
Satu minggu kemudian, setelah pertemuan kedua keluarga. Kini pada tanggal 20 Maret 2017 di Gereja Sion pukul 10 pagi sedang berlangsung sebuah pernikahan.
“Aku Daniel Haston mengambil engkau Selya Louis menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
“Aku Selya Louis mengambil engkau Daniel Haston menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
"Dengan ini saya nyatakan kalian sebagai pasangan suami istri," ujar pendeta yang memimpin upacara pemberkatan.
Jangan di tanya bagaimana reaksi Selya. Ia hanya bisa memejamkan mata seraya menerima takdir bahwa Daniel kini sudah resmi menjadi suaminya.
"Kedua mempelai silahkan memasangkan cincin nikah dan disusul sebuah ciuman." Daniel mulai mengaitkan cincin di jari manis selya begitu sebaliknya.
Cup.
Selya menegang seketika dengan apa yang Daniel lakukan pria itu mencium Selya tepat di bibirnya disertai ******* kecil kemudian disusul tepuk tangan para hadirin yang menyaksikan pernikahan mereka.
"Aku tau ini hanya sandiwara tapi kenapa begitu menyesakkan melihat mereka yang begitu bahagia atas pernikahan ku tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi," batin Selya berteriak
Skip>>
Sekarang mereka sudah berada di hotel tempat mereka mengadakan resepsi yang akan dilangsungkan pukul 7 malam.
Kini pasangan yang beberapa jam lalu sudah dinyatakan sebagai suami istri itu tengah istirahat disalah satu kamar hotel.
Selya Prov
"Apa yang harus aku lakukan sekarang," gumamku.
Kini hanya ada kami di kamar ini. Daniel yang duduk bersender di kepala ranjang dan aku yang sedang menghapus make-up di meja rias.
Setelah beberapa saat Daniel mulai meninggalkan ranjang menuju kamar mandi aku hanya bisa menatap punggung Daniel yang mulai menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Akan seperti apa pernikahanku nanti, apa aku akan bahagia seperti yang Ayah katakan atau sebaliknya?" Pertanyaan itu berputar putar di kepalaku mencari jawaban yang entah kapan akan terpecahkan.
Ceklek
Setelah kepergian Daniel aku memasuki kamar mandi kemudian disusul suara gemercik air.
Beberapa saat kemudian.
Aku telah selesai membersihkan diriku dan kini aku sedang menatap pantulan wajahku di cermin, seketika pikiranku melayang tentang kejadian 1 minggu lalu dimana keluarga Daniel datang untuk melamarku.
Flashback on
"Aku ... ingin berbicara sebentar dengan Daniel. Apa boleh?" ucapku.
"Baiklah sepertinya kalian membutuhkan privasi. Bicaralah di taman belakang, Nak," kata ayah.
Aku mulai melangkah meninggalkan ruang keluarga menuju taman belakang yang diikuti Daniel.
"Terima pernikahan ini dan aku akan membantu perusahaan ayahmu," ucap Daniel setibanya kami di taman belakang.
"Bagaimana kalau aku menolak keras pernikahan ini." ancamku menatap lurus ke manik hitam hazel mata Daniel. Entah keberanian dari mana aku bisa mengatakan kalimat itu.
"Aku astikan perusahaan ayahmu akan hancur tanpa sisa dalam beberapa menit saja," seringai muncul di balik senyumnya.
Tubuhku menegang kaku atas apa yang Daniel katakan.
"Begini saja, aku akan membantumu dan kau akan membantuku," ucap Daniel tiba-tiba yang sepertinya membaca raut keterkejutanku.
"Aku telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk membantu perusahaan ayahmu." kalimat yang begitu menohok hatiku. Ini seperti aku menjual diriku sendiri demi uang.
Aku hanya bisa mengangguk dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipiku.
"Apa ini jalan terbaikku." hanya itu yang aku pikirkan saat ini.
flashback end.