I L Y

I L Y
Bertemu Daniel



"Bersiap-siap lah, Nak. Mereka akan datang jam 7 malam ini." Selya masih diam tak bergeming di tempatnya.


"Ini masih jam 5 sore ayah, ayolah jangan berlebihan." Bram terkekeh mendengar nada bicara anaknya yang kesal.


Beberapa menit lalu mereka membicarakan tentang Daniel mulai dari keluarga, teman, pekerjaan dan dilanjut dengan perbincangan antara anak dan ayah.


Ini akan menjadi kenangan yang dirindukan Selya setelah menikah nanti, semoga sikap dan perilaku Daniel bisa seperti apa yang ayahnya ceritakan tadi. Sepenuhnya Ia percaya akan pilihan ayah.


Saat ini Selya berada dalam kamar. Ia sudah mandi dan mengenakan dress baby blue dan memoleskan sedikit bedak dan lips di bibirnya. Sungguh saat ini Selya sedikit gugup, Ia akan bertemu Daniel dan keluarganya.


kalau bisa berharap Selya ingin kabur saja dari pertemuan ini, tapi Ia berfikir kembali jika Ia pergi maka ayah akan sangat malu dihadapan keluarga Daniel dan Ia tak ingin ayahnya bersedih hanya karena ulah dirinya.


"Kau sangat cantik Selya, mama harap kamu menemukan pria seperti ayah yang sangat menyayangimu."


"Aku cantik karena mama juga cantik."


"Haha ... kau bisa saja. Pria yang akan kau nikahi pasti sangat beruntung mendapatkan dirimu."


Sekelebat perbincangan antara Selya dan ibunya memenuhi pikiran Selya.


Shireen ibu Selyn yang telah tiada karena tak bisa bertahan melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya, sehingga Ia menghembuskan nafas terakhirnya satu tahun lalu, membuat ia dan ayahnya terpukul sangat dalam.


T**ok tok tok


Lamunan Selya buyar karena ketukan pintu dan masuklah Bi Ina pembantu dirumahnya yang telah bekerja sejak Ia kecil.


"Non ... mereka sudah datang dan sedang menunggu di bawah." katanya.


Selya melihat jarum jam yang telah tepat pukul 7 malam.


"Aku akan segera turun, Bi." Selya berusaha tersenyum.


Selya turun di dampingi Bi Ina, setelah sampai di ruang keluarga Selya bisa melihat ada dua pasang paruh baya yang usianya Ia taksir tak jauh dari ayahnya. Ia bisa menyimpulkan bahwa pasangan itu pasti oang tua Daniel, di tengah mereka ada pria yang sangat tampan dalam balutan jas formal, kulit yang putih, hidung mancung, bibir yang tipis, dan rahang yang tegas menambah aura ketampanan pria tersebut.


"Apakah dia yang bernama Daniel," pikir Selya karena tidak ada pria lain selain dia di ruang ini.


"Selya sayang sini duduk dekat ayah, jangan hanya berdiri di situ," kekeh Bram ketika melihat Selya hanya berdiri mematung didepannya.


Selya beranjak dan mulai duduk dekat ayahnya sesuai apa yang ayahnya katakan.


"Apakah ini yang namanya Selya," tanya wanita paruh baya yang di yakini ibu Daniel.


"Iya tante." Selya menjawab sopan.


"Jangan panggil tante sayang, panggil mama saja sebentar lagi kau akan menjadi bagian keluarga Haston," ucap lembut wanita itu melihat Sely


"Terima kasih, Ma."


"Jangan sungkan, Nak. Panggil aku Papa sebentar lagi kita akan menjadi keluarga," timpal papa daniel


Sedangkan pria yang diyakini bernama daniel itu hanya diam dengan ekspresi datar menanggapi perbincangan orang tuanya dengan calon istrinya.


"Baiklah kita mulai saja acaranya. Pak Bram kedatangan kami kesini ingin menjalin hubungan yang lebih serius bukan hanya hubungan bisnis semata, melainkan hubungan kerabat, saya mewakili Daniel ingin meminta Selya menjadi menantu dan istri dari Daniel anak saya," ucap papa Daniel panjang lebar.


Selya memejamkan matanya sebentar, sebelum kemudian menarik nafas dalam-dalam.


"Saya terima niat baik keluargamu kemari, tetapi kita kembalikan kepada anak-anak saja apa mereka bersedia karena mereka yang akan menjalani ini semua." Ayah bicara sembari menatap Selya dan Daniel bergantian.


"Aku menerima perjodohan ini." Akhirnya Daniel angkat bicara, setelah sebelumnya terdiam mendengarkan para orang tua berbincang.


"Wow ... kau sangat bersemangat, Son," ucap papa Daniel dengan menepuk pundak putranya.


Semua tersenyum dan kini perhatian teralihkan dari Daniel ke Selya. Seketika Selya menegang ditatap begitu intens oleh semua orang tak terkecuali Daniel sendiri.


"Apa jawabanmu, Selya," tanya Ayah menggenggam lembut jemari putrinya.


"Aku ...."