyum ramah sambil berkata, "Iya Ibu. Penerbangan Ibu masih pukul 6 sore nanti. Silakan menunggu di ruang tunggu penumpang."
Gigi-gigi Sarah bergemeletuk. Ia bersumpah akan memakan makhluk bernama Prama setelah sampai di Jakarta nanti. Yang benar saja, ia kira pria gila itu hanya akan memisahkan taksi mereka. Ternyata pesawat juga? Dan lebih parahnya, kenapa mereka berangkat bersama kalau pesawat Sarah boarding tujuh jam lagi?!
Prama sialan!!!