I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)

I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)
Aku Mencintaimu



Pagi ini- setelah sholat subuh seperti biasa Aku memanfaatkan waktu pagi hariku dengan berhias. Aku bertekat untuk meminta maaf pada Mahendra- karena sama sekali tak ada niatanku semalam untuk menyinggung perasaannya.


Kulihat pelipis kiriku semakin terlihat lebam. Lebam yang akan muncul lebih jelas setiap kali aku merasakan kelelahan fisik ataupun terlalu banyak pikiran.


Sejak kecelakaan yang menimpaku beberapa tahun lalu memang meninggalkan bekas yang tidak akan bisa kulupakan dan juga bekas lebam yang sulit untuk hilang di pelipis kiri dan bahu kiriku.


Aku mengambil peralatan make up ku. dengan teliti aku tutupi bagian-bagian wajah yang bagiku membuatku terlihat sangat buruk dengan *foundation *berwarna natural yang menyawarkan lebam wajahku.


Sekali lagi Aku bercermin di kaca lemari hotel- memutar wajahku ke kanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada yang aneh padaku.


Aku sama sekali tidak memberitahukan Mahendra terkait cacat di tubuhku akibat kecelakaan dan lebam yang membekas di wajahku.Yang kutakutkan adalah dia tidak bisa menerima keadaanku seperti saat ini dan kemudian menjauh dariku.


Pagi ini tidak seperti biasanya- tak ada ketukan pintu yang menyapaku atau suara dering telepon panggilan dari Mahendra yang hanya sekedar menyapa mengawali pagi kami.


Aku membuka pesan masuk di aplikasi whatsapp ku. Tak ada sama sekali pesan dari Mahendra sejak semalam. Apakah dia benar-benar marah padaku-batinku sedikit panik.


Aku berjalan keluar kamar hotelku-kubuka pintu kamar dan kualihkan pandanganku ke kamar sebelahku tempat Mahendra menginap.


Kutempelkan daun telingaku ke pintu kamar-sama sekali tak terdengar aktifitas pagi dari dalam kamar itu. apakah lelaki itu masih tertidur atau dia memang sudah tidak ada di dalam kamar, batinku lagi.


Tapi- Ah  bukankah sejak kemarin pagi lelaki itu sudah tidak disibukkan lagi dengan  pekerjaannya dan masih tersisa waktu untuk kami menikmati liburan.


Aku mencoba membunyikan bel kamar Mahendra namun tak ada respon dari penghuni di dalamnya. Sekali lagi ku bunyikan bel itu dan sekali lagi setiap Aku tidak mendapatkan respon.


Setelah menunggu beberapa lama-Tak lama terdengar suara pintu kamar terbuka.


Sedikit kaget ketika Aku melihat lelaki yang berdiri dihadapanku bertelanjang dada dengan wajah yang terlihat kuyu karena baru terbangun dari tidurnya.


Lelaki dihadapanku terlihat begitu atletis dengan dadanya yang bidang dan tegap ditumbuhi bulu-bulu halus. Fitur wajahnya terlihat simetris dan sempurna bagiku.


"Oh sorry waking you up, dear" (maaf telah membangunkan mu).


"Its Okay." jawab Mahendra singkat. Reaksi lelaki dihadapanku itu diluar kebiasaannya padaku. Ia terlihat sangat acuh kali ini.


"Are you still mad at me? (apa Kamu masih marah)


Mahendra tak segera menjawab pertanyaanku. Lelaki itu kemudian menatapku dengan pandangan yang tak biasa- kekecewaan jelas terlihat dari matanya. "Do you love me Di? tanyanya kemudian.


"I...I.." aku tak melanjutkan ucapanku. Ada keraguan dalam diriku untuk melanjutkan ucapanku. Bukan karena Aku tidak mencintai Mahendra tapi lebih kepada kepercayaan diriku sendiri.


"Give me your answer Di? (Beri Aku jawaban Di?)


"I do love you." jawabku. Aku menundukkan wajahku. Rasa malu yang tidak tertahan membuat diriku tak mampu membalas tatapan Mahendra padaku.


Lelaki itu memegang wajahku dengan lembut dan mengangkat wajahku sehingga membuat wajah kami saling berhadapan pandangan. "I know you are not ready for this love Di. But one thing you should know  a man who treats his woman well and gently must be A man who loves you and has big responsibility on you." ( Aku tahu kamu belum siap untuk cinta in,i Di. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, pria yang memperlakukan wanitanya dengan baik dan lembut haruslah pria yang mencintaimu dan memiliki tanggung jawab besar padamu)


" I know"


Tangan lelaki itu mengelus lembut rambutku yang tipis sehingga dapat kurasakan sentukan kulit tangannya di kulit kepalaku.


"Di, I am not Angry with you about last night. But I dissapointed to myself why I asked you such a thing" lanjut Mahendra padaku.


" Its Okay, Mahendra." suara yang keluar dari mulutku seakan tak terdengar. Aku sedikit lega mendengar ucapan Mahendra tadi- setidaknya lelaki itu masih perduli untuk menjaga kehormatanku.


"No. I already find my Bollywood Actor here." candaku. Seketika itu juga pecah tawa Mahendra mendengar jawabanku.


Mahendra menekan ujung hidungku dengan telunjuknya. "you wait in your room. I will take a shower. Then we go to a special place. Okay? " (kamu tunggu di kamar. Aku akan mandi dan selanjutnya kita pergi ke tempat spesial) lanjut Mahendra.


Aku mengangguk. Kami pun mempersiapkan diri kami untuk menjelajah Kota Seoul hari ini. Entah tempat spesial mana yang dimaksud Mahendra untuk kami kunjungi- yang jelas semua tempat bagiku sangat spesial bila bersamanya.


Aku mengganti pakaianku yang sporti dengan kemeja lengan panjang yang lebih fashionable dipadu dengan skinny jeans yang selaras dengan warna hijabku. Tak perlu menunggu waktu yang lama- sudah terdengar olehku bunyi bel kamar.


Ah-pastinya Mahendra sudah siap untuk pergi. Aku bergegas mengambil tas selempang warna coklat kesayanganku lalu berjalan menuju keluar kamar.


Saat kubuka pintu kamarku kulihat Mahendra sudah berdiri dengan tersenyum dihadapanku. Mahendra mengenakan kaos berwarna gelap dipadu dengan jaket kulit coklat buatan Kota Garut pemberianku yang sengaja kupesan untuknya.  Sungguh Aku semakin jatuh cinta melihatnya seperti itu.


Hari itu aku mengetahui banyak hal tentang Mahendra. Lelaki itu menceritakan tentang kondisi keluarganya yang sudah menjadi warga negara Australia dan juga tentang pekerjaannya. Saat itu juga Aku baru mengetahui bahwa Mahendra sempat gagal menikah dengan kekasihnya yang merupakan orang Australia.


Perbedaan agama dan juga karakter pribadi masing-masing membuat keduanya memutuskan untuk berpisah.


Mahendra sudah mengetahui tentang statusku yang menjanda dari keponakanku Rafif. Dia juga tahu bahwa Aku sangat sulit untuk jatuh cinta pada seorang laki-laki.  Tapi ada satu hal yang belum dia ketahui dan mengganjal hatiku untuk kuungkapkan padanya mengenai kecelakaan yang pernah kualami dan juga tanda cacat di wajahku yang membekas sejak kecelakaan itu.


"I wanna tell you something about me that I hide from you, dear" (aku ingin mengatakan sesuatu hal yang kusembunyikan darimu) ujarku pada Mahendra.


"What?


Aku tidak meneruskan ceritaku. Ku ambil Tisu di dalam saku tas sandangku- lalu kuhapus riasan foundation di wajah yang menutupi cacat di mukaku.


Mahendra memperhatikan tanpa berkomentar apapun atas apa yang kulakukan itu. Tak ada reaksi apapun darinya terlihat.


"So-what's the problem? (lalu- apa masalahnya?)  tanya Mahendra tak paham.


"I have scar in my face. Dont you scare or feel disqusting seeing my face? (Aku punya cacat di wajah. apakah kamu tidak merasa takut atau jijik melihatnya?) tanyaku kemudian


"No. Why?"


Aku kembali diam. Aku ingin menunjukkan beberapa luka cacat yang membekas lainnya di bagian tubuhku yang lain tapi rasanya tidak mungkin aku memperlihatkan auratku pada lelaki dihadapanku yang belum berstatus suamiku.


Mahendra memegang kedua pundakku dengan tangannya yang kekar. " Di- what ever happened to you in the past. I dont care. One thing you should know I love you for who you are not how you look or what  you have." (Di- apa yang pernah terjadi padamu di masa lalu. Saya tidak peduli. Satu hal yang harus kamu tahu, aku mencintaimu apa adanya, bukan penampilanmu atau apa yang kamu miliki).


Sungguh Aku merasa terharu dan bahagia mendengar ucapan Mahendra. Tidak ingin sedikitpun kututupi keburukan fisik atau sifatku padanya. Aku ingin kami saling mengetahui sifat kami masing-masing yang sebenarnya tanpa harus menjadi orang lain.


Mahendra kemudian mengajakku untuk masuk ke sebuah toko perhiasan yang ada di Apgujeong Rodeo Street. sebuah toko perhiasan yang terlihat mewah namun dijual dengan harga sale bagi turis asing seperti kami.


Mahendra terlihat berbicara dengan salah seorang penjaga wanita di toko itu- dan beberapa kali kulihat wanita itu menunjukkan beberapa cincin wanita yang sangat cantik kepada Mahendra.


Tentu saja aku merasa deg-deg an apa yang akan dilakukan Mahendra nanti dengan cincin itu. Apakah dia akan melamarku, batinku.


Ah sudahlah, jangan berpikiran lebih jauh Diana. Toh kami baru saja saling mengenal lebih dekat.


Mahendra terlihat mengeluarkan kartu dari dalam dompet di saku jaketnya. Sesaat kemudian wanita dihadapan Mahendra menyerahkan sebuah kantong perhiasan yang telah dibeli tadi.


Mahendra mendekat kearahku. Lau lelaki itu mengeluarkan perhiasan dari dalam kotak yang membungkusnya.


" Di- I want you to wear this ring and you should know how much I love you. " (Di- aku ingin kamu mengenakan cincin ini dan kamu harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu) ucapnya padaku saat itu.