
Kepergian Bang Derta menambah kesedihan keluarga kami- terutama Ibu. Sosok Bang Derta yang penghibur dan penyayang tak lagi bisa kami temui. Apalagi diriku- sejak Aku menetap di Kota Bandung tak jarang Aku sering kali mengunjungi kakak lelakiku itu walau hanya sekedar melepas rindu pada dirinya atau anak-anak perempuannya.
hari ini. Ketegaran kak Inneke- kakak iparku patut diacungkan jempol. Tak ada raung tangisan untuk melepas kepergian suaminya hanya lantunan bacaan Al -quran yang selalu dibisikkan ke telinga kakakku sampai detik kepergiannya.
Hari ketiga kepergian Bang Derta-Aku dan keluarga masih belum bisa meninggalkan rumah duka. sampai hari ini pun Aku, Ibu dan saudara-saudara yang lain masih menyempatkan diri untuk setiap pagi memanjatkan doa untuk bang Derta diatas tanah pusara yang masih merah dan basah.
Kehilangan orang tua dan kakak lelakiku meninggalkan luka yang dalam bagi diriku- berbeda halnya saat aku kehilangan Edi suamiku. Perasaan sedih yang dalam akan kehilangan orang yang dicintai yang tidak kurasakan saat kehilangan Edi.
Aku menciumi papan nisan yang bertuliskan nama kakakku-lalu bergantian Ibu dan saudara lain melakukan hal yang sama. Sesaat Aku mulai melangkahkan kakiku meninggalkan pusara bang Derta- suara khas panggilan telepon dari Mahendra yang sudah tersetting terdengar olehku.
Ibu sesaat menoleh kearahku- lalu dengan memberi kode ibu memintaku untuk segera mengangkat telepon itu.
"Ya, Asalamualaikum" ujarku sesaat kutekan tombol jawab dari layar handphoneku.
"Waalaikumsalam, Di" terdengar suara Mahendra menjawab salamku. "How are you doing Di? (bagaimana kabarmu, Di?) tanyanya kemudian padaku
"I am fine. but" jawabku kali namun kali ini Aku tak mampu lagi melanjutkan kata-kataku karena rasa sedih yang sulit kuungkapkan.
"I know Di. I am so sad for you. I know how much you must love your brother more than anything." (Aku tahu Di. Aku sedih melihatmu. aku tahu betapa kami mencintai kakakmu lebih dari segalanya)
"I know" jawabku singkat
"I wish i was there, Di" (aku harap Aku bisa berada disisimu, Di)
Ya- Memang disaat seperti ini Aku membutuhkan tempatku mencurahkan perasaanku untuk ada disisiku. Aku tak ingin menangis karena kehilangan ini- tapi Aku juga tak bisa menahan untuk menyimpan rasa pedih ini.
Aku membutuhkan Mahendra disampingku- memelukku dalam dekapannya dan mendengarkan semua kata-katanya yang dapat memenangkan hatiku saat ini.
Hari berganti menjadi minggu, lalu minggu ke bulan, dan aku mulai mampu mengurangi rasa sedih akan kehilangan sosok kakak lelakiku. Namun kerinduan pada Mahendra justru semakin dalam. Cerita dan canda lelaki pakistan itu lewat telepon rasanya tak cukup mengobati kerinduanku akan dirinya.
Saat ini- hubungan jarak jauh kami berlangsung selama lebih dari satu tahun dan selama itu Mahendra selalu mengirimi pesan yang membuatku ingin cepat kembali ke pelukannya. Banyak temanku tidak yakin akan kelanggengan hubungan kami. “Yang dekat satu kota atau kampung saja banyak yang putus, apa lagi yang jauh!” “Jauh di mata dekat di hati itu sudah tidak berlaku sekarang! Sekarang ini, jauh di mata ya jauh di hati juga!” “Yang dekat saja bisa selingkuh, apalagi yang jauh!” Itulah kalimat-kalimat yang sering diucapkan oleh teman-temanu kala itu. Aku hanya menjawab: “Terserah Allah lah! Jika Allah pun berkehendak, maka jarak bukan masalah!”
Pertemuan kedua kami saat di Korea selatan yang singkat- rasanya tidak mampu melepas seluruh rasa rindu yang ada dalam diri sedangkan untuk merencanakan pertemuan lagi memerlukan biaya yang besar bagi kami berdua. Namun kecanggihan teknologi komunikasi saat ini mempermudah semuanya . Jarak yang jauh bukan lagi masalah untuk melepas rindu apalagi telepon internasional yang sudah menggunakan berbagai aplikasi tidak lagi membutuhkan biaya besar dan sangat memudahkan kami untuk sekedar bertatap muka atau memberi kabar.
Pembicaraan diantara Aku dan Mahendra semakin intens dan beragam. Bahkan terkadang jiwa puitisku bergolak hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukan kekasihku itu.
Berbekal bahasa inggris yang masih di level intermedite Aku mencoba mengungkapkan rasa rinduku pada mahendra dengan puisiku melalui pesan whatsapp .
(For you who are far away, Walled by distance and time, Limited space between us.
(Untukmu yang jauh, Terkurung oleh jarak dan waktu, Ruang yang terbatas diantara kita.)
Do you still keep your heart for me??
(Masihkah kau jaga hatimu untukku ??)
Do you still miss me??
(Masihkah kau merindukanku ??)
(Untukmu yang jauh disana..)
I hope you always take care of your heart
(Ku harap kau slalu menjaga hatimu.)
Like here I keep my heart.
(Seperti disini aku menjaga hatiku)
If I'm here waiting, I hope you're there to guard
(Jika saya di sini menunggu, saya harap Anda ada di sana untuk menjaga)
If I'm here praying, I hope you're faithful there.
(Jika saya di sini berdoa, saya harap Anda setia di sana)
I didn't expect to meet you
(Aku tidak berharap bertemu denganmu)
But I ask to be united in Allah love
(Tapi saya minta untuk dipersatukan dalam cinta Allah)
Entah mengapa jatuh cinta kali ini membuatku berubah mendadak menjadi seorang pujangga. Sepertinya saat ini Allah memang telah mejatuhkan cintaku pada lelaki pakistan satu ini. Dan karena jatuh cinta ini- Aku berubah. Aku mulai mencoba merubah penampilanku yang dulu sedikit maskulin menjadi sebaliknya- lebih feminim. aku yang tidak pernah suka berdandan sekarang sudah ikut kebiasaan kakak-kakak perempuanku yang hobi berburu peralatan kosmetik. Sebenarnya diusiaku saat ini - rasanya aneh untuk berperilaku seperti itu. Tapi Aku hanya ingin terlihat cantik dan menyenangkan dimata Mahendra.
"Sebaiknya jadi dirimu sendiri, Di" tegur Aproita- sahabatku ketika melihat aku yang mulai banyak merubah penampilanku.
Aku sadar -hal yang dulu sangat aku tidak sukai adalah berpura-pura menjadi orang lain untuk terlihat baik dan cantik dimata orang lain.
Dan Mahendra adalah lelaki yang kukenal yang menerima kondisiku apa adanya. Dengan wajah yang terlihat segores bekas cacat di pipi dan dahiku, tubuh yang sedikit gempal dan tangan kiri yang sudah tak sempurna akibat kecelakaan tunggal beberapa tahun lalu.
Dulu semua orang memang mengagumiki-walau perilakuku sedikit maskulin tapi tak sedikit lelaki yang berusaha mendapatkan cintaku. Setelah musibah itu walaupun ada lelaki yang menyatakan cinta padaku tapi mereka hanya membayangkan kondisiku "dulu".
Ah sudahlah. Aku hanya mampu menyerahkan pintu jodohku pada Allah.
Malam ini- aku hanya ingin duduk d dekat jendela dalam kamarku. Menikmati pemandangan malam .
Luas langit membentang, sejauh mata memandang hanya awan hitamlah yang dapat kupandang dari jendela kamarku. Angin sepoi membelai wajahku dengan lembut, dengan senang kubuka jendela kamar lebar-lebar, aku berharap angin segera datang kembali dan membawaku terbang ke atas awan supaya aku bisa melihat semua tempat kenanganku bersama kekasihku. Tapi angin sudah kalah cepat dengan hujan yang mulai turun dengan gemercik air membasahi bumi dan membendung kenangan dalam pikiranku yang sulit kulupakan di kota seoul. Aku tidak tahu maksud hujan mengalahkan angin,atau iia ingin aku segera melupakan kekasihku dan ia juga akan menghapus semua kenanganku.
Tapi hujan, maafkanlan aku, aku tak akan mengikuti keinginanmu, kamu boleh menghapusnya di luar sana tapi kau tak akan bisa menghapusnya dari dalam hatiku.
Aku terlalu merindukan Mahendra.