I L Y

I L Y
Varo Mateo 2



Daniel memperhatikan apa yang Varo lakukan. Diliriknya gelas yang berada dalam genggaman sang sahabat, terdapat retakan kecil di sana. Kemudian menatap gelasnya sendiri yang sempurna tanpa cacat apapun.


"Jangan samakan hidup gue dengan gelas lo itu," ujar Daniel.


"Kedepannya lo engga tau apa yang akan terjadi. Hanya sekedar mengingatkan agar lo engga salah pilih," kata Varo masih menatap gelasnya.


"Btw bagaimana dengan gadis yang lo nikahi?" tanya Varo, "dia cantik engga?" lanjutnya antusias.


"Namanya Selya," jawab Daniel.


"Nama yang cantik, apalagi orangnya pasti gak kalah sama namanya," senyum Varo.


"Menurut lo yang gue lakukan itu udah benar atau salah?" Daniel bertanya.


Varo memutar-mutar gelasnya. "Maksud lo apaan?"


"Gue kasih Selya surat perjanjian pernikahan," jelas Daniel.


"Gila lo yah! Ini sama aja lo mainin janji suci sebuah pernikahan!" pekik Varo.


Daniel memejamkan matanya. "Sekarang apa yang harus gue lakukan."


"Lo minta apa dari dia?" ucap Varo penasaran


Daniel membuka matanya, menatap sang sahabat yang juga menatap balik dirinya.


"Anak." Meluncur sudah kata tersebut dengan mulus dari mulut Daniel.


Varo membulatkan matanya. "Gila lo, Niel! Benar-benar gila. Bagaimana bisa lo minta hal sebesar itu dari dia."


Daniel menghela nafas sejenak. Pandangannya beralih ke cincin yang tersemat di jari manisnya. Meneliti setiap ukiran yang ada di cincin tersebut, selanjutnya Ia melepas cincin pernikahannya melihat secara detail bagaimana indahnya nama Selya terukir dilingkaran dalam cincin.


Varo hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan apa yang telah Daniel lakukan. Apakah Daniel tidak memiliki perasaan sedikit saja terhadap istrinya, bila tidak rasa suka setidaknya ada rasa iba terhadap Selya. Namun, ternyata Daniel belum berubah, hati dan pikirannya masih sekeras batu. Jika terus dibiarkan begini, maka dampak yang akan diterima Daniel kedepannya tidak akan bagus.


"Gue terpaksa," ujar Daniel, "Gue butuh penerus, Var."


"Tapi kenapa harus ada surat konyol itu," geram varo


"Huft ...." Daniel lagi-lagi menghela nafas. Diperhatikannya cincin yang Ia lepas. Menatap lekat seakan-akan mencari jawaban dari pertanyaan Varo di sana.


"Gue hanya butuh anak dan perempuan itu yang akan memberikan hal itu." Disematkannya kembali cincin pernikahan di jari manisnya.


"Ini urusan gue, jadi lo engga usah ikut terlibat di dalamnya," ancam Daniel.


Varo terdiam berusaha mencerna setiap perkataan yang Daniel lontarkan. Menengadah ke atas seakan memilah perkataaan yang akan Ia ucapkan agar tidak menyinggung perasaan sahabatnya. Menunduk dan mengambil gelas yang sudah Ia singkirkan beberapa menit, kemudian mengetuk ngetuknya ke meja sehingga menimbulkan bunyi yang tidak beraturan.


"It's oke gue engga akan terlibat, tetapi setidaknya lo harus pikirin anak lo nanti," sahut Varo menghentikan ketukan di atas meja.


"Bahkan setelah lahir pun anak lo masih membutuhkan ibunya," lanjutnya


"Udah gue pikirkan."


"Maka bersikap baiklah ke istri lo itu."


Daniel sudah memikirkan secara matang. Apa yang harus Ia lakukan terhadap Selya.


"Apa lo engga bisa buka pintu hati lo buat ibu dari anak lo nanti?" tanya Varo perlahan.


Daniel diam Ia tidak menjawab pertanyaan Varo melalui ucapan, tetapi lirikan matanya sudah bisa menjawab pertanyaan Varo. Ia tidak akan membuka hati untuk perempuan manapun dan akhirnya akan membuka luka lama yang bahkan sampai saat ini masih belum mendapat obatnya.


"Lo engga mau mau balik ini udah malam?" tanya Varo seakan mengusir.


Varo memutar bola matanya malas. "Bukan begitu, lo kan udah nikah tapi sekarang malah di apartemen gue, nanti kalau ada rumor kita gay bagaimana?"


Benar juga apa yang dikatakan Varo. Apa yang akan orang pikirkan bila tau Daniel berada di apartemen malam-malam begini. Apalagi Ia baru saja menikah pasti akan menimbulkan rumor yang lebih parah lagi.


"Hmm ... gue balik." Daniel beranjak dari duduknya menuju pintu keluar apartemen.


Varo memperhatikan punggung Daniel yang sudah tidak terlihat di belokan menuju pintu keluar apartemen. Ia sudah menyaksikan betapa jatuhnya Daniel ketika dikhianati oleh orang yang bernama Winda. Ia juga tau betapa menderitanya Daniel dahulu, tetapi itu semua hanya karena salahpaham.


Varo meninggalkan mini bar menuju kamarnya, sebelum Ia sampai kamar Varo teringat akan sesuatu, segera Ia merogoh kantung celananya. Mengeluarkan benda pipih dari sana kemudian membukanya dan menelepon seseorang.


"Halo ... Lo masuk kantor engga besok?"


"...."


"Besok ada meeting penting."


"...."


"Okeh kalau begitu."


>>>


Daniel sudah berada dalam garasi rumah. Ia turun dan berjalan memasuki rumah keluarga Haston. Dilihatnya Hera dan beberapa pelayan masih membersihkan dapur. Kemudian meneruskan langkahnya menuju kamar, sampai di depan pintu kamar, secara perlahan Daniel membuka pintu seakan enggan menimbulkan bunyi sekecil apapun.


Di dalam kamar Selya masih terlelap dengan tidur nyenyaknya. Daniel yang sudah berada dalam kamar pun memperhatikan wajah damai sang istri sejenak sebelum berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang sudah lengket dengan keringat.


Suara gemercik air mengusik tidur nyenyak seorang Selya. Secara perlahan matanya mulai mengerjap terbuka dan berusaha menyesuaikan cahaya yang mulai masuk retinanya. Didudukan tubunya di samping ranjang sembari mengucek mata. Setelah penglihatannya mulai jelas Selya menatap pintu kamar mandi yang terlihat terbuka dan menampakkan sosok suaminya dengan keadaan dada telanjang hanya handuk yang melilit pinggangnya.


Kyaa!!


Selya berteriak dan menutup wajah dengan telapak tangan. Ini pertama kali bagi Selya melihat pria dalam keadaan seperti itu, walaupun pria yang Ia lihat adalah suaminya sendiri. Tetap saja Selya malu bahkan kini wajahnya sudah memerah seperti tomat.


Daniel yang mendengar teriakan Selya pun terkejut. Ia segera menghampiri Selya yang kini menyembunyikan wajah dengan telapak tangan. Ia heran apa Selya mimpi buruk sampai berteriak kencang seperti itu. Karena sebelum memasuki kamar mandi Ia masih melihat Selya tidur dengan nyenyak.


"Kau kenapa?" tanya Daniel.


Selya masih menyembunyikan wajahnya. Ia benar-benar malu sekarang karena sudah berteriak, bagaimana lagi Ia reflex melakukannya karena terkejut melihat keadaan Daniel.


"Apa kau mimpi buruk?" Daniel bertanya lagi.


Selya menggeleng sebagai respon. Daniel yang melihat gelengan kepala Selya pun bingung, bila bukan karena mimpi buruk lantas kenapa Selya berteriak.


"Kenapa teriak?" Lagi-lagi Daniel bertanya.


Selya sudah tidah tahan untuk terus menyembunyikan wajahnya. Ia membutuh pasokan udara.


"Huh ... huh ... huh." Selya terengah-engah memegang dadanya dan berusaha menghirup udara sebanyak banyaknya.


"Kamu telanjang dada huh ... aku ... huh ... terkejut melihatnya." Selya berusaha menjelaskan dengan masih mengatur pernafasannya.


Daniel yang mendengarkan penjelasan Selya tersenyum misterius.


***


**Happy readings ... ditunggu kritik, sara, dan voment nya. 


Aku bersyukur bisa sampai part ini. Semoga kedepannya bisa up terus**.


Salam sayang dari aku