I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)

I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)
Maafkan Aku Cinta



Sudah lebih dari seminggu lamanya aku menunggu dan berharap hubunganku akan membaik dan hangat lagi. Namun tak satupun pesan atau dering telpon yang kuterima dari Mahendra sampai saat ini.


Selam menjalin hubungan- kami memang beberapa kali bertengkar- tapi hanya berselang jam kami sudah berkirim pesan romantis lgi seperti tak ada masalah sebelumnya. Berbeda dengan pertengkaran kali ini-tak pernah selama ini dia membiarkanku dengan kebingunganku. Aku sadar kali ini aku yang salah menilai Mahendra. Kecemburuan yang tak beralasan yang justru muncul dari pikiranku sendiri.


Kucoba mengirimkan pesan untuknya sekali lagi


( honey, Please forgive me.will you answer my call?)


Kucoba menunggu beberapa saat balasan dari Mahendra. Tapi sampai beberapa saat pun masih belum kudapatkan jawaban darinya.


Yang bisa kulihat hanyalah tanda centang dua yang menandakan bahwa pesan yang terkirim olehku telah dibaca si penerima.


Ya Allah apakah aku benar-benar akan mengakhiri kisahku ini. Apakah Aku masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki semua.


Terbersit kerinduan- pasrah dan rasa ingin menyerah dengan semua keadaan ini. Aku tak ingin berpisah dengan mahendra tapi Aku juga tak bisa melepaskan ketakutanku dari masa laluku.


Aku ingin sekali membiarkan rasa ini bertaut, membiarkan cinta ini bernafas tapi selagi Aku tidak berdamai dengan masa laluku selagi itulah tiada kesempatan untuk mencintai dan cintai seseorang. Hari ini sudah hampir lebih dari satu bulan sama sekali tidak ada komunikasi dari Mahendra. Aku mulai merasakan kekosongan di hatiku. Aku mencoba untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan yang membosankan hanya untuk sekedar menutupi kerinduanku pada Mahendra. Mungkin sudah sampai disini ceritaku dengan Mahendra. Aku harus bisa melupakannya-batinku. Dengan perasaan berat aku hapus kontak nomor handphone Mahendra yang tersimpan di phonebook-ku.


ya-mungkin inilah akhirnya yang harus kulakukan.


Namun tak berselang lama- justru Aku mendapatkan panggilan telepon dari Mahendra disaat Aku sudah tak ingin berharap lagi.


Tanpa pikir panjang Aku segera mengangkat panggilan mahendra itu.


"Why Di. Why did you delete your profile picture? or you also delete my number? (kenapa Di- kenapa kamu menghapus profil mu? atau kamu juga telah menghapus no kontak ku? tanyanya tanpa basa-basi dan tanpa memberiku kesempatan untuk mengucapkan salam.


I thought you dont want to talk to me anymore. I thought you..." belum sempat Aku menyelesaikan kata-kataku Mahendra dengan sigap memotongnya.


""DI, I love you. I I don't talk because I want you to think how much I mean in your life and you need me." ( DI, aku mencintaimu. Aku tidak bicara karena aku ingin kamu memikirkan betapa berartinya aku dalam hidupmu dan membutuhkan saya)


"I love you,You mean everything to me, Dear"("Aku mencintaimu, kamu berarti segalanya bagiku, Sayang)  jawabku spontan.


Mahendra tak menjawab tapi ia mengalihkan hubungan telepon kami ke video call. Aku menyambut panggilan visual itu. Sungguh waktu yang sekian lama tak melihat wajahnya membuatku tak ingin seketika bayangan wajah orang yang aku cintai hilangbegitu saja dari ingatanku.


" Di, don't judge me like other men you knew. Don't think and ever think that everymen behave like your ex husband." ("Di, jangan menilai saya seperti laki-laki lain yang kamu kenal. Jangan berpikir dan pernah berpikir bahwa semua laki-laki berperilaku seperti mantan suamimu.")


Lelaki yang kulihat dilayar handphoneku itu terlihat sedikit tirus dari beberapa bulan lalu saat kami bertemu muka di Korea. Dia terlihat sedikit kurus dan tak terawat dengan rambut yang tebal menutupi dagu dan pipinya.


"I am so sorry, Dear. I am so sorry." ujarku kemudian tanpa melepaskan pandanganku pada wajahnya.


"Its Okay. Di" ujar Mahendra dengan senyuman yang tak terlihat manis karena ditutupi brewok di wajahnya yang mengurangi ketampanan wajahnya.


Aku lupa meskipun kekasihku tak ada di depan mata namun dia tau setiap gerak gerikku dan isi hatiku. Aku lupa bahwa cintanya sebenarnya lebih besar dari apapun dan dari siapapun.


Bincang dan canda kami terasa begitu hangat.  Langit yang tadinya mendung kini berubah cerah. Rintik hujan yang turun seketika berhenti. Seakan tahu suasanya hatiku yang kembali cerah setelah mendapatkan jawaban dari kekasihku. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore-  waktunya Aku menutup lembar pekerjaanku hari ini dan kembali ke rumah.


" Honey- i will call you at night when you are free. I need to go home."("Sayang- aku akan meneleponmu di malam hari ketika kamu bebas. Aku harus pulang.) ujarku pada Mahendra


Mahendra tersenyum dan hanya mengganggukkan kepala. Lelaki itu kemudian melayangkan  kecupannya melalui layar telepon kepadaku


Ada rasa bahagia saat melihatnya melakukan itu- namun ada juga timbul kesedihan dihatiku. entah sampai kapan kami akan berjauhan seperti ini. Aku hanya berdoa semoga Mahendra adalah jodoh yang tepat yang diberikan Tuhan untukku kali ini.


Kini aku sadar akan satu hal, jarak itu hanya sebatas presepsi. Karena yang dekat bisa berjarak, yang tak terlihat bisa dirasakan sangat dekat. Jarak mengajarkanku, bukan lagi mata yang harus melihat namun sekuat apa hati mencintai dan kalimat cinta terucap.Aku bersalah padanya- tapi cinta ini sudah tak mampu kubendung dan ungkapkan dengan rasa rindu yang menggelora.  Karena suatu hari akan tiba masanya pertemuan itu tiba, semoga kamu menyambutku dengan penuh cinta.


Ruangan kantor hanya tersisa beberapa orang- kebiasaan tidak disiplin pegawai yang pulang kerja sebelum waktunya jujur saja sering membuatku geram ditambah punya pimpinan yang tidak tegas dalam bersikap.


Aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan kerjaku. Aku sudah  tidak perduli dengan lingkungan kerjaku. Sapaan dari beberapa rekan kantorku tak terlalu  kuhiraukan- walau masih kujawab seperlunya. Mood ku mungkin sudah lebih baik tapi kejenuhanku terhadap pekerjaan belum membuatku menjadi lebih baik.


"Pulang Bu." tanya Herdi yang menjadi offie boy di kantorku


"ya, Di." jawabku seperlunya.


Herdi lagi-lagi menawarkan jasanya untuk membawa dokumen-dokumen yang berjejal dalam tas bawaanku. Tanpa diminta lelaki gempal ini selalu membantu meringankan pekerjaku. Pada lelaki ini- tidak mungkin rasanya Aku mengacuhkan sapaannya- selain Aku sangat mengapresiasi kinerjanya- Aku juga menghargai keramahannya pada setiap orang di kantorku.


Tanpa sungkan Aku mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan dan menyodorkannya pada Andi.


"Herdi ini maaf ada sedikit dari Ibu. Untuk tambah beli susu anakmu," ujarku kemudian pada Herdi.


Herdi dengan malu-malu menerima pemberianku itu. Aku tahu saat ini Herdi sangat membutuhkannya- apalagi istrinya baru saja melahirkan seorang bayi perempuan.


"Anu- Ah Ibu terima kasih banyak Bu." ujarnya lagi padaku.


Lelaki itu membukakan pintu mobil untukku- dan kemudian membuka bagasi bagian belakang untuk menyimpan barang-barang bawaanku yang dibawanya tadi.


"Bu Diana-saya selalu berdoa untuk kesehatan dan kesuksesan ibu. Dan tentunya smoga ibu mendapatkan suami yang baik nantinya." ujar Herdi padaku lagi sesaat Aku membuka kaca jendelaku.


Suami yang Baik? yah. Aku memang mengharapkan dan selalu berdoa pada Allah agar kelak diberikan jodoh seorang suami yang baik dan mengerti diriku.


Doaku- Mahendra adalah lelaki yang dipilih Allah untukku untuk menjadi suamiku yang terakhir.


Amiin Ya Rabbalalamin