
Sekarang Selya dan Daniel berada di toko bunga. Pulang dari taman, Selya bersih keras mengunjungi toko, sehingga Daniel hanya bisa menurut.
"Apa ini Selya! Bisa kamu jelaskan? jawab!" bentak Daniel melempar surat berisi ancaman. Rahangnya mengeras. Giginya bergemelatuk. Menandakan ia benar-benar marah.
Marah kepada dirinya sendiri, karena tidak mengetahui apa yang terjadi pada Selya. Marah karena Selya tidak mempercayai dirinya. Bagaimanapun ia seorang suami sudah sepatutnya ia melindungi Selya, tapi apa sekarang? ia baru saja mengetahui jika ada yang meneror istrinya.
Tidak merasa takut dengan kemarahan Daniel, Selya malah mendekat dan memeluk sang suami. Dapat Selya rasakan detak jantung Daniel yang cepat dengan nafas yang masih memburu.
"A-aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu, hanya saja aku kira bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Aku minta maaf," sendu Selya mendongak menatap Daniel yang hanya diam.
"Buktinya, kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini."
Perlahan Selya mengelus rahang Daniel, lalu turun ke dada meletakkan jarinya di sana.
"Jelaskan Selya, ini bukan saatnya bermain-main. Sejak kapan kamu di teror?" Meraih tangan Selya yang berada di dadanya.
"Di mana kamu menemukan surat ini?" tanya Selya.
"Di meja."
"Seperti itu, aku menerima surat ancaman ini, sebelumnya selalu ada kurir yang mengirimkannya tetapi setelah insiden aku kecelakaan surat itu sudah ada di atas meja setiap kali aku masuk. Aku tidak tau siapa yang meletakkannya." Selya melepaskan pelukan dirinya, memandang raut wajah Daniel setelah menerima penjelasannya.
"Aku melihat Lisa keluar dari ruangan ini," ujar Daniel mengingat kembali apa yang ia lihat tadi.
Saat hendak ke ruangan Selya tanpa sengaja ia berpapasan dengan Lisa karyawan Selya di depan pintu. Lisa hanya memberi alasan jika Selya yang menyuruhnya untuk mengambil sesuatu.
"Jangan mencurigai Lisa, aku memberi akses untuk Lisa maupun Ara memasuki ruangan ini."
"Kecuali jika ada kamu," lanjut Selya.
"Sudah berapa lama kamu diteror?" tanya Daniel menekan suaranya.
"Toko ini beroperasi," cicit Selya. Kepalanya menunduk menyiapkan telinga dan hatinya dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Setelah Winda bertemu dengan dirimu," gumam Daniel.
"Ada tersangka lain di sini, tidak mungkin Winda yang meneror dia tidak suka menulis, lagipula tulisan tangan ini mirip seseorang," sangkalnya.
Selya memandang heran Daniel yang bergelut dengan pikirannya sendiri. Apa Daniel mencurigai seseorang?
"Apa yang kamu lakukan!" teriak Ara menggelegar, bahkan Selya terlonjak kaget.
Daniel segera keluar diikuti Selya. Penasaran dengan apa yang terjadi hingga Ara berteriak kencang.
"Ara, ada apa?" tanya Selya khawatir.
Lisa meringis kesakitan saat Ara semakin kuat mencengkeram tangannya. Daniel memandang kedua karyawan itu datar menanti apa yang akan dilakukan mereka.
"Nona, saya melihat Lisa memasukkan sesuatu ke minuman Anda," adu Ara. Matanya menatap sinis ke arah rekannya.
Bukan pertama kalinya ia mencurigai Lisa, sudah beberapa kali ia mengawasi pergerakan Lisa. Namun, ia belum memiliki cukup bukti untuk mengadukannya kepada Selya.
"Apa yang dia masukkan pada minuman istriku?"
"Saya tidak tahu tuan yang saya lihat dia mencampur bubuk putih."
"Saya berani sumpah tidak memasukkan apapun tuan."
"Berhenti berbohong. Kau sudah tertangkap basah mengaku saja!" seru Ara.
Selya yang tidak tega melihat Lisa kesakitan pun mendekati kedua karyawannya itu, tetapi ia urungkan ketika tatapan Daniel bertemu dengan manik matanya.
"Minum!" perintah Daniel.
Lisa gelagapan. Matanya memandang kemana-mana mencari alasan untuk menolak perintah suami bosnya.
Lisa semakin mengatupkan mulutnya, menggelengkan kepala menolak minuman tersebut, hingga tanpa sengaja tangannya menepis gelas hingga jatuh ke lantai dan pecah.
"Saya di jebak."
"Jangan berusaha memutar balikkan fakta!" bentak Ara geram dengan perilaku Lisa. Tinggal mengaku saja apa susahnya. Bosnya orang baik, Selya pasti hanya akan memberi teguran.
"Jangan berteriak, Ra," pinta Selya. Wajahnya memerah menahan tangis, ia sangat sensitif mendengar suara bernada tinggi.
"Maafkan saya nona. Saya tidak suka pada orang yang melempar batu sembunyi tangan," sinis Ara.
Mengingat jika bosnya sedang hamil, Ara mengontrol emosinya.
"Siapa yang menyuruhmu," suara datar Daniel menghipnotis semua yang berada di sana. Atmosfernya bahkan sudah seperti kutub selatan.
"Saya di jebak tuan, sungguh. Nona, Anda percaya, 'kan pada saya?" Lisa meminta bantuan Selya, tidak menutupi sedikit pun jika ia takut dengan aura suami bosnya.
"Jujur ... Lisa, saya tidak akan memecat dirimu. Saya janji." Selya menautkan tangannya dengan tangan Daniel, berusaha mencari kekuatan untuk mendengar perkataan Lisa.
Lisa sudah terpojok. Tidak bisa menyangkal atau memberi alasan apapun. Ia sudah tertangkap dalam rencana yang dibuat seseorang. Haruskah ia jujur atau lebih memilih menyembunyikan kebenarannya.
"Jawab, Lis atau aku akan membocorkan semuanya yang aku lihat," ancam Ara.
Rekannya semakin menyudutkan dirinya. Entah apa yang Ara tahu. Apa Ara tahu siapa yang menyuruh Lisa melakukan ini.
"Apa yang coba kamu katakan, Ara," ucap Selya. Ia menjadi bingung dengan situasi dan keadaan yang terjadi.
"Saat nona terpeleset kemarin, sebelumnya saya melihat Lisa menuangkan sesuatu di lantai. Saya tidak terlalu curiga, tapi ketika nona terpeleset dan Lisa yang menolong Anda, saya mencurigai bahwa Lisa sedang mencari muka terhadap Anda."
"Tentang ular itu, saya mendapat laporan dari petugas damkar jika ular itu sengaja diletakkan dan terakhir yang menggunakan kamar mandi tak lain Lisa."
"Saya juga sering melihat Lisa keluar masuk ruangan Anda entah apa yang dia lakukan. Ketika saya ingin mengambil buku pemasukan toko. Lisa melarangnya dan menawarkan diri untuk mengambilnya."
Sial! Lisa menggerutu dalam hati. Selama ini ternyata Ara mengawasi dirinya. Lisa pikir sudah melaksanakan tugas semulus mungkin tanpa cacat, tetapi Ara lebih cerdik darinya.
"Kamu tidak berbohong, 'kan, Ra?" Kenyataan menyadarkan Selya jika tidak semua manusia berhati sama. Apa yang dilihat belum tentu sesuai dengan apa yang ia rasakan. Maka dari itu ada pepatah mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya.
Ara menggeleng yakin. "Saya bicara jujur nona."
"Masih tidak mau mengaku?" Ada bukti dan sanksi saya bisa memasukkan dirimu ke sel penjara saat ini juga." Daniel berkata. Menatap tajam Lisa, membuat gadis itu beringsut mundur ketakutan.
"Bicaralah Lisa," pinta Selya.
"Saya bisa bermain tangan, jika kamu mau," seringai Daniel.
"Ya! saya mengaku. Saya yang menaruh ular itu, saya yang membuat nona terpeleset, saya juga yang meracuni minuman tadi. Sekarang apa yang mau kalian lakukan. Mau melaporkan saya? silakan!" Lisa berteriak marah.
Tidak ada gunanya lagi ia berbohong. Ia sudah ketahuan kenapa tidak sekalian saja mengungkapkan semua. Terserah dengan respon semua orang.
"Berani sekali dirimu! Siapa yang menyuruhmu!" Daniel hendak melangkah maju, tapi Selya mencegah Daniel. Ia tahu apa yang akan Daniel lakukan dan tidak akan Selya biarkan Daniel bertindak melebihi batas.
"Jika kamu menyebut namaku, baik sengaja atau tidak, detik itu juga kamu akan mendapatkan kabar bahwa ibumu meninggal."
Perkataan orang itu terngiang diingatan Lisa. Ia tidak bisa kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
***
Happy reading.
Yeay aku kembali nih 😂 ada yang kangen gak ya wkwk. Beri apresiasi kalian dengan rate, vote, like, and comment.
Maaf baru up 🙂 maaf banget. Terimakasih yang sudah setia menunggu Daniel dan Selya. Maafkan jika ada typo yah. Btw manusia tempatnya salah.
Salam sayang dari aku.