
Aku menceritakan kejadian tadi malam pada Reza seorang teman semasa kecil yang juga adalah tetangga rumahku. Sungguh kali ini Aku tidak berani untuk tinggal sendiri apalagi menjelang malam hari.
" coba kita minta tolong ustadz Di. Yang memang bisa membantu membersihkan rumah." ujarnya saat itu.
" Tapi Aku tidak kenal ustadz yang paham dengan hal-hal seperti itu,"
" Nanti Aku coba cari. kamu jangan kuatir. Tapi kalau bisa kamu malam ini jangan tidur sendiri." saran Reza lagi.
Keesokan harinya seorang Ustadz dengan dibantu oleh salah seorang muridnya datang ke rumahku. Ustadz yang masih tergolong muda itu meminta ijinku untuk berkeliling ke setiap sudut rumah. Tanpa banyak berbasa basi dia menyarankan Aku untuk ikut bersama dengannya membacakan beberapa ayat suci Al quran.
Setelah selesai Ustadz Jamaludin memberikan beberapa wejangan padaku. Wejangan yang tak asing di telinga karena hal seperti itu selalu diingatkan oleh almarhum Papa ku semasa hidupnya.
" Ibu Diana. Cara yang paling ampuh kita untuk mrmbentengi diri kita dari sihir adalah dengan mengerjakan sholat dan membaca Al quran. Karena sihir erat kaitannya dengan pekerjaan setan yang ingin mrnjerumuskan manusia dalam kesesatan. "
" Maksud ustad. Ada yang coba kirim sihir ke saya? Tanyaku seakan tak percaya.
Aku yang sudah sekian tahun lamanya mencoba melupakan kebencianku pada masa laluku. Ternyata belum bisa melepaskan diri dari dendam orang-orang di masa laluku. Orang-orang yang tadinya menjadi bagian dari keluargku berbalik menjadi musuh bebuyutan yang begitu sangat ingin menghancurkan hidupku.
" Kalau Saya boleh tahu. Siapa yang melakukan ini semua ustad? Tanyaku lagi penasaran
"kalau Bu Diana ingin tahu. Sholat lah tengah malam. Laksanakan sholat hajat minimal 2 rakaat dengan niat bila saat Bu Diana mengetahui siapa yang melakukannya tak ada dendam dalam diri Bu diana. Maafkan dan mohon petunjuk pada Allah Subhanahuwataalla. "
Aku terdiam.. Ya aku harua melupakan rasa sakit dan dendam ini. Sudah waktunya aku memulai hidup baru. Membuka lembaran baru yang lebih baik. Aku ingin pernikahanku dengan Mahendra akan berjalan baik-baik saja sampai maut memisahkan kami.
Sepulang Ustad Jamaludin dan muridnya. Perasaanku jauh lebih baik. Aku mencoba menenangkan diri dengan membaca beberapa surat dalam Al Quran. Hanya dengan membaca ayat suci hatiku merasa lebih baik.
Hari- hari berikutnya tak ada lagi keanehan yang terjadi di rumahku. Aku pun mulai memberanikan diri untuk tidur di rumah sendiri tanpa harus membayar orang lain untuk menemaniku.
" So Di. How you feel now? { jadi., apa yang kamu rasakan sekarang?) Tanya Mahendra suatu ketika melalui sambungan telepon.
" I feel much better" (saya merasa jauh lebih baik)
" Goor. Thats my Princess" goda Mahendra pdaku hingga membuatku senyum-senyum sendiri dibuatnya.
"Di, make peace with your past. just release the images and emotions, the grudges and fears, the clingings and disappointments of the past that bind our spirit."
(Di, berdamailah dengan masa lalumu. lepaskan saja gambaran dan emosi, dendam dan ketakutan, kemelekatan dan kekecewaan masa lalu yang mengikat jiwa kita.)
Aku hanya mengangguk mengiyakan semua ucapan Mahendra.
Mahendra kemudian mengungkapkan keinginannya berziarah ke makam almarhum Edi sebelum acara pernikahan kami. Bahkan lelaki itu bernaat memberikan santunan kepada keluarga Edi sebagai simbol perdamaian.
Tentu saja kusambut baik niat baik Mahendra itu walaupun aku tak sepenuhnya yakin keluarga Edi akan menyambut baik niat kami pada mereka.
Hari ini-
Aku baru saja menyelesaikan semua persyaratan yang diperlukan untuk Aku dan Mahendra numpang menikah nanti. Kami yang awalnya ingin merayakan pesta di Semarang tapi dengan banyak pertimbangan lain dari keluarga besar akhirnya diputuskan untuk melaksanakan acara pernikahanku di Kota Jakarta.
Penyambutan untuk kedatangan Keluarga Mahendra pun sudah dipersiapkan dengan baik. Untuk memenuhi persyaratan pernikahan antar dua orang yang berasal dari dua negara memang cukup ribet. Tapi demi niat baik kami Aku yang bukan tipikal orang yang suka keruwetan berusaha iklas menjalaninya.
Tiba saatnya hari kedatangan Mahendra. Seperti yang ia janjikan padaku bahwa sebelum acara lelaki itu ingin sekai berziarah ke makam Edi. Kebetulan Mahendra datang beberapa hari lebih awal dari kedatangan keluarganya dari Sydney dan pakistan.
Dengan mengendarai mobil milik Mas Pugi yang dipinjamkan kepada kami- Aku dan Mahendra langsung menuju kota cirebon. Perjalanan yang ditempuh dari Bandara Soekarno Hatta ke cirebon cukup melelahkan bagiku. Selain fisikku yanh letih karena mempersiapkan segala sesuatu keperluan pernikahan- sesungguhnya hatikupun masih berat untuk menginjakkan kaki ke kota itu.
Mahendra mengendarai mobil kami dengan tenangnya. Satu tangannya sesekali memegang kepala atau pun tanganku yang kuletakkan disamping persneling.
" Don't be worry Di. I always be with you. " (jangan kuatir Di. Aku akan selalu bersamamu)
Perjalanan yang menempuh jarak lebih dari 300 km itu harus kami tempuh dalam waktu lima jam. Aku yang sekian lama tidak pernah menginjakkan kaki di kota ini sedikit bingung untuk menemukan arah menuju rumah orang tua Edi
Aku mencoba mengingat-ingat jalan itu. Hamparan perkebunan bawang yang kami lewati menjadi patokan bagiku bahwa rumah orang tua Edi tak jauh dari tempat ini.
" Sepertinya yang ini rumahnya, " ujarku kemudian menunjuk sebuah rumah dengan cat kuning gading dengan bagian atap yang sudah miring di satu sisinya dan halaman rumaj yang penuh dengan sampah dedaunan yang berserakan.
"this one? Are you sure? (yang ini. Apa kamu yakin?)
" Yes. I am sure"
Aku dan Mahendra kemudian turun dari mobil dan berjalan memasuki halaman rumah
Tapi tib- tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggilku.
" Teh. Diana. Ini teh bener teh Diana?
Seorang wanita yang berteriak itu pun berlari menghampiriku.
Wanita muda itu adalah khalisah. Adik angkat Edi yanh sedari kecil sudah menjadi piatu dan juga pernah ikut denganku sewaktu kami me2etap di Kota Bandung.
" Kamu??? Tanyaku hampir tak mengenali sosok yang ada didepanku ini
" Saya Khalisah teh. Adik almarhum Ak Edi yang pernah tinggal dengan teteh. "
" oh khalisah. Kamu makin cantik dek. " ujarku memuji
" ah teteh bisa aj. Teteh juga makin cantik. " balasnya memuji. " oh ya ini suami teteh? Tanyanya sedikit ragu.
" calon suami. " tegasku. " kenalkan ini calon suami teteh. Muhammad Mahendra. " ujarku dengan bangga memperkenalkan Mahendra pda Khalisah.
Khalisah menjulurkan tangannya bermaksud memberi salam pxa Mahendra. Dan Mahendra dengan ramah menyambut uluran tangan Khalisah
" ohya Mamah sama apih ada di rumah? Tanyaku kemudian tak ingin berbasa basi lebih lama. Karena aku tahu Mahendra sangat lelah hari ini.
" Mamah sudah meninggal bulan lalu. Sedangkan Apih meninggal setelah beberapa hari teteh datang untuk mengantarkan uang penjualan rumah waktu itu, "
" teh ayuni sudah pisah dengan ak aman. Aku tinggal dengan teh ayu di situ? jelas khalisah sambil telunjuknya mengarah pada sebuah rumah gubuk yang kecil tak jauh dari tempat kami berdiri.
"lalu rumah ini?
" rumah ini sudah disita bank. "
Aku terdiam mendengar penjelan khalisah. Sama sekali tak menyangka akan semiris itu kehidupan keluarga mereka sepeninggalan Edi.
Aku menjelaskan semua pembicaraanku dengan khalisa pada Mahendra. Mahendra hanya menganggjk- angguk mendengar penjelasanku.
" tell her we want to meet her family" ujar Mahendra akhirnya.
" khalisah, kalau boleh saya ingin bertemu dengan kakak- kakakmu."
" oh ya teh. Kebetulan mereka sedang ada di rumah. Persiapan yasinan anak ak Deni yang baru meninggal tiga hari lalu"
Sekali lagi aku terdiam-namun aku tak ingin berkomentar banyak tentng hal itu lebih jauh setelah mendengar penjelasan Khalisah itu. Tanpa menunggu lama Aku meminta khalisah untuk mengantarkan kami menemui keluarganya.
Dari arah jalan sudah nampak olehku wajah- wajah yang kukenal dulu yang saat ini menatap ke arah kami dengan wajah yang tak senang. Apalagi setelah mengetahui bhwa tamu yang mengunjungi mereka adalah orang yang mereka benci-Aku.
" Mau apa Kau kemari?
Kata-kata sinis itu meluncur begitu saja dari mulut Ayuni. Begitu pula sambutan sini dari Erni yang seketika berdiri seakan tak menginginkan keberadaanku.
"Maaf bila kehadiran saya tidak kalian harapan. Saya hanya ingin kembali menjalin silaturahmi dan juga ingin mengundang kalian di acara pernikahan saya. "
" nte perlu kadiye maneh. " (tak perlu kamu kesini) ucap Ayuni dengan kata- kata yang menurutku cukup kasar dalam bahasa sunda.
Deni adik bungsu Edi berusaha menenangkan kakak-kakaknya. Lelaki muda ini yang menurutku lebih bijak menanggapi perseteruan diantera aku dan kakak-kakaknya sejak dulu.
" Maaf teh atas ucapan teh Ayu tadi. Ohya silahkan duduk teh" sambutnya ramah. Berbanding terbalik dengan sikap kakak- kakaknya tadi.
Setelah menjelaskan maksud kedatangan kami pada Deni sebagai juru bicara yang netral- aku kemu akhirnya kami pun berpamitan. Aku menyerahkan sebuah amplop coklat yang sudah kusiapkan sebelumnya atas permintaan Mahendra. Uang senilai dua puluh juta rupiah yang kami niatkan tadinya untuk diberikan kepada orangtua Edi akhirnya kuserahkn kepada Deni.
"Den, ini ada sedikit dari teteh dan ak Mahendra untuk kalian. Teteh harap kedepan hubungan kita bisa lebih baik lagi" ujarku sambil menyerahkan amplop itu pada Deni.
Deni menyambut pemberianku dengan baik tapi tidak dengan kakak-kakaknya yang masih tampak sinis menatapku.
Tapi reaksi mereka tak sesinis saat melihat kedatanganku tadi pertama kali. Namun tetap saja tak ada penyambutan hangat layaknya keluarga yang sudah lama tidak bertemu dari mereka.
"terima kasih teh. Smoga nanti pernikahannya lancar ya teh. "
" terima kasih Den. "
Aku berpamitan tanpa ingin memperpanjang pembicaraan. Saat ini aku hanya ingin berdamai dengan masa laluku. Tanpa ada rasa permusuhan.
Aku dan Mahendra lalu meninggalkan tempat itu. Sebelum kepulangan kami kembali ke jakarta- kami sengaja menyempatkan diri berziarah ke makam Edi dan kedua orang tuanya yang memang dimakamkan secara berdampingan.
Saat hari sudah semakin gelap dan rasa lelah sudah mulai menyerang- kami akhirnya melanjutkan perjalanan kembali ke jakarta.
Ada rasa lega dalam hatiku setelah pertemuanku ini dengan adik-adik Edi. Walaupun tak ada sambutan hangat mereka tapi setidaknya Aku sudah membuka jalan untuk memperbaiki hubungan silaturahmi diantara kami.
Tiba saatnya hari pernikahan-
Iring-iringan pengantin laki-laki sudah tiba di tempat acara. Suara riuh para tamu terdengar bahagia menyambut kedatangan mereka.
"wah. pengantin lakinya ganteng ya. Sepadan dengan yang cewek tinggi besar dan berwajah india"
"Orang luar negeri rupanya calon prianya."
"Benar-benar pria berkelas. macam nonton film bollywood aja kita."
suara celoteh para tamu undangan menanggapi kehadiran Mahendra dan keluarganya yang berjalan menuju ke panggung pelaminan yang diperuntukkan khusus untuk pengantin lelaki. Panggung itu dibagi dengan sehelai kain putih yang membatasi antara posisi duduk pengantin pria dan wanitanya. Yang nantinya pembatas itu akan dilepas setelah ijab kabul selesai dilaksanakan.
Pagi ini adalah acara ijab kabul antara Aku dan Mahendra. Seorang penghulu, beberapa orang saksi dari kedua mempelai dan seorang penterjemah duduk di kursi masing-masing yang telah disiapkan.
Jantungku berdegup semakin kencang sesaat sebelum Mahendra mengucapkan janji pernikahannya di depan par saksi.
"BISMILLAAHIRROHMAANIRRAAHIIM
ASTAGHFIRULLAAHAL’ADZIIM 3 X
ASY HADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH
WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARRASUULULLAAH.
MISTER MUHAMMAD MAHENDRA SON OF MISTER MUHAMMAD ANAN KHAN
I MARRY OFF AND I WED OFF MY SISTER TO YOU WITH THE DOWRY 100 GRAM GOLD 24 kARAT AND 10.000 DOLLQR, CASH" ucap Darma yang bertindak sebagai wali pernikahanku dengan tegas.
" I accept her marriage and wedding DIANA RAHMA, daughter of Mister MUHAMMAD ZUKRI with the dowry mentioned above in cash" balas Mahendra dengan lantangnya..
" Sah? tanya penghulu kemudian pada kedua saksi mempelai yang kemudian dibalas dengan ucapan yang sama dari masing- masing pihak.
" Alhamdulilah" teriak riuh para tamu undangan yang menyambut acara ini dengan gembira
Tirai putih pembatas sudah dilepaskan- Mahendra dengan dituntun oleh petugas pendamping berjalan mendekat untuk dapat duduk berdampingan di sisiku.
Pandanganku tak lepas dari sosok Mahendra. Sungguh Aku berharap lelaki itu adalah lelaki terakhir yang Allah berikan untukku sebagai pendamping hidupku.
End###