
Bed rest sangat menyiksa untuk Selya karena Ia harus istirahat total tanpa melakukan apapun kecuali ke kamar mandi, setelahnya Ia harus kembali ke tempat tidur. Kata dokter untuk menstabilkan kondisi tubuhnya. Saran yang sangat tidak disukai oleh Selya. Ia ingin keluar menghirup udara segar bukan terkurung di dalam kamar.
Selama tiga hari tidak ada yang Selya lakukan Ia benar-benar melaksanakan saran dokter, meskipun rasa bosan selalu hadir, tetapi saat ini Selya bisa melakukan aktivasinya kembali dengan syarat harus selalu berhati-hati.
Selya diantar Daniel ke toko bunga untuk memeriksa beberapa pesanan dan akan dijemput pada waktu makan siang dan tidak akan kembali ke toko seperti perjanjian yang mereka sepakati.
Masuk ke ruangannya pertama yang Selya lihat adalah beberapa surat yang tergeletak di atas meja serta bunga mawar hitam di sampingnya. Tidak diragukan lagi pasti surat tersebut berisi ancaman. Namun, anehnya kurir yang selalu mengantarkan surat itu, tidak akan memberikannya kalau bukan Selya sendiri yang menerima, tapi ini apa? Surat itu sudah ada di sana bahkan ketika Selya tidak mengunjungi tokonya selama tiga hari.
Ternyata kau wanita yang sangat berani. Aku sudah memberimu peringatan untuk menjauhi Daniel, tetapi kau tidak melakukannya. Maka jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi padamu. Tidak hanya dirimu ... suamimu juga akan menjadi sasaranku. Kalian akan mati ditanganku. Isi surat tersebut.
Selya membaca yang lainnya dan isi semua surat itu sama. Ancaman itu pasti bukan sekedar lelucon semata, melainkan memang ada yang dendam dengan dirinya. Tapi siapa? Ia tidak pernah berbuat salah dengan siapapun, lantas apa alasan orang tersebut mengancam dirinya. Daripada memikirkan hal yang dapat membuat stres, Selya memilih membuang surat beserta bunganya ke tempat sampah.
Ia beralih pada buku pesanan pelanggan dan memeriksa berapa banyak bunga yang harus disediakan Selya untuk membuat pesanannya. Cukup lama Selya berkutat dengan bukunya dan setelah dirasa telah selesai Selya keluar.
Suasana toko tidak terlalu ramai hanya beberapa orang saja yang tengah memilih karangan bunga. Selya sendiri hanya mengamati Ara dan Lisa yang dengan ramah menjelaskan kepada pembeli. Hingga deru mesin mobil mengalihkan pandangannya, ternyata Daniel sudah datang menjemputnya. Selya pun mengambil tasnya dan berpamitan pada dua pegawainya, kemudian menuju mobil Daniel.
Setelah duduk dengan nyaman dan memasang seat belt, mobil pun melaju dengan kecepatan rata-rata.
"Kau ingin makan di mana?" Daniel menatap lurus ke depan.
"Makan di kantin perusahaan saja." ucap Selya.
"Akan aku pesankan makanan khusus ibu hamil saja disalah satu restoran," balasnya.
Selya cemberut tidak suka. Jika Daniel sudah memutuskan kenapa harus bertanya ingin makan di mana, sama saja seperti memberi harapan tapi tidak berusaha memenuhinya.
Sampai di perusahaan. Daniel dan Selya menuju ruangan Daniel. Selya duduk di sofa sembari bermain handphone beberapa menit kemudian ada Kiran masuk dengan membawa makanan.
"Makanlah ini sehat untukmu." Daniel membuka penutup makanan.
Selya membekap mulutnya ketika aroma makanan tersebut tercium olehnya membuat perutnya seperti di aduk. Ia beranjak dari tempatnya menuju kamar mandi.
Hoek hoek
Selya menunduk di depan wastafel berusaha mengeluarkan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokannya. Namun, yang keluar hanyalah cairan bening.
Hoek hoek
Selya merasa ada tangan yang mengurut tengkuknya dengan lembut. Ia berkumur setelah selesai dan tangannya bertumpu pada wastafel agar tubuhnya tidak terjatuh karena lemas. Namun, Selya merasakan tubuhnya melayang terangkat ke atas ternyata Daniel menggendongnya keluar kamar mandi.
Selya didudukan di sofa dan meminum air putih yang disodorkan Daniel. Wajahnya terlihat pucat saat ini.
"Sudah merasa lebih baik," cemas Daniel.
Selya hanya mengangguk menanggapi Daniel.
"Kamu ingin makan apa? biar nanti Kiran bawakan,"
Selya menggeleng. "Tidak perlu, ini saja."
"Nanti kamu bisa muntah." Daniel menghentikan pergerakan Selya yang akan mengambil kotak makannya.
"Setidaknya ada asupan yang masuk untuk baby, walaupun nanti keluar lagi." Perlahan Selya menyuap makanan tersebut ke dalam mulutnya, satu suap dua suap Selya terlihat mulai menikmati makanannya.
Tok tok tok
Kiran masuk dan memberitahu Daniel meeting yang harus Ia hadiri. Selya mengangguk ketika Daniel melihat ke arahnya.
"Tunggu di sini jangan pergi kemana pun. Aku tidak akan lama, bila lelah istirahatlah di ruang itu," tunjuk Daniel pada ruang yang berkaca buram.
"Iya, sudah sana kamu pasti sudah ditunggu," ucap Selya.
Daniel keluar dari ruangannya menuju ruang meeting. Selya yang sudah selesai dengan makanannya pun mulai membereskannya.
Kret
"Kenapa kem ...." Selya berbalik, "Winda" lanjutnya.
Winda yang mendapati keberadaan Selya tersenyum senang karena mangsanya ada dihadapannya sekarang. Tanpa bersusah payah mencari celah untuk bertemu Selya.
"Sepertinya Daniel tidak ada. Lebih baik aku kembali lagi nanti," pancing Winda agar Selya menghentikan dirinya karena Winda tau Selya penasaran dengan dirinya.
"Jangan," cegah Selya.
Winda tersenyum tipis rencana keduanya akan berhasil.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Selya.
"Bila kau memaksa, baiklah. Ikut aku ke restoran samping saja bagaimana?"
Selya mengangguk. Mereka pun pergi ke restoran yang berada di samping perusahaan Daniel. Kedua wanita tersebut memilih meja yang berada di dekat jendela. Restoran cukup sepi karena sudah memasuki jam kerja, maka pengunjungnya hanya segelintir orang.
"Ada yang ingin kau jelaskan mengenai hubunganmu dengan suamiku?" kata Selya tidak sabar.
"Kenapa meminta padaku, tanyakan langsung saja kepada suamimu," Winda memandang rendah kepada Selya.
Selya bungkam tidak bisa menjawab perkataan Winda. Ia hanya berpikir untuk meluruskan hubungan terlarang antara Daniel dan Winda, karena bagaimana pun Daniel sudah menjadi suaminya. Namun, Winda sepertinya tidak ingin menjelaskan apapun.
"Aku tidak akan merebut Daniel darimu," ungkap Winda tersenyum miring.
Selya membelalak tidak percaya atas pengakuan wanita di depannya ini. Segaris senyum terbit di bibir pucatnya. Mengetahui Winda tidak akan melakukan apapun membuatnya lega.
"Terimakasih," ucap Selya.
"Jangan sekarang karena tujuanku belum tercapai." Winda menampilkan senyum devilnya.
"Ma-maksudmu?" gugup Selya. Ia khawatir Winda akan berniat jahat.
"Karena ulah suamimu itu. Aku dan keluargaku harus menanggung malu. Dia juga telah menghancurkan perusahaan keluargaku!" serunya menatap Selya yang berada dihadapannya.
"Tapi kau mencintai Daniel."
"Bodoh ... kau pikir aku sangat mencintainya hah! Aku hanya mencintai uangnya bukan pria sialan itu! kau paham!" bentaknya.
Selya tidak berkata apapun. Ia tercengang mengetahui sebuah fakta bahwa Daniel hanya dimanfaatkan oleh Winda.
"Ulah suamimu itu membuatku dendam, akan aku pastikan kalian tidak akan hidup tenang karena aku akan terus menghantui kalian, camkan itu."
"Kenapa kau melibatkan diriku."
"Kau istrinya jika aku menyakitimu, maka Daniel juga akan tersakiti." seringai Winda.
Tubuh Selya kaku tidak bisa digerakkan mendengar perkataan Winda. Ia harus segera pergi dari wanita iblis ini sebelum sesuatu terjadi padanya.
"Tunggu saja tanggal mainnya, Selya." Winda meninggalkan restoran.
Di lain tempat Daniel berteriak marah karena tidak menemukan Selya di mana pun.
***
Happy reading.
Bagaimana part ini menurut kalian. Kira-kira siapa yang ngirim surat berbunga mawar hitam ya. Duh Winda berbahaya banget tuh.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like and comment. Krisar selalu aku tunggu loh.
Salam sayang dari aku.