I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)

I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)
Pertengkaran Cinta I



Beberapa hari selama berlibur ke Korea Selatan- Aku hanya bisa menyempatkan waktu bertemu Mahendra disela-sela waktu istirahatnya. Mahendra yang terlebih dulu datang ke negeri ini terlihat sudah bisa menyesuaikan diri dengan makanan dan bahasanya- sedangkan aku yang hanya baru beberapa hari masih harus menyesuaikan diri dengan makanan dan semua hal di negeri ini.


Kebetulan hari ini Mahendra bebas tugas- dan lelaki ini bermaksud mengajakku untuk berkeliling kota seoul bersamanya.  Tadinya Mahendra ingin memesan fasilitas tur hotel untuk mempermudah kami mengunjungi tempat-tempat yang sudah ada dalam daftar kunjungan kami yang sengaja kubuat. Namun Aku memintanya untuk membatalkan pesanan itu- rasanya lebih leluasa bila menikmati suasana liburan dengan memanfaatkan fasilitas umum yang tersedia. Kebetulan Aku sudah banyak membaca referensi tentang pengalaman orang-orang yang melakukan perjalanan wisata ke negeri ini- dan aku sudah memasang beberapa apliasi untuk memudahkan perjalananku.


Untungnya Mahendra tidak berkeberatan dengan saranku itu.


Tujuan pertama kami hari ini adalah Nami Island- entahlah Aku masih terobsesi dengan beberapa tempat yang romantis seperti yang diperlihatkan dalam film- film korea. Kebetulan dari lokasi kami menginap tersedia shuttle bus yang akan mengantarkan kami ke Pulau Nami. Pulau ini terletak di Chuncheon yang berjarak 63 kilometer dari Seoul. Sesampainya kami ke pulau Nami-  Pandangan kami sudah dimanjakan dengan keindahan Jalan setapak  yang dipagari oleh pohon-pohon maple yang memang begitu ikonik dengan pemandangan  alam yang memperindahnya. Tak heran bila lokasi ini menjadi terkenal apalagi setelah dijadikan lokasi syuting film Winter Sonata.


Sangat kebetulan waktu kunjungan kami ke negeri ini bertepatan dengan musim dingin- membuat diriku merasa seakan kami berdua adalah pemeran utama dalam film  itu.


Mahendra menggandeng tanganku dengan erat- lelaki itu mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku. Udara dingin disekitar pulau ini membuat tubuh dan jari tanganku kaku. Jaket dan sarung tangan yang kukenakan rasanya tak cukup untuk menahan dinginnya cuaca. Mahendra seakan tahu bahsa saat itu aku merasa tidak nyaman dengan dinginnya cuaca di sekitar yang memang cukup ekstrim bagi orang dari negara tropis sepertiku.


"Would you prefer us to have warm drink dear? tanya Mahendra


"Of course. It would be nice in this kind of weather for a cup of coffee or hot tea." (Tentu saja. Cuacanya juga enak untuk minum kopi atau teh hangat)


"Good. What do you like for ? [Baik. apa yang kamu mau?.]


"I want hot chocolate but no sugar. and you? [Aku mau coklat panas tanpa gula – dan kamu?]


"I prefer make an order myself dear" (Aku bisa memesan sendiri, sayang) ujarnya lagi.


Mahendra berjalan menuju kedai setelah menyiapkan tempat untuk kami bisa duduk dengan hangat di samping perapian yang sengaja dibuat disekitar tempat itu. Lelaki itu memesan pesanan kami pada penjaga kedai- terdengar olehku Mahendra menggunakan bahasa Korea yang cukup baik menurutku pada penjaga kedai. Sungguh Aku sangat mengagumi kemampuan beradaptasi lelaki ini dengan tempat dia berada.


Tak perlu menunggu lama- Mahendra terlihat kembali berjalan kearah tempat duduk ku  dengan membawa dua gelas karton  kopi dan cokelat panas  ditangannya.


Is it too bitter? [apa tidak terlalu pahit?] tanya Mahendra sesaat menyerahkan segelas coklat hangat kepadaku.


" bitter? (pahit?)


" ya. Your chocholate with no sugar. " (ya. minuman coklat tanpa gula) ujarnya lagi


"oh . I love to drink it this way. (oh. Aku suka meminumnya seperti itu) jawabku lagi.


Perbincangan demi perbincangan antara Aku dan Mahendra terasa hangat membuat kami merasa semakin dekat.


Beberapa tempat yang kami kunjungi hari ini sungguh sangat berkesan. Dari keindahan pulau Nami, petite france dan akhirnya senja di Namsan tower yang begitu romantis dengan menikmati keindahan kota seoul di sore hari membuat waktu tak terasa sudah mulai gelap. Suasana malam di luar ruangan terasa semakin dingin.


" well better we go back to hotel, Di. " (sebaiknya kita kembali ke hotel, Di) ujar Mahendra padaku.


Lelaki itu entah disadari atau tidak melingkarkan tangannya di pinggangku- semakin merapatkan tubuhnya dan tubuhku.


Aku tak kuasa menolaknya. Kami pun berjalan menyusuri wilayah Jung untuk sampai ke hotel.


Jarak tempuh Namsan tower dan hotel tempat kami menginap tidak terlalu jauh dan kamii memutuskan untuk berjalan kaki sampai ke hotel sambil beberapa kali berhenti dan mampir sekedae untuk menikmati kuliner yang ada di sepanjang myeongdong road. Jajanan yang beraneka ragam yang belum pernah kutemui di Indonesia menjadi hal yang menaril untuk dinikmati malam ini bersama Mahendra..


" Di, I think we should try this one" ( Di, aku pikir kita harus coba makanan ini) ujarnya seraya menunjuk pada jejeran makanan seafood yang dipangang dan dilumuri saos khas korea.


Aku tahu kalau Mahendra sangat menyukai seafood begitu pula diriku.


Lelaki itu kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang won korea dan membayar makanan yang diambilnya dari penjaja makanan dihadapannya.


Tanpa berbasa basi disuapkannya makanan itu ke arah mulutku " try this honey" ujarnya


Aku tak menolak. Kugigit cumi bakar yang menurutku cukup besar untuk kumakan dengan sekali gigitan. Tapi aku menghargai niat Mahendra yang ingin menyenangkanku.


" hmm. Tasty. " ujarku sambil mulutku masih mengunyah makanan yang terasa kenyal namun sangat enak


Mahendra tersenyum puas. Kemudian laki-laki itu menggigit bagian lain dari cumi bakar yang sudah disuapkannya padaku tadi. Kami pun akhirnya suap-suapan secara bergantian dengan beberapa makanan yang telah dibeli tadi.


Langkah kami pun akhirnya terhenti saat kami sudah berdiri di depan pintu kamar hotel masing-masing.


Aneh rasanya Aku berat untuk menghilang dari pandangan Mahendra malam ini. Tapi waktu sudah terlalu larut untuk kami berdua yang sudah lelah dengan perjalanan kami sejak pagi tadi.


" see you tomorrow, Mahendra. " (sampai jumpa besok, Mahendra) ujarku mencoba mengakhiri pertemuan malam ini.


" No."


"why? tanyaku


" I still want to be with you tonight. " (aku masih ingin bersamamu malam ini) lanjutnya.


Aku tak berani menjawab tapi Aku ingat pesan ibuku untuk Aku bisa menjaga diri.


" Di, may I join in your room tonight? (di, boleh aku ke kamarmu malam ini?) ujar lelaki itu memohon.


"No."


" Why Di. We love each other." (kenapa di. Kita saling mencintai) ujarnya .


"I told you. We are not married yet. " ( sudah kubilang padamu. Kita belum menikah)


" please dont be hypocrite Di. I know you also want it"(Jangan munafik Di Aku tahu kau juga menginginkannya) lanjut Mahendra dengan wajah kecewa.


" look, I have promise to my mom. And you also had promise to respect me dear. (aku sudah berjanji pada ibuku. Dan kau juga berjanji akan menghormatiku)


Mahendra tak lagi berkata-kata. Tapi dari wajahnya Aku tahu dia sangat kecewa. Lelaki itu membuka pintu kamarnya-melihat learahku sejenak lalu masuk ke dalam ruangan kamar.


Aku yang masih berada di depan pintu kamarku hanya bisa terdiam. Aku pun tidak mampu untuk berkata-kata lagi. Aku tahu mahendra kecewa- tapi yang kutakutkan adalah Kekecewaan Mahendra akan membuatnya membenciku.