
Hari ini sudah duapuluh satu hari berlalu sejak kepergian Edi. Kedua orangtuaku pun telah kembali ke Palembang setelah beberapa hari menemaniku di Bandung. Kami sama sekali tidak melaksanakan tahlilan seperti masyarakat yang menganut agama islam umumnya di negeri ini karena menurut orangtuaku yang memegang teguh mashab Muhammadiyah- menganggap bahwa tahlilan adalah bid'ah yakni melakukan amaliyah-amaliyah tertentu yang tidak ada atau tidak diajarkan di zaman nabi Muhammad SAW.
Walau begitu Kami selalu mengirimkan doa setiap selesai sholat fardhu untuk Edi.
Aku yang masih terus berobat jalan dan bolak balik rumah sakit meminta resign dari perusahaan karena keterbatasan mobilitasku dan juga sering kali aku merasa pusing tiap kali terlalu banyak dibebani pikiran. Untungnya Pak Beni memaklumi kondisiku itu- beliau menyetujui permintaanku itu dan tetap memberiku kesempatan apabila suatu saat aku ingin bergabung lagi bekerja dengan perusahaannya.
"Saya tau ini berat untukmu Di" ujar Pak Beni setelah menyampaikan bela sungkawanya pada ku. " Kamu bisa beristirahat sampai kondisimu benar-benar pulih. Saya dan Ibu dengan senang hati menerimamu kembali bila nanti kamu ingin kembali kerja."
"Terima kasih banyak Pak. Bapak dan Ibu sudah baik kepada Saya." sambutku dengan senang.
"Oh ya Di. Ini kebetulan Saya dan Ibu sudah berunding- Kami menawarkan kamu untuk pergi umroh kapanpun kamu mau kamu bisa hubungi Vera." lanjut lelaki tua itu lagi. Perkataan Pak Beni ini sunguh diluar dugaanku. sewaktu Beni masih hidup aku selalu bermimpi bisa pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah umroh. Namun kondisi keuanganku sangat tidak memungkinkan saat itu.
"Ini benaran Pak? tanyaku seakan masih tidak percaya.
Pak Beni tersenyum." Iya pasti. Saya tidak pernah bicara *bullshi*t pada siapapun kan." lanjutnya seraya menepuk pundakku beberapa kali.
Setelah berbincang cukup lama- Pak Beni dan istinya pun berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Ditengah kesibukan beliau sebagai seorang pengusaha tentunya sangat sulit untuk menyisihkan waktu dan menyempatkan diri mengunjungiku yang menetap di Kota Bandung.
Sebelum kepulangannya kembali ke Jakarta- Pak beni meninggalkan sebuah amplop berwarna coklat diatas meja tamuku. amplop itu terlihat cukup tebal.
"Di, ini ada sedikit dari Saya dan istri untuk membantu pengobatan dan keperluanmu. Kalau ada hal lain yang kamu perlukan seperti biasa sampaikan saja pada Vera." ujarnya.
Sungguh sesuatu hal yang tidak terpikirkan olehku ada pimpinan sebaik Pak beni yang memperlakukanku dengan sangat baik padahal Aku bukanlah seorang pegawai tetap di perusahaan miliknya.
Sebenarnya Aku ingin sekali menolak pemberian Pak Beni -tapi saat ini Aku benar-benar sangat membutuhkan banyak biaya untuk pengobatanku dan juga keperluan lainnya terkait dengan hutang piutang Edi.
Selama ini Aku sama sekali tidak mengetahui bila Edi memiliki banyak pinjaman di beberapa tempat bahkan untuk apa uang itu digunakan sama sekali tidak kuketahui. Sebelum kami menikah sebenarnya Edi pernah bercerita bahwa dia memiliki pinjaman di salah satu bank pemerintah yang dia gunakan untuk membiayai pendidikan magisternya dan juga untuk membantu pengobatan Ibunya. Sebagai anak tertua Edi bertanggungjawab untuk membantu ekonomi keluarganya ditambah Ibunya memiliki riwayat sakit menahun. Bila berharap dari pensiunan Ayah Edi yang hanya seorang pegawai golongan dua rasanya tidak cukup untuk membiayai kehidupan orangtua yang memiliki delapan orang anak. Namun beban itu sedikit berkurang setelah Edi yang diangkat sebagai pegawai pemerintahan.
Kuketahui besarnya pinjaman Edi ketika beberapa minggu lalu- Aku dikagetkan dengan kedatangan beberapa orang debt collector yang menagih cicilan pinjaman milik Edi yang sudah menunggak selama dua bulan. Sialnya lagi- yang menemui para debt collector itu adalah papa yang kebetulan sedang berduduk santai sambil membaca Al Quran di teras rumahku.
"Selamat Siang Pak. Apa benar ini rumah Ibu Diana Rahma istri Bapak Edi Siswanto? tanya salah seorang dari mereka yang bertubuh gempal pada papa.
"Ya betul." jawab Papa singkat
"Kami dari Bank Simpan Pinjam Jaya Raya Pak- bermaksud menagih cicilan Pak Edi yang sudah menunggak selama dua bulan lebih." ujarnya lagi
"Pinjaman? tanya papa tak percaya
Kemudian lelaki bertubuh gempal tadi memberikan sebuah amplop kepada papa- dan Papa langsung membaca sebuah surat yang ada di dalam amplop itu. Terlihat wajah Papa berubah setelah membaca isi surat tadi.
Setelah perbincangan yang cukup panjang antara Papa dan orang-orang itu akhirnya mereka bersedia untuk memberikan waktu pada kami mengingat kondisi yang masih dalam suasana berkabung.
Sayangnya saat itu- aku sedang tidak berada di rumah jadi sama sekali Aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan papa memberitahuku soal kejadian tadi siang sesaat setelah Aku kembali dari rumah sakit.
"Bagaimana mereka tahu alamat rumah ini?tanyaku pada Papa
"Entahlah. Papa juga tidak tahu soal itu." jawab Papa.
"Rasanya aneh karena Edi dan keluarganya sama sekali tidak tahu Aku membeli rumah ini,"ujarku lagi. Aku yang merasa kesal lalu duduk di kursi yang ada di samping papa.
"Diana, sebenarnya untuk apa uang pinjaman sebesar itu kalian gunakan? tanya Papa padaku seakan tak percaya atas apa yang dihadapinya tadi siang.
"Sebenarnya Aku sendiri tidak tau Pa. Bahkan Aku tidak merasa menyetujui apapun terkait pinjaman Edi."ujarku lagi.
Tapi siapa yang melakukan ini semua, batinku penasaran.
Mobil Mercedes Benz G63 yang ditumpangi Pak Beni mulai bergerak meninggalkan halaman rumahku sedangkan mobil Land cruiser ATPM yang dikendarai Vera membuntuti mobil Pak beni beriringan di belakang. Sesaat setelah memastikan rombongan kendaraan itu tak terlihat lagi di pandanganku- Aku pun kembali masuk ke rumah. Ku ambil amplop coklat yang ditinggalkan Pak beni diatas meja tadi- setelah kubuka amplop tadi betapa terkejutnya aku melihat sejumlah uang didalamnya. Tiba-tiba jantungku berdetak kencang setelah menghitung jumlah uang yang mencapai dua puluh juta rupiah itu di tanganku. Tanganku seakan ikut bergetar memegang gepokan uang di hadapanku. Uang Yang diberikan Pak Beni padaku segera kusimpan di dalam brankas yang kusembunyikan rapi dibalik lemari pakaianku. Masih ada beberapa potong cincin emas pemberian orang tuaku dan cincin kawin dari Edi yang tersisa di dalamnya.
Ya Allah, terima kasih sudah menghadirkan orang-orang baik disekelilingku walau aku dalam kondisi terpuruk sekalipun mereka masih tetap baik padaku.
Malam hari- Aku baru saja ingin memejamkan mataku setelah lelah mengetik laporan. Tiba-tiba terdengar suara Satpam komplek rumah berteriak. Tak lama kemudian suara kejar-kejaran dan suara gerungan motor yang kencang terdengar olehku.
"Hei, mau apa kamu disitu? teriak suara seseorang dengan kencang.
Suara gaduh pun terdengar seperti motor yang terjatuh dan keributan antara beberapa orang di luar. Aku menyibak sedikit tirai jendelaku untuk melihat situasi diluar- kulihat Pak Engkus dan Wadi mengapit dan memegangi seseorang berseragam gelap. Ketiga orang itu berdiri tepat di gerbang pintu pagar rumahku. Siapa orang itu- dengan pengamanan yang ketat di perumahan ini bagaimana bisa seorang pencuri bisa masuk ke dalam lingkungan perumahan.
"Ada apa Pak Kus? tanyaku dari balik jendela rumah.
"ini Bu- orang ini tadi seperti ingin melempar sesuatu ke rumah ibu.
hah? melempar sesuatu, batinku bertanya. Apakah orang ini juga yang selama ini menerorku dengan bangkai dan kotoran. lalu siapa dia dan apa maksudnya.
Aku segera pergi keluar rumah- dan menghampiri bapak-bapak satpam yang masih memegangi lelaki asing tadi. Rupanya suara gaduh tadi bukan hanya mengejutkanku- beberapa tetangga juga beberapa berdatangan ke lokasi kejadian untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa kamu sebenarnya? ujarku pada lelaki yang wajahnya masih tertutup dengan kupluk ninja hitam.
Lelaki itu tidak menjawab. Kemudian Pak Ervin selaku ketua RT di tempatku mendekati lelaki itu dan dengan sigap tangannya menarik tutup kepala lelaki asing tadi.
Betapa terkejutnya Aku melihat wajah yang tidak asing yang ada di hadapanku.
"Andi." ujarku seakan tak percaya bahwa lelaki dihadapanku ini adalah Andi- adik keempat dari Edi. " Apa maksudmu melakukan ini semua." tanyaku lagi penasaran.
"Jangan pura-pura bodoh kamu Diana. Kami tidak akan membiarkanmu hidup tenang!" ujarnya dengan suara tinggi.
"Apa salahku? tanyaku lagi kali ini benar-benar Aku tidak bisa menahan amarahku.
"Kau sudah membuat Kakak Ku mati. Kau juga membuat susah hidup kami." ujarnya lagi dengan penuh kebencian.
"Hei, Aku yang seharusnya berbicara begitu." ucapku kesal sembari mengacungkan telunjukku ke wajah Andi. "Kalian selama ini yang hanya bisa menuntut dariku. Sadar atau tidak kalian sudah benar-benar memanipulasi hidupku." Andi menggeliat inginmemberontak dan lepas dari pegangan bapak-bapak satpam. Tangannya seakan mencoba untuk menerkam wajahku.
Untungnya Pak Ervin segera berdiri menengahi kami. Sehingga Andi terhalangi usahanya untuk menyerangku.
"Sudahlah. Kita selesaikan saja ke kepolisian terdekat. " ucap Pak Ervin. Lelaki bertubuh kekar itu memberi aba-aba kepada bapak satpam untuk membawa Andi ke kantor polisi terdekat untuk diinterogasi lebih lanjut. "Bu Diana- silahkan kembali istirahat. Nanti bila memang diperlukan pasti Bu diana juga akan dimintai keterangan oleh polisi." ujar Pak Ervin lagi padaku.
Aku hanya mengiyakan. Tak lagi ingin banyak bertanya. Menahan emosi seperti tadi tiba-tiba membuat pelipis kiriku bekas benturan terasa nyeri- dan tubuhku mendadak berkeringat.
"Maaf Pak Ervin. Saya kembali kedalam dulu. Saya bena-benar ingin beristirahat." ujarku
Pak Ervin mempersilahkanku- lalu lelaki itu bersama Pak Engkus dan juga Andi naik ke mobil milik Pak Ervin untuk membawa Andi ke kantor polisi.
Di atas pembaringanku- Aku sama sekali tidak habis pikir dengan apa yang terjadi baru saja. Sebegitu benci keluarga Edi padaku- padahal Aku merasa tak pernah berbuat jahat pada mereka. Bahkan perlakuan buruk mereka pun selama ini padaku sama sekali tak pernah kubalas.
Yang kuinginkan dari mereka adalah- Mereka menjauh dari kehidupanku.