I L Y

I L Y
Mama dan Papa Kecewa



Varo merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kepala bagian belakangnya. Ketika menengok, ia sudah disodorkan pistol oleh anak buah Papa Daniel.


"Sekali lagi kamu menyakiti menantu dan calon cucu Saya. Maka saya pastikan peluru ini menembus otakmu," suaranya datar namun begitu mengintimidasi.


Sadar dengan situasi yang merugikan dirinya. Varo perlahan melepas Selya. Melindungi dirinya sendiri merupakan sifat alamiah manusia.


Daniel segera menarik Selya. Merengkuh istrinya yang terisak kecil. Melihat keberadaan Papa di sana membuat Daniel lega. Sesuatu yang buruk tidak terjadi pada istrinya. Ia sangat berterimakasih kepada sang Papa.


Tidak dengan Daniel yang tersenyum lega, Papa justru menahan amarah yang menguasai dirinya mengetahui pernikahan anaknya di dasari surat perjanjian. Selama ini ia mengira kehidupan pernikahan Daniel dan Selya baik-baik saja. Namun, fakta berkata lain.


"Lakukan tugasmu," ucap Papa mengarahkan anak buahnya untuk membawa Varo keluar serta memberi sedikit pelajaran pada pengkhianat itu.


Pandangannya kini mengarah pada anak dan menantunya. "Papa tunggu kalian di rumah."


Setelah mengatakan hal tersebut. Papa segera meninggalkan Daniel dan Selya. Menghubungi Mama agar tidak ke perusahaan melainkan kembali ke rumah.


"Yang Varo katakan ada benarnya. Seharusnya aku sadar akan posisiku, seharusnya semua berjalan sesuai dengan rencana awal kita. Sesuai perkataanmu ... tidak perlu ada hati di antara kita," ujar Selya.


Bisikan Varo masih terngiang di telinga Selya. Menyangkal pun tidak bisa, karena itu memang benar.


"Aku pernah bilang untuk berjuang mendapatkan hatiku. Lakukan apa yang kamu bisa jangan dengarkan perkataan orang. Mengenai surat, sudah aku bakar tidak akan ada lagi perjanjian diantara kita, hanya ada perjuangan." Daniel mengecup dahi Selya.


"Papa pasti mendengar semua. Bagaimana kita akan menjelaskan, Papa pasti sangat kecewa dan aku tidak bisa melihatnya. Kita telah melukai kepercayaan orang tua kita Daniel." Air mata Selya mengalir begitu saja.


Teringat akan Ayah yang berada jauh dari Selya. Membuat Selya dirundung rasa penyesalan. Harapan Ayah sangat jauh berbeda dari apa yang ia jalani.


"Kita bicarakan nanti, lebih baik sekarang kita pulang. Papa sudah menunggu. Tenang saja aku yang akan menjelaskan semua pada Papa," ucap Daniel.


"Bagaimana dengan perutmu apakah sakit?" tanya Daniel.


"Sedikit perih."


Daniel mengangguk dan menggandeng Selya keluar, tetapi Selya menahan langkah Daniel.


"Aku tidak bisa jalan," ungkap Selya malu. Sebenarnya itu hanya alasan Selya agar Daniel menggendong dirinya.


"Aku tidak tahu ada luka dalam dari perbuatan Varo atau tidak, aku hanya ingin mengantisipasi." Selya menunjukkan puppy eyes andalannya. Tidak dipungkiri ia juga khawatir dengan calon anaknya.


Daniel menggendong Selya keluar ruangan. Berbagai pandangan aneh mengiri langkah Daniel. Selya hanya menyembunyikan wajah, melihat tatapan para karyawan.


Di rumah sudah ada Papa, Mama, dan dokter. Mama sendiri bingung kenapa ada dokter di rumah. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk menimpa keluarganya. Pikir Mama.


"Daniel apa yang terjadi?" tanya Mama khawatir ketika Daniel masuk dengan menggendong Selya.


"Bawa Selya ke kamar agar diperiksa dokter," perintah Papa.


"Tapi apa yang terjadi, Pa."


"Nanti Papa jelaskan. Mari dokter," ajak Papa.


Daniel membaringkan Selya di tempat tidur, kemudian mundur untuk mempersilahkan dokter memeriksa Selya. Mama dan Papa juga berada di sana. Mungkin yang Selya katakan benar jika Papa mengetahui perjanjian antara ia dan Selya, terlihat dari raut wajahnya yang tak berekspresi apapun membuat Daniel menduga-duga.


"Tidak ada hal serius, cukup rutin minum vitamin yang saya berikan sudah cukup, selebihnya beristirahat saja dan jangan terlalu lelah, lakukan aktivitas yang tidak terlalu berat." ucap dokter


"Apa ada hal lain?"


Selya menggeleng akan tetapi Daniel berucap, "Perutnya perih."


Dokter mengangguk paham. "Wajar saja karena si ibu mungkin sempat tegang atau shock akan sesuatu. Tidak perlu khawatir itu hal biasa, tapi jangan sampai hal seperti ini terulang lagi."


"Baiklah saya permisi," ujar dokter merapikan peralatan yang ia bawa.


"Terimakasih, Dok. Maaf tidak bisa mengantar sampai depan," ucap Mama.


Dokter tersenyum, lalu meninggalkan kamar. Mama langsung mendekat ke Selya. Matanya memancarkan kekhawatiran yang begitu besar, takut jika sesuatu hal buruk menimpa Selya.


Daniel hanya terdiam, bingung bagaimana menjelaskan kepada orang tuanya. Dari mana ia harus menjelaskan semua.


"Selya minta maaf, Ma," ucap Selya.


"It's okay sayang, Mama gak khawatir."


"Selya minta maaf, Pa." Memandang Papa yang hanya termenung diam. Rasanya Selya ingin turun dan berhambur memeluk Papa, menangis sejadi-jadinya agar Papa memaafkan dirinya. Melihat Papa yang memandang kecewa pada dirinya membuat Selya membayangkan pandangan yang sama dari Ayahnya. Ia telah melukai perasaan banyak orang yang ia sayangi, hanya karena keputusan yang ia ambil dalam kemarahan.


Daniel memandang sedih ke arah Selya. Istrinya pasti merasa sangat bersalah, tapi semua ini berawal dari dirinya bukan Selya. Jika bukan karena ancaman Mama dulu dan juga bukan karena tuntutan memiliki penerus, ia tidak akan melakukan hal sejauh ini.


"Hei sayang tidak apa. Mama dan Papa tidak marah berhenti menyalahkan diri sendiri." Mama membelai rambut Selya, meyakinkan agar tidak mengkhawatirkan apapun.


"Pa ...," panggil Daniel.


Plak


Tamparan keras melayang di pipi kiri Daniel. Mama dan Selya membulatkan mata melihat perlakuan Papa. Daniel hanya tersenyum kecut, ya, ia akui ia salah dan pantas mendapatkan hal ini.


"Pa! Kenapa Daniel dipukul?"


"Dia pantas mendapatkan pukulan Papa, biar dia sadar di mana salahnya."


"Ya ampun Pa. Selya, 'kan baik-baik aja. Jangan menyalahkan Daniel, mungkin ini takdir."


"Lihat Daniel! Lihat! Bagaimana polosnya Mama kamu. Mama masih membela kamu yang sudah membohongi Mama. Kami tidak pernah mengajarkan kamu bertindak seperti ini."


Mama mengerjap bingung dengan apa yang Papa katakan. Melirik ke samping meminta penjelasan dari Selya yang sudah terisak kecil, ia urungkan.


"Sayang gak boleh nangis nanti baby ikut sedih. Papa hanya marah sebentar tenang ya," ujar Mama.


"Gak, Ma. Papa sangat marah sama Daniel dan Selya. Aku minta maaf Ma sudah berbohong sama Mama," ucap Selya.


"Apa yang kamu bicarakan? Membohongi bagaimana?"


Selya terisak tidak sanggup untuk menceritakan kepada Mama. Ia tidak bisa melihat tatapan kecewa dari Mama juga. Tapi bagaimanapun ia salah dan harus bisa menanggung konsekuensinya.


"Anakmu itu membuat surat perjanjian dengan Selya," ungkap Papa.


"Surat perjanjian?" Mama mengeryitkan dahi.


"Semacam surat kerja sama, Papa tidak tahu poin apa yang mereka sepakati," ujar Papa menatap sinis kepada anaknya.


Selya semakin terisak ketika Mama menjauh darinya. Ia telah merusak kepercayaan Mama, bagaimana ia akan memperbaiki semuanya.


Mama mendekati Daniel dan melayangkan tamparan di pipi kanan Daniel. Menatap kecewa kepada anak satu-satunya. Pernikahan yang ia rencanakan, dipermainkan oleh Daniel. Salahkan ia dalam mendidik anaknya.


"Katakan Daniel. Katakan yang sejujurnya apa yang Papa katakan salah."


Daniel diam ia tidak bisa kalau sudah berhadapan dengan Mama. Melihat wanita yang telah melahirkannya menangis sudah membuat Daniel sakit. Air mata itu sangat berharga dan Daniel sendiri yang menumpahkan air mata Mama.


"Mama kecewa sama kamu. Mama kira kamu bahagia dan sudah menerima apa yang Mama pilihkan untuk masa depanmu, tapi ternyata Mama dibodohi."


"Maafkan Daniel, Ma. Daniel mengaku salah. Daniel dan Selya juga sudah membicarakan ini dan kita memutuskan untuk memulainya dari awal. Tidak ada lagi yang namanya perjanjian semua tulus dari keinginan kita."


"Daniel berpikir untuk tidak membicarakan hal ini dengan kalian." Memandang Papa dan Mama, "karena Daniel sudah membatalkan perjanjian itu."


"Papa sangat kecewa mengetahui tindakanmu, tapi Papa juga bersyukur setidaknya karena tindakan bodohmu itu, membuatmu sadar dan bisa menerima Selya."


"Mama juga kecewa, tapi tidak ada gunanya Mama marah toh kalian juga sudah memutuskan. Mama dan Papa berharap kalian selalu bersama." Mama tersenyum sesekali menghapus air mata yang jatuh.


"Terimakasih, Ma, Pa," ucap Daniel. Ia memeluk kedua orang tuanya, terharu memiliki keluarga yang mengerti dirinya.


Selya hanya tersenyum melihat pemandangan di depannya. Kesedihannya menguap tergantikan senyum bahagia.


***


Happy reading.


Maaf ya telat up. Sebenarnya tadi malam mau up tapi karena ada hujan petir plus angin kencang jadi gak bisa up. Sorry banget yang nunggu kelanjutan cerita ini.


Jangan lupa rate, vote, like and comment. Terimakasih sudah menyempatkan mampir. Aku sayang kalian 😘


Salam sayang dari aku.