I L Y

I L Y
Tuan Putri



Daniel datang hampir menjelang malam. Padahal toko sudah tutup dari satu jam lalu. Selama itu Selya harus menunggu Daniel, Ia berterimakasih karena ke dua karyawannya bersedia menemani sehingga Ia tidak merasa kesepian.


"Terimakasih sudah menemani istri saya," ujar Daniel kepada Ara dan Lisa. Setibanya di sana.


Mereka hanya mengangguk. Setelah berpamitan kepada Ara dan Lisa. Mobil pun segera meninggalkan toko. Di dalam mobil hanya terjadi perbincangan ringan.


"Aku hanya makan separuh dari porsi," kata Selya.


"Kenapa tidak dihabiskan," Daniel sesekali melirik Selya.


"Aku mual, itu saja sudah habis separuh, lain kali aku tidak mau makan itu lagi," cemberut Selya.


"Aku pastikan kamu akan memakan itu selama masa kehamilanmu."


Selya tidak menanggapi perkataan Daniel. Menolak pun pasti Daniel tidak akan mendengar ucapannya. Selagi itu baik untuk anaknya, maka akan Daniel lakukan.


Selya mengulurkan tangannya di samping Daniel


"Ulurkan tanganmu," pinta Selya.


"Untuk apa tanganku. Aku sedang menyetir," kilah Daniel.


"Issh sini tangannya," kesal Selya.


Meraih tangan Daniel, setelahnya Ia menuntun tangan Daniel menuju perutnya. Telapak tangan Daniel mendarat sempurna di perut Selya yang terbalut kemeja.


"Baby ingin dielus sama Daddy," senyum mengembang di bibir Selya.


Daniel sekilas melihat Selya, kemudian kembali fokus pada jalanan. Tangannya bergerak kaku mengusap perut Selya. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Sesuatu yang pernah Ia rasakan, tetapi sudah Ia kubur sangat dalam. Hatinya, apakah hatinya mulai luluh terhadap Selya. Apakah pemikirannya mengenai wanita berubah karena Selya. Sikap dan tingkah Selya selama menikah dengan dirinya tidak ada yang aneh. Semua terlihat biasa saja.


Usapan lembut tangan Daniel membuat Selya mengantuk. Hatinya yang sedari tadi resah berangsur membaik. Sepertinya ini ikatan antara anak dan ayah. Anaknya ingin menyatukan kedua orang tuanya, meski harus sedikit menyulitkan dirinya.


Jarak antara toko dan rumah tidak terlalu jauh sehingga tidak memerlukan waktu yang lama bagi mereka sampai di rumah.


"Sayang kamu baru pulang?" Mama menghampiri Selya yang baru saja masuk.


"Iya, Ma." Jawab Selya.


"Ya sudah, sana kamu mandi, nanti Mama panggil untuk makan malam."


Selya meninggalkan Mama. Ia memutar handle pintu kamar dan masuk. Selya segera menuju lemari untuk mengambil pakaian dan memasuki kamar mandi. Daniel yang melihat Selya memasuki kamar mandi lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka. Tubuh Selya merasa lebih segar setelah diguyur air.


"Daniel mandilah. Aku akan membantu Mama di dapur."


"Kamu istirahat saja. Jangan terlalu lelah. Ada banyak pelayan yang membantu. Mama juga pasti mengerti kondisimu,"


Selya menggeleng. Dirinya di sini sebagai menantu tidak baik jika Ia berdiam diri sementara mertuanya sibuk melakukan sesuatu. Ia akan dianggap tidak sopan. Terlebih Ia tidak ingin menjadi beban bagi keluarga suaminya.


Daniel yang melihat Selya keluar kamar hanya pasrah. Istrinya itu sangat keras kepala. Padahal Ia hanya ingin yang terbaik untuk Selya. Daniel bangkit dan masuk kamar mandi.


Sementara di dapur Selya sedang berdebat dengan Hera yang tidak memperbolehkannya memasak. Selya hanya ingin membuat kenangan selama berada di sini tidak terkecuali dengan dapur Keluarga Haston.


Mama hanya menyimak apa yang sedang terjadi dihadapannya, sesekali Ia tertawa karena Selya merengek seperti anak kecil pada Hera. Sebelumnya Ia sudah memperingati Hera dan pelayanan lainnya untuk tidak memberi Selya pekerjaan, karena takut Ia kelelahan apalagi Selya juga bekerja dan pulang sore.


"Ma ... Selya juga mau masak, tapi Hera tidak mengizinkannya." Selya mengadu, bibirnya mengerucut ke bawah, sudut matanya sudah berair.


Selya semakin menundukkan wajahnya mendengar perkataan Mama. Dirinya merasa segan jika berdiam diri sementara yang lain sibuk. Ia sudah seperti ratu saja di rumah ini.


"Mama aku hanya memasak tidak akan terjadi apa-apa," rayu Selya.


Mama tetap tidak menyetujuinya dan lebih memilih berkutat pada peralatan dapur. Selya menarik ujung baju Hera yang berada di tidak jauh darinya. Berusaha meminta agar diperbolehkan, tetapi sama yang Selya dapat hanya gelengan.


Hera sebenarnya merasa bersikap tidak sopan karena melarang nona mudanya, tapi di satu sisi Ia harus mematuhi perintah nyonya.


"Aku menjadi beban ya untuk Mama," lirih Selya.


Mama terkesiap mendengarnya. Ia sama sekali tidak pernah berpikir Selya adalah beban, melainkan Selya adalah sumber kebahagian.


Suasana dapur menjadi canggung. Beberapa pelayan menghentikan aktivitas mereka. Mama yang menyadari keadaan tersebut segera menarik Selya keluar dari sana. Membawa Selya menuju ruang keluarga dan mendudukkannya di sana.


"Sayang Mama tidak bermaksud seperti itu," ungkap Mama terdengar menenangkan.


"Selya malu, Ma. Di sini Selya hanya menumpang dan tidak melakukan apapun seperti tuan putri saja." Pandangan Selya buram karena air mata.


"Tidak seperti itu sayang. Dengarkan Mama, kamu adalah putri Mama bukan hanya sekedar menantu. Jadi jangan bersikap seperti ini. Kamu adalah tuan putri di hati kami semua." Mama membujuk Selya agar tersenyum.


Mama sangat baik kepada Selya. Jika mama mengetahui kebenarannya apakah dia akan tetap baik padanya yang sudah menipu dirinya. Bagaimana jika mama membenci Selya, setelah kebenaran itu terungkap. Selya tidak dapat membayangkan hal mengerikan tersebut.


"Izinkan aku memasak ya, Ma." bujuk Selya.


"Baiklah jika kamu memaksa, tetapi hanya membuat dessert." Mama tersenyum. Selya cemberut, tetapi tetap mengiyakan ucapan mama.


Setelah perdebatan kecil tersebut. Selya dan mama kembali ke dapur untuk memasak.


Saatnya untuk makan malam telah tiba. Semua hidangan sudah tersaji dan kini mereka tengah menyantap makanan tersebut. Sunyi tidak ada yang berbicara, hingga mereka telah selesai.


"Hubungan kalian baik-baik saja, 'kan?" tanya Papa.


"Baik, Pah," jawab Daniel.


"Papa senang mendengarnya. Sebenarnya papa dan mama sudah membicarakan tentang ini sebelumnya," ucap Papa membuat Selya dan Daniel menatap bingung.


"Papa berniat membuat rumah untuk kalian." Selya tidak percaya.


"Tidak," tolak Daniel.


Daniel sudah pernah membahas ini dengan Selya. Ia menolak dengan keras, dulu karena Ia ingin menyiksa Selya sepuasnya, tapi kini Ia harus melindungi Selya dari bahaya yang mengincarnya. Jika mereka pisah rumah dengan orang tua Daniel. Sama saja Daniel memberikan peluang untuk bahaya itu datang.


"Kalian perlu waktu untuk berduaan, sebelum sibuk mengurus anak nanti," goda mama memandang Selya.


Selya dapat melihat harapan yang begitu besar di mata mama. Ia tidak akan tega jika harus menghancurkan harapan tersebut.


"Tidak perlu, Ma. Kami sudah mendiskusikan tentang ini sebelumnya dan kami lebih memilih tidak berpisah dengan Mama dan Papa." Selya membantu Daniel menolak.


"Apalagi Selya sedang hamil. Ia butuh perhatian lebih dari kalian, terutama Mama. Kami masih membutuhkan bimbingan dari kalian berdua untuk menjadi orang tua." Daniel memandang lekat kedua orang tuanya.


***


Happy reading.


Maaf untuk part ini karena tidak memuaskan. Yang mau kasih krisar boleh banget. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan vote, like, and comment.


Salam sayang dari aku.