I L Y

I L Y
Keinginan Selya



Malam ini setelah selesai makan malam. Keluarga Haston berkumpul bersama di ruang keluaga hanya untuk sekedar membicarakan hal biasa. Mama dan Selya yang asik berbicara mengenai hobi mereka, sedangkan Papa dan Daniel yang sangat serius membicarakan perkembangan perusahaan. Mereka berempat larut dalam pembicaraan masing-masing. Topik mengenai perkembangan perusahaan tidak ada habisnya untuk anak dan ayah tersebut, bila tidak dihentikan sudah dapat dipastikan tidak akan berhenti.


"Daniel." Panggil Mama.


Daniel memandang sang Mama yang tidak jauh darinya. Ia berhenti berbicara dengan Papa yang juga ikut melihat ke arah Mama.


"Iya, Ma."


"Kenapa?" tanya Papa.


"Ada yang ingin Selya sampaikan." Selya menunduk atas perkataan Mama. Ia malu menyampaikan keinginannya.


"Apa?" Kompak Papa dan Daniel.


Mama tersenyum jahil. "Tumben kompakan."


Ayah dan anak tersebut tidak menanggapi sifat kejahilan sang Mama. Mereka berdua memandang penuh tanya pada Selya yang hanya menunduk. Mama yang tidak mendapat respon dari suami dan anaknya sedikit merasa kesal. Namun, kini pandangannya mengikuti arah pandang dua pria tersebut yang mengarah pada Selya.


"Sayang kenapa menunduk, ayo katakan pada Daniel apa yang kau inginkan." Mama memegang bahu Selya, membuat Selya mengangkat kepalanya, bersih tatap dengan sang mertua.


"Mama saja yang mengatakannya," cicit Selya.


"Selya menginginkan sesuatu? Apa? Tunggu dulu, kau mengidam, Nak," tebak Papa menepuk bahu Daniel yang berada di sampingnya.


Uhuk ... Daniel terbatuk mendengar kata yang dikeluarkan sang Papa. Mengidam, Selya mengidam? Benarkah ... bukankah itu salah satu ciri seseorang yang sedang mengandung, tapi bagaimana bisa? Mereka melakukannya belum lama, lantas apa benar Selya hamil.


Mama menggeleng melihat tingkah Papa yang seperti anak kecil. Mama juga tidak percaya dengan respon yang Daniel tunjukkan ketika mendengar Papa mengucapkan hal tersebut, sedangkan Selya kembali menunduk merasa bersalah karena belum memberi kabar yang sangat dinantikan kedua orang tua Daniel.


"Belum, Pah. Jangan terlalu menekan mereka agar cepat memberi kita cucu, biarkan mereka saling mendekatkan diri terlebih dahulu," jelas Mama.


"Lihatlah wajah Daniel, Pah. Dia terlihat sangat syok," goda Mama melihat raut wajah Daniel.


Papa berbisik pada Daniel. "Belum jadi ternyata, kau harus lebih giat lagi, Son."


"Hei ... apa yang kalian bicarakan?" teriak Mama.


Kedua pria tersebut terkejut dengan suara sang Mama yang sangat keras. Selya pun ikut terperanjat kaget dibuatnya.


"Tidak ada iya, 'kan, Son." Papa mencari dukungan dari Daniel.


"Apa yang ingin Selya sampaikan?" tanya Daniel menggabaikan papa.


Selya memandang Mama meminta bantuan agar menjelaskannya pada Daniel, tapi Mama ingin agar dirinya mengutarakannya sendiri, lagipula Daniel harus tahu apa yang akan Selya lakukan karena yang berhak dalam segala tindakan Selya adalah sang suami.


"Ayo, Nak. Katakan saja Daniel tidak akan marah," dukung Mama.


Papa hanya duduk diam melihat menantunya yang ragu dalam mengutarakan niatnya pada sang anak, Daniel. Apa mereka belum terbuka satu sama lain? Pikirnya.


"A-aku ingin bekerja." Jujur Selya.


"Tidak!" tegas Daniel yang membuat Papa melirik ke arahnya.


Mama yang tahu sifat Daniel hanya memandang Papa agar memberikan Daniel penjelasan, karena melihat reaksi Daniel yang berlebihan terhadap keinginan Selya membuatnya sedih. Ia tahu Daniel tidak akan menyetujui keinginan Selya untuk bekerja. Namun, sikapnya janganlah seperti itu.


"Biarkan Selya memberi alasan, Daniel. Jangan mengambil keputusan terburu-buru," jelas Papa.


"Aku tetap tidak akan mengijinkannya bekerja dengan alasan apapun, lagipula aku masih bisa membiayai dirinya." Daniel tidak mau mengalah.


"Setidaknya dengarkan dulu, Daniel." Mama memberi saran.


Selya memandang Mama. "Tidak perlu, Ma. Dia tidak akan mendengar, aku juga menerima keputusannya."


"Tidak bisa seperti itu. Daniel tetap harus mendengarkannya." Papa tidak setuju.


"Iya, Nak. Papa benar Daniel tetap harus mendengarkannya, jadi sekarang kau beri alasan mengapa ingin bekerja," ujar Mama tersenyum lembut.


"Katakan." Daniel menatap Selya.


"Aku ingin bekerja bukan semata karena uang, aku hanya ingin mencari kesibukan lain. Aku bosan jika harus berdiam diri di rumah."


"Kau bisa ikut Mama ke acara-acara sosialita," tawar Daniel.


"Tempat itu bukan untukku, di sana pasti ramai aku tidak suka suasana berisik," cicit Selya takut menyinggung perasaan Mama.


"Kau bisa membantu Mama mengurus toko perhiasan," ucap Daniel.


"Aku tidak mengerti perhiasan itu bukan bidangku," jelas Selya.


"Kalau begitu bekerja menjadi sekretarisku saja," kesal Daniel


"Aku tidak akan menerima pekerjaan itu, menjadi istrimu saja aku hampir menyerah dengan sikap dinginmu, apalagi menjadi sekretaris yang harus menghadapi sifat aroganmu,"


Mama dan Papa yang menyaksikan perdebatan kecil antara suami istri tersebut hanya bisa menahan tawa dengan jawaban Selya yang terkesan berani.


"Kau juga sudah punya Kiran sebagai sekretaris dan aku tidak mau menggantikan posisinya," lanjutnya.


"Kenapa ditolak, posisinya bagus sekaligus mengawasi suamimu agar tidak nakal dengan wanita lain," goda Mama.


"Tidak, Ma. Sekretaris itu sulit harus jaga sikap, sopan, ramah dan aku tidak bisa seperti itu. Aku ingin menjadi diriku sendiri," rengek Selya menanggapi perkataan Mama.


"Pekerjaan seperti apa yang kau inginkan?" tanya Papa.


"Kalau diperbolehkan aku ingin membuka toko bunga." Selya menatap Daniel meminta persetujuan pria tersebut.


"Aku sangat menyukai bunga, jadi aku pikir bisa menjalankan usaha tersebut," lanjutnya.


Selya hanya ingin memiliki ruang untuk dirinya sendiri tanpa ada yang mengganggu pikiran dan perasaannya, Maka dari itu Ia ingin bekerja sesuai bidang yang Ia sukai yaitu bunga. Menurutnya bunga itu indah dan menenangkan.


Selya berharap Daniel mengijinkan dirinya untuk bekerja, lagi pula pekerjaan yang Selya pilih tidak akan membuat Daniel khawatir atau kesulitan karena dirinya. Ia ingin mengalihkan pikirannya dari Daniel dan Winda, setidaknya jika Daniel mengacaukan hatinya Ia memiliki hal lain untuk mengalihkan masalahnya.


"Bagaimana Daniel?" tanya Papa.


Suami Selya hanya terdiam dengan berbagai pikiran di kepalanya. Mengelola toko bunga pastinya pekerjaannya tidak akan terlalu berat, tapi Daniel tidak setuju hanya dengan alasan menyukai bunga. Berbagai dugaan menghantui pikiran Daniel. Namun, Ia tidak boleh egois untuk terus membuat Selya menuruti keinginannya tanpa memikirkan keinginan Selya.


"Selya hanya ingin membuka toko bunga, Daniel. Kau tidak perlu cemas nanti Mama akan membantu Selya mengelolanya jika perlu akan Mama pekerjakan beberapa pegawai," terang Mama.


"Aku tidak keberatan jika itu pilihannya." Daniel bersuara.


"Tapi aku punya satu syarat," senyum Daniel


Dasar manusia tidak ingin rugi, mencari kesempatan dalam kesempitan. Kalau saja tidak ada orang tua Daniel ingin sekali Selya berseru keras. Jika dipikir Daniel tidak akan mengijinkan dirinya jika Ia tidak menerima syaratnya.


"Apa syaratnya?" tanya Selya.


Daniel tersenyum senang mendapati Selya akan memenuhi syaratnya.


***


**Happy reading


Bagaimana respon kalian untuk part kali ini. Silent readers aku harap kalian keluar dari zona nyaman, berikan sedikit krisar kalian dan jangan lupa vote and comment.


Salam sayang dari aku**.