I L Y

I L Y
I L Y (End)



Kebahagiaan dan kesedihan memiliki cara tersendiri untuk datang dan pergi. Seperti itulah seni hidup, setelah tertatih dalam jalan penuh dengan tangis dan derita. Sekarang terganti dengan kebahagiaan yang tiada tara. Semua waktu yang Selya gunakan untuk menanti pembalasan hati dari Daniel kini akan terjawab. Penantiannya tidak akan sia-sia, pengorbanannya akan membuahkan hasil, dan kesabarannya mungkin terbalaskan. Hati Selya membuncah bahagia mendengar pengakuan Daniel malam ini saat mereka dinner.


Suasana temaram di selimuti alunan musik merdu serta cahaya lilin yang menemani, menambah kesan sangat romantis bagi Selya. Daniel menyiapkan dinner romantis untuk Selya dan ia akan mengungkap apa yang ia rasakan. Daniel sudah yakin dengan perasaannya dan ia tidak ingin menunda pengakuan lebih lama lagi.


Dinner berjalan dengan lancar. Setelah selesai dengan makanan mereka. Daniel menarik tangan Selya, lalu menggenggamnya di atas meja beralaskan kain merah.


"Malam ini aku mau jujur tentang perasaanku. Aku akan menepati janjiku waktu itu. Malam ini aku Daniel Haston dengan di saksikan bulan sebagai cahaya malam dan bintang sebagai pendukung aku mengatakan ...." Daniel menjeda ucapannya menarik nafas kemudian menatap manik mata Selya begitu dalam.


"I Love You, Selya. Aku mencintaimu." Genggaman semakin erat. Tidak ada lagi beban yang ada di hatinya. Ia menanti jawaban dari Selya, istrinya.


Lama Selya terdiam. Ia menarik tangannya dari genggaman Daniel, kemudian mencubit tangannya sendiri. Ia meringis merasakan sakit. Yang terjadi nyata bukan halusinasi semata. Daniel, suami yang ia cintai menyatakan cinta pada Selya. Cintanya terbalas. Air mata bahagia menetes membasahi pipi Selya. Ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Aku mengatakannya secara tulus dan sesuai dengan hatiku. Hidup ini terlalu singkat untuk memahami, tapi terlalu lambat untuk menghargai dan aku tidak mau telat untuk menghargai apa yang aku punya saat ini."


"Kamu pernah bilang, ada saatnya kamu lelah dan menyerah. Aku sadar jika fase itu datang, aku tidak akan lagi bisa mendapatkan sesuatu yang sangat berharga ini. Kamu memiliki kesabaran tiada batas, selalu menunggu dan menunggu, meski tanpa kepastian. Aku tidak ini kamu terpaku pada satu titik hingga tidak melihat banyak titik lainnya."


Selya semakin menangis mendengar penuturan Daniel. Seperti inikah rasanya, ketika orang yang kita cintai juga mencintai kita. Bukan lagi cinta sepihak, tapi saling mencintai. Ya Tuhan benar, 'kan ini bukan mimpi.


"Berhenti menangis Selya, ini yang kamu inginkan, bukan. Cinta dari suamimu, maka tersenyum lah," bisik hati Selya.


"I love you to," ucap Selya sesegukan.


Daniel merengkuh Selya mengecup rambut istrinya dengan sayang.


"Aku tidak bermimpi bukan ini nyata, 'kan. Aku sangat bahagia, aku ... aku tidak tahu harus mengatakan apa. Semua seperti mimpi, cubit aku Daniel aku masih belum percaya." Daniel menunduk kemudian mencium bibir Selya sedikit menggigit agar lidahnya bisa membelit lidah Selya di dalam sana.


"Kamu tidak bermimpi sayang," ucap Daniel setelah melepaskan tautan bibir mereka.


"Boleh aku menangis, aku sangat bahagia."


"Menangislah untuk saat ini dan seterusnya kau hanya akan tersenyum bahagia, tidak akan aku biarkan air matamu menetes, hanya akan ada kebahagiaan setelah ini."


"Iya. Kita bertiga." Selya mengelus perutnya.


"Kita dan anak-anak kita nanti," ralat Daniel turut mengelus perut Selya.


"Aku berjanji untuk mencintaimu seumur hidupku." Daniel mengecup dahi Selya.


"Tidak perlu berjanji, cukup kamu mencintaiku dan tidak menyakiti, hanya itu yang aku inginkan darimu," senyum Selya.


"Baiklah aku turuti perkataanmu, my love. Aku mempunyai hadiah untukmu," ucap Daniel.


"Oh, ya apa itu."


Daniel mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak beludru warna merah terpampang ketika benda itu keluar dari saku Daniel. Dibukanya kotak tersebut yang berisi liontin sederhana, tapi begitu elegan. Terdapat berlian indah sebagai bandul liontin tersebut, membuatnya terlihat sangat cantik.


Selya memandang tidak percaya pada liontin dihadapannya. Daniel tersenyum, kemudian memasangkan liontin tersebut di leher jenjang Selya.


"Cantik," puji Daniel.


"Apa."


"Kamu," goda Daniel membuat Selya tersipu malu, lalu menenggelamkan wajahnya memeluk Daniel.


Usaha tidak pernah mengkhianati hasil.


***


3 minggu kemudian


Selya membangunkan Daniel yang masih terlelap. Mengguncang bahu pria itu pelan. Namun, Daniel masih setia berada di alam bawah sadarnya. Mereka hanya berdua di rumah meski ada pelayan lainnya. Mama dan Papa pergi menghadiri pernikahan salah satu kolega mereka.


"Daniel, bangun sudah siang," bujuk Selya.


"Emm...," erang Daniel merasa sedikit terganggu.


"Bangun dulu lanjut tidur nanti siang. Ayo Daniel bangun." Menepuk pelan pipi Daniel hingga pria itu mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk.


"Apa."


"Bangun."


"Hem." Bukannya bangkit dari tempat tidur Daniel malah menarik Selya agar ikut berbaring bersamanya.


"Awshh," erang Selya merasakan perut bagian bawahnya mengencang.


"Ada apa?" tanya Daniel khawatir.


"Entahlah dari tadi malam perutku terasa sakit, tapi hilang timbul jadi aku pikir, mungkin kontraksi palsu. Tadi pagi aku merasakan sakit lagi meski jaraknya cukup jauh," terang Selya. Ia berpikir Daniel harus tahu kondisinya saat ini.


"Kamu mau melahirkan sekarang?" Selya menggeleng tersenyum.


"Tidak saat ini Daniel mungkin nanti, tapi aku tidak tahu kapan. Aku merasakan tanda-tandanya sesuai apa yang pernah Mama katakan." Selya berusaha menenangkan Daniel walau tidak dipungkiri ia juga khawatir bercampur takut.


"Apa yang harus aku perbuat? Aku harus bagaimana?" Matanya menatap bingung pada Selya.


"Tidak perlu melakukan apapun. Sekarang kamu bangun, lalu mandi, kemudian makan sarapanmu." Selya bangkit dari tempat tidur dengan memegang perut bawahnya.


"Kau mau kemana, tidak mau memandikan diriku," goda Daniel.


"Tidak terimakasih. Aku akan jalan-jalan di taman belakang menyusul lah kalau kau sudah rapi," ucap Selya meninggalkan kamar.


Selya berjalan pelan mengelilingi taman belakang rumah. Ia sesekali mengusap perutnya yang terasa sakit.


"Awww." Selya berhenti berjalan ketika merasakan gelombang kesakitan menyerangnya.


"Huh, baby. Gak sabar mau ketemu mommy, ya." Selya mengajak bayinya berbincang untuk mengalihkan rasa sakit yang menderanya.


"Mommy juga mau cepat lihat baby," lanjutnya.


Daniel datang dan memeluk Selya dari belakang, ia pun mengelus perut Selya yang terasa mengencang.


"Kontraksi?"


"Iya."


Daniel membalik tubuh Selya, kemudian menurunkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan perut Selya.


"Hi, Baby ... i'm your Dad. mom and dad are waiting for your birth. Hope we meet quickly," ucap Daniel mengelus perut Selya lembut.


Daniel berdiri, lalu mengecup kening Selya sekilas.


"Bagaimana rasanya? Apa tidak sekarang saja kita ke rumah sakit agar para dokter bisa memantau kondisi kamu. Kalau Mama di sini aku tidak terlalu khawatir, tapi baik Mama atau Papa tidak ada di rumah."


Sudah jauh-jauh hari Daniel menyiapkan segala keperluan persalinan Selya. Hingga mereka bisa langsung ke rumah sakit, karena semua sudah stay.


"Demi kebaikan kalian berdua. Ayo kita ke rumah sakit sekarang."


"Tapi ...."


"Tidak ada penolakan Selya. Jika kamu sudah ditangani dokter perasaanku akan membaik."


Menuntun Selya menuju mobil yang sudah Daniel minta Pak Santos menyiapkannya. Ia juga sudah meminta Hera untuk mengambil tas berisi keperluan Selya yang sudah dipersiapkan minggu lalu.


Tiba di rumah sakit. Daniel segera melakukan konfirmasi pada bagian administrasi, setelahnya ada perawat yang mengantarkan mereka pada ruangan yang sudah di persiapkan untuk Selya.


Selya pun sudah berganti pakaian dengan pakaian pasien rumah sakit. Dokter perempuan masuk untuk memeriksa keadaan Selya, ternyata Selya masih berada di pembukaan dua.


"Sudah aku bilang Daniel, ini bahkan masih pembukaan dua masih memerlukan waktu yang lama untuk naik ke pembukaan tiga dan kita akan menghabiskan banyak waktu di rumah sakit. Kamu tahu, aku tidak menyukai rumah sakit," kesal Selya dengan sikap Daniel.


"Setidaknya aku tenang karena ada dokter yang memantau keadaan kamu."


Selya diam tidak membalas ucapan Daniel. Ia hanya akan menghabiskan tenaga jika melawan perkataan Daniel. Jam demi jam berjalan begitu cepat. Rasa sakit akan kontraksi semakin Selya rasakan. Daniel dengan setia mengusap pinggang Selya setiap kontraksi datang sesekali mengelus perut Selya yang sudah menurun.


Siang hari dokter kembali masuk untuk memeriksa pembukaan Selya. Dokter berlata jika Selya sudah masuk pembukaan ke lima.


"Saya sarankan agar Nona Selya berjalan-jalan di sekitar kamar untuk mempercepat pembukaan. Jangan lupa di makan buburnya, nona. Supaya Anda memiliki tenaga sangat melahirkan nanti. Kalau begitu saya permisi dulu. Ada pasien lain yang harus saya periksa."


Daniel menemani Selya mengelilingi kamar rawat. Ia juga akan turut membantu Selya ketika istrinya sudah tidak kuat untuk berjalan.


"Duduk dulu, Selya. Kamu harus makan." Daniel mengambil bubur di meja, kemudian menghampiri Selya yang duduk di atas balon untuk mempercepat pembukaannya.


"Buka mulutmu." perintah Daniel. Selya membuka mulut menerima suapan Daniel.


Suapan demi suapan bubur Daniel, diterima Selya dengan mudah tanpa mual.


"Awshh," desis Selya. Daniel segera mendekat dan memberikan tangannya untuk Selya menyalurkan rasa sakitnya.


"Issh ... uh-uh, Daniel ... sakit," adu Selya merasakan sakit yang semakin intens.


Daniel hanya bisa mengusap pinggang Selya dan membuat gerakan memutar pada perut Selya. Selya merasakan anaknya yang berputar seakan mencari jalan lahir.


"Ayo jalan lagi. Aku bantu dari belakang. Kamu mau cepat ketemu baby, 'kan. Jadi semangat, kamu pasti bisa." Daniel memberi dukungan untuk Selya.


Keringat sudah membasahi tubuh Selya. Ia menggigit bibirnya menahan sakit yang kembali datang. Ia pun meremas tangan Daniel. Air matanya sudah keluar karena kontraksi yang sangat menyakitkan.


"Argghhh ... hiks, sakit huh." Daniel tidak tega mendengar rintihan Selya, tapi ia sendiri tidak bisa melakukan apapun selain memberi semangat pada Selya yang tengah berjuang.


"Sayang kamu wanita kuat, kamu pasti bisa. Demi baby, sebentar lagi kita akan berkumpul bertiga. Yang kuat, sayang." Daniel mengecup dahi Selya.


Selya mengangguk mengiyakan. Perjuangannya bertemu sang buah hati akan segera ia hadapi. Apa seperti ini rasanya melahirkan, sangat sakit. Ia sangat berterima kasih kepada ibunya yang sudah mempertaruhkan nyawa demi melahirkan Selya.


Dokter masuk dengan beberapa perawat. Dokter meminta Selya untuk berbaring. Dibantu Daniel, Selya menaiki ranjang rumah sakit.


"Sudah pembukaan sembilan. Sudah siap, nona bertemu dengan baby?" tanya dokter dan dijawab anggukan oleh Selya.


"Tuan, temani Nona Selya berjuang, ya. Beri semangat kepada nona dan jangan biar nona pingsan di tengah persalinan." intruksi dokter.


Prak


Air ketuban Selya pecah. Ia meringis sakit merasakan sesuatu mendobrak ingin keluar.


"Tahan nona. Mengejanlah ketika kontraksi berikutnya datang. Ikuti arahan saya tarik nafas melalui hidung dan keluarkan dari mulut, ulang terus menerus, hitungan ke tiga nona boleh mengejan."


"Satu ... dua ... tiga."


"Enggh ... hu-hu... enggh hah engghhh." Selya meremas tangan Daniel begitu kuat


"Hiks ... sakit Daniel, aku gak kuat, sangat sakit."


"Ayo sayang sebentar lagi. Kamu bisa, kamu kuat, ayo berjuang Selya."


"Nona mengenjan lebih kuat, rambutnya sudah terlihat."


Mendengar ucapan dokter. Selya melebarkan kakinya, mengejan sekuat tenaga saat kontraksi kembali ia rasakan.


"Engghhhh ... akhhh ... engghhhh."


Plop.


Selya merasakan ada sesuatu yang menggantung di milik-nya. Ia mengatur nafas untuk mengejan kembali.


"Ayo nona kepalanya sudah keluar. Dorong lebih kuat nona, saya akan bantu."


"Ayo sayang sebentar lagi kita ketemu baby." Daniel meneteskan air mata melihat perjuangan Selya melahirkan anaknya.


"Eughhhh ... engghhhh."


Oeek ... oeek ... oeek.


Tangis bayi mengakhiri perjuangan Selya. Selya membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Namun, mendengar tangis pertama anaknya membuat Selya menangis bahagia. Anaknya yang selama ini ia lindungi lahir dengan selamat.


"Selamat, tuan, nona. Bayi kalian laki-laki, sangat tampan seperti ayahnya."


Dokter memberikan bayi itu kepada ibunya, setelah dibersihkan oleh suster.


Daniel tidak henti-hentinya memberikan kecupan di kening Selya. Ia terharu sekaligus bahagia melihat putranya lahir dengan selamat.


"Terimakasih, sayang terimakasih, karena sudah berjuang melahirkan anak kita," ucap Daniel terharu.


"Selamat datang, Ivander Adley Haston," ucap Daniel memandang wajah putranya.


"Nama yang bagus," ujar Selya.


"I love you." kembali mengecup kening Selya.



***


...The End...


Happy Ending.


Terimakasih sudah mengikuti cerita ini dari awal. Aku sangat senang bisa menamatkan cerita pertama aku ini, meski masih banyak kekurangan dari segi manapun. Teruntuk kalian pembaca novel ini aku ucapkan beribu terimakasih. Hanya kata terimakasih yang bisa aku ucapkan untuk kalian. Dari lubuk hatiku yang terdalam aku sangat menyayangi kalian. Nantikan cerita selanjutnya dari aku. Bye 👋 say goodbye ... muach😘


Salam sayang dari aku.