
Mataku terlihat sembab-bukan karena menangis namun sungguh rasa lelah yang luar biasa dan beban batinku terasa berat beberapa hari ini. Rencana perceraianku dengan Edi tentunya sangat didukung oleh Pak Beni bahkan kedua orang tuaku sangat bahagia mendengarnya. Tanpa aku bercerita kepada orangtuaku pun- firasat orang tua ternyata tidak pernah salah untuk mengetahui anaknya yang tidak bahagia.
Aku berusaha untuk fokus dengan pekerjaanku. Pengajuan cutiku yang kuajukan ke kantor pemerintah daerah bandung pun kubarengi dengan pengajuan persetujuan gugatan cerai ku pada atasanku. Sebagai seorang aparatur sipil negara- beberapa persyaratan harus kupenuhi untuk mengajukan gugatan cerai pada suamiku dan tentunya Aku harus mempunyai alasan yang tepat untuk itu. Pegawai negeri sipil hanya dapat melakukan perceraian apabila ada alasan yang sah, yaitu Salah satu pihak berbuat zinah atau salah satu pihak menjadi pemabuk, pemadat, dan penjudi yang sukar disembuhkan. Rasanya cukup alasan pertama yang akan kuajukan untuk berpisah dengan Edi.
" Maneh teh yakin rek pisah Di (apa kamu yakin akan pisah, Di) ? tanya Teh rini yang menjadi atasan langsungku di kantor tempatku kerja.
"Nya enya atuh teh.( iya lah teh)" jawabku.
"Teteh teu yakin Edi keur salingkuh, Di. (Teteh tidak yakin Edi selingkuh, Di)," tanya Teh Rini lagi dengan rasa tidak percaya. "tapi sigana si Edi teh pecicilan jeung awewe," lanjut teh Rini lagi padaku
"katingalina kitu teh.(Kelihatannya begitu, Teh). jawabku lagi
Teh Rini membaca lagi surat permohonan perceraianku setelah meneruskan pengajuan cutiku ke bagian kepegawaian.
Dalam surat itu kusertakan kronologi kejadian malam itu saat Aku menemukan wanita yang sama sekali tidak kukenal keluar dari dalam kamarku.
"Jujur Teteh tidak percaya dia begini Di." ujarnya seraya menggeleng-gelengkan kepala. " dan ini bagaimana kamu bisa dapat chat dan rekaman pembicaraan mereka? tanya Teh Rini penasaran setelah melihat lampiran pembicaraan yang kurekam dalam print out paper dalam laporanku.
"Saya sengaja memakai aplikasi spy phone teh." jawabku
"Aplikasi apa itu?
Aku lalu menunjukkan aplikasi yang sengaja kupasang di handphone milikku- dengan detil kujelaskan cara kerja aplikasi ini pada teh Rini. Sesekali teh rini mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar penjelasanku.
"Gila kamu Di. sampai segitu kamu ingin mencari bukti." ujarnya sambil tertawa terbahak.
"Semua terpaksa Saya lakukan Teh karena Saya sudah muak dengan kebohongan-kebohongan yang dilakukan Kak Edi." ujarku menanggapi.
Walau begitu permohonan pengajuan perceraianku ini tidak langsung ditanggapi Teh Rini selaku atasanku. Kali ini hanya pengajuan cutiku saja yang dia setujui.
"Di- teteh kasih kamu cuti dulu aja ya. Siapa tau dengan kamu cuti dan jauh dari Edi kamu bisa berpikir lebih jernih. sebaiknya ada jedah waktu kamu berdua untuk berpikir lagi soal perceraian kalian" lanjut Teh rini menasehatiku.
Aku tak bisa lagi berkata panjang lebar. Sebenarnya tidak pelu lagi ada jedah waktu untuk berpikir- karena keinginan bercerai ini sudah mantap dalam diriku.
--------- **** ---------
Terik panas masih menyengat, walaupun matahari sudah diufuk barat dan teriknya terasa membakar kulit. Namun, tak membuat manusia-manusia di Negeri Singa ini berhenti beraktivitas. Jalan-jalan yang ramai namun arus lalu lintas tetap lancar menggambarkan tidak ada kepadatan berarti, di satu titik. Selama perjalanan yang ditempuh dari Changi Airport sangat terasa perbedaan berkendara di Indonesia dan di Singapura. Ruas Jalan di Singapura sebenarnya tidak terlalu lebar-namun arus lalu lintas tetap lancar tanpa ada kemacetan yang berarti.
Mobil yang mengantar kami pun akhirnya tiba di kantor perusahaan milik Pak Beni yang ada di kawasan Marina bay- Supir perusahaan dengan sigap membukakan pintu untuk Pak Beni- begitupun Aku dengan segera keluar mobil dan menyambut Pak Beni berjalan memasuki gedung kantor dibantu dengan tongkat penyangganya. Di usia pak Beni yang menginjak tujuh puluh tahun itu- raasanya masih terlihat gagah berjalan tanpa harus dibantu dengan penyangga.
"Selamat Sore, Pak." sambut seseorang yang bertubuh tambun dengan setelan jas berdasi yang sudah berdiri di depan pintu masuk kantor. Terlihat beberapa orang juga berdiri dengan rapi di samping kiri kanannya.
Pak Beni hanya menjawab dengan mengangkat tangan kanannya dan senyuman tipis yang jarang sekali dia perlihatkan pada anak buahnya.
" Oh ya, Mr. Lee. ini pegawai baru kita namanya Mrs. Diana. Dia orang kepercayaan saya selain Vera." ujar Pak Beni menyampaikan perkenalan singkat tentang diriku pada Mr. Lee- lelaki yang menyambut kami tadi.
"Welcome Mrs. Diana. Selamat bergabung di perusahaan kita." ujar Mr.Lee dengan hangat menyambut ku sebagai pegawai baru diperusahaan ini.
Pak Beni memberikan aba-aba padaku dan Vera untuk segera melakukan pengawasan ke beberapa bagian sebagaimana yang sudah diarahkan Pak Beni sebelum kami berangkat ke Singapur.
Aku dibantu dengan staf Mr. Lee langsung menuju ke ruang personalia dan divisi regional untuk memeriksa beberapa laporan yang masuk ke Pak Beni sebelumnya. Sungguh ini berbeda dengan pekerjaanku di pemerintahan- tapi dengan bimbingan Vera dan Pak Beni aku pun bisa menyesuaikan dengan cepat cara kerja perusahaan dan juga cara kerja Pak Beni selaku pemilik perusahaan.
Sampai dengan hari ke tiga kami di Negeri Singa ini- semua tampak lancar dan berjalan sesuai dengan yang diinginkan.Pak Beni bermaksud mengadakan pertemuan di ruangan pertemuan khusus yang ada di hotel tempat kami menginap dengan para direksi dan komisaris perusahaan. Vera dengan cekatan merancang dan menyiapkan semua keperluan untuk pertemuan itu. Aku yang masih tergolong baru dalam hal ini-hanya membantu Vera untuk berkomunikasi dengan pihak hotel sesuai idengan setting yang kami inginkan.
"Ohya Di- kalau malam nanti kamu ingin jalan keliling kota silahkan karena besok kita sudah prepare untuk flight ke hongkong," ujar Pak beni padaku.
"Tapi bagaimana dengan pertemuan nanti malam Pak. Apa Saya tidak diperlukan hadir? tanyaku kemudian.
"Tidak apa. Cukup Vera saja yang mendampingi Saya. Lagian kamu kan baru ini ke Singapura. jadi nikmati kesempatan ini. "lanjutnya lagi dengan tersenyum.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Aku ke negeri ini- beberapa tahun lalu saat Aku masih menempuh pendidikan magisterku Aku berkesempatan berkunjung ke negeri ini bersama beberapa mahasiswa kampusku yang memiliki penelitian yang sama ke pusat pemerintahan Singapur. Saat itu kami tergabung dengan para pembimbing kami yang merupakan peneliti di Pusat Studi Penelitian Universitas Gadjah Mada. Tapi tentunya kunjunganku saat itu tidak untuk menikmati tempat-tempat wisata yang ada di negeri ini- hanya berkunjung ke beberapa perkantoran yang sudah terjadwal untuk kami kunjungi.
Setelah semuanya persiapan untuk pertemuan dirasakan sudah sesuai keinginan Pak beni. Aku pun kembali ke kamarku- sedangkan Vera masih mengikuti pak Beni untuk menyiapkan bahan rapat yang akan disampaikan Pak beni nanti.
Sesampaiku di kamar- Aku segera merebahkan tubuhku di atas ranjang yang sangat empuk. Berbeda sekali dengan kasur di rumahku di bandung yang mungkin kawat pegasnya sudah rusak sehingga mengeluarkan bunyi gesekan setiap kali aku berbaring diatasnya. Beberapa hari ini memang terasa melelahkan- dan rasanya ingin sekejap saja aku memejamkan mataku sebelum menjelang azan Magrib terdengar.Pekerjaan yang melelahkan tapi Aku merasa senang menjalaninya.
Tiba-tiba terdengar olehku suara pesan whatsapp yang masuk di telepon genggamku.
Bip...Bip...Bip...
suara itu terdengar beberapa kali
Nada pesan yang masuk ini secara khusus kubedakan. Pesan atau telepon yang masuk dari kedua orangtuaku tentunya kubuat dengan nada spesial. Sedangkan pesan atau telepon dari keluarga Edi kubuat dengan nada Bip sekali.
Walau agak malas untuk membaca pesan itu- namun tetap saja kuambil teleponku dan membaca isi pesan yang masuk tadi.
(Teh- Mamah masuk rumah sakit)
Pesan yang masuk itu ternyata dari erni, adik suamiku. Namun-belum sempat Aku membalas pesan itu- sudah masuk pesan lain dari Erni.
(Teteh bisa kirim uang bantu Mamah?)
Keningku mengernyit membaca bunyi pesan itu. Lagi-lagi dalam pikiran mereka saat menghubungiku hanyalah uang dan uang.
(Kenapa tidak minta ke Kakakmu? Saya tidak punya uang dan sejak Kakak mu menalak Saya sudah bukan kewajiban Saya membantu kalian)
jawabku kemudian dengan bahasa yang cukup ketus.
(Tapi semua ini karena Teteh. Mama kepikiran dan jadi sakit!)
lanjut pesan Erni lagi.
Deg, tiba-tiba emosi ku meningkat membaca pesan terakhir Erni tadi. Apakah mereka sama sekali tidak pernah merasa bahwa apa yang mereka lakukan selama ini padaku adalah sebuah pemerasan terselubung dengan mengatasnamakan ikatan pernikahan. Apakah dengan menantu-menantu mereka yang lain -juga diperlakukan sama seperti diriku? batinku menggumam kesal.
Aku tidak membalas pesan Erni lagi. Lalu-dengan sengaja ku blokir nomor teleponnya dan juga seluruh keluarga Edi. Aku sudah tidak ingin lagi dipusingkan dengan permasalahan mereka- Aku hanya menunggu proses perceraian kami selesai.
Suasana hatiku pun tiba-tiba berubah setelah mendapatkan pesan dari Erni tadi. Aku berusaha menenangkan diri dan memejamkan mata dan memaksa untuk tidur sejenak. Berharap semua ini akan berlalu setelah Aku membuka mataku kembali.
Suara Azan dari handphoneku terdengar cukup nyaring hingga membangunkanku dari lelap. Aku bergegas ke kamar mandi - membasuh diriku dari peluh yang melekat di tubuhku selama seharian beraktifitas lalu aku bewudhu untuk menyegerakan sholatku.
Selesai Sholat - tentunya Aku masih menyempatkan diri untuk mengecek ruang pertemuan nanti. Rasanya tidak enak bila kubiarkan Vera bekerja sendiri- walaupun ada beberapa staf perusahaan yang selalu membantu tugasnya.
"Apa sudah seratus persen persiapan, Bu vera? tanyaku pada Vera yang sudah terlebih dulu di tempat itu
"Ya, sudah. Syukurnya segala sesuatu sudah dipersiapkan hotel." ujar Vera menjawab pertanyaanku. "Loh kamu belum pergi keluar Di. Supir kantor sudah siap di lobby." lanjutnya lagi.
"Baiklah. Selepas sholat isha Saya rencananya baru keluar." ujarku. Setelah berpamitan- Aku tinggalkan Vera diruangan itu bersama beberapa staf yang masih menunggu disana.
Tanpa harus menunggu waktu beberapa lama setelah mengerjakan sholat Isha- Aku segera menuju lobi hotel menemui supir perusahaan yang memang ditugaskan vera untuk menemaniku keliling kota Singapur. Sebenarnya pemandangan malam hari di kota ini sama saja seperti kota besar di Jakarta. Lampu-lampu menghiasi jalan dan bangunan ikonik Singapur. Sebenarnya dari balkon hotel tempat kami menginap Aku sudah bisa menikmati suasana malam kota singapura. Gedung Marina Bay sands terlihat begitu indah dari kejauhan dan di sisi lain terlihat menara OCBC Skyway yang memang sangat menakjubkan terlihat di malam hari.
Tujuanku kali ini hanya ingin berkeliling dengan kapal pesiar di Singapore River. Sebenarnya waktu yang diberikan padaku malam ini tidak dibatasi- namun kupikir menikmati pemandangan malam menghemat waktuku untuk melihat beberapa tempat wisata yang terkenal disana dan beberapa gedung yang dilewati oleh singapore river.
Sungai Singapore River, berada tepat ditengah kota Singapore. Ibaratnya kalau di Jakarta itu kali Ciliwung. Tapi kondisinya agak beda jauh. Singapore River sangat bersih dan di kiri kanannya terdapat tempat-tempat hangout untuk nongkrong yang keren, yaitu Clarke Quay dan Boat Quay. Tidak perlu menunggu antrian lama untuk naik ke Cruise- Aku sudah bisa duduk di kursi yang ada di pinggir sehingga dengan mudah bisa kunikmati pemandangan sambil menikmati makan malam yang disajikan selama perjalanan dari atas kapal.
Sungguh- rasanya nikmat yang kurasakan malam ini bisa sejenak melepaskan beban pikiranku akan keruwetan dalam rumah tanggaku dengan Edi.