
Sesaat tersadar- ternyata Aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Seseorang yang berseragam tentara yang sama sekali tidak kukenal berdiri disampingku.
"alhamdulilah Ibu sudah sadar," ucapnya.
Aku menoleh kearah lelaki berseragam hijau itu. Aku berusaha untuk bangkit dari posisi ku yang terbaring di ranjang putih itu-namun tangan kiri ku sama sekali sulit kugerakkan.
"Aagggh.." suaraku terdengar mengerang kesakitan.
"Ibu jangan banyak bergerak dulu." ujarnya dengan wajah kuatir.
"Maaf Bapak siapa? Bagaimana Saya ada disini?"tanyaku penasaran
"Saya Herman BU. Saya temukan Ibu tergeletak dipinggir jalan tadi. Saya dibantu rekan Saya membawa ibu ke puskemas ini. kebetulan tidak jauh dari lokasi kejadian." jelasnya lagi padaku.
"terima kasih Pak Herman. Sudah menolong Saya." ucapku lagi pada lelaki itu
"Maaf Bu. Apa ada keluarga ibu yang bisa kita hubungi." tanya Pak Herman padaku. " ohya, ini sepertinya handphone milik Ibu. Saya temukan tidak jauh dari lokasi." lanjutnya sambil menyerahkan telepon genggam milikku yang dalam kondisi yang sudah rusak.
Aku menerima telepon milikku yang diserahkan oleh Pak Herman. " Aduh, bagaimana Saya bisa menghubungi keluarga Saya. Suami Saya sedang di rumah sakit. " ujarku lagi
"Ibu bisa pakai handphone Saya." ujarnya sambil mengulurkan telepon genggam miliknya.
Aku menerima tawaran Pak Herman. Sejujurnya Aku bingung akan menghubungi siapa karena di kota ini Aku hanya tinggal sendiri. Satu-satunya orang yang masih disebut keluarga adalah suamiku Edi- namun kondisi Edi sekarang rasanya tidak mungkin untuk dihubungi.
Dengan memikirkan banyak pertimbangan akhirnya Aku menghubungi Aman suami dari Adik Edi yang bernama Ayuni. Aku sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Aman namun karena lelaki itu berasal dari daerah yang sama denganku membuat Kami lebih terbuka saat sedang bertukar pikiran terutama soal hubungan rumah tangga kami masing-masing yang memiliki masalah yang hampir sama.
"Assalamualaikum," terdengar suara Aman dari telepon genggam milik pak Herman tadi.
"Waalaikumsalam, Dik. Ini Ayuk Diana. " ujarku
"Oh, Ya Yuk. Ini nomor milik siapa yuk? Apa ayuk ganti nomor? tanyanya lagi
"Bukan. Ini Ayuk pinjam dari orang lain. Ayuk baru saja mengalami kecelakaan." ujarku menjelaskan.
" Innalilahi. Ayuk posisi dimana? Tapi apa Ayuk tahu Kak Edi sedang dirawat sekarang." tanyanya lagi dengan suara yang berubah panik
"Ya. tadinya Ayuk ingin langsung ke rumah sakit. Hanya saja tidak ada yang tau akan terjadi kecelakaan seperti ini." jelasku. "ohya, Kamu jangan ceritakan hal ini pada Kak Edi karena dia tidak dalam kondisi yang baik." lanjutku lagi.
"Iya Yuk.Tapi bagaimana kondisi ayuk sekarang? tanya Aman lagi padaku
"Ayuk tidak terlalu parah. setelah diperiksa nanti Ayuk langsung ke rumah sakit." ujarku lagi. Walau sebenarnya kondisiku tidak baik baik saja tapi Aku tidak ingin menambah kekhawatiran pada orang lain karena kondisiku ini.
Setelah panjang lebar percakapan kami- Akhirnya Aku meminta Aman untuk menjemputku di puskemas tempat Aku dirawat-karena menurut Pak Herman kondisi motor dinas yang aku kendarai sewaktu kecelakaan mengalami rusak berat.
Setelah beberapa jam melewati beberapa kali pemeriksaan medis- akhirnya Aku diijinkan untuk pulang. Tangan dan kaki kiriku diperban dan dipasangkan bantalan atau penyangga sehingga tangan tidak mudah bergerak dan cedera tidak makin parah.
Rupanya Aman sudah menungguku- Aman yang memang kuminta untuk menjemputku kuminta membawa mobilku yang diparkir di rumah kontrakan kami karena tidak memungkinkan kondisiku ini berboncengan dengan kendaraan roda dua. Hari itu Aku memutuskan untuk beristirahat terlebih dulu di rumahku ketimbang membesuk Edi di rumah sakit- Aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk bertemu dengan Edi ataupun keluarganya dengan kondisiku seperti ini.
Aman membukakan pintu mobil untukku dan membantuku untuk masuk ke dalam rumah. Terlihat Teh Tuti sudah menungguku di dalam rumah. Wajah wanita paruh baya itu terlihat kuatir melihat kondisiku. Untungnya Aman berinisiatif untuk meminta Teh Tuti menemaniku di rumah sehingga Aku tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhanku saatAku tidak memungkinkan untuk banyak bergerak seperti ini.
------------------------
Walaupun Aku membenci Edi tapi tetap ada rasa kekhawatiran di benakku atas apa yang terjadi pada Edi saat ini.
"Bagaimana kondisinya,"tanyaku pada Kang Asep kakak angkatku yang rupanya sudah terlebih dahulu ada disitu. Sama sekali tak kulihat anggota keluarga Edi yang lain selain Aman disana. Selain Kang Asep dan Aman ada beberapa rekan pemain badminton Edi yang menunggu di luar ruangan.
"Kritis. Suamimu tidak sadarkan diri lagi." ujar kang Asep dengan mimik wajah yang terlihat tegang.
"Hah? reaksiku seakan tidak percaya dengan penjelasan kang Asep.
Aku mencoba masuk ke dalam ruang ICU namun perawat yang berdiri di depan pintu ruangan tak mengijinkanku.
"Maaf Ibu- dokter sedang menangani pasien kritis." ujar perawat tadi.
"Tapi saya istrinya." ujarku memaksa.
"Maaf ibu-" ujarnya lagi.
" Aku hanya melihat Edi yang terbaring tak bergerak dan sesekali terhentak saat para dokter menempelkan defribrilator (alat pacu jantung) ke dada Edi.
Untuk beberapa lama para dokter berusaha untuk menolong Edi tapi kemudian kulihat salah seorang dari mereka memberikan aba-aba untuk menghentikan penanganan tadi.
Ada apa, batinku. Apakah Edi bisa diselamatkan?
Salah seorang dokter keluar dari ruang ICu dan menghampiri kami yang berdiri terpaku menunggu kepastian tentang kondisi Edi dari para dokter yang menanganinya itu.
"Dari keluarga Bapak Edi? tanya dokter itu
"Saya istrinya, dok." jawabku sigap. Dokter muda itu tidak segera melanjutkan ucapannya- wajahnya tertunduk lalu matanya melihat ke arahku dengan pandangan sedih, " Maaf Ibu kami sudah berusaha tapi suami Ibu tidak bisa kami selamatkan."
Spontan orang-orang yang sedari tadi berdiri di depan pintu ICu berteriak histeris dan beberapa melafaskan ucapan belasungkawa mendengar berita itu.
Aku terdiam- sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku perceraian yang kuharap terjadi justru Allah aminkan dengan cara yang berbeda yang sama sekali tidak kuharapkan.
Edi justru harus pergi selamanya dariku dengan cara yang berbeda.
Tubuh itu terbaring kaku dihadapanku. Pikiranku sudah tidak menentu- ada terlintas dalam benakku apakah semua ini karena salahku yang menuntut sebuah perceraian dari Edi. Apakah Aku yang membuatnya begini? Apakah Aku menginginkan hal ini terjadi pada Edi.
Kang Asep mencoba menenangkanku- Dia sangat tau apa yang ada dalam pikiranku saat itu tanpa Aku harus memberitahukannya.
"Kita harus Iklaskan, Di," ujar Kang Asep padaku.
Aku hanya mengangguk pelan- sungguh aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
Kulihat Aman sibuk dengan telepon genggamnya menghubungi keluarga Edi yang lain. Rupanya saat ini mereka sedang tidak ada di Kota Bandung sebagaimana yang kupikirkan. Keluarga Edi sedang merayakan kepulangan adik ipar Edi yang tadinya bekerja di Taiwan sebagai tenaga kerja asing di negara itu.
Entahlah- Aku tidak bisa membayangkan reaksi mereka mendapat berita duka tentang Edi saat itu. Aku juga tidak bisa membayangkan betapa kehilangan mereka apalagi aku tahu sekali Edi adalah satu-satunya anggota keluarga yang menopang semua kebutuhan keluarga mereka.
Beberapa orang lain terlihat sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk membawa pulang jenazah Edi. Sedangkan Aku tak bisa berbuat banyak dengan keterbatasan gerakku. Setelah Aman berdiskusi dengan keluarga Edi di kampung halamannya- akhirnya diputuskan jenazah Edi akan segera dibawa ke Kota Cirebon tempat kota kelahirannya.
Suara sirene ambulan mengiringi kepergian jenazah Edi. Aku, Kang Asep dan beberapa orang mengikuti dengan mobilku dari belakang. Kali ini Aku hanya bisa berdamai dengan diriku untuk memaafkan Edi dan menghapus kebencianku padanya. Semua sudah selesai- Tak ada lagi pertengkaran- tak ada lagi salah paham, batinku bergumam. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi padaku. Semua seperti mimpi buruk- Aku yang beberapa hari lalu mengalami kecelakaan dan juga bersamaan Edi yang sakit dan kini sudah dipanggil Allah meninggalkan kami.
Semua telah Allah yang rencanakan.