I L Y

I L Y
Tiga Kata



7 bulan kemudian


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa Daniel dan Selya telah melalui begitu banyak masalah. Dalam waktu 7 bulan Daniel mulai merubah sikap terhadap Selya, meyakinkan hatinya untuk menerima Selya sebagai pendamping hidupnya. Meski ia belum bisa memastikan bahwa ia mencintai Selya, tetapi ia sudah menerima Selya dalam hati dan hidupnya.


Sebulan yang lalu mereka berdua mengunjungi Winda di rumah sakit. Keadaan Winda sangat buruk. Dia terlihat sangat tersiksa, berkali-kali Winda menyebut Daniel dan membalas dendam, sesekali menangis kemudian tertawa. Badannya kurus kering, matanya sayu, dan tangannya terdapat begitu banyak bekas luka. Menurut dokter, Winda kerap kali melakukan percobaan bunuh diri dengan melukai pergelangan tangannya. Kesembuhan Winda sebenarnya tergantung dalam diri wanita itu sendiri, tapi melihat tidak ada perubahan apapun dari Winda, membuat dokter menyerah.


Varo memilih pindah tempat tinggal. Tidak tahu di mana Varo menetap. Daniel pun sudah los contact dengan sahabatnya itu. Alasan Varo pergi karena ia sangat malu terhadap Daniel ia tidak mempercayai perkataan sahabatnya, padahal apa yang dikatakan Daniel adalah fakta yang sebenarnya. Varo mengetahuinya saat mengunjungi Winda.


"Hiks ... Daniel kamu begitu jahat hahaha ... kamu tuh cocoknya sama aku hiks ... Daniel! hahaha ... aku menjual sahammu, aku punya banyak uang." Winda meracau tidak jelas.


Dari situ Varo sadar bahwa cintanya terhadap Winda telah membutakan mata Varo akan kebenaran. Begitu malu akan kelakuannya, Varo memutuskan pergi. Ia tidak memberitahu siapapun dan tidak Varo biarkan siapapun melacak keberadaan dirinya. Varo pergi tanpa meninggalkan jejak.


Daniel dan Selya sangat antusias menyambut kehadiran sang buah hati yang tidak akan lama lagi. Tidak ada lagi yang perlu Selya khawatirkan. Baik Varo atau Winda tidak ada yang bisa mengusiknya. Kehidupannya sangat bahagia, meski ia belum mendapatkan kepastian dari Daniel, tetapi ia sudah nyaman dengan keadaan saat ini.


Pernah suatu hari Selya bermonolog sendiri dan siapa sangka Daniel mendengar monolog Selya.


"Kamu pernah menjanjikan tiga kata terhadap diriku. Kamu bilang tiga kata itu yang akan membuatku tidak akan berpaling, tapi aku merasa ragu."


"Tiga kata yang ingin kudengar darimu, tapi sepertinya hanya dalam mimpi aku mendengar kata itu. Oh Tuhan kuatkanlah hati ini."


"Jika hanya bisa dalam mimpi, maka jangan bangunkan aku, karena aku ingin mengetahui kata itu."


Daniel hanya memang nanar. Setiap orang memiliki tingkat kesabaran tersendiri. Selya pun begitu Selya, begitu sabar menunggu Daniel mengungkapkan hal tersebut. Daniel sendiri bingung dengan perasaan miliknya. Cinta adalah kata yang memiliki makna luas. Terserah orang ingin mengartikan cinta seperti apa. tapi menurut Daniel cinta adalah pengorbanan, di dunia ini tidak ada yang bisa mendapatkan sesuatu tanpa berkorban terlebih dahulu dan Selya sudah berkorban banyak hal. Pantaskah Daniel mencintai Selya, pantaskah ia untuk wanita seperti Selya.


"Dad, kemari," panggil Selya. Ia sudah sepakat untuk merubah panggilan satu sama lain.


"Sebentar... ini belum selesai," ucap Daniel. Semenjak Selya memasuki tri semester akhir Daniel memindahkan semua pekerjaan ke rumah, sesekali ia pergi ke perusahaan jika ada hal penting seperti rapat dengan klien.


"Issh sini deh, tinggal dulu donk. Kamu ada di sini, tapi sama aja bohong." Selya cemberut, kesal dengan Daniel yang lebih memilih bekerja.


Daniel menutup dokumen dan laptop. Ia beranjak mendekati Selya yang sudah merajuk. Akan sulit nanti untuk membujuk Selya jika seperti ini.


"Kenapa hmm." Membelai rambut Selya.


Selya menepuk tempat kosong di sampingnya. Daniel duduk dan tersenyum. Ia sangat suka melihat Selya yang kesal.


"Stop tersenyum." Memandang tajam Daniel.


"Kenapa dilarang?"


Kelakuan apa lagi yang akan Selya ciptakan. batin Daniel


"Senyummu mengalihkan duniaku, tau gak." Selya mencebikkan bibir tidak suka. Sementara Daniel tersenyum sendiri mendengar ucapan Selya. Apakah istrinya tengah menggombal.


"Aku kesel tau sama kamu,"


"Aku buat salah iya? yaudah maaf."


"Makin ke sini kamu tuh kamu makin ganteng, sedangkan aku makin gendut, lihat deh pipinya chubby banget." Mencubit pipi sendiri.


"Bagus lah itu tandanya kamu sama baby sehat. Gak usah aneh-aneh," peringat Daniel.


"Apaan sih," sungut Selya.


"Jalan keluar yuk bosen tau di rumah terus keliling taman kek."


"Udah malam, Mommy. Gak liat di luar udah gelap."


"Enggak, karena penglihatanku terpaku pada dirimu seorang."


"Jangan gombal, tidur deh aku selesaikan pekerjaan sebentar aja, trus nyusul kamu," bujuk Daniel.


Selya menggeleng. "Gak boleh kamu harus di sini nemenin aku tidur."


"Baby dari tadi gerak terus, mungkin kangen sama Daddy. Kamu belum nyapa baby hari ini. Dia jadi gelisah."


"Baby yang kangen apa kamu," goda Daniel.


Selya meringis malu. Ia juga rindu dengan Daniel entahlah padahal ia seharian melihat Daniel, tetapi karena Daniel yang belum menyapa baby hari ini membuat Selya merasa kehilangan dengan salah satu sikap manis sang suami.


"Hai baby gimana kabar kamu hari ini maaf ya Daddy sibuk banget jadi baru bisa nyapa kamu." Daniel berbicara dengan calon anaknya, menyibak pakaian yang Selya gunakan agar bisa menyentuh permukaan perut Selya di mana anaknya berada.


Duk ... duk ....


Baby menendang begitu semangat setelah berinteraksi dengan Daniel. Selya meringis merasakan tendangan anaknya. Ia juga turut mengelus perutnya agar bayinya tenang.


"Sayang tidur ya, Mommy sama Daddy juga mau tidur. Besok kita ngobrol lagi. Kasian Mommy pasti capek." Daniel mengecup perut Selya dan menurunkan pakaian Selya.


"Katanya mau tidur," ucap Daniel.


"Peluk donk, 'kan biasanya di peluk. Kamu jangan bikin aku emosi ya, tahu sendiri aku gak bisa tidur kalau kamu gak peluk."


"Manja banget sih yaudah sini deketan."


Selya merapatkan tubuhnya pada Daniel yang langsung disambut pelukan hangat oleh Daniel.


"Tatap mata aku," perintah Selya.


"Untuk apa? 'kan mau tidur, merem lah."


"Bentar aja gak ada satu menit, plis."


Daniel menurut dan menatap mata Selya tanpa berkedip.


"Kamu lihat kan ada pantulan dirimu di mataku."


"Iya terus."


"Sama, aku juga lihat diriku di matamu dan aku harap cuma aku yang selalu kamu tatap. Dari mata turun ke hati." Selya tersenyum melihat ekspresi Daniel yang bingung.


"Sudah? sekarang bisa tidur?"


"Belum untuk saat ini, tidak tau setelah ini." Setelah berucap Selya mencium bibir Daniel. Daniel membulatkan mata tidak percaya dengan perlakuan Selya. Biasanya dirinya yang memulai lebih awal, tapi kini Selya yang berinisiatif memulai kegiatan panas mereka. Usia kehamilan Selya yang semakin tua membuat hasrat Selya semakin besar.


Selya membelai lembut bibir Daniel ********** dengan penuh gairah. Daniel membiarkan Selya dengan kegiatannya, memberikan waktu agar Selya semakin memperdalam ciuman mereka. Daniel menahan tengkuk Selya.


"Emmm ...," desah Selya. Ia melepaskan tautan bibirnya karena merasa kehabisan oksigen.


Tidak lama kemudian Daniel memanggut bibir Selya, tangannya tidak tinggal diam ia mulai meremas gundukan kenyal milik Selya. Ciumannya turun ke leher jenjang Selya, membuat beberapa karya di sana, kemudian turun hingga dua gundukan Selya. Bermain sebentar di sana.


Selya yang sudah tidak tahan dengan permainan Daniel pun meminta agar Daniel segera memulai aktivitas mereka.


"Ahh ... Daniel aku gak kuat ahh."


"Pelan-pelan akhh."


"Daddy tengok sebentar ya baby."


Daniel memasukkan miliknya secara perlahan berusaha agar tidak menekan perut Selya.



...Bonus pict...


***


Happy reading


Yang nunggu kelanjutan ceritanya siapa hayo. Sorry ada 18+ nya. Dimohon bijak dalam memilih bacaan. Aku juga mau kasih tau nih bahwa I L Y akan tamat beberapa part lagi. Jadi stay tune terus ya.


Jangan lupa rate, vote, like, and comment


Salam sayang dari aku.


Muach 😘