I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)

I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)
Rindu I



Hari kelima kebersamaanku dengan Mahendra di Seoul membuat kami merasa semakin berat untuk berpisah. Tidak sedetikpun Mahendra ingin melepaskan pandangannya dariku. Bahkan tangannya semakin erat menggenggam tanganku.


"I hope we will have more days to stay but we cant." (aku harap kita masih ada beberapa hari untuk tinggal. Tapi tidak bisa) ucap Mahendra memecah keheningn diantara kami.


Tak ada satupun diantara kami berdua yang rela berpisah. Entah kapan waktunya lagi kami bisa bersama, batinku.


"Di, promise me you will never leave me." (Di-berjanjilah bahwa Kau tidak akan meninggalkanku)


"Of course I won't"( tentu saja tidak) jawabku sambil menepuk lembut pipinya. Rahangnya yang kokoh membuahku makin menunjukkan wajah maskulin Mahendra yang membuatku semakin jatuh cinta.


Malam ini sengaja kami menghabiskan malam kami duduk di taman yang dibatasi pagar gembok cinta. Suasana malam yang romantis dengan view kelip lampu Seoul dari ketinggian Menara Namsan, ditambah nuansa penuh cinta  tak ayal membuat banyak pasangan berkunjung ke tempat itu di malam  hari.


" I don't want our memories for these days be lost along with the twilight that is being driven away. I want these memories to always be with us until bring us for a marriage. Forever." (Aku tidak ingin kenangan kita hari ini hilang bersama senja yang terusir. Aku ingin kenangan ini selalu bersama kita hingga membawa kita ke sebuah pernikahan. Selamanya) ujar Mahendra padaku. Kemudian tanganku didekatkan ke wajahnya dan kecupan hangat bibir Mahendra mengecup tanganku dengan lembut beberapa kali. Entahlah Aku merasa lelaki disampingku ini begitu perhatian padaku- namun ada yang mengganjal dihatiku apakah perlakuannya akan tetap sama padaku seiring waktu berlalu.


Aku menatap kedua bola mata bulat Mahendra. Mata itu terlihat berkaca-kaca. Sebenarnya banyak hal yang ingin kutanyakan pada lelaki itu- tapi tak sepatah katapun mampu keluar dari mulutku.Entahlah- bayang-bayang masa lalu percintaanku dengan Edi membuat rasa  percaya pada lelaki bisa dibilang tidak ada. Tapi sisi lain ada kenyamanan yang ku rasakan selama bersama Mahendra.


Malam semakin larut -angin dingin sesekali menerpa wajahku sehingga membuat bibirku kelu dan beku. Mahendra tak bergeming sama sekali dari tempat itu sedangkan diriku merasa ingin cepat kembali mencari kehangatan ruangan kamar hotel untuk mencairkan kebekuan malam ini.


Tiba-tiba  Aku merasa handphoneku bergetar dari dalam saku jaketku. Awalnya aku tidak respon. Aku berpikir bahwa tidak mungkin orang masih mengirim pesan  larut malam begini. Apalagi sekarang menuju pukul 01. 30.  Tetapi aku coba melihat mungkin benar bahwa ada pesan masuk.


Seketika kubaca pesan yang masuk yang ternyata dari kakak iparku- kak inneke istri kakak lelakiku yang nomor dua.


(Assalamualaikum Di, maaf mengganggu liburanmu. Abang sakit parah dia selalu menanyakn Diana.)


Seketika aku terkejut membaca pesan masuk itu. Ya Allah- betapa panik dan kacau pikiranku saat itu. Lalu aku teringat saat kepergian Papa dan saat itu pula Aku berada di Sydney bersama Mahendra. Aku bahkan tidak bisa mendampingi Papa disaat terakhirnya-dan baru bisa kembali ke Indonesia setelah dua hari kepergian Papa.


Tanpa sadar air mata menetes dari sudut mataku. Tanganku terasa bergetar membalas pesan Kak inneke untukku tadi.


"hey, why are you crying? ( hei, kenapa kamu menangis) tanya Mahendra padaku saat dia melihat aku beberapa kali mencoba menghapus air mataku.


Mahendra melirik ke arah handphoneku. Dia mencoba membaca pesan masuk yang ditujukan padaku-namun kendala bahasa yang tidak ia pahnmi akhirnya membuat lelaki itu bertanya padaku.


" who's sending text? And what is all about? (siapa yang mengirim pesan? Dan apa maksud semua ini?)


"my elder brother in hospital. He has serious illness" (kakak saya di rumah sakit dan sedang sakit parah) jwablu dengan wajah sedih.


Mahendra terdiam sejenak. Terdengar suara desahannya menghela nafas. Lalu lelaki itu berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangannya kepadaku.


Aku menyambut uluran tangan Mahendra tanpa tau apa yang akan dilakukan lelaki itu selanjutnya.


"we go back to hotel now. And tomorrow you can go back to Indonesia. I will ask my partner to reschedule your flight. " ( kita kembali ke hotel. Dan besok kamu bisa pulang ke indonesia. Aku akan meminta rekanku merubah jadwal penerbanganmu) ujar Mahendra kemudian.


Aku mengangguk tanda setuju. Jujur Aku sangat takut akan kehilangan lagi anggota keluargaku disaat Aku berada jauh dari mereka. Tapi disisi lain Aku masih menginginkan kebersamaanku dengan Mahendra.


Mahendra semakin erat memegangi tanganku- kami sengaja menyewa Taxi yang akan mengantarkan kami sampai ke hotel lebih cepat- walaupun jarak hotel dengan tempat kami nongkrong malam ini tidaklah jauh.


Sesampainya kami di hotel- Mahendra menuntunku dengan pegangannya yang erat sampai kami memasuki lift yang mengantarkan kami ke lantai lima belas tempat kamar kami berada.


Sejujurnya bila berkaitan dengan keluargaku Aku menjadi sangat melankonis berbanding terbalik dengan sifat asliku yang orang lain kenal biasanya.


Sesampainya di kamar ku- mahendra terlihat sibuk dengan handphonenya menghubungi rekan kerjanya. Lelaki itu duduk di sofa di sudut kamar dekat jendela-sesekali matanya memandang kearahku-namun Aku tak kuasa membalas pandangan itu dengan senyuman. Aku sungguh kalut dengan pikiranku sendiri.


Ketika di sydney dan kami mendapatkan berita tentang kondisi sakit Papaku yang semakin parah dan harus dirawat di ICU- Mahendra lah yang menenangkan Aku dan Kakak perempuanku yang saat itu kebingungan ingin pulang dalam kondisi panik.


Mahendra yang baru saja kukenal rela merepotkan dirinya untuk menukarkan jadwal penerbangan kami yang masih satu minggu lagi di sydney untuk bisa pulang ke tanah air lebih cepat.


Tak lama Mahendra meletakkan handphonenya di sebuah meja kecil yang ada di sampingnya. lelaki itu berjalan mendekatiku dan kemudian duduk disampingku dengan posisi sedikit merapat ke tubuhku.


"Dont worry Di. You can get your Flight by tomorrow morning to jakarta. and I promise you I will arrange for our next meeting soon." (Jangan kuatir, Di. Kamu akan pulang besok. Temanku telah memesan penerbangan ke jakarta besok pagi. dan Aku janji padamu akan merencanakan pertemuan kita segera) Mahendra mencoba untuk menenangkanku.


Sebenarnya kepulanganku ketanah air sudah dipesan olehnya  untuk beberapa hari lagi- namun mahendra tau kegundahan hatiku saat menerima berita tentang sakitnya kakak kesayanganku tak akan membuatku menikmati liburanku selama di seoul dengannya. Mahendra juga tahu bagaimana kepanikanku saat di negara orang ketika mendapatkan kabar bahwa Papa ku meninggal dunia.


"Di, believe me your brother will be fine." (Di- percayalah kakakmu akan baik-baik saja)


"Yes. I hope so. " (ya. Aku harap begitu) jawabku tak bersemangat.


Malam ini Mahendra sengaja tidur di kamarku-walau begitu dia tetap menjaga batasan diantara kami berdua dan menghormati keinginanku agar kami tidak melakukan hal yang dilarang agama kami. Mahendra mengambil sebuah bantal dari atas ranjang dan menempatkannya di sisi kursi sofa yang ia duduki.


Aku beberapa saat mencoba memejamkn mata-sesekali pandanganku kuarahkan ke lelaki yang telah tertidur lelap di atas sofa yang terlihat tidak cukup panjang untuk ditiduri oleh Mahendra yang bertubuh tinggi. Aku beranjak dari tidurku. Ku angkat selimut hotel yang tebal dan bermaksud menyelimuti tubuh Mahendra agar terasa lebih nyaman. Diam-diam kupandangi setiap lekuk wajah dihadapanku- sungguh Aku akan merindukan wajah ini, tatapan dari matanya dan juga sentuhan tangannya.


Mahendra terlihat sangat lelap tertidur- dan Aku masih belum bisa melepaskan pandanganku dari wajahnya. Keberanianku muncul untuk menatap wajah itu disaat lelaki ini tertidur.


Dini hari-


Aku terbangun seketika mendengar alarm dari handphoneku berbunyi. Alarm yang sengaja ku setting  untuk membangunkanku sebelum waktu sholat subuh tiba.


Ku bangunkan Mahendra yang masih lelap tertidur- bermaksud untuk mengajaknya sholat subuh bersama.


"Honey- wake up. Time for pray."( sayang- bangun waktunya sholat) bisikku ke telinganya.


Lelaki itu membuka matanya perlahan- menggeliatkan tubuhnya yang tadi mengkerut menyesuaikan dengan posisi sofa dan dengan sedikit belum sadar mencoba untuk duduk.


"oh ya. Thanks honey. Wait a second" (oh ya baik sayang. Tunggu sebentar)


Pagi ini untuk pertama kalinya Aku sholat dengan di imami oleh Mahendra. Walaupun agak canggung rasanya- tapi inilah kesempatanku untuk menguji ketaatan lelaki ini dalam menjalankan ibadah.


"Assalamualaikum Warahmatullah. Assalamualaikum warahmatullah."  ucap salam pertama dan  Kedua Mahendra mengakhiri sholat subuh.


Selesai melipat perlengkapan sholat kami- Mahendra kemudian berpamitan untuk kembali ke kamarnya.  Pagi ini dia ingin mengantarkanku sendiri sampai ke bandara Internasional Incheon melepasku kembali ke Jakarta.


 Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi waktu korea. Mahendra tetap belum ingin beranjak meninggalkanku sendiri di bandara ini- Penerbanganku terjadwal pukul sepuluh dengan Garuda Airlines rasanya ingin kuundur lebih lama karena berat rasanya berpisah dengan Mahendra. Tapi bagaimanapun Aku harus kembali ke tanah air- karena saat ini yang ada dalam pikiranku adalah Kakakku yang sedang sakit.


"honey- time for me to go" (sayang- waktunya Aku harus pergi) ujarku pada mahendra.


Lelaki itu hanya mengangguk- lalu dia merangkulku dengan erat. Tak perduli lagi dengan perjanjian dianatara kami untuk tetap menjaga batasan kami sebelum kami benar-benar menjadi suami istri.


Langkahku terasa berat- sekali lagi Aku menoleh ke arah mahendra yang berdiri mematung diluar batas ruang pengecekan imigrasi. Wajahnya yang terlihat sedih membuatku ingin berlari untuk memeluknya lagi- tapi Ah tidak Aku tidak bisa membiarkan perasaanku semakin dalam terikat olehnya..


Perjalanan yang menempuh waktu selama lebih dari tujuh jam tidak membuatku sedikitpun dapat memejamkan mata. Pikiranku dikuasai dengan bayangan Mahendra dan kakakku. Pilihan yang keduanya berat bagiku saat ini. Namun rasa takut kehilanganku semakin kuat.


Sesampainya Aku di bandara internasional Soekarno hatta-  Aku langsung memesan taxi online yang akan mengantarkanku ke rumah sakit tempat kakak lelakiku di rawat. Beberapa pesan yang masuk ke handphoneku bertubi-tubi berbunyi sesaat setelah Aku menyalakan kembali handphoneku yang sepanjang perjalanan dalam posisi off.


(Di- Abang sedang koma. kamu sudah sampai dimana) pesan masuk dari Kakak tertuaku-Devi membuat perasaan dan pikiranku semakin tidak karuan.


Ya Allah- Jangan kau berikan ujian dengan kehilangan lagi anggota keluargaku- batinku berdoa. Tak henti bibir ini mengucap salawat untuk menenangkan hatiku yang gelisah. Mobil yang kutumpangipun berhenti tepat didepan lobi rumah sakit MMC kuningan-  Aku mengambil barang-barangku dari bagasi mobil segera Aku bergegas menuju ruangan tempat kakak lelakiku itu dirawat.


Kulihat beberapa anggota keluargaku sudah berkumpul di depan kamar rawat. Aku segera membuka pintu kamar- suara tangisan terdengar sahut menyahut di ruangan itu. mataku langsung tertuju pada kakak lelakiku yang terlihat sudah tak berdaya di atas ranjang dengan wajahnya yang pucat.


Ya Allah- seminggu sebelum Aku berangkat ke korea Aku masih melihat kakak kesayanganku itu dalam kondisi sehat dan masih menyempatkan diantara kami bercanda seperti biasanya bila bertemu.


Terlihat olehku Ibuku sudah duduk mendamping kakakku dan tangannya yang tergenggam erat memegangi tangan kakakku yang terlihat sangat lemah dan pucat.


Aku mendekatkan wajahku ke wajah Bang Derta- kukecup lembut keningnya dan berusaha untuk terlihattegar dihadapannya.


"Diana- Abang senang kau ada disini." ujarnya dengan suara terbata-bata. napasnya terengah seakan letih hanya sekedar untuk berucap sepatah kata padaku.


"Iya-bang. Abang harus kuat. Abang harus sehat" jawabku. Tak kuasa lagi kutahan airmata ini untuk mengalir. Ya- Aku tidak ingin terlihat sedih tapi Aku juga tak kuasa melepasnya pergi.


Bang Derta tersenyum- senyuman itu terasa hambar bagiku karena Aku tidak rela melihatnya dengan segala kesakitannya saat itu.


"Abang minta maaf ya Di- Abang sayang kalian." suara Bang Derta lirih.


Bang Derta mengangkat tangannya yang lemah ke arah wajahku. Seakan dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk membelai pipiku. " "Titip jaga Ibu." lanjutnya.


Bang Derta masih sempat mengucapkan kalimat syahadat sebelum menutup matanya perlahan. Kepergian Bang Derta sungguh sangat tak bisa kami percaya- semua terasa tiba-tiba. Baru setahun lalu papa meninggalkan kami- dan sekarang keluargaku harus kehilangan kakak lelaki yang sangat kami cintai.


"Anakku... Ya Allah anakku." teriak Ibu seketika tangisnya memecah ruangan. Kami pun serentak memeluk tubuh yang sudah terbujur kaku dihadapan kami.


Aku tak kuasa menahan tangisku- Kupeluk tubuh ibuku yang gemetar dan seakan tak rela melepas kepergian Kakak lelakiku itu.


Hanya kalimat perpisahan yang bisa kuucapkan saat ini. " aku akan selalu merindukanmu Bang. "