
Salahkah jika Selya mengartikan tindakan Daniel pagi ini terhadapnya adalah awal untuk membangun hubungan baik. Salah jika Selya mulai berharap Daniel menginginkannya. Salah jika Selya berharap Daniel mulai menerima keberadaannya. Tidak Bukan. Namun, semua yang Selya pikirkan memanglah hanya sebuah kesalahan karena sikap yang ditunjukkan Daniel ternyata memiliki tujuan tertentu.
Awalnya Selya berpikir untuk menjadikan pernikahan ini selamanya, tetapi setelah berpikir ulang Ia ragu akan pemikirannya, dari awal pertemuannya dengan Daniel. Selya sudah menebak bahwa pernikahan yang akan Ia jalani akan terasa berliku. Ketakutan ada di dalam hatinya.
Saat itu Selya sudah akan beranjak meninggalkan kantor. Akan tetapi, Selya lupa untuk memberitahu Daniel agar pulang lebih awal karena orang tuanya akan tiba nanti malam. Ia berbalik menuju ruangan Daniel, setelah keluar lift Selya tidak melihat keberadaan Kiran, maka Selya memberanikan diri menemui Daniel, lagipula tidak ada salahnya Ia menemui suaminya.
Pintu ruangan Daniel sedikit terbuka sehingga melalui celah Selya dapat melihat Daniel dan seorang pria yang sedang terlibat perbincangan. Ternyata tindakan yang Selya lakukan untuk mendengar perbincangan kedua pria tersebut adalah sebuah kesalahan. Andai waktu bisa diulang Ia tidak ingin kembali dan mendengarkan perbincangan yang sangat menyakiti hatinya.
Dimana sang suami sendiri yang menyakiti hatinya dengan perkataan yang menusuk sampai ke dasar lubuk hati.
"Aku lihat ada perempuan yang keluar dari sini, siapa?" tanya pria dihadapan Daniel.
"Selya," balas Daniel.
"Dia istrimu, 'kan? kenapa tidak mengenalkan aku padanya?" pria tersebut terlihat antusias.
"Untuk apa? dia hanya sementara," kata Daniel.
"Kau tidak ada niatan untuk memperkenalkan dia sebagai istrimu terhadap semua karyawan?" tanya pria tersebut.
"Dia hanya alat untuk tujuanku, lagipula memperkenalkan dia tidak akan merubah sesuatu," Daniel berkata datar.
"Apa kau masih belum bisa melupakan Winda?"
*Deg
"Apakah Daniel memiliki kekasih?" batin Selya*.
"Sudah aku bilang jangan pernah mengatakan namanya dihadapan ku!" seru Daniel terpancing amarah.
"Kenapa tidak. Dia kekasih yang sangat kau cintai, 'kan." Senyum terbit di bibir pria tersebut.
"Varo!" marah Daniel mencengkeram kerah kemeja Varo.
"Kenapa? perkataanku tidak salah bukan. Kau sangat mencintainya atau sekarang kau sudah mencintai istri kontrakmu?" Varo memiringkan kepalanya tersenyum puas melihat kemarahan Daniel.
"Aku tidak akan mencintainya sampai kapanpun, kalau bukan karena tuntutan untuk memiliki pewaris aku tidak sudi menikahi wanita licik seperti dia!" Tatapan mata Daniel menyiratkan kebencian.
"Berarti kau masih mencintai Winda." Varo tersenyum.
Cukup sudah Selya mendengar perbincangan kedua pria tersebut. Ia tidak bisa mendengar kalimat yang akan dilontarkan Daniel. Begitu rendah dirinya di mata Daniel. Ia hanya dianggap sebagai alat oleh suaminya sendiri.
Selya melangkah mundur menjauh perlahan dari ruangan Daniel. Menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara, berlari sejauh mungkin dengan derai air mata
Keluar dari gedung perusahaan Ia segera memasuki mobil yang akan membawa dirinya pulang ke rumah keluarga Haston. Rumah yang akan memberi Selya begitu banyak penderitaan. Selya diam memandang rintikan hujan yang turun membasahi jalanan melalui kaca mobil seakan langit tau betapa sedihnya Selya. Bahkan air matanya dengan setia mengalir tanpa henti.
Hatinya hancur perasaannya terluka kepercayaannya goyah dan harga dirinya tidak ada arti. Apa lagi yang akan Daniel lakukan terhadap Selya. Dia akan menggoreskan luka dimana lagi atau dia akan menabur garam di atas luka Selya. Entahlah hanya Daniel yang tau apa yang akan Ia lakukan.
Tiba di rumah tangis Selya belum juga berhenti ditariknya nafas dalam dalam dan di hembuskan secara perlahan untuk memenangkan hatinya. Menghapus air mata yang setia mengalir dengan cepat, menengadah ke atas dan mengibaskan tangannya di depan mata. Ia tidak mau terlihat sedih dihadapan Hera atau pelayan lainnya, meskipun Ia tidak bisa membodohi dirinya jika sopir keluarga Haston melihat semua.
"Pak, tolong jangan beritahu siapapun bila saya keluar dari kantor dalam keadaan menangis terutama Daniel," kata Selya sebelum turun dari mobil
"Baik, Nona." Sopir mengangguk.
Selya tidak buta akan keadaan. Ia melihat dengan jelas bahwa sopir sesekali melihat keadaan Selya dari balik kaca mobil.
Turun dari mobil Selya melihat sudah ada Hera di depan pintu dengan langkah berat Selya menghampiri Hera yang sudah tersenyum ramah ke arahnya.
Sampai dihadapan Hera. Selya memberikan bekal makan siang yang sudah kosong dan diterima Hera dengan senang hati.
"Apa nona baik-baik saja?" tanya Hera ketika melihat mata sembab Selya.
"Kapan Papa dan Mama akan tiba? Kita harus membuat sesuatu." Selya mengalihkan perhatian Hera terhadapnya.
"Tuan dan Nyonya menunda penerbangan. Mereka akan kembali 3 hari lagi," jelas Hera.
"Begitu kah," cemberut Selya yang hanya ditanggapi anggukan oleh Hera.
"It's okay. Oh ya Hera aku agak lelah jadi aku akan istirahat," ucap Selya setengah mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Akan saya bawakan makan siang ke kamar Anda," kata Hera.
"Tidak perlu aku hanya ingin tidur sebentar saja," Selya tersenyum menyakinkan.
Hera tidak lagi membantah perintah Selya. Ia melihat ada yang tidak beres dengan istri tuan mudanya sehingga menuruti apa yang diinginkan Selya mungkin Selya butuh waktu untuk sendiri saat ini.
Selya beranjak meninggalkan Hera. memasuki rumah dan berjalan ke arah kamarnya. Ia merebahkan dirinya ke atas kasur dengan posisi telungkup menenggelamkan wajah pada bantal.
Pecah sudah apa yang berusaha Selya sembunyikan. Ia menangis sendiri meluapkan segala rasa sakit yang berada dalam hatinya.
"Hiks ... seharusnya aku ... hiks ... sadar akan posisiku ... di rumah ini," lirih Selya semakin menenggelamkan wajahnya.
"Akhh ... hiks ... betapa bodohnya aku."
>>>
"Apa yang aku lakukan!" Marah Varo pada dirinya sendiri.
"Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu," lanjutnya.
"Kau melakukan hal yang benar," ujar Daniel.
"Apa yang benar, seharusnya kau menghentikan aku mengatakan hal itu," kesal Varo melihat Daniel hanya duduk diam.
"Dia pasti tidak mendengar perkataan terakhirmu," kata Varo frustasi.
"Bahwa aku sangat membenci wanita pengkhianat itu." Varo mengangguk membenarkan perkataan Daniel.
"Lebih bagus jika Ia mengira aku masih mencintai perempuan itu," ucap Daniel.
Varo mengangkat kepalanya melihat Daniel yang terlihat begitu tenang setelah mengetahui Selya mendengarkan perbincangan mereka seakan ia tidak mengkhawatirkan sesuatu.
"Aku berusaha agar dia tidak jatuh cinta kepadaku yang nantinya akan membuat dia semakin terluka," kata Daniel.
"Kau membohongi dirimu sendiri, hatimu sudah mulai menerima Selya, tapi kau berusaha menyangkal semuanya," Varo meremas rambutnya frustasi.
Varo merasa bersalah atas apa yang Ia katakan. Jika Ia mengetahui bahwa istri sang sahabat ada di sini mana mungkin Ia akan mengatakan hal seperti itu, tetapi nasi sudah menjadi bubur.
"Aku tekankan sekali lagi bahwa saat ini atau nanti aku tidak akan mencintai dirinya." Daniel berkata santai.
Daniel mengetahui bahwa Selya tadi mendengarkan perbincangan dirinya dengan Varo, maka dari itu Daniel sengaja mengatakan sesuatu yang menyakiti Selya. Ia tidak ingin melibatkan perasaan dalam mencapai tujuannya.
***
Happy reading
Untuk part ini mungkin masih sangat berantakan, jadi aku minta kritik dan saran dari kalian.
Salam sayang dari aku