
Suasana begitu ramai, orang berlaku lalang menjadi pemandangan yang umum bagi tempat yang tengah Daniel dan Selya kunjungi. Mereka berdua berada di pusat perbelanjaan untuk mencari perlengkapan calon anak mereka. Meski sudah ada beberapa hal yang sudah di beli, tapi rasanya semua belum cukup bagi Daniel. Selya sendiri sudah memperingati Daniel untuk tidak terlalu boros akan keperluan bayi, karena itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Tidak dengan pemikiran Daniel, bahwa kebutuhan anaknya harus terpenuhi bahkan ketika dia belum lahir. Boleh saja, tapi itu tetap pemborosan bagi Selya. Kebutuhan anaknya akan semakin besar sesuai dengan usianya nanti.
"Untuk apa mengambil yang pink Daniel?" Selya heran dengan pilihan Daniel yang lebih dominan warna pink. Padahal belum tentu anak mereka perempuan. Setiap Daniel ingin mengetahui jenis kelamin anaknya, Selya selalu melarang dengan alasan untuk kejutan saat bayinya lahir.
"Warnanya cantik pasti lucu kalau di pakai baby." Daniel menatap kagum pada pakaian yang berada di tangannya.
"Pilih warna netral saja Daniel. Kita gak tau dia baby boy or baby girl," ucap Selya mengembalikan pakaian yang diambil Daniel pada tempatnya.
"Kalau dia baby girl bagaimana? Ambil saja." Meletakkan pakaian itu kembali ke keranjang belanjaan mereka.
"Kalau dia baby boy bagaimana? Tidak cocok dipakai." Mengembalikan kembali.
"Girl."
"Boy."
"Oke stop ... kita memang gak tau dia boy or girl. Ya sudah, pilih netral saja," putus Daniel menghindari perdebatan dengan Selya.
"Daniel lihat sarung tangan dan kaki ini." Menunjukkan pada Daniel, "sangat imut dan menggemaskan." Selya tersenyum lebar.
"Masukkan saja," ucap Daniel.
Selya memasukkan ke keranjang belanjaan, sarung tangan dan kaki bayi yang berwarna biru dengan motif yang sangat indah.
"Yang lain juga bagus kenapa hanya mengambil satu set," protes Daniel.
"Di rumah sudah ada Daniel, bahkan kemarin Mama membelikannya lagi. Aku hanya tertarik jadi mengambilnya," ujar Selya.
Daniel hanya mengangguk dan kembali menelusuri rak-rak yang berjajar berbagai keperluan bayi. Hingga mereka berhenti pada bagian tempat tidur bayi.
"Mau beli box bayi?" tanya Selya ketika Daniel memasuki stage tersebut.
"Iya. Menurut kamu mana yang bagus?" Daniel bertanya dengan mata yang fokus melihat desain box bayi.
"Kayaknya jangan dulu deh. Belinya nanti aja kalau usianya udah di atas 5 atau 6 bulan."
"Kenapa begitu?"
"Mama bilang belum penting banget, lagipula Mama sudah beli beberapa set kasur bayi. Sayang loh kalau gak dipakai."
"Baby tidur di tengah-tengah kita?"
"Iya, cuma sementara hanya beberapa bulan aja. Gak usah gitu donk mukanya. Jelek tau," kekeh Selya tertawa melihat perubahan raut wajah Daniel.
"Udah, yuk keluar cari yang lain lagi," ajak Selya menarik tangan Daniel.
"Kita cari barang yang belum ada di rumah dan sangat dibutuhkan."
Selya mengingat kembali barang apa yang belum ia beli, kemudian menggeleng karena semua yang ia butuhkan sudah ada berkat bantuan Mama.
"Semua udah ada, pulang aja yuk aku capek." Selya mengusap pinggangnya yang terasa pegal. Kakinya yang bengkak semakin membuat ia ingin segera bertemu dengan kasur.
"Iya."
Mereka berjalan menuju kasir dan segera membayarnya. Setelah selesai mereka kembali ke mobil. Namun, tiba-tiba Selya berhenti di salah satu kedai yang menjual es krim. Menatap dengan penuh minat, sesekali meneguk air liurnya sendiri.
Daniel memperhatikan apa yang Selya lihat. Ia tahu jika Selya menginginkan es krim di kedai itu, tapi mengingat pesan dokter untuk mengurangi es membuat Daniel tidak bisa memenuhi keinginan Selya. Ia segera menarik tangan Selya agar mengikuti.
"Daniel ... Daniel berhenti aku mau itu, bisa minta beliin gak," ucap Selya menahan langkah Daniel.
"Tidak boleh. Kamu dilarang minum es, lebih baik kita pulang."
"Sedikit saja ... tidak akan terjadi apapun, ya." Wajah Selya memelas.
"Sekali tidak tetap tidak dan tidak ada penolakan. Menurut, oke demi kebaikan kamu."
"Kamu mau ya anak kita ngences," kesal Selya.
"Bukan gitu. Dokter bilang, 'kan kamu harus mengurangi minum dingin."
Apa yang dikatakan Selya memang benar, tetapi Daniel tetap tidak bisa mengizinkannya. Sadar jika Daniel lengah Selya menghampiri kedai es krim dan memesan satu porsi es krim rasa vanila dengan berbagai toping, lalu duduk di salah satu bangku.
Daniel menengok ke samping dan tidak melihat Selya. Rasa khawatir mulai menyergap hatinya. Matanya menangkap sosok istrinya yang tengah duduk menunggu di kedai es krim. Ia pun menghampiri istrinya itu.
"Mommy ... ayo pulang." Daniel berucap lembut membujuk Selya.
"Gak mau, es krim aku belum datang," jawab Selya.
"Ya sudah, oke boleh, tapi dikit aja cuma beberapa sendok aja, deal ...?"
"Atau gak sama sekali," lanjutnya.
"Deal."
Beberapa menit kemudian es krim Selya datang dan sesuai dengan perjanjian tadi, Selya hanya memakan beberapa suap, sisanya dihabiskan oleh Daniel. Setidaknya Selya bisa merasakan sensasi es krim tersebut di lidahnya, walau hanya beberapa suap, tapi ia menikmatinya.
Selesai dengan es krim. Mereka pun pulang, mengingat kondisi Selya yang sudah mulai lelah. Sampai di rumah Daniel menuntun Selya yang sedikit kesusahan karena pegal di pinggangnya semakin terasa.
"Kalian dari mana aja baru pulang?" tanya Mama.
Daniel menghiraukan pertanyaan Mama. Ia menuntun Selya duduk di samping Mama dan memberi bantal untuk menyangga pinggang Selya.
"Belanja beberapa baju bayi, Ma. Daniel ke kamar dulu ya mau mandi. Titip Selya sebentar, Daniel gak lama," ucap Daniel meninggal dua wanita tersebut.
"Titip? emang aku barang apa dititipin segala," decak Selya.
"Kamu barang berharga sayang." Mama mengulas senyum.
Selya tersipu malu karena Mama mendengar perkataannya.
"Beneran kalian tadi belanja? Mama sudah menyiapkan segala kebutuhan kamu sama baby loh. Kenapa belanja lagi?" tanya Mama.
"Anak Mama tuh yang maksa katanya kurang, ehh ... sampe di sana milihnya baju bayi perempuan," papar Selya.
"Kamu sih ... gak mau tahu jenis kelamin baby, jadi bingung nyiapin keperluan baby, takutnya gak cocok. Kita pilih warna pink tau nya yang keluar cowok kan lucu," Mama tertawa.
"Biar jadi suprise, Ma. Maaf deh kalau Selya ngrepotin Mama."
"Siapa bilang ngrepotin, Mama seneng bisa terlibat langsung ngurus cucu pertama Mama ini." Mengelus perut buncit Selya.
"Hai cucu Oma lagi apa di dalam sehat terus ya jangan nyusahin Mommy bentar lagi kita ketemu."
"Iya Oma." Selya menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
Mama mengambil sesuatu dari laci dan meletakkan bantal di pangkuannya.
"Sini kaki kamu. Mama pijat biar gak terlalu bengkak." Menepuk bantal di pangkuannya.
"Gak perlu, Ma, gak sopan nanti Selya pijat sendiri juga bisa."
"Jangan sungkan sama Mama. Mama juga pernah merasakan kaki bengkak saat hamil, sini Mama pijitin." Mengangkat kedua kaki Selya dan menuangkan minyak, lalu mulai memijit kaki Selya.
Selya merasa terharu dengan perlakuan Mama. Jika ibunya masih hidup pasti beliau juga akan bersikap sama kaya Mama.
"Terimakasih, Ma."
***
Happy reading.
Hai buat kalian semua. Iya kalian yang sudah baca part ini. I Love You 😘🤣 wkwk author terlalu jujur.
Jangan lupa untuk rate, vote like, and comment. Aku selalu menunggu kecerewetan kalian.
Salam sayang dari aku