I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)

I LOVE YOU (I LOVE YOU NOT)
Teror Menjelang Pernikahan 1



Hari ini- Aku datang lebih pagi di  terminal tiga kedatangan internasional Bandara Soekarno hatta. Sengaja Aku datang lebih awal ke tempat ini sebelum jadwal pesawat dari Sydney mendarat. Aku tahu Mahendra yang untuk pertama kali datang ke Indonesia akan kebingunga - apalagi harus melanjutkan perjalanan ke Semarang.


Sungguh berdebar jantung ini menyambut kedatangannya. Apalagi kedatangan perdana Mahendra ini dengan maksud untuk melamar diriku.


" Hei, Diana,! Teriak seseorang dari kejauhan.


Aku menolehkan wajahku ke arah suara tadi. Terlihat olehku seorang wanita berbadan mungil mengenakan hijab setengah berlari menghampiriku


"kamu Yusi kan? Kamu beneran Yusita teman kuliahku dulu? tanyaku seakan tak percaya mepihat wanita muda di hadapanku.


Wanita itu tersenyum, " kenapa? Lu kagak ngenalin gua lagi Di? tanyanya sambil tertawa terbahak


"Bukan. Bukan begitu. Tapi kamu pakai hijab begini. Bukannya kamu dulu? Aku tak segera melanjutkan kata-kataku. Aku tidak ingin wanita muda ini salah tafsir dengan perkataanku.


" Maksudmu kenapa sekarang Aku berhijab? Yusita menimpali balik keraguanku dengan pertanyaannya.


Aku menganggukkan kepalaku masih dalam kondisi tak percaya dengan yang aku lihat saat ini.


"Ya, Di Aku sudah memeluk Islam sejak dua tahun lalu. Alhamdulilah. " ujarnya lagi


Seketika raut muka ku berubah yang tadinya terkejut tak percaya menjadi begitu gembira. Ku peluk tubuh Yusita yang mungil dan tanpa sadar pelukanku membuat tubuhnya sedikit terangkat olehku dan wanita bertubuh mungil itu menggeliat  mencoba melepaskan diri.


"Hei, Lu ah. badan gua remuk lu buat Di!


"Eh iya. Sorry! ujarku seraya melepaskan rangkulanku.


"Sudah lama kita nggak ketemu ya. Hmm.. sepertinya sejak kita lulus kuliah deh." ujar Yusita


"Iya bener."


"Anakmu sudah berapa Di? tanya Yusita lagi." maaf Aku belum sempat mengucapkan bela sungkawa waktu Kak Edi suamimu meninggal, Di"


"Aku nggak punya anak dari kak Edi. Ah sudahlah lupakan soal itu." jawabku. Ada rasa enggan dalam diriku untuk membahas tentang masa lalu pernikahanku."Oh ya, kapan-kapan kalau Aku mau mengundang Lu jangan nggak datang ya."


"Ngundang? Wow, akhirnya. Ngomong-ngomong siapa calonmu?"


" Ini aku lagi menunggu kedatangan dia." jawabku sedikit menutupi rasa maluku.


"Di, Aku sudah tahu cerita kamu dengan kak Edi dulu. Teman-teman kita yang sampai saat ini yang masih saling komunikasi  sangat menyanyangkan keadaan itu. " lanjut Yusita. Wanita itu lalu mengajakku kembali duduk di kursi  yang ada di dekat kami berdiri. "Tapi kita salut dengan ketegaranmu, Di"


"Ya, makanya sekarang Aku sudah move on Yus."


"Senang gua mendengarnya, Di. By the way, kenalin dong dengan calon ipar."


"oh pasti tentunya."sambutku senang.


Pembicaran kami kemudian berlanjut sampai dengan waktunya kedatangan Pesawat  Scoot TR-13 dari Sydney yang ditumpangi Mahendra  mendarat.


Terlihat pesan whatsapp  yang kuikirimkan pada Mahendra sudah tertera tanda centang dua- arttinya pesanku telah diterima olehnya.


Aku masih menunggu balasan dari Mahendra untuk memastikan penyambutanku nanti. Sudah lebih dari enam bulan kami habiskan kerinduan satu sama lain hanya lewat media sosial.


Tak lama balasan pesan ku akhirnya dijawab oleh Mahendra.


(I pass the imigration autogate now)


Saya melewati autogate imigrasi sekarang


Membaca itu- Aku segera menuju ke depan pintu kedatangan sehingga dengan mudah nanti Mahendra bisa melihat dan mencariku. Ini bukan pertemuan kami untuk pertama kali- namun  rasa berdebar itu seperti pertama kali ikami bertemu- dan tetap sama. Awalnya Aku tidak terlalu berharap bahwa kedatangan Mahendra ini akan disambut baik oleh keluargaku- meskipun dalam hati kecilku Aku memang mengharapkan kehadiran lelaki yang Aku cintai kali ini benar-benar diterima baik oleh keluargaku tidak seperti pasanganku sebelumnya.


"Ingat Di- Pesan Almarhum Papa. Carilah pasangan hidup yang paham ilmu agama, yang baik, berilmu dan terutama sayang yang tulus padamu dan keluarga." ucap Ibu saat Aku menyampaikan keinginan Mahendra  datang ke Indonesia untuk melamarku.


Tidak mudah untuk meyakinkan Ibu dan saudara-saudaraku tentang hubunganku dengan Mahendra. Kekecewaan atas perlakuan Edi dan keluarganya dulu padaku bagaikan mimpi buruk dalam keluarga kami.


Entah mengapa- kali ini Aku cukup yakin dengan rencanaku dan Mahendra untuk menyatukan tujuan kami dalam sebuah satu ikatan pernikahan. Mahendra yang selalu meyakiniku bahwa Dia akan menerimaku dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Bukan memandangku dari fisik atau kelebihan materiil yang kumiliki seperti yang pernah kualami sebelumnya dengan Edi. Mahendra justru hadir disaat keterpurukanku dan kondisi fisikku yang tidak sesempurna dulu.


Tak ada keraguan seperti yang pernah Aku alami dengan Edi dulu.


Dari kejauhan sudah terlihat sosok Mahendra berjalan mendekati pintu keluar. Masyaallah- lelaki itu tampak semakin tampan dan gagah dimataku. Aku melambaikan tanganku pada Mahendra berharap dia akan melihatku menyambutnya.  Mahendra langsung dapat mengenaliku dan membalas lambaian tanganku.


Ingin rasanya aku berlari dan memasrahkan diri tenggelam dalam pelukan Mahenda. Tapi Hei, ini tempat umum Diana, batinku malu.


"Assalamualaikum, Di. How are you? sapanya sesaat kami berpapasan.


"Waalaikumsalam. Good. alhamdulilah." jawabku.


"Salam, Mister Mahendra." sapa Yusita disela-sela pembicaraanku dan Mahendra.


Mahendra tampak kebingungan dengan sapaan Yusita. Mata Mahendra kemudian melirik ke arahku seakan bertanya siapa wanita mungil di sebelahku.


"Your sister?


"Oh, This is my friend Yusita. We meet just now. She is from lombok.


(Oh, ini temanku Yusita. kita baru saja bertemu. dia dari lombok)


Yusita langsung menyenggol tubuhku sambil berbisik, " Keren Di. Kupikir seleramu macam Chow Yun fat ternyata Syahrukh khan seleramu." candanya.


Aku sontak tertawa terbahak mendengar kata-kata Yusita tadi.


Setelah berbincang beberapa saat- Yusita pun tak lama berpamitan dan kami melanjutkan perjalanan kami menuju Kota Semarang dengan menggunakan kereta api.


Malam hari setibanya kami di Stasiun Kota Semarang.


Keluargaku ternyata sudah berkumpul di kediaman Yuk Devi.Hal yang tidak biasa pula- Mas Pugi suami Yuk  Devi turut hadir di situ. mas pugi yang merupakan salah seorang pejabat tinggi di BUMN sangat jarang sekali bisa berkumpul dengan keluarga apalagi mengingat kesibukannya yang lebih banyak dihabiskan di ibukota.


"Welcome to our family, mister ...?" (selamat datang di keluarga kami, tuan..?)


"Mahendra. My name' Muhammad Mahendra from Pakistan," (Mahendra. Nama Saya Muhammad Mahendra dari pakistan)


Perbincangan pun dilanjutkan dengan perbincangan antara Mas Pugi, Aku dan Mahendra. Kebetulan diantara keluargaku kami berdualah yang bisa berbahasa Inggris dengan lancar.


Setelah menyampaikan niat baiknya untuk memintaku kepada keluargaku- Mahendra kemudian mengeluarkan sebuah bingkisan dari tas ransel coklat yang sejak kedatangannya selalu ada dalam jinjingan Mahendra.


" I bring these  gift for Diana's family." (hadiah ini  untuk keluarga Diana.) ujarnya seraya meletakkan beberapa kotak hadiah diatas meja ruang tamu kami.


Aku melirik kearah Ibu dan kakak-kakakku. Mereka tampak terkejut dengan pemberian Mahendra. Tentu saja Aku sudah mengetahui apa saja yang ada dalam kotak-kotak itu karena Mahendra sudah memberitahukanku sebelum kedatangannya ke Indonesia.


Beberapa buah jam tangan wanita dengan merk yang cukup terkenal, beberapa buah kaos pria dan tak lupa coklat dan permen untuk para keponakanku yang dibawa Mahendra.


Keramahan Mahendra dan santunnya yang lebih baik dari lelaki pribumi membuat keluargaku pun jatuh hati pada lelaki itu. Tanpa ragu Ibu memberikan restunya untuk kami berdua.


Wajah Mahendra yang masih terlihat lelah berubah menjadi cerah dan bersemangat.


Ya, kami akan menentukan hari pernikahan kami setelah keluarga Mahendra dan keluargaku bertemu di Jakarta nantinya.


kakak-kakak perempuanku menarik lenganku dan kami pun masuk ke kamar Ibu yang berdekatan dengan ruang tamu.


"Gila Di. Ternyata pilihanmu cakep begitu" ujar Yuk Devi menggodaku


"iya lah.Kalo nggak mikirin anak- anak Gua juga mau kali. " celetuk yuk Derna sambil tertawa terkikih-kikih. " Gua bilang apa. Die tuh suka ama elu dari awal kita ketemu di Sydney Di. "


"Jadi gimana ni. Kalian setuju kan? Tanyaku.


" Ya. Iyalah."jawab kedua kakak perempuanku serentak.


"Gua juga setuju lah" celetuk Darma adik bungsuku yang tiba-tiba ikut nimbrung masuk ke dalam kamar.


"Trus gimana dengan Ibu nih? Tanyaku lagi pada Ibu yang asyik menemani cucu-cucunya yang sedang berebutan oleh-oleh dari Mahendra tadi


" ibu sih oke oke aja." jawab Ibu santai..


Aku langsung memeluk ibuku dan berbisik


" terima kasih Ibu. Restu Ibu dan sodara-sodara adalah doa untuk ku. " ujarku senang.


Waktu tak terasa sudah larut malam. Pastinya Mahendra sudah sangat lelah malam ini- Mas Pugi yang langsung akrab dengan Mahendra lalu mengantarkan kekasihku itu ke hotel yang telah aku pesan sebelumnya. Kebetulan lokasi hotel tersebut tak jauh dari rumah mereka.


Aku yang tak lagi bisa menahan rasa bahagia ini seperti biasa selalu mengungkapkan semua yang kualami dan rasakan di media sosialku.


"terima kasih ya Allah engkau telah memberiku lelaki yang terbaik yang direstui keluargaku menjadi pendampingku. " tulisku


Baru beberapa detik pesanku terpasang di status facebook ku sudah masuk beberapa komentar yang menanggapi.


Adam : selamat ya bu


Rina : ikut senang bu bacanya. Bahagia always ya bu.


Laila : ama si Bule jadinya sist??? Barakallah ya


Ron : congrats my niece


Dan makin banyak komentar yang masuk lainnya yang turut bahagia dan mendoakanku.


kutinggalkan handphoneku di atas meja rias ibu. lalu Aku membasuh tubuhku yang berpeluh setelah perjalanan jauh dan mengganti pakaianku.


Kali ini yang ingin aku lakukan adalah tidur disamping Ibu dan memeluknya. Namun tiba-tiba sebuah pesan whatsapp masuk ke handphoneku.


Aku melirik ke arah layar handphone yang menyala. Ah, nomor yang sama sekali tak kukenal.


Penasaran- aku pun membuka pesan whatsapp yang masuk tersebut.


(kamu tidak akan pernah bisa bahagia. Kami akan membuat hidupmu lebih menderita. Ingat itu Diana!!!)


Begitu terkejut Aku membaca isi pesan yang bernada ancaman seperti itu. Aku mencoba menghubungi nomor whatsapp yang tertera. Namun berkali-kali ku coba berkali-kali pula panggilanku ditolak.


Tapi siapa orang ini. Bagaimana dia bisa mengatakan hal sekejam itu padaku. Dosa apa yang aku perbuat padanya sehingga ia begitu ingin melihatku menderita?