
Hari ini di perayaan hari kelahiran Ibu- Sebagai seorang Anak tentunya Aku ingin memberikan kejutan istimewa kepada Ibuku. Hasil kerja keras dari pekerjaan sampinganku sengaja kukumpulkan untuk membelikan sebuah kalung berlian.
Aku ingat betul- ibuku harus merelakan kalung kesayangannya yang merupakan pemberian Papa untuk membiayai operasi Bang Derta yang saat itu mengalami cidera kepala saat bermain skateboard.
Walaupun Papaku adalah seorang pegawai negeri sipil dengan golongan yang tinggi dan mendapatkan jaminan kesehatan kelas satu dari pemerintah tapi Papa ingin keluarganya mendapatkan layanan yang terbaik saat anak atau istrinya sakit.
Sudah sejak setahun lalu Ibuku menetap dirumah kakak perempuan tertuaku di Semarang. Aku sadar Aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuk membahagiakan ibuku apalagi waktuku lebih banyak kuhabiskan dengan pekerjaan-pekerjaanku daripada menemani Ibuku.
Kali ini Aku tidak memberitahukan Ibu maupun kakakku akan ke datanganku ke kota Semarang- Aku datang diam-diam untuk sebuah kejutan yang sudah lama kurencanakan.
Secara diam-diam Aku membuka pintu rumah kakakku yang memang jarang terkunci diwaktu siang hari. Kulihat semua ruangan kosong- dan Aku langsung menuju ke kamar Ibuku. namun- tanpa sengaja Aku mendengar suara percakapan antara Ibuku dengan Kakak perempuanku dari dalam kamar. Dengan penuh penasaran Aku malah menguping pembicaraan Ibu dan kakakku itu.
" lelakinya baik dan lemah lembut orangnya, Bu. Ngemong," suara kakak perempuanku yang bernama Devi sepertinya sedang memberikan penjelasan pada Ibuku.
"Ya. Ibu sih setuju-setuju aja. Kasian kalau Diana terlalu lama sendiri. Apalagi sekarang dia sendiri di Palembang." ujar Ibuku.
Hei, apa ini. Ternyata Aku yang menjadi topik pembicaraan antara Kakak dan Ibuku itu. Tanpa berpikir dua kali aku segera membuka pintu kamar Ibuku. Terlihat kakak ku Devi dan Ibu terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba tak seperti biasanya.
"loh kamu kapan datang? kenapa ga berkabar sebelumnya." tanya kakakku.
Aku langsung menghampiri Ibuku dan memeluknya. " Selamat ulang tahun ya Bu." bisikku di telinganya.
"terima kasih anakku." jawab ibu sambil mengecup kedua sisi pipiku dengan lembut.
Tanpa berbasa basi kukeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkus cantik dengan kain tile tipis berwarna biru dari dalam tas kecilku. " Ibu ini hadiah untuk Ibu." lanjutku seraya memberikan kotak itu pada ibuku.
"Apa ini," tanya Ibu
"Ibu buka dulu saja."
ibu membuka pembungkus kotak satu persatu dengan begitu hati-hati, wajahnya terlihat gembira dan jujur saja kebahagiaan tersendiri bagiku melihat Ibuku tersenyum setelah sekian lama senyuman itu tak terlihat.
Seketika Ibu terdiam setelah melihat isi didalam kotak. Sebuah cincin emas bermata berlian tersimpan rapi didalamnya Cincin yang sengaja kupesan sangat mirip dengan cincin pemberian Papa untuk Ibu.
"Di, ini terlalu mahal." ujarnya. " untuk apa kamu menghabiskan uangmu dengan ini."
"Tidak apa, Ibu sayang. Anakmu ini tidak pernah memberikan apapun yang berharga untuk Ibu. Alhamdulilah Aku dapat rejeki lebih Bu. Ibu jangan kuatir." jawabku lagi.
Aku sangat tahu Ibu sangat menyukai perhiasan mewah walaupun begitu ia tidak ingin menyusahkan suami dan anaknya untuk kesenangannya itu. Ibu yang terlahir dari seorang Ayah yang berdarah cina dan juga pengusaha tambang di wilayah kepulauan Bangka sudah terbiasa dengan hidup yang serba ada. Disamping itu- selain sebagai seorang istri dari seorang pejabat di provinsi- Ibu memiliki sebuah butik pakaian khas daerah pemberian kakekku dan juga sebuah salon kecantikan yang dulu terkenal di Kota pempek. Sayangnya semenjak- papa meninggal Ibu tidak lagi punya waktu untuk mengelola usahanya itu.
Aku menyematkan cincin berlian tadi ke jari manis ibuku. Terlihat mata yang berkaca-kaca dari wajah ibu saat itu.
" Ibu, cincin ini memang tidak seindah pemberian papa. Tapi ini setidaknya bisa mengingatkan Ibu betapa Papa dan Kami sangat mencintai Ibu."
Ibuku tak lagi dapat membendung tangisannya yang sedari tadi tertahan. Ibu langsung memelukku- menciumi keningku lagi dengan lembut. "terima kasih anakku. Ibu tidak perlu hal seperti ini. Melihat kalian sukses- sayang satu sama laindiantara saudara pun Ibu sudah bahagia."
"Tapi Ibu akan lebih bahagia lagi kalau melihat anaknya ini menikah lagi," celetuk Yuk Devi padaku sambil menepuk-nepuk pundakku.
"Isssh... apa sih Ayuk ini."
"Ibu kasihan kamu sendirian sekian lama di Palembang. Apalagi sejak Ibu tinggal dengan yuk Devi mu." ujar Ibu
"ya, Di. Kalau kamu mau Aku punya teman yang juga dokter dia seorang duda. kebetulan malam ini di rumah kita akan ada kajian al quran dan orang itu juga akan hadir di kajian." lanjut Yuk Devi padaku.
" Tapi Bu- Aku sudah punya Mahendra,"
Aku tak segera memberikan jawaban atas pertanyaan Ibu. Tapi Aku yakin Aku dan Mahendra akan menikah suatu hari nanti. Aku tidak menginginkan lelaki lain selain Mahendra.
"Ingat Di- kamu dulu menikah dengan Edi karena itu pilihanmu walau Papa dan Ibu sudah menentang hubungan kalian." ucap Yuk Devi mengingatkan lagi sejarah pernikahanku dulu. "Kali ini cobalah ikuti dulu kemauan Ibu."
"Apakah Mahendra sampai saat ini sudah memberikan kepastian kemana arah hubungan kalian nanti? tanya Ibu lagi padaku.
"Belum." jawabku singkat. "Tapi Bu. Kami saling mencintai.Jodoh, hidup, dan mati itu adalah takdir Allah, Bu"
Jujur suasana yang harusnya bahagia untuk merayakan kelahiran Ibu berubah jadi menegangkan karena membahas persoalan pernikahanku. Aku dan Mahendra memang belum pernah membahas lebih serius mengenai pernikahan kami. tapi Aku sangat yakin kami memiliki tujuan yang sama dalam hubungan ini.
Aku masih memikirkan semua yang dikatakan ibuku. Tapi aku tidak bisa memutuskan apa yang akan terjadi selanjutnya antara aku dan Mahendra. Sebagai seorang wanita- Aku hanya bisa menunggu seorang lelaki yang aku cintai untuk melamarku.
Tiba-tiba suara deringan handphone milikku berdering. Suara panggilan khas telepon dari Mahendra tentunya.
Segera Aku memisahkan diri dari Ibu dan kakak perempuanku.
"Assalamualaikum Di." sapa Mahendra dari seberang sana.
"Waalaikumsalam."
"Are you alreaady in Semarang? (apakah kamu udah di Semarang?
"Yes,honey."
" How's mom. and what about the gift? ("Bagaimana kabar ibu. Dan bagaimana dengan hadiahnya?)
"Mom 's fine. (ibu baik) jawabku sedikit tak bersemangat
"But, why you sound not happy today? ("tapi, mengapa kamu terdengar tidak bahagia hari ini?)
Aku pun menceritakan perihal pembicaraan antara Aku, Ibu dan kakakku Devi. Entahlah apa yang akan dikatakan oleh Mahendra dengan ceritaku ini. Tapi Aku hanya ingin mengungkapkan kegundahan dan keresahanku saat ini.
Setelah mendengar pembicaraanku- Mahendra seketika terdengar tertawa tebahak.
"Then tell Your Mom. I will come to propose" ("Kalau begitu beritahu Ibumu. Aku akan datang untuk melamar")
"Come on Honey. Dont make fun with this (Ayolah, Jangan bercanda)
" No. Di. I am not joking. I want you as my wife. I already make plan for both of us" ("Tidak. Di. Aku tidak bercanda. Aku menginginkanmu sebagai istriku. Aku sudah membuat rencana untuk kita berdua") suara Mahendra kemudian berubah serius.
Aku terdiam dengan jawaban Mahendra . Sungguh AKu tidak tahu harus berbuat apa- tapi Aku sangat bahagia mendengarnya.
"Di, Will You Marry Me" tanyanya kemudian
Ingin Aku melompat sampai ke atas awan mendengan kata-kata itu. Aku ingin memeluk kekasihku itu sebagai ungkapan bahagiaku- tapi dia begitu jauh dariku.
"Di... Di... Are you there? "
Seketika Aku tersadar sesaar mendengar Mahendra memanggil manggilku. Sesaat aku tersadar dari buaianku dan...
" Yes I will" jawabku selanjutnya.