I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)

I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)
Selamanya Pergi I



Pesawat yang kami tumpangi baru saja mendarat.  Perjalanan kembali dari Hongkong ke Jakarta yang memakan waktu hampir lima jam penerbangan terasa membosankan bagiku namun tidak bagi Pak Beni maupun Vera yang hampir setiap bulannya melakukan perjalanan jauh ke beberapa negara.


Pak Beni memberiku kesempatan untuk pulang ke Bandung. Karena waktu cuti tahunanku masih tersisa beberapa hari.


"Di- kamu boleh pulang ke Bandung. Selesaikan masalahmu dengan suamimu- dan untuk pekerjaanmu Kamu bisa sampaikan laporan melalui email ke Saya. " ujar Pak Beni sesampainya kami di bandara Soekarno hatta. Aku memisahkan diri dari rombongan Pak Beni yang memang sudah dijemput oleh Bu Linda dan beberapa pegawai. Kali ini aku menggunakan jasa travel untuk perjalananku ke Bandung. Rasa lelah dan ngantuk karena perjalanan bisnis ini rasanya tak memungkinkan diriku untuk mengendarai mobilku untuk sampai ke rumah.


Sepanjang perjalanan- otakku berpikir kira-kira apa yang akan terjadi sesampainya aku di rumahku nanti. Aku tidak berharap Edi akan menyambut kedatanganku- bahkan harapanku Edi dan adik-adiknya tidak lagi ada di rumah kami.


Perjalanan ini memakan waktu yang lebih lama dari biasanya- karena menjelang akhir pekan arus lalu lintas ke arah kota kembang itu lebih padat dari biasanya. Aku menyempatkan diri untuk istirahat disepanjang perjalananku ini sehingga sesampai ku nanti rasa lelah pun tak terasa lagi.


Hari sudah mulai gelap- untungnya jasa travel antar jemput ini bisa langsung mengantarkanku sampai ke rumah tanpa harus Aku mencari taksi atau ojek motor untuk mengantarkanku lagi sampai ke rumahku. Ketika sesampainya Aku di rumah terdengar olehku suara beberapa orang sedang berbincang- walau ada rasa enggan Aku untuk masuk ke dalam rumah apalagi menyapa orang-orang yang ada di rumahku itu tapi tetap saja Aku harus melakukan hal yang tidak aku inginkan itu.


"Assalamualaikum." sapaku setelah Aku memastikan pintu rumahku tidak terkunci- Aku masuk ke dalam rumahku seperti biasanya dan melihat kearah ruang tamu untuk memastikan suara siapa saja yang sedang berbincang tadi yang kudengar.


Ternyata kedua orangtua Edi, beserta adik-adiknya ada di ruangan itu. Wajah mereka seperti tidak senang melihat kedatanganku. Pandangan Apih-ayah Edi tajam memandang ke arahku. Sejujurnya Aku tidak merasa nyaman dengan kehadiran mereka di rumah ini- Aku sangat yakin kedatangan mereka untuk menghakimi bukan menjadi penengah dari permasalahan kami.  Posisiku yang seorang diri di tanah rantauan ini- rasanya tidak seimbang untuk melakukan pembelaan diri dihadapan mereka.


"Nah, ini kebetulan kamu datang. Duduk sini sebentar!" ujar Apih dengan suara yang meninggi. Raut muka orang-orang di ruangan itu sangat tidak bersahabat. Tapi Aku tidak merasa kuatir karena Aku yakin apa yang Aku putuskan dan lakukan adalah benar.


Aku tidak banyak berkata-kata. Ku ambil posisi duduk yang agak berjauhan dari Edi maupun orangtuanya sehingga Aku tidak canggung bila harus berhadapan dengan mereka.


"Edi sudah bercerita soal permasalahan kalian berdua pada Apih." lanjut Apih padaku.


"Baiklah kalau begitu." ujarku singkat


"Di, kamu seharusnya bersyukur Edi masih mau dengan kamu melihat kondisi kamu seperti ini." ujar Apih.


"Maksud Apih? tanyaku tak mengerti


"Ya. Kamu tidak memberikan keturunan untuk anak Saya kamu tidak melayani dia dengan baik sebagai istri. kamu sibuk kerja dan kerja. Apa itu seorang istri yang baik?!" protesnya dengan tudingan yang menurutku tidak berdasar dan bertolak belakang dari kenyataannya.


"Oh, jadi selama ini apa yang saya lakukan untuk keluarga ini tidak berarti apa-apa bagi kalian. Saya rasa saya sudah cukup melayani Kak Edi dan seluruh keluarga kalian dengan baik! Lalu apa lagi yang kalian inginkan dariku?! serangku balik dengan sedikit emosi. Walau bagaimanapun Aku meredam Emosiku rasanya kata-kata APih tadi sungguh menyinggungku.


"hei, jangan kasar kau pada orangtuaku! cecar Edi padaku marah.


"Ok baiklah. Aku tidak ingin mempermsalahkan apapun disini. Kalau kalian semua menganggap apa yang aku lakukan selama ini tidak baik maka pembicaraan ini tidak perlu diteruskan karena apapun dimata kalian Aku adalah orang yang pantas disalahkan." ujarku menahan emosi


"ya. memang kamu salah,"potong Apih menanggapi pernyataanku.


"Oke. kalau begitu untuk apa diteruskan perkawinan ini? Bercerai adalah keputusan yang tepat bukan begitu? tantangku lagi


Mereka yang ada diruangan itu terdiam mendenga ucapanku.


Aku beranjak dari dudukku lalu kutatap sinis orang-orang yang ada dihdapanku itu. Kali ini Aku sudah tidak peduli dengan sopan santun dan tutur bahasaku kepada kedua orang tua Edi. Aku benar-benar merasa diperalat oleh mereka


"Sebaiknya Aku kelua dari rumah ini. kita selesaikan semua baik-baik di pengadilan setelah semua proses perceraian terpenuhi." ujarku lagi


Aku berjalan menuju kamarku tanpa memperdulikan lagi orang yang ada disekitarku. kukemas barang-barangku yang ada di lemari dan beberapa dokumen penting milikku  yang alhamdulilah masih tersimpan dengan baik. Tanpa basa basi kutinggal semua orang di rumah dan segera keluar dari rumah itu.


Tanpa harus menunggu lama- sebuah mobil yang kupesan via telepon datang menjemputku. Dengan sigap - sang supir membantuku untuk menaikkan barang-barang bawaanku ke dalam mobil. Sebenarnya Aku sudah membeli sebuah rumah sederhana di kawasan modern di Kota Bandung Barat tanpa sepengetahuan Edi. Semua berkat bantuan dari pak Beni yang tidak menyukai hubungan pernikahanku dengan Edi yang menurutnya sama sekalii tidak sehat. Lelaki tua itulah yang mendorongku untuk membeli sebuah rumah dari penghasilan yang kudapatkan tanpa sepengetahuan Edi sebagai investasiku di masa depan. Kebetulan serah terima kunci  oleh pihak pengembang telah diserahkan padaku beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Luar Negeri.


Mobil kami pun berhenti tepat di gerbang pintu masuk rumahku. Setelah membuka pintu rumah dan menghidupkan beberapa lampu ruangan- kembali dengan sigap Supir taksi tadi menurunkan dan memasukkan barang milikku ke dalam rumah. Walaupun dalam kondisi tanpa penghuni- rumah ini tetap terlihat bersih walaupun di beberapa tempat terlihat berdebu.


Aku memberikan uang tarif taksi dan juga dua lembar uang lima puluh ribu sebagai tambahan kepada driver tadi. Setelah mengucapkan terima kasih padaku- supir taksi itu  pun berlalu mengendarai mobilnya.


Pagi hari**-** Kebetulan sekali hari libur- Aku punya banyak waktu untuk melengkapi isi rumahku dengan beberapa perabot rumah yang kuperlukan saat ini. Setidaknya selama Aku tinggal di Bandung- ada tempat yangnyaman untukku beristirahat dan berteduh.


"Di- semua yang kamu perlukan sudah dicatat? tanya Teh Tuti.


"Sudah. Kita beli yang benar-benar Aku perlu dulu ya teh." ujarku kemudian.


Teh Tuti adalah istri ketua RT di wilayah tempat tinggal sebelumnya. Usianya tidak berbeda jauh dariku- lagipula perempuan ini sangat baik dan dekat denganku- apalagi kedua anaknya sering kali kuajak jalan dengan berkendara mobil sekedar menemani saat suasana hatiku tak menentu.


Teh Tuti sangat hapal tempat-tempat yang menjual kebutuhan yang kuperlukan dan juga memberikan harga yang cukup miring dibanding toko lainnya. Tanpa harus memakan waktu berjam-jam semua barang yang kubutuhkan akhirnyapun sudah sampai ke rumah.


"Nah- sekarang kamu bisa nyaman tinggal di rumah ini Di. "ujar Teh Tuti sambil tangannya sibuk membereskan dan menata barang-barang ke tempat yang sudah kutentukan posisinya.


Aku menjawab dengan senyuman- tapi setidaknya malam ini aku bisa tidur diatas kasur yang empuk tidak seperti malam tadi Aku harus tidur di lantai dengan berbantalkan tas ranselku.


 


Sudah beberapa hari Aku menetap di rumah baruku. Tidak ada seremonial ataupun pengajian sebelum menempati rumah baru sebagaimana yang sering dilakukan masyarakat awam yang baru saja menempati rumah barunya. Apalagi sebagian besar penghuni di perumahan ku ini bersifat indivualis yang terkesan tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya.


Sejak aku tinggal ditempat ini- tidak ada sama sekali Edi berusaha menghubungi ataupun mencari keberadaanku.  Tapi ah sudahlah- Aku tak ingin dipusingkan dengan persoalan rumah tanggaku lagi. Biarkan proses perceraianku berjalan sampai pada waktu kami bertemu nanti di pengadilan.


Hari itu- Aku mengendarai motor dinasku untuk memonitor pelaksanaan proyek perbaikan sarana irigasi  yang berlokasi di perbatasan Subang dan Lembang.  entah mengapa kali ini Aku sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjanku. entah mengapa tiba-tiba terlintas Wajah edi  dalam pikiranku. Tapi tak ada kemarahan dalam diriku setiap mengingat edi -kali ini justru ada rasa sedih yang dalam dalam hati yang entah apa sebabnya.


Tak lama berselang, suara nada dering dari telepon genggamku berbunyi- namun karena Aku sedang mengendarai motorku sama sekali tidak kupedulikan panggilan telepon itu.


Untuk kesekian kali dan terus menerus panggilan itu masuk- akhirnya Aku pun memutuskan untuk berhenti dipinggir jalan untuk menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum, ya halo." ujarku


"Waalaikumsalam. Bu. Pak Edi pingsan di gor." terdengar suara itu terbata-bata dan seperti orang yang sedang panik.


"Loh-Pingsan kenapa? tanyaku


"Pak Edi sedang main minton (badminton)  tiba-tiba ngegoler lemes trus tidak sadar." lanjut suara lelaki tadi di telepon.


:Oh sekarang pak Edi dimana? lanjutku penasaran


"dibawa ke rumah sakit Parahyangan Bu. Kalau bisa Ibu kesini." ujar lelaki itu lagi


"Oke Saya segera kesana." lanjutku lagi tanpa banyak pertanyaan. Namun dalam hatiku bertanya-tanya ada apa dengan Edi dia sama sekali tidak pernah dalam kondisi seperti ini.


Aku merubah tujuanku yang tadinya ingin melanjutkan pemeriksaan lapangan akhirnya  laju motorku kuarahkan ke rumah sakit parahyangan tempat Edi dirawat. Laju motorku yang cukup kencang membuat tas ransel yang kugendong dibelakang punggungku sesekali terbanting keras  saat motorku melaju melintasi jalan yang berlobang ataupun polisi tidur.


Tiba-tiba pandanganku tertutup oleh sekelebat bayangan yang melintas dihadapanku saat motorku melaju kencang. Sontak tanganku menekan rem tangan dan juga rem kaki ku tekan dengan cara mendadak.  gesekan aspal yang masih basah karena hujan gerimis sore ini membuat laju motorku tak seimbang.


Motor yang kukendarai berputar dan terpelanting ke arah sisi kanan jalan- begitu pula tubuhku ikut terbawa olehnya.


Kurasakan kerasnya bantingan tubuhku yang terpelanting ke aspal dan beberapa kali benturan yang kurasakan dikepala.


Sore itu ditempat yang sepi- aku mengalami kecelakaan tunggal. Aku berusaha bangkit dari posisiku jatuh- namun tangan dan kaki kiriku sama sekali berat untuk kugerakkan dan tersa begitu sakit.


"To...Tolong.." suara serak keluar dari mulutku meminta pertolongan. Namun tak ada seorangpun disana. Seketika Aku pun tak sadarkan diri karena tak sanggup lagi menahan sakit.