
Aku mengemasi semua keperluanku- beberapa pakaian dan keperluan lainnya yang akan kukenakan nanti selama di negeri ginseng. Tak lupa juga ku bawa kamera kesayanganku untyk mengabdikan moment saat di sana nanti. Sudah tak sabar rasanya Aku bertemu dengan Mahendra. Sejak berpulangnya Edi- mungkin inilah kali pertama Aku merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya pada seorang lelaki.
Tak ada yang bisa menebak kapan dan di mana seseorang akan menemukan cinta sejati mereka Itu pula yang kurasakan saat ini- diusiaku yang sudah melewati kepala tiga untuk merasakan jatuh cinta sepertinya terlihat aneh.Namun inilah yang kurasakan dan kujalani sekarang bersama Mahendra.
"Kamu yakin Kamu akan pergi sendiri Di," tanya Ibuku seraya membantu mengemasi pakaianku.
"Ya, Bu.Ibu tenang aja. Inshallah Aku akan baik-baik saja, " jawabku meyakinkan ibuku.
"tetap saja Ibu kuatir, apalagi pertemuan kalian di negara lain. " lanjut ibuku
Aku mendekatkan posisi duduk ku berhadap-hadapan dengan ibuku. Aku ingin meyakinkannya bahwa keputusanku untuk pergi ini juga untuk meyakinkanku akan perasaanku pada Mahendra.
"Bu, Aku bertemu dengan Mahendra untuk meyakinkan bahwa dia bisa menjagaku saat kami bertemu di negeri orang. aku juga ingin meyakinkan diriku bahwa dia adalah pilihan terbaik untuk menjadi pasanganku. "
"Ya, ibu hanya berdoa kamu bisa menemukan orang yang baik dan tepat nantinya Di." lanjut Ibu
"Baiklah Ibu ku sayang," rayuku seraya kukecup lembut kening Ibuku yang sudah berkerut. Usianya yang telah lanjut tidak melunturkan kecantikan wajah Ibuku yang mantan seorang Model Kecantikan pada jamannya.
Aku kembali sibuk dengan segala keperluanku yang akan kubawa nantinya dibantu Ibu yang merapikan pakaian-pakaianku ke dalam koper. Sungguh beruntung aku sebagai anak memiliki Ibu seperti beliau yang sangat mendukung semua keinginan dan keperluan anaknya sejak kami masih kecil.
Penerbanganku yang harus terlebih dahulu transit di bandara internasional di Ibukota mengharuskanku untuk dapat pergi dengan penerbangan pertama- apalagi untuk melanjutkan ke penerbangan internasional diharuskan minimal tiga jam sebelum keberangkatan karena harus melewati proses pengecekan imigrasi dan antrian yang pastinya panjang apalagi untuk musim liburan anak sekolah seperti saat ini.
Sesampainya di bandara Internasional Soekarno hatta- Aku segera pindah ke terminal lain untuk mengejar waktuku walau masih tersisa empat jam lagi untuk penerbangan lanjutan ke Seoul.
Kereta Bandara yang menghubungkan dari satu terminal ke terminal lain menghemat waktuku saat berpindah dari terminal kedatanganku ke terminal lain. Sesampainya Aku diterminal 3 bandara internasional Sukarno Hatta- segera Aku mencari konter maskapai untuk penerbanganku sesuai nomor konter yang dilampilkan pada layarSistem Informasi Penerbangan. Ternyata sudah panjang antrian penumpang yang berbaris menunggu giliran untuk check Ketika tiba giliranku-kuserahkan dokumen penerbanganku kepada petugas maskapai untuk proses check in dan tak lama kemudian Aku pun segera menuju ke ruangan pemeriksaan imigrasi sebelum masuk ke ruang tunggu penumpang.
Untungnya Aku sudah memiliki pengalaman berpergian ke luar negeri sehingga barang-barang yang memang dilarang selama penerbangan sudah kusingkirkan terlebih dahulu sehingga tidak banyak waktu dihabiskan untuk pemeriksaan.
Di ruang tunggu kulihat tak ada lagi lowong sisa kursi- terlihat beberapa penumpang lain juga sudah duduk bersila disamping bawaan mereka masing-masing diatas lantai dan Aku pun memutuskan untuk duduk d lantai ruang tunggu yang tentunya dilapisi dengan karpet tebal yang nyaman.
Aku menyalakan telepon genggamku yang belum sempat kunyalakan sesaat setelah pendaratan tadi- tak lama kemudian beberapa kali bunyi pesan yang masuk ke teleponku berbunyi.Pesan yang dikirimkan oleh Ibuku dan juga mahendra menanyakan keberadaanku saat ini.
(sudah sampai mana nak?) tulis Ibuku dalam pesan Whatsapp.
(Kalau mo terbang jangan lupa kabari Ibu) bunyi pesan Ibu yang lainnya
Begitu pula beberapa pesan yang dikirmkan Mahendra padaku yang masuk dalam waktu bersamaan sesaat aku menyalakan telepon genggamku.
(Where are u Di)
(when u landed in Jakarta Call me)
Waktu menunggu yang cukup lama sengaja kuisi dengan membalas pesan-pesan masuksecara bergantian. Tanpa terasa akhirnya waktu keberangkatanpun telah tiba sesaat terdengar Petugas bandara mengumumkan penumpang untuk segera menaiki pesawat.
"Attention Please. Korean Air Flight Number KE-5628 to Seoul is now boarding. Would all of passengers please pass on to gate 9. Thank you" suara pengumuman terdengar dari pengeras suara ruangan tunggu.
(Mohon Perhatian. Penerbangan Korean Air Nomor KE-5628 ke Seoul sekarang sudah boarding. Harap semua penumpang melewati gerbang 9. Terima kasih)
Seperti biasa setiap kali penerbangan Aku tidak merasa terburu-buru untuk masuk ke dalam pesawat selain karena alasan malas berdiri lama untuk menjaga giliran baris antrian tapi juga karena posisi duduk yang sudah ditentukan yang tidak menuntutku untuk mencari kursi seperti antrian di dalam bis.
Perjalanan yang kami tempuh menghabiskan waktu lebih dari tujuh jam - waktu perjalanan yang lebih singkat dibanding penerbangan jakarta ke Sydney sebelumnya. Penerbangan di malam hari tak terasa melelahkan karena waktu dalam perjalanan ku habiskan dengan tidur dan terbangun saat dini hari.
Akhirnya pesawat kami pun mendarat di Bandara Internasional Incheon.
Pemandangan di Bandara Internasional Incheon sama hal seperti bandara internasional di Singapura yang memiliki fasilitas di antaranya tempat spa, ice skating ring, golf, casino, taman indoor, game center sampai Museum Korea. namun kali ini Aku tidak bermaksud menyusuri keindahan bandara terbesar di negeri K-Pop itu karena tujuanku adalah segera bertemu dengan Mahendra.
Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi milikku Aku segera mencari Taxi airport yang akan mengantarku ke hotel di wilayah Myeongdong salah satu tempat populer di Seoul tempat Mahendra menginap.
Mahendra tidak bisa menjemputku di bandara karena pagi harinya lelaki itu baru memulai kegiatan seminarnya di hotel yang sama. Mahendra hanya memberiku petunjuk agar aku menggunakan jasa taxi untuk bisa sampai ke hotel tempat dia menginap.
Tak perlu menunggu waktu lama Aku sudah mendapatkan taxi menuju hotel tempat Mahendra menginap. Saat membaca pesan whatsapp mahendra yang memberitahukanku tentang lokasi tempat kami akan menginap membuatku penasaran dan mencari tahu tentang hotel tersebut apalagi Aku adalah salah satu penggemar berat film korea sedari kuliah dulu.
(I booked already a room for you in Lotte Hotel. Just tell the receptionist) tulis Mahendra
Wow, Lotte Hotel batinku. Pikiranku sudah melayang membayangkan akan berjalan ke tempat-tempat indah di negeri ini bersama Mahendra- pasti terasa sangat romantis. Tanpa kusadar aku senyum-senyum sendiri di dalam taxi.
"Welcome to Lotte Hotel, how can I help you, Ma’am? (Selamat datang di Hotel Lotte. Ada yang bisa saya bantu, Bu?)" sambut seorang wanita cantik yang menjadi petugas resepsionis hotel.
"Good morning. I’d like to check in, please. (Selamat pagi. Saya mau check in. ujarku pada petugas hotel itu.
"Do you have any reservation?"
"I have made a reservation on behalf of Mr.. Mahendra Khan from Sydney for one room" jawabku
"Ok let me Check, Mam." ujarnya lagi seraya menekan beberapa tuts di keyboard komputer kecilnya untuk mencari pesanan yang kusebutkan tadi. " on behalf of Mahendra Khan reservation for four nights." lanjut wanita cantik itu lagi.
"Yes, that's right" ujarku
"Ok Mam. May I see your passport"
Aku membuka tas kecil yang kuselempangkan di bahuku dan menyerahkan passpor ku pada wanita itu.
"The room has been paid for,Mam. Here’s the room key, you can have breakfast at 7 a.m. tomorrow" ujar wanita muda itu lagi seraya menyerahkan kunci hotel padaku.
"Okay, Thank You"
"Your welcome, Mam."
Seorang petugas hotel lainnya membantuku untuk membawa koper serta mengarahkanku menuju lift hotel. setiap sudut ruangan hotel ini terlihat sangat mewah dan ini untuk pertama kalinya sejak Aku berstatus janda bisa menikmati lagi pemandangan dan fasilitas mewah seperti ini.
Petugas hotel membantuku membukakan pintu kamar- sesaat kemudian terdengar suara seseorang yang kukenal memanggil namaku dari arah timur.
"Diana. Hey." panggil suara itu
Seketika Aku menoleh ke arah suara- dan kulihat Mahendra dengan terburu-buru berjalan mendekat ke arahku dengan wajahnya yang full senyuman. Lelaki itu lalu meraih bahuku bermaksud untuk merangkul- seketika Kudorong tubuhnya untuk menjaga jarak.
"Why? (kenapa) tanya Mahendra dengan wajah sedikit kaget menyadari penolakanku.
"its forbidden in our religion for a hug because we are not married yet, dear." jelasku.
(Hal itu dilarang dalam agama kita untuk berpelukan karena kita belum menikah)
"its Okey Diana. I understand," ujar Mahendra. Lelaki itu kemudian meminta maaf padaku. Namun raut bahagia diwajahnya masih begitu jelas terlihat saat kami berbincang dan bercanda.
Disela waktu istirahat kerjanya- Mahendra sengaja mengajakku ke restoran hotel. Kebetulan sekali Aku belum sempat membeli makanan untuk bekalku sarapan tadi di bandara. Setelah memesan beberapa makanan untukku- Mahendra kembali memandang kearahku. Matanya yang hitam bulat menatapku dengan lekat hingga aku dapat melihat diriku di pantulan bola matanya. Seakan hanya aku yang ada di pandangan lelaki dihadapanku itu. Aku merasa tatapan nya akan membuat aku lemah suatu hari nanti. Walaupun aku tidak tahu mengapa tatapan mata hitam legam nya itu bisa membuatku merasa demikian. Mungkin hanya karena sebatas aku wanita dan dia pria. Itu saja.
"I love you, Diana" ujar Mahendra seketika mengejutkanku.
selama mengenalnya dan hampir setahun kami berbincang melalui percakapan telepon jarak jauh baru ini Mahendra menyatakan cinta padaku.
Aku ingin membalas kata-kata Mahendra tadi-tapi entah mengapa bibir ini terasa kelu untuk sekedar membalas bahwa Aku juga mencintai Mahendra.
Degupan jantung ku semakin tak karuan. Matanya masih terus memandangiku dengan lekat. Aku bisa melihat diriku di pantulan bola matanya. Hanya aku di matanya. entahlah- Aku merasakan ketakutan dan keraguan ku sendiri di bola matanya.
Tiba-tiba tangan nya menggenggam tanganku dan rasanya tubuhku bergetar dan lemas. Selama Aku mengenal dirinya, tak pernah dia menggenggam tanganku seperti ini. Selama itu pula aku takut menyentuh dirinya selain karena Aku berhijab juga karena aku tidak percaya pada diriku sendiri. Susah payah aku menahan diriku untuk tidak merasakan hal yang tidak seharusnya aku rasakan.
Ketakutan ku pun jadi nyata. Aku merasakan kenyamanan dalam genggaman nya. Rasanya seperti tidak ingin ku lepaskan. Perasaan yang ku tahan, ku kubur, dan tidak pernah ku izinkan keluar sedetik pun.
Mahendra tersenyum melihat tingkahku. Kali ini dia mengalihkan pandangannya sesaat padaku dan wajahnya seketika berubah sedih.
Entah darimana muncul keberanianku saat terucap kata-kata "I love you too." dari mulutku sendiri
Seketika wajah Mahendra kembali berubah girang- senyuman yang sesaat sempat hilang kini mengembang diwajahnya yang manis.
Memang Aku mulai merasakan jatuh cinta lagi pada lelaki itu. Perasaan yang tidak mampu kutolak walau berkali-kali Aku menahannya.
.