I L Y

I L Y
Baby Girl



Kebingungan melanda Daniel, tingkah Selya yang diam membuatnya serba bingung. Melakukan ini atau itu bisa saja tidak sesuai dengan kehendak Selya.


Berpikir Daniel, berpikir. Selya istrimu ia tidak akan menolak perkataan mu. Batin Daniel.


Ibu hamil sangat sensitif. Perubahan suasana hatinya tidak menentu dan yang diinginkan hanya sebuah pengertian, tetapi sepertinya Daniel tidak peka. Tingkat kepekaan pria ini sangat minim, haruskah Selya mengatakannya. Tidak! Egonya terlalu tinggi untuk sekadar mengatakannya. Jika tidak mengatakannya bagaimana Danie bisa mengerti, tetapi gengsi menyelimuti hati Selya.


"Istriku, ibu anakku mau lanjut jalan atau kembali saja, ini belum terlalu jauh dari rumah." Daniel memberi pilihan.


Sejujurnya Selya pagi ini sangat malas melakukan apapun. Ia hanya ingin tidur. Rencananya gagal karena Daniel tidak bekerja. Jalan pagi saja ia malas jika bukan kesal dengan Daniel Selya lebih memilik di kamar bukan menuruti perkataan suaminya.


"Oh ... ayolah Selya. Matahari sudah mulai naik dan itu tidak baik untukmu. Sebaiknya kita kembali." Daniel melangkah kembali ke rumah, sedangkan Selya, sebaliknya ia malah melangkah maju menuju taman.


Dasar keras kepala, semaunya sendiri. Ternyata begitu sulit hanya untuk memahami dirimu. Gumam Daniel.


Ia pun menyusul Selya, membiarkan istrinya di luar sendiri, seperti menyerahkan diri pada bahaya. Bisa saja di tempat ramai Selya diserang, tidak ada yang tau, 'kan.


"Kamu kenapa mendiamkan diriku. Kalau aku ada salah bilang biar aku tau salahku di mana dan akan memperbaikinya, bukan mendiamkan aku seperti ini. Aku tidak tau apa yang kamu inginkan, jika kamu tetap diam. Bilang saja apa yang kamu rasakan," ujar Daniel.


Mendiamkan balik Selya tidak ada artinya. Wanita pasti tambah mendiamkannya lebih parahnya tidak mau melihat wajah Daniel atau bahkan menyerah sebelum waktunya.


Sudah seperti anak remaja saja ketika kekasihnya ngambek harus diberitahu, kenapa tidak introspeksi diri terlebih dahulu. Sadarlah wahai pria kalau wanita selalu benar. Batin Selya.


"Astaga mau sampai kapan kamu tidak bicara, apa kamu masih mengingat kejadian di rumah sakit?" Daniel masih berusaha membuat Selya mau bicara. Istrinya masih diam, di setiap langkahnya Selya hanya mendengarkan tanpa ada niat untuk menjawab. Menoleh pun tidak. Sukses mengacaukan pikiran Daniel.


"Kan sudah aku klarifikasi, seharusnya kamu senang suamimu masih hidup atau jangan-jangan kamu menginginkan kematianku." Selya sangat ingin melayangkan tamparan di pipi Daniel. Apakah Daniel telah melupakan sesuatu? Selya sendiri sudah menangis histeris mendapatkan berita palsu itu.


"Jawab aku Selya! Kamu benar menginginkan kematianku?" ulang Daniel.


Pria itu tidak akan berhenti bicara kecuali Selya sudah mengomeli dirinya. Andai itu sangat mudah untuk dicapai. Butuh kesabaran tingkat tinggi menghadapi keras kepala Selya.


Trik Daniel sepertinya akan berhasil, lihat saja Selya yang berhenti melangkah dan memandang wajah Daniel. Tatapan yang sangat tajam tapi menyiratkan sebuah ketidaknyamanan.


"Ya. Aku sangat menantikannya, aku bisa menikmati uang mu tanpa takut habis. Tidak apa jika aku menyandang status janda, asal bergelimang harta. Kenapa bukan kamu saja yang mati kemarin." Apa yang Selya pikirkan dengan apa yang ia ucapkan sangat jauh berbeda. Pikirannya menyangkal tapi mulutnya membenarkan.


"Benarkah?" Daniel memicing.


Selya tidak menanggapi. Ia kembali melangkah meninggalkan Daniel dengan pertanyaannya. Sampai di taman Selya memilih duduk di bangku bercat putih, memandang sekeliling yang terlihat ramai oleh anak kecil ada juga beberapa lansia dan penjual makanan. Daniel ikut duduk melihat wajah Selya dari samping.


"Aku tidak percaya apa yang kamu katakan. Jadi katakan yang sebenarnya, mengapa kamu mendiamkan diriku, katakan jangan dipendam sendiri. Berbagi denganku aku suamimu," ucap Daniel.


"Selya ini kesempatan terakhir. Jika kamu tetap diam jangan salahkan aku jika aku ikut mendiamkan dirimu," lanjutnya.


Batas kesabaran Daniel hanya sampai di sini. Silakan saja Selya terus diam, Daniel juga bisa melakukannya. Sangat kekanak-kanakan, tetapi ini bisa sedikit mendobrak keras kepala Selya. Daniel mengunci mulutnya, sekarang lihatlah siapa di antara mereka berdua yang mau mengalah.


"Permisi," sapa seseorang.


Daniel dan Selya memandang seorang wanita muda yang menggendong bayi. Ingin menyapa balik, tetapi mereka masih dalam mode diam. Daniel hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ooo ... baiklah tidak apa." Selya mengulurkan tangannya. "Mengemaskan sekali, emm ... girl?" tebak Selya, melihat anting yang terpasang dikedua telinga si bayi.


Ibu bayi itu hanya mengangguk, kemudian meninggalkan tempat itu. Selya sibuk sendiri dengan bayi digendongannya, mengajak si bayi berbicara, bayi itu hanya mengerjapkan mata sebagai respon, mungkin bingung dengan apa yang dikatakan Selya.


"Tidak adil sekali, aku yang dari tadi mengajakmu bicara tidak ditanggapi. Kamu ini pilih kasih," kesal Daniel.


Terbalik sekarang. Daniel sangat kesal terhadap perilaku Selya, sedangkan wanita itu terlihat gembira bermain dengan si bayi.


"Hai baby girl, kamu cantik banget sih. Ihh ... pipinya gembul banget pengen cubit," gemas Selya.


"Kamu tau gak tante hari ini kesal banget, gak tau kenapa bawaannya pengen marah, tapi jatuhnya kesal sendiri, 'kan, tante bingung," curhatnya kepada si bayi.


Oh shit! Apa tadi Selya bilang? Kesal! Damn ... kebenaran memang selalu pahit, tapi kali ini sangat mengejutkan. Hanya karena kesal Daniel sampai uring-uringan. Ia kira Selya marah karena kemarin, ternyata cuma kesal.


"Tapi karena ada kamu di sini, tante jadi gak kesal lagi deh. Tante jadi pengen unyel-unyel, kamu kaya boneka jadi gemas," ucap Selya, sedangkan si bayi hanya memandang setiap pergerakan bibir Selya.


"Sudah diamnya? Gak kesal lagi? Sekarang cerita sama aku," cerca Daniel.


Selya mengalihkan perhatiannya kepada Daniel. Ia sudah mendiamkan suaminya yang tidak tau apapun, sedikit merasa bersalah, tapi anggap saja ini ujian menghadapi tingkah bumil. 8 bulan masih lama dan pastinya akan ada banyak tingkah bumil yang lainnya. Daniel harus bisa menghadapi tingkah Selya.


"Emm."


Apa sekarang jiwa Daniel dan Selya tertukar? Daniel yang biasa bersikap dingin dan datar saat ini menjadi cerewet, begitu sebaliknya Selya yang cerewet menjadi dingin.


"Aku kesal melihat wajahnya saat bangun tidur, kesal sekali hingga menangis. Aku ingin marah tapi tidak bisa dan kekesalanku semakin bertambah saat kamu melarangku bekerja. Aku tidak tau mungkin moodku yang buruk hari ini," ucap Selya.


Daniel yang tadinya hendak berbicara kini diam mendengarkan penjelasan Selya. Anaknya sedang bermain dengan dirinya ternyata, membuat Daniel kebingungan menghadapi keterdiaman Selya.


Ooek ooek


Tangis si bayi membuat Selya kesulitan, ini kali pertama Ia berhadapan dengan bayi. Walaupun ia mempunyai keponakan tapi Selya tidak pernah terlibat secara langsung dalam mengurus keponakan, karena ia dan kakaknya yang berbeda negara.


Tangis si bayi semakin keras hingga wajah bayi itu memerah, suaranya juga mulai serak dan badannya yang terus menggeliat seakan tau bahwa dia tidak berada di gendongan sang ibu. Selya sangat tidak tega melihatnya, tetapi ia juga tidak tau harus melakukan apa, ia minim pengetahuan mengenai bayi.


"Berikan padaku, aku akan menenangkannya. Percaya padaku." ujar Daniel.


***


Happy reading.


Aku up untuk hari ini, tidak janji untuk besok ya. Ayo donk yang mau kasih krisar boleh banget. Maaf ya kalau ada typo hehe🤭


Salam sayang dari aku