
Aku masih penasaran dengan pesan whatsapp yang tidak terduga semalam. Ada rasa kuatir atas ancaman tersebut- tapi apa yang orang itu bisa perbuat padaku. Aku menceritakan hal ini pada adikku Darma dan dia menyarankan untuk memblokir nomor tak dikenal tersebut.
"Blokir aja yuk. Gitu aja kok repot," ujarnya
"Ya. sudah. tapi Ayuk masih penasaran dengan orang ini. Apa dia berteman di facebook ayuk ya. karena ayuk hanya mengutarakan perasaan ayuk di facebook dan hanya orang-orang yang berteman yang bisa melihatnya." ceritaku lagi
"Bisa jadi. Lu sih banyak penggemar gelap." Darma menanggapi dengan candaan sambil terkekeh. "tapi coba kita cek di applikasi siapa tau kita bisa lihat itu nomor punya siapa."
Aku mengikuti saran adikku. Darma langsung mengecek nomor yang tidak dikenal tadi di aplikasi gocontact
Sebuah nama yang tertera dan sangat kukenal muncul di layar. AYUNI YASIN
Ada apa ini? Bagaimana Ayuni adik dari mantan suamiku bisa mendapatkan no handphone milikku. Dan bagaimana dia bisa tahu bahwa saat ini aku sedang bahagia. Aku sama sekai tidak merasa berteman dengannya di media sosialku. Bahkan nomor handphone milikku ini sudah sekian kali ku ganti dan aku sangat yakin mereka tidak akan mngetahuinya.
"Siapa Ayuni, Yuk? Tanya Darma kemudian
" adik perempuan almarhum Edi! "
"Hmmm mau apa lagi keluarga itu." ujar Darma kesal
"Sudahlah. Kalau mereka masih mengganggu. Aku lapor polisi aja"
"Benar sebaiknya lapor polisi. Dari dulu juga almarhum abang sudah menyarankan untuk lapor polisi ats semua teror yang mereka buat untuk ayuk.Toh bukti-bukti ancaman sudah dikumpulkan abang. Tapi ayuk masih berbaik hati pada mereka. "
"Tapi Ayuk masih memikirkan orang tua Edi. Kasihan"
"Tuh kan. Ayuk kasihan ke mereka tapi apa mereka nggak kasihan ke ayuk? tampik Darma semakin kesal.
Kemarahan Darma beralasan- melihat banyaknya pengorbanan yang sudah kulakukan untuk keluarga itu- tapi justru dibalas dengan teror dan perlakuan kasar mereka
"Sudahlah. Mudah-mudahan dia nggak hubungi lagi. Aku mau ke hotel duku menjemput Mahendra, " ujarku mengakhiri pembicaraanku dengan adikku.
Aku segera menghidupkan mesin mobil dan tak lama berselang kendaraan yang kutumpangi pun meluncur menuju hotel.
" Selamat Pagi. Selamat datang di Hotel Persada. Ada yang bisa kami bantu " sambut seorang petugas hotel ramah menyapaku.
"Selamat Pagi. Bisa dipanggilkan Tuan muhammad mahendra dari kamar 605? pintaku
"Baik. Maaf dari ibu siapa?" tanya petugas penerima tamu hotel itu lagi.
"Ibu Diana,"
"Oh baiklah. Ditunggu sebentar ya Bu."
Aku mengiyakan lalu Aku mengambil tempat duduk yang ada di ruang tunggu lobi hotel. Sesekali Aku membalas pesan whatsapp yang masuk ke handphoneku. tapi, astaqfirullah ada lagi nomor tak dikenal lain yang masuk ke kotak pesanku, batinku. Pesan itu pun dikirim dengan nada ancaman serupa.
"Di, I am sorry to keep you waiting, dear" ( Di- Maaf aku membuatmu menunggu) sapa Mahendra membuatku sedikit terkejut.
"oh- hey.You look great this morning." (Oh- Kamu terlihat hebat hari ini) sapaku ketika tersadar bahwa kekasihku itu sudah berdiri dihadapanku.
"Why? Seems You lost in your daydream, Di? (“Kenapa? Sepertinya kamu hanyut dalam lamunanmu, Di?)
"Ya. some stranger keep sending weird messages since last night," ("Ya. Ada orang asing yang terus mengirimkan pesan aneh sejak tadi malam,) jawabku
"Who? and Why?
"I dont know. but I knew who is the sender." ("Aku tidak tahu. Tapi aku tahu siapa pengirimnya.")
"Look Di. Let's forget about those things. Now, better we think and prepare for our marriage" ("Begini Di. Mari kita lupakan hal-hal itu. Sekarang, lebih baik kita memikirkan dan mempersiapkan pernikahan kita)
Aku sepakat dengan ucapan Mahendra. Tak ada gunanya menggubris semua pesan ancaman tadi. Memang Aku harus memfokuskan diri dengan persiapan pernikahanku nanti.
Pagi ini- jadwal kami mengunjungi Butik pakaian pengantin yang telah menjadi langganan keluargaku mulai dari pernikahan kakak perempuan pertamaku sampai dengan pernikahan adikku yang bungsu. Ibu yang memang sangat menyukai tata rias dan juga mengoleksi pakaian tradisional dengan sengaja merancang sendiri pakaian pernikahan yang akan Aku dan Mahendra kenakan.
"Selamat datang Di, kapan kamu datang? sapa Mbak Nunik pemilik butik dengan ramahnya menyambut kedatanganku dan Mahendra.
" Kemarin Mbak. Oh ya perkenalkan ini Mahendra - calon suamiku." lanjutku memperkenalkan Mahendra yang sedari tadi selalu mengikuti langkahku secara berdampingan.
"Halo, Mas Mahendra selamat datang di Semarang." sapa Mbak Nunik lagi.
Aku menjelaskan pada Mbak Nunik tentang keterbatasan Mahendra dalam menggunakan bahasa Indonesia- dan setidaknya Mbak nunik pun akhirnya memaklumi.
Mbak Nunik langsung mengajak Aku dan Mahendra untuk masuk ke ruangan khusus untuk para pengantin yang akan *fitting *pakaian di tempat itu.
Sebuah gaun indah berwarna putih dengan kerudung berhiaskan mahkota dengan ciri khas pengantin pakistan telah disiapkannya untuk pesta pernikahan Aku dan Mahendra. Gaun pengantin yang di desain oleh Ibu itu terkesan mewah. Aku yang sangat tidak perhatian dalam hal penampilan- kali ini merasa begitu tak sabar ingin segera mengenakan pakaian itu.
" Boleh saya coba dulu? tanyaku pada Mbak Nunik.
"Oh-tentu. Silahkan itu ruang Fitting nya." ujarnya sambil menunjuk ke sebuah ruangan yang tertutup dengan kain gorden tebal dibaliknya.
" Aku dengan dibantu seorang asisten pemilik butik langsung mencoba gaun indah itu di bilik ganti.
Hmmm, begini rasanya kembali mengenakan pakaian pengantin, batinku sesaat aku selesai mengenakan gaun itu ditubuhku.
Sungguh Aku sendiri merasa kagum dengan penampilanku saat ini. Rasanya tak sabar Aku ingin menunjukkan gaun ini dihadapan Mahendra.
Aku keluar bilik dan berjalan mendekati Mahendra. Dari kejauhan rupanya pandangan Mahendra tak lepas dari diriku.
" You are really like a princess, Di" ujarnya
Ya Allah, digoda begini oleh Mahendra wajahku pasti memerah. Lelaki itu tampak berbinar dan bahagia sekali melihat Aku mengenakan gaun pengantin- dan tiba saatnya Mahendra mencoba pakaian pengantin pria yang juga sudah disiapkan di butik itu.
"Wow, you are the real Prince" aku balik menggoda Mahendra.
Kami pun berdua tertawa dan saling melemparkan candaan. Sungguh Aku semakin mencintai laki-laki ini. Sangat jarang Aku melihatnya terlihat rapi dengan mengenakan setelan jas seperti itu.
Hari ini terlalu padat jadwal yang aku buat bersama Mahendra untuk mempersiapkan pernikahan kami. Awalnya Aku hanya menginginkan sebuah acara pernikahan yang sederhana- namun Mahendra menginginkan pernikahan yang mewah dan berkesan karena ingin menghargai keluarga besarku dan keluarga besar Mahendra yang juga nantinya akan hadir pada pernikahan kami.
Hanya beberapa hari yang kuhabiskan untuk mempersiapkan segala sesuatunya- akhirnya Mahendra harus kembali ke Sydney untuk bekerja selain juga untuk mempersiapkan kelengkapan administrasi yang diperlukan untuk persyaratan menikah di Indonesia nantinya.
Hari ke lima di Kota Semarang-
Aku bermaksud mengantar Mahendra untuk kembali ke Sydney Penerbangannya kali ini menggunakan penerbangan dari bandara Yogyakarta ke Singapura yang dialnjutkan dengan penerbangan lanjutan ke Sydney untuk menghemat waktu-
"I can't wait to make you my wife, Di" (Aku sudah tidak sabar menjadikanmu istriku, Di) ujarnya sebelum masuk ke ruang pemeriksaaan imigrasi.
"I also cant wait to be your wife" (Aku juga tidak sabar untuk menjadi istrimu) jawabku malu. Ada rasa berat untuk melepas lelaki dihadapanku. Tapi masih banyak yang harus kami lakukan sebagai persiapan sebelum menjelang hari pernikahan kami.
Kami lalu berpisah diantara batas gerbang pemeriksaan imigrasi. Mahendra sekali lagi memelukku dengan erat. Pelukan yang akan selalu Aku rindukan sampai dihari pernikahanku nanti.
Tapi kami memang harus berpuisah saat ini- dan Aku harus kembali ke Kota Palembang untuk bekerja dan juga mengurus kepindahanku nanti untuk dapat dipekerjakan di kedutaan Australia.
Setelah kepulangan Mahendra- Aku segera berjalan menuju terminal keberangkatan domestik yang ada di Bandara Yogyakarta ini. sengaja Aku mengambil bandara pemberangkatan yang sama sehingga banyak waktu untuk Aku dan Mahendra bersama sebelum kembali ke tujuan masing-masing.
Hening.
Malam ini tak ada sedikitpun suara yang kudengar malam ini. Disisiku hanya ada bantal guling yang menemaniku. Aku sudah lebih dari setahun ini tinggal sendiri di rumah ini sejak Ibuku menetap di Semarang. Ada rasa takut? Ya. tentu saja. Tapi apa yang bisa aku lakukan. Toh aku tetap harus menjalani kehidupanku untuk tinggal dirumah ini seorang diri.
Malam telah terlewati dan penjaga komplek yang meronda pun membunyikan kentongan sebanyak dua kali yang menandakan waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Udara pun terasa semakin dingin - walaupun AC di ruangan kamar telah kumatikan. Kembali terdengar suara burung dari luar rumah. Kali ini suara yang tidak biasanya.Suara burung perkutut yang tak lazim berbunyi diwaktu tengah malam seperti ini. Entah benar atau tidak mitos yang pernah kudengar bahwa perkutut yang bunyi sebelum waktu subuh diyakini mampu melihat keberadaan makhluk halus di sekitar rumah yang jadi tunggangan ilmu sihir seperti santet tingkat tinggi, pelet, dan teluh. Aku memang tidak begitu mempercayai primbon jawa seperti itu- tapi tinggal di rumah yang besar milik orang tuaku seperti saat ini lama-lama membuat bulu kudukku pun merinding.
Jelas sekali Aku merasakan ketakutan yang amat sangat. namun keanehan mulai terjadi saat Aku keluar untuk menghidupkan seluruh lampu ruangan yang ada di luar kamarku- suara piring jatuh dari dapur secara mendadak membuatku terkejut.
PYAAAR....
Beberapa kepingan pecahan piring seperti berserekan di lantai. Rasa tak mungkin hal itu bisa terjadi apalagi piring-piring di dapur tersusun sangat rapi di rak piring dan tidak mungkin terjatuh hanya satu atau dua piring tanpa sengaja.
Belum sempat rasa heran dan kagetku terjawab dengan suara piring tadi- tiba-tiba sekelebat sosok ular berjalan merayap cepat dari arah pintu belakang rumah mendekatiku. Semakin dekat dan tentu saja membuatku semakin panik dibuatnya.
Aku menguatkan diri dengan membaca ayat kursi dengan suara yang lantang dan tetap berusaha menyelamatkan diri dari ular yang semakin dekat denganku.
kejadian itu begitu cepat- dan tiba-tiba ular itu menghilang pergi menjauh dariku.
Astaqfirullah- ada apa ini. Aku sama sekali tidak pernah mengalami hal seperti ini dalam hidupku.
Sungguh malam ini membuatku benar-benar terasa terancam. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhku- kedua tanganku bergetar setelah kejadian tadi. Aku segera pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan tengah- tanpa menunggu lagi Aku segera berwudhu dan mencoba menenangkan diri dengan tahajudku.
Ya Allah - lindungi hamba dari segala perbuatan sihir, batinku.