I L Y

I L Y
Tangis Selya



Tidak ingin membuat Daniel semakin penasaran mengenai apa yang Selya ucapkan. Ia pun meminta Daniel untuk membawanya pulang. Lebih baik Daniel tidak mengetahui apapun tentang surat berbunga mawar hitam itu. Mulai saat ini Selya harus berhati-hati karena bukan hanya Winda yang merencanakan hal buruk padanya, tetapi ada orang lain juga yang berniat sama.


Daniel mengiyakan ajakan Selya. Mereka keluar dari toko, bersamaan dengan Ara dan Lisa yang ingin masuk.


"Anda akan pulang, Nona." Lisa memandang Selya.


"Iya, aku juga titip toko pada kalian dan untukmu Lisa, terimakasih sudah menolongku tadi. Jika tidak ada kamu, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku," ucap Selya membalas tatapan Lisa.


"Untuk beberapa hari Selya tidak akan hadir. Saya mempercayai kalian bisa mengurus toko ini." Ujar Daniel.


Keputusan Daniel sebenarnya berat untuk Selya. Ia merasa tidak perlu sampai harus tidak datang ke toko karena kejadian ini. Protes pun pasti Daniel tidak akan mendengarkannya. Turuti saja kata Daniel, suami selalu tau yang terbaik untuk istri.


Setelah berpamitan kepada kedua karyawannya. Selya dan Daniel menuju mobil dan mengendarainya pulang ke rumah.


Kebiasaan baru Selya yaitu mendapat elusan dari Daniel di perutnya. Selya selalu menginginkan agar Daniel mengelus perutnya saat mereka hanya berdua seperti sekarang ini.


"Daniel jangan berhenti, terus dielus ihh." Memukul pelan tangan Daniel yang hanya menempel tanpa memberi usapan.


"Aku sedang menyetir, nanti saja ya kalau sudah berada di rumah," bujuk Daniel.


"Kalau tidak berminat, lebih baik tidak usah." Menyingkirkan tangan Daniel.


Daniel tidak menolak ketika Selya menyingkirkan tangannya, ia fokus dengan jalanan di depannya, sedangkan Selya sudah cemberut karena Daniel tidak berusaha untuk membujuknya kembali.


Tiba di rumah Selya meninggalkan Daniel di belakang. Ia masih merasa kesal dengan suaminya. Kejadian di toko pun sudah tidak ia ingat.


"Mama di sini loh kok dilewatin gitu aja, itu bibir kenapa manyun gitu, kurang belaian?" Selya berhenti dan melihat Mama.


"Mama ihh jangan di godain. Aku lagi kesal sama anak laki-laki Mama itu," curhat Selya.


"Kesal bagaimana jelaskan." Daniel tiba-tiba menyaut perkataan Selya.


"Au ah." Selya masuk ke kamar.


Mama meminta penjelasan dari anaknya. Ia tidak mau rumah tangga anaknya mengalami selisih paham. Meskipun wajar dalam rumah tangga ada perselisihan, tetapi mencegah lebih dari mengobati, bukan.


"Engga Daniel elusin perutnya jadi ngambek," sautnya.


Mama tersenyum kecil. "Si baby lagi kangen sama ayahnya. Sudah sana samperin menantu Mama, awas yah kalau Selya nangis. Mama masukin lagi kamu ke perut nanti."


Candaan sang Mama sudah sering Daniel dengar, tapi baru kal ini Daniel mendengar candaan mama yang sangat tidak masuk akal. Menyahut Mama pasti tidak akan ada akhirnya. Lebih baik Daniel membujuk Selya.


"Daniel ke kamar dulu, Ma. Nanti kalau pesanan Daniel sampai, suruh Hera antar ke kamar ya," pesan Daniel sebelum meninggalkan Mama.


Daniel memutar handle pintu. Masuk kamar hal yang ia dengar adalah suara Selya yang sedang muntah. Ia pun masuk ke kamar mandi. Melihat Selya di depan wastafel dengan kepala menunduk Daniel menghampirinya dan mengurut pelan tengkuk Selya.


Hoek hoek


Selya memuntahkan semua makanan yang ia makan pagi tadi. Tenaganya terkuras habis untuk muntah, bahkan sekarang ia seperti ingin pingsan. Sangat lemas.


Hoek hoek


Perutnya seakan di aduk. Padahal Selya yakin perutnya sudak kosong yang keluar hanya cairan bening.


Hiks ... hiks ...


Selya terisak tangannya memutar kran air dan berkumur. Sepertinya anaknya memang belum mau beranjak dari kamar mandi. Ia muntah lagi, tapi kali ini tidak ada yang Selya keluarkan. Selya merasa lelah, tenggorokannya pun sakit.


Tangannya mencengkeram kuat pinggiran wastafel. Daniel merapikan rambut Selya agar tidak terkena muntahan. Ia juga masih setia memijat tengkuk Selya.


"Udah enakan?" Selya menggeleng.


"Hiks sakit," adu Selya.


"Apa yang sakit."


"Perut sama tenggorokan aku."


"Itu karena kamu muntah terus jadi sakit. Sini aku elusin perutnya, biar enakan."


"Bagaimana sekarang masih mual?" Daniel masih setia mengelus perut Selya.


"Sudah enakan, mau makan. Tadi muntah banyak sekarang aku lapar."


"Ya sudah keluar yuk, sebentar lagi Hera membawakanmu makanan."


Daniel menarik tangannya dan membawa Selya keluar kamar mandi. Baru keluar, pintu kamarnya sudah diketuk. Selya berjalan menuju ranjang, sedangkan Daniel membuka pintu.


Hera membawa nampan berisi makanan Selya yang sudah ia pindahkan ke piring. Daniel menerimanya dan segera menutup pintu. Menghampiri Selya yang sudah setengah berbaring.


"Mau makan atau tidur?" tanya Daniel.


"Makan dulu nanti baru tidur. Aku lapar," ujar Selya.


Daniel menyerahkan makanan kepada Selya. Selya begitu menikmati makanannya padahal kemarin Ia bilang tidak akan memakan makanan itu lagi, tapi sekarang dengan begitu lahapnya Selya memakannya. Mungkin karena Selya sudah memuntahkan semua sarapannya hingga membuatnya menikmati makanannya sekarang.


"Kamu tidak makan?" tanya Selya ketika Daniel hanya memandanginya sedari tadi.


"Aku belum lapar, makanlah yang banyak kamu pasti kelaparan saat ini," ucap Daniel.


"Mau berbagi ini banyak loh," ujar Selya.


"Untukmu saja, itu juga sepertinya kurang untukmu," senyum Daniel.


"Teruslah seperti itu, aku suka."


"Seperti apa?" Kembali berwajah datar.


"Aku tidak suka melihat wajahmu yang datar itu, aku suka saat kau tersenyum seperti tadi."


Senyum Daniel membuatnya seperti di mabuk asmara. Suaminya itu sangat tampan saat tersenyum. Pesonanya bertambah 2x lipat. Terbukti saat Daniel tersenyum tadi.


Tersenyumlah terus Daniel, kau sangat tampan membuatku semakin mencintaimu, Tersenyumlah seperti ini nanti saat aku pergi. Batin Selya.


Selya melanjutkan makanannya hingga habis tidak tersisa. Setelah selesai Selya pun minum air putih. Melihat Selya yang sudah selesai Daniel pun ingin membawa keluar nampan tersebut. Akan tetapi, Selya tidak mengizinkannya dan memintanya untuk menemani Selya tidur.


"Jangan langsung tidur, tunggu beberapa menit lagi." Ujar Daniel.


Selya cemberut tetapi tetap menuruti perkataan sang suami. Tidak ada obrolan yang mereka ciptakan untuk memecah keheningan. Selya sudah sangat merasa lelah dan ingin cepat tidur. Namun, Daniel tidak membiarkannya.


Beberapa menit berlalu. Kini tangan Selya dan Daniel saling bertautan, karena keinginan Selya. Secara tiba-tiba Selya meremas tangan Daniel yang ia genggam. Daniel mengernyit bingung mendapati Selya meremas tangannya. Remasan tersebut semakin keras, Selya bahkan sudah berkeringat dingin, erangan keluar dari bibirnya.


"Kamu kenapa? Hai ... jawab ada apa. Jangan membuatku takut," panik Daniel.


"Hiks ... Daniel sakit ini sangat sakit" Selya mengerang kesakitan


"Katakan kamu merasakan sakit dimana?"


"Hiiks perutku uhh sakit Daniel." Tangan Selya beralih meremas perutnya.


Daniel panik dirinya berusaha membuat Selya tidak terlalu meremas kuat perutnya.


"Mah!" seru Daniel.


"Daniel hiks sakit aku tidak kuat." Daniel semakin panik karena Selya sudah kesakitan, sedangkan mama belum juga datang.


"Awsss."


***


Happy reading


Maaf sepertinya part ini kurang memuaskan untuk kalian. Jangan lupa rate, vote, like, and comment.


Salam sayang dari aku.