I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)

I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)
Pertengkaran Cinta II



Akhir-akhir ini Aku merasa sangat bosan dan benci pada pekerjaanku. Entahlah- apakah Aku yang tidak cukup cakap dalam menjalankan pekerjaanku atau karena situasi yang memang sudah tidak nyaman yang tercipta di lingkungan kerjaku. Bukan rahasia lagi bila bekerja di lingkungan pemerintahan sering terjadi konflik antara kepentingan pribadi dan posisi, pekerjaan yang terlalu menuntut hal-hal tambahan diluar tugas membuat pegawai seperti diriku merasa tertekan. Satu sisi ada juga ketidakpuasan atas apa yang kudapatkan selama ini. Dulu aku merasa sangat mudah mendapatkan sebuah pujian atau posisi  namun sekarang terasa begitu sulit untuk kuraih apalagi sejak Aku menikah bahkan sampai saat ini Aku merasa orang hanya  menilai diriku dari fiaikku yang tidak menarik dan selincah dulu. Tubuhku yang gemuk, pipiku yang *cubby *dan statusku sebagai seorang janda seakan merubah pandangan orang terhadapku.


Terkadang Aku membandingkan saat Aku bekerja sebagai pegawai pemerintah dan saat Aku bekerja di perusahaan swasta. Tentu saja setiap pekerjaan ada kelebihan dan kekurangan- namun bagi diriku yang sudah merasakan bekerja di sebuah perusahaan besar yang kuangap benar-benar mengedepankan profesionalitas kerja rasanya sangat kesal dengan ketimpangan yang terjadi antara pegawai di pemerintahan. Tak ayal banyak stigma buruk yang bermunculan di masyarakat tentang pegawai pemerintahan di negeri ini- pegawai negeri itu malas, tidak masuk kerja tapi tetap dibayar, sulit di-PHK, bila punya saudara di pemerintahan maka bisa menjadi ASN, karier stagnan, tak bisa mengembangkan kemampuan dan masih banyak cerita miring lain  yang berkembang di masyarakat.


But- well beberapa hal yang menyebabkan kebencianku muncul pada pekerjaanku ini  coba kutepiskan. Toh untuk mendapatkan kerja lain diusiaku yang hampir menginjak angka empat rasanya akan sulit.


Jeleknya diriku - sifat *moody -*ku ini terkadang terbawa dengan suasana hatiku-bahkan perubahan sikapku kepada Mahendra.


Mengapa Aku tidak bisa seperti orang lainnya-bersikap masa bodoh dengan segala beban kerjaku. Ya kenapa tidak, batinku.Kenyataannya kedisiplinan dan kerja kerasku pun akhirnya tidak akan diperhitungkan.


Waktu kerja yang cukup luang ditambah keseharianku yang hidup seorang diri di rumah sejak Ibuku memutuskan untuk menetap di jakarta- waktuku lebih banyak kuhabiskan untuk bermain dengan tuts komputer- melukis ataupun sekedar menyibukkan diri dengan memainkan handphoneku.


Apalagi biasanya dalam sehari Mahendra bisa beberapa kalii meneleponku- tapi entah mengapa kebiasaannya itu mulai jarang dilkukan.


Sebagai seorang pacar- kadang ada kekhawatiran bila sehari saja tak saling berkabar.


Aku mencoba menepis semua gundah yang ada dalam otakku.


Malam ini- dengan iseng aku membuka aplikasi facebook yang telah lama tidak kubuka. Tiba-tiba teerlintas rasa penasaranku untuk mencari tahu lebih dalam tentang Mahendra dari sosial media miliknya.


Aku memang sudah berteman dengan Mahendra baik di instagram maupun facebook- tapi sama sekali tak terpikir olehku akan mencari tahu lebih jauh tentang apa yang dikerjakan atau orang-orang yang ada disekitar Mahendra.


Satu-per satu ku telusuri status di media sosial nya dan satu per satu pula ku buka  koleksi pertemanannya.


Terlihat beberapa teman satu profesi dengan Mahendra dan beberapa orang yang kukenal wajahnya dan pernah diceritakan Mahendra sebagai anggota keluarganya. Tapi berapa wanita dari negara yang berbeda dengan tampilan seksi seketika membuatku cemburu.


Namun pertengkaran yang terjadi diantara kami adalah berawal dari hubungan yang berjarak cukup jauh.- komunikasi yang mulai kurang intens dan kerinduan akan sebuah pertemuan kembali.


Mahendra yang sangat sibuk dengan pekerjaannya akhir-akhir ini membuatnya sangat jarang berkomunikasi denganku- sedangkan Aku sesibuk apapun tetap menyempatkan diri untuk menyapanya- walau hanya sekedar menceritakan kegiatan atau kegundahanku karena pekerjaan dan kerinduan pada dirinya.


Jarak, adalah satu kata yang membuat sebagian besar orang saling bertengkar termasuk aku. Bagaimana tidak, namanya orang yang jatuh cinta pasti sangat ingin mendekat. Kalau bisa bersama disetiap helaan napas, setiap detik dari sebelum sampai sesudah menutup mata.


"I could just leave you. Leaving you alone. Makes you live your life the way you have in mind. Live by doing a boring job and make you angry. Fulfilling one agreement to then be affixed with another agreement. But is it the life you want?" (Aku bisa saja meninggalkanmu. Membiarkanmu sendirian. Membuatmu menjalani hidupmu seperti yang ada dalam pikiranmu. Hidup dengan menjalani pekerjan yang membosankan dan membuatmu marah. Memenuhi satu perjanjian untuk kemudian dibubuhkan dengan perjanjian yang lain. Tapi apakah itu hidup yang kamu mau?) sahut Mahendra ketika aku mempertanyakan ketulusan cintanya padaku.


" I've fought and lost before, I'm not ready to be betrayed again,"(“Aku sudah pernah berjuang dan kalah, aku tak siap untuk dikhianati lagi,”) kataku lagi saat itu.


"Who betrayed you?(siapa yang berkhianat)  ujarnya dengan suara marah. "Di- I love you. I don't care about everything that has happened to you in the past. Even though you, with all your  thoughts, still harbor hatred in the past. You are not alone, many people think so too. In this suffering we are equal and we have the same hope" (Aku mencintaimu. Aku tak peduli dengan segala apa yang telah terjadi padamu di masa lalu. Meski kau, dengan segala pemikiranmu, ternyata masih memelihara kebencian di masa lalu. Kamu tidak sendiri, banyak orang yang juga berpikir begitu. Dalam penderitaan ini kita setara dan kita punya harapan yang sama.) lanjut Mahendra sekali lagi berusaha untuk meyakinkanku.


Aku diawal hubungan sangat percaya jika kami berdua saling mencintai. Iya, aku dan Mahendra. Kita berdua sama-sama sayang. Sama-sama membutuhkan. Sama-sama menginginkan dan sama-sama mengagumi. Aku dengan segala kecerobohanku dan Mahendra dengan segala kedisiplinan dan sikap perfeksionisnya. Tapi belakangan aku terus berpikir, apakah aku terlalu naif untuk melihat kenyataan yang ada. Jarak yang jauh-komunikasi yang sudah tidak se- intens dulu dan pertemuan yang sangat sulit kami rencanakan lagi membuatku berpikir Mahendra sudah tidak lagi mencintaiku.


" Listen Di- I was getting mad doesn't mean hating you or stop loving you. I didnt call or text you  it doesn't mean i don't care about you.Its only just a pause to remind us how valuable someone we care about is." ("Dengar Di- Aku marah bukan berarti membencimu atau berhenti mencintaimu. Aku tidak menelepon atau mengirimimu pesan bukan berarti aku tidak peduli padamu. Hanya jeda untuk mengingatkan kita betapa berharganya seseorang yang kita pedulikan).  ujar mahendra dengan suaranya yang lembut dan terdengar bersahaja.


“"I just want you to be happy. I don't want you to love me or care about me,"(Aku hanya ingin kamu bahagia. Aku tidak ingin kau mencintaiku atau kasian padaku,” kataku.


“Oh my God. Whats a Nonsense" (ya ampun Omong kosong apa ini)” jawab Mahendra dengan suara sedikit meninggi.


Mahendra seketika memutuskan percakapan kami ditelepon. aku mencoba menghubunginya lagi-namun sama sekali tak ada tanggapan dari lelaki itu. Aku tahu semua ucapanku tadi telah menyakiti perasaan Mahendra. Tapi menurutku kegalauan dan  kecemburuanku itu sangat beralasan. Aku tidak ingin lagi ada penghianat dalam hidupku- yang menghianati kepercayaan dan cintaku. Aku tidak ingin mencintai lelaki yang mampu mencintai wanita lain di waktu bersamaan.