I L Y

I L Y
Pelaku Sebenarnya



Nama yang diucapkan Lisa mampu meruntuhkan segala bentuk kepercayaan Daniel. Antara percaya dan tidak percaya. Sekali lagi Daniel berhasil dikhianati oleh orang terdekatnya. Bukan hancur yang ia rasakan, melainkan amarah. Kepercayaan yang telah ia berikan ternyata dipermainkan.


Tidak ingin menunda lagi apa yang membuncah di hatinya. Daniel menarik Selya keluar toko dan membawa ke perusahaan. Daniel butuh pengakuan secara langsung dari orang yang ia curigai, bukan sekadar omong kosong dari Lisa.


Semua karyawan bergidik ngeri melihat wajah Daniel yang memancarkan aura kemarahan. Selya yang mengekor di belakang hanya tersenyum tipis pada karyawan. Meringis malu karena kelakuan Daniel, ya bagaimana tidak? ia hanya memakai pakaian kasual yang tidak pantas untuk berada di perusahaan. Daniel pun sama, ia hanya menggunakan kaos putih serta celana santai. Masa bodoh dengan penampilan Selya, toh tidak akan ada yang mengkritik dirinya.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Daniel memukul pria dihadapannya secara membabi buta. Selya yang terkejut spontan menarik Daniel menjauh dari pria tersebut.


"Astaga Daniel apa yang kamu lakukan?"


"Aku melakukan yang seharusnya aku lakukan sejak dulu." Daniel menatap bengis pada pria yang tersungkur di lantai.


"Shiit ... wajah tampanku terluka."


"Berhenti bermuka dua Varo!" teriak Daniel.


Selya hanya menjadi penonton melihat perdebatan diantara kedua sahabat itu. Dirinya juga kecewa dengan apa yang dilakukan Varo, tidak menduga sama sekali Varo yang berada dibalik semua kejadian yang menimpanya.


"Semua kebusukan dirimu sudah terbongkar, tidak perlu lagi kamu menggunakan topeng palsu," ucap Daniel.


"Kebusukan apa? topeng apa? Bicara yang jelas Daniel, to the point saja."


"Brengsek!"


Bugh ... bugh


Habis sudah kesabaran Daniel melihat tampang tidak bersalah Varo. Dia berhasil memerankan dua karakter dengan begitu sempurna. Jika ada penghargaan untuk sahabat terburuk pasti Varo mendapatkannya.


Bugh


Akhh


Varo menendang perut Daniel membuat pria itu mundur beberapa langkah dengan memegang perutnya yang terasa perih.


"Sepertinya kebenaran diriku sudah terbongkar. Baguslah aku tidak perlu repot-repot untuk bersembunyi lagi." Varo menarik bibirnya membentuk senyum tipis.


"Selya, suami mu itu sangat bodoh, dia menyuruhku untuk mencari pelaku kejahatan yang sebenarnya berada sangat dekat dengan Daniel yaitu aku."


"Bagaimana teknik permainanku sangat menakjubkan bukan," ucap Varo.


"Kamu berkhianat," lirih Selya.


"Apa tujuan dirimu melakukan semua ini. Aku tidak menyakiti siapa pun kenapa kamu berusaha menyingkirkan aku." Selya memandang Varo kecewa.


"Bullshit! cinta membuatmu buta akan segalanya." Daniel meraih kerah kemeja Varo. Melayangkan pukulan di wajah Varo. Namun, berhasil ditangkis, memutar balik keadaan sehingga Daniel yang mendapat pukulan.


"Semua salahmu, salah kalian berdua. Ada hati yang telah kalian patahkan, ada harapan yang kalian hancurkan, terutama dirimu Daniel. Selamat kamu berhasil melukai seseorang sampai dasar." Sentak Varo tak kalah murka.


"Sadar Varo! Dirimu hanya dimanfaatkan! Wanita licik itu memanfaatkan cinta tulusmu. Kapan kamu menyadarinya."


"Winda tidak seperti apa yang kamu bayangkan. Dia sepenuh hati ingin meminta maaf padamu, tapi apa kamu terus menolaknya bahkan menghancurkan perusahaan keluarga Winda. Perbuatanmu membuat Winda depresi, dia tertekan. Semua salah dirimu! Pria brengsek!"


Selya membulatkan mata mendengar penjelasan Varo. Depresi? Winda depresi karena Daniel. Apa yang ia lihat di rumah sakit kemarin, Winda. Ya, tidak salah memang Winda yang mengamuk kemarin.


"Dia ingin kembali padaku dan menolaknya selain karena pengkhianatannya aku juga sudah memiliki Selya dan tidak mungkin aku melukai hatinya."


"Tidak ingin melukai hati Selya," ulang Varo meremehkan ucapan Daniel.


"Lalu bagaimana dengan surat perjanjian kalian," lanjutnya mengingat jika Daniel dan Selya saling terikat perjanjian.


Selya mengalihkan pandangan kepada Daniel. Memandang dengan sorot mata tidak percaya, bahwa Daniel menceritakan masalah pernikahannya dengan Varo. Matanya memanas, jantungnya berdegup kencang, harga dirinya terluka. Ia seperti menjadi mainan. Air matanya mengalir deras dan tidak ada yang bisa menyembuhkan lukanya.


"Tidak perlu mengungkit masa lalu! Urusanmu denganku, tidak perlu ikut campur dalam masalah rumah tanggaku."


"Khawatir? takut? marah?" tanya Varo menyeringai.


"Simpel, dulu Winda menjual sahamku, sekarang aku hanya membongkar kelicikan perusahaan Winda, bukankan adil untukku."


"Bagaimana cara untuk menyadarkan dirimu Varo. Kamu diperdaya percayalah."


"Tidak usah menyadarkan diriku, sadarkan dirimu saja untuk bersiap menerima penderitaan dariku."


Varo memanfaatkan keadaan Daniel yang lengah. Ia memukul Daniel hingga tersungkur dan melesat ke arah Selya. Melingkarkan tangannya dileher Selya dari belakang.


Selya melotot takut dengan tindakan tiba-tiba Varo. Dirinya yang tidak siap sedikit limbung beruntung saja Selya masih bisa menjaga kesadaran.


"Lepaskan, Selya!" bentak Daniel.


Daniel bisa melihat Varo menyunggingkan senyum penuh kemenangan, beralih ke Selya, ia merasa sakit melihat Selya menangis ketakutan.


"Tidak ada untungnya bagi dirimu melukai Selya," ujar Daniel.


Dadanya sesak menyaksikan kejadian ini. Kenapa tadi ia membawa Selya? Jika saat ini Selya di rumah pasti aman. Salahkan Daniel yang terlalu bodoh ini.


"Haha ... kau salah Daniel jika aku melukai Selya sama saja aku melukai dirimu, dan jika aku membunuh Selya pasti kau akan tersakiti kembali dan aku akan sangat senang melihat penderitaan dirimu dibalik jeruji besi,"


"Sedikit saja Selya terluka aku pastikan kau mendapatkan balasan yang sangat mengerikan," ancam Daniel.


"Aku bukan anak kecil yang akan takut dengan ancaman itu."


"Daniel ... tolong, aku sangat takut."


"Kau dengar rintihan memilukan Selya, Daniel bagaimana? Mau bermain sebentar."


Selya menggeleng menatap Daniel dengan permohonan. Kakinya lemas untuk menopang berat badanya, rasanya ia ingin pingsan saja dan siuman ketika sudah berada didekapan sang suami.


"Jangan berani menyentuh Selya."


Daniel maju selangkah berusaha menggapai Selya, tetapi Varo terlalu peka sehingga memundurkan langkahnya dengan Selya yang masih berada di kukungan tangan milik Varo.


" Berani melangkah akan aku lenyapkan bayimu." Varo meletakkan tangannya di perut Selya.


Daniel geram. Tidak akan Daniel biarkan jika sesuatu terjadi pada calon anaknya, meskipun itu sahabatnya sendiri.


Selya semakin menangis. Takut dengan ancaman Varo. Bagaimana jika Varo melakukan apa yang ia katakan.


"Tidak aku mohon," ucap Selya.


"Varo berhenti." Daniel melangkah maju.


Akhh!


Teriakan kesakitan Selya membuat Daniel marah. Bagaimana bisa Varo setega itu ingin menggugurkan kandungan Selya. Daniel melihat dengan begitu jelas bagaimana Varo meremas kuat perut Selya.


"Hiks tidak jangan." Selya menggeleng merasakan tangan Varo hendak menekan perutnya.


"Varo hentikan aku akan melakukan segalanya tapi lepaskan Selya, aku mohon."


"Wow ... lihat Selya bagaimana suamimu memohon untuk kehidupan anaknya bukan dirimu."


"Dia hanya mementingkan anaknya bukan dirimu. Ingat Selya kau hanya wanita penghasil keturunan bagi Daniel tidak lebih," bisik Varo.


"Omong kosong!" seru Daniel.


Aku lupa akan posisiku, ternyata. Terimakasih Varo sudah mengingatkan diriku akan tempatku berada," batin Selya.


***


Happy reading.


Ceritanya kgk nyambung hehe 🤭 sorry yang ada pikiranku hanya itu. Jangan lupa rate, vote, like, and comment.


Salam sayang dari aku


Sayang kalian banyak banyak 😘🤣