
Malam Minggu Mina
Ini cerita tiga hari sebelum Mina bunuh diri.
Sore ini sudah keesokan harinya setelah tadi malam aku tidak bisa tidur, karena senyum mengerikan Mina Palsu di pinggir sungai masih terbayang saat aku menutup mata.
Sepanjang malam bergulir, aku hanya diam di balik selimut, pori-pori dan bulu kudukku tegang hingga ke subuh. Mataku segar dan enggan terpejam semalaman, menatap langit-langit kamar, karena tak bisa melupakan apa yang terjadi kemarin sore dengan Mina entah yang mana.
Tanpa sebab dan perintah, merinding meraba sekujur tubuhku hingga rasanya menggelitik ke leher, lagi. Bahkan aku kerap kali menoleh ke arah jendela, karena merasa ada yang berdiri dan melotot ke arahku. Pintu yang belum terkunci, seolah ada yang mematung di sana mengawasiku. Langit-langit kamar yang kurasa ada sesuatu yang hinggap dan memutar kepalanya ke arahku.
Sampai ke pintu kamar mandi, yang kutakutkan ... ada yang muncul dan tersenyum seperti Mina.
Apa ini paranoid? Aku tidak tahu.
Bahkan aku jadi takut berlindung di balik selimutku sendiri, dimana aku membayangkan Mina menyusup ke selimut yang kupakai, kepalanya menyembul keluar, matanya melotot dari kegelapan selimut.
Semua rasa ini kudapat justru bukan karena merasa sepi, tapi aku merasa ... ada yang lain di rumah ini dan aku tidak sendirian. Apapun itu, kurasa tidak hanya satu. Mereka beraktivitas sepertiku, hanya saja ... tidak terlihat.
Itu memang hanya perasaan dan halusinasi.
Baik siang ataupun malam. Hal-hal semacam itulah yang menyeramkan bagiku. Di mana lagi tempat ternyaman kecuali kamar pribadi? Apa jadinya jika kamar yang paling kita kenal ini, ... dikunjungi makhluk-makhluk yang tak diharapkan kedatangannya dengan maksud lain?
Apa rasanya jika sosok lain itu masuk ke kamar kita. Namun, mengubah wujudnya persis menjadi orang yang kita kenal, mungkin ... Ibu kita? Ayah kita? Atau bahkan adik kita?
Tok-tok-tok.
Deg.
Selayaknya orang hendak kesambet, terkesiap sadarku, mata ini melotot bengis ke arah pintu. Baru saja aku memikirkan hal yang membuatku parno, setelahnya langsung dijawab oleh suara ketukan. Saking takutnya, rasanya ingin aku copot pintu itu agar bisa melihat siapa yang datang tanpa ketukan, tapi---ah.
"Siapa?" kataku agak ketus.
"Ini Mama, Teh."
Kurang ajarnya aku, aku tidak percaya.
"Mama?"
"Iya, Mama buka pintunya ya?"
"I-iya."
Jika kalian tanya anak durhaka mana yang ketakutan dengan pikirannya sendiri dan menganggap ibunya datang malah disangka bukan ibunya? Itu aku. Logisnya, otakku iritasi karena tidak tidur dalam keadaan ketakutan sepanjang malam. Alhasil imajinasi seram terus membayangi pikiranku bahkan pada setiap anggota keluargaku sendiri. Apa kalian pernah seperti ini?
Ibuku masuk dan menaruh beberapa lembar uang di atas meja lampu dan berdiri di tepi kasurku. Aku menarik selimut, menatapnya takut, seperti orang gila yang tak mau diajak pulang dari rumah sakit jiwa.
"Hari ini Mama, Papa dan dua adik kamu harus pulang ke Cikarang. Tiba-tiba Papa ada urusan, lusa balik lagi ke sini. Jadi ... kamu jaga rumah, ya?"
Jleb!
"A-apa? Teteh sendirian di sini?" bantahku tak terima.
"Iya. Mama udah minta Mina ke sini, kok."
Deg!
Kalimat yang tak pernah ingin kusetujui.
Klap ... klap ... klap.
Di ambang pintu, muncul Mina. Entah yang asli atau palsu. "Hai, Yunita," katanya dengan cengiran khas.
Jika kalian melihatku sekarang, aku seperti orang gila yang tidak mau pulang dari rumah sakit jiwa, tapi tak ingin minum obat. Wajah pucat, mataku was-was dan gelagat tak mau disentuh oleh siapa pun.
"Ya udah, berhubung Mina udah datang. Sampai Mama pulang, kamu tidur sama dia, ya? Jajannya udah Mama dobelin. Stok makanan ada di dapur."
Rasanya kakiku gemetar, kebas dan lembab-lembab dingin, tapi ingin lari terbirit-birit. Dorongan alami, orang tua mau pergi, aku hanya mengangguk takut, lalu mencium tangannya. "H-hati-hati, Ma."
"Iya, Sayang. Assalamualaikum?"
"W-waalaikumussalam," sahutku.
Di ambang pintu, Mina tak menjawab sama sekali, mata yang bulat itu memperhatikan langkah ibuku dengan serius. Aku menatapnya lebih teliti lagi, demi memastikan dia ini Mina atau bukan. Sedangkan bulu kudukku tidak bisa berbohong, aku ada di kondisi tidak nyaman.
Mina masuk, menaruh tasnya di sisi meja lampuku. Menghampiriku dan duduk di tepi kasur. "Yun? Kamu kenapa? Kok kaya ketakutan gitu?"Lalu ia tersenyum.
Ah, aku jadi benci setiap melihat Mina senyum.
Aku jadi berusaha biasa saja. "A--ah, nggak kok. Perasaan kamu aja, kali," Alibiku langsung teralihkan ke arah dada dan leher Mina. Nampak merah-merah kebiruan, agak lebam pula. "L-leher kamu kenapa? Kok lebam, Min?"
Dia menyentuh lebam itu dan tersenyum. “Nggak apa-apa."
Sudah naluriku menganggap kalau ada orang yang bilang tidak apa apa, pasti sudah terjadi apa-apa. "Hmm ... ya udah, kalo kamu nggak mau kasih tau. Aku ke kamar mandi dulu, ya. Kamu tiduran aja. Entar kita makan," ucapku bangkit, berusaha mengurangi kecurigaanku pada Mina.
"Yun!" kaya Mina menegurku saat melangkah menjauh, "K--kamu 'bocor' tuh!" tegurnya cukup panik.
Aku pun ikut panik bukan main dan berbalik setengah badan melihat bokongku. Ternyata ada spot darah yang cukup besar di sana. Ini menandakan bahwa aku mulai masuk masa haid. Dimana aku akan lebih sensitif dan tidak tenang tidurnya, karena gelisah pada sesuatu yang tak terlihat.
Aku berlari ke kamar mandi, alih-alih hendak membersihkan hal ini secepat mungkin. Namun, kenyataannya, aku lebih takut pada tatapan Mina.
Sepuluh menit berlalu, itu pun rasanya aku ingin tidur di dalam kamar mandi saja dibanding harus satu kasur dengan temanku yang sekarang menjadi aneh itu. Akan tetapi akhirnya aku keluar agar bisa menerima bahwa ia Mina. Bagaimanapun juga tidak ada yang tahu, 'kan, dia Mina atau bukan? Jadi aku hanya harus mengamati dan berhati-hati.
"Min? Masak, yuk?" ajakku. "Laper, nih."
Mina bangkit dan menjawab,"Kamu tunggu sini aja, biar aku yang masak. Aku gak enak, lah, masa tinggal di rumah orang, tapi makanan juga dibuat sama tuan rumahnya.”
Itulah ciri khas Mina yang asli, merasa tak enak hati.
Tak sadar aku menjawab, "Oh ... oke. Kamu gapapa masak sendiri?" tanyaku memastikan. Padahal aku juga tak mau menemaninya masak, "Kalo ada apa-apa panggil aku, ya?"
Dia mengangguk. "Oke, tunggu aja. Aku masakin makanan yang enak." Lalu bangkit dan pergi keluar menuju dapur. Meninggalkanku sendirian di kamar.
Dorongan hati kembali keluar, petunjuk itu mengarah ke tas yang dibawa Mina. Tas yang tak cukup besar, tapi membuat mata dan hatiku memaksa untuk memeriksanya. Lantas dengan kelancangan, aku ragu-ragu menghampirinya seolah takut tas itu akan meledak jika disentuh, sembari mengecek kondisi, apakah Mina tiba-tiba kembali ke kamar atau tidak.
Kubuka resletingnya perlahan ....
Deg.
Jantungku mendebam berhenti. Mulutku menganga. Sebab yang kulihat bukanlah beberapa setel baju. Kalian tahu apa? Di dalamnya ... aku melihat ada seikat lingkaran tambang tebal yang panjang. Lalu ada plastik bening yang dikenal orang yang mau berziarah. Ya! Sebungkus bunga makam!
Ini bukan hal wajar.
Ada apa Mina membawa ini? Dan hal terakhir yang kulihat sebelum di bawahnya ada baju-bajunya yakni sebuah buku. Sepertinya Diary bersampul kulit berwarna merah jambu.
Aku lancang, karena aku sangat cemas. Kuambil hapeku, untukku potret isi tasnya. Bukan tak berani, aku tahu pasti Mina akan membuka tasnya kapan. Jadi kalau pun harus kuambil, mungkin akan kuambil tengah malam nanti. Lalu kusembunyikan di tempat yang tak bisa dijangkaunya.
Cekrek.
Kemudian aku langsung menutup kembali resletingnya, memposisikan tas ke posisi semula, membereskan kasur, demi mengusir kekhawatiranku atas apa yang kulihat barusan. Otakku berkeliling, terus bertanya, apa yang akan dilakukannya dengan bunga makam dan tambang itu? Otak liarku berkhayal bahwa Mina akan mencekikku, mengikatku dengan tambang, menguburku di belakang rumah dan menaburinya dengan bunga makam.
Lalu ia akan menuliskan kematianku seperti pada Death Note. Kalian pikir aku gila? Ya, aku juga berpikir begitu.
Lima belas menit kemudian.
"Makanan siap ....” Mina datang membawakan dua piring berisi Mie Goreng berbumbu buatannya. Aku sampai curiga dalam makanan ini ada apa-apanya. Apa aku akan mati diracuni? Diikat tambang dan dikubur-- ah lupakan.
"Waaah ... pasti enak." pujiku, dengan selera makan yang hilang. "Terima kasih banyak, ya ... kamu pintar masak."
Kami pun makan bersama. Sejalan hari sudah semakin gelap. Suara jangkrik dan kodok bersahut-sahutan nyaring dengan khas demi menemani sunyinya perkampungan ini. Jam dinding sudah berputar cukup lama seiring makananku habis dan interogasi intens demi memastikan dia memang Mina ... atau bukan. Hasilnya 50:50. Dia memang Mina, tapi saat mengingat tasnya, aku mengira ia bukan Mina. Tolong aku.
"Sudah jam sepuluh," sebutku. "Gak kerasa ya kita ngobrol lama banget? Sampe lupa waktu, gini."
Mina menjawab, "Ah, nggak apa-apa. Aku seneng kok."
"Tidur, yuk?" ajakku. Sebenarnya niatku, aku ingin ia tidur dan aku mengambil barangnya. Sampai ia tidur, aku akan pura-pura memejamkan mata. "Besok kita bisa jogging."
"Hayu," sahut Mina.
Aku mematikan lampu kamar dan hanya menghidupkan lampu meja. Kami memasukan kaki ke dalam selimut dan tidur berhadapan, niatku agar ia merasa aku sudah tertidur. Ia pun memejamkan mata. Kurasakan jantung ini seperti berdegup kencang hendak loncat dari dadaku. Aku membuka mata dan memperhatikannya dengan hati pegal. 'Ini siapa, sih?' kata hatiku dengan kesal.
Mina membuka mata.
Deg!
"Kenapa, Yun? Kok kamu liatin aku tidur? Kamu belum ngantuk?" tanyanya sambil menindih punggung tangan di pipinya, menghadapku. "Kalo kamu tidur, aku tidur."
"E-mm. Engga, aku cuma gak nyangka aja bisa tidur sama kamu. Sampai lusa, lagi." Nyengir, padahal ketakutan.
"Ya udah yuk? Tidur?" pintanya.
Aku mengangguk dan memejamkan mata lagi. Tidur ayam, begitu. Dia juga menutup matanya. Aku pun balik badan memunggunginya dan kembali membuka mata dengan alis bertautan. Aku semakin gelisah. Karena masih tak tahu siapa yang satu kasur bersamaku, siapa yang tidur menghadapku ini? Apa ia Mina? Jangan sampai deh aku melihatnya tersenyum seperti yang di tepi sungai lagi.
Dua jam sudah aku melotot karena tak bisa tidur.
Mungkin ini saatnya aku beraksi.
Kratak ... kratak.
Tubuhku terkaku, mendengar suara ada seseorang yang menyongkel lubang kunci pintu kamarku. Sementara tak ada yang bangun dari kasur, jika bukan aku, apa itu Mina?
Mina masih di sampingku.
Jantungku berdetak tak tahu nyawa.
Gagang pintu naik-turun secara brutal.
Jgleg! Jgleg! Jgleg! Jgleg! Jgleg!
Di tengah gelapnya kamar ... ada yang menekan dan berusaha membuka pintu yang terkunci secara paksa, hendak menyakitiku dan Mina. Sangatlah keras usahanya, seolah gagangnya akan patah sedetik kemudian. Namun, Mina yang membelakangiku itu tidak bangun! Apa lagi-lagi ini hanya imajinasiku?
Senyap.
Gagang pintu itu berhenti dan menyisakan hening.
Sekarang yang kudengar hanya irama detak jantungku sendiri. Dadaku yang kini naik turun sesak. Napasku bergetar sambil berpikir positif atas apa yang terjadi pada gagang pintu. Halusinasi, tapi otakku menolaknya. Untung saja aku sudah menguncinya. Kalau tidak, mungkin sesuatu itu akan masuk.
Namun, ternyata aku salah.
Hawa orang ketiga itu hadir.
Di dalam kamarku, kami jadi tak lagi hanya berdua. Karena sudah berdiri sosok Mina yang lain di pintu dengan rambut acak acakan, wajah keriput seolah hendak jatuh dan mata bulat yang menyala. Tapi Mina yang menginap itu masih tidur di sisiku. Oh, Tuhan, mengapa ini terjadi lagi? Siapa wanita itu? Mana Mina yang sungguhan! Aku sempat mengucek mataku, dan mengatur napasku barangkali memang halusinasi. Seolah aku akan gila besok.
Tuhan ... tolong tenangkan jantungku.
Hawa kamar yang tadinya sejuk, jadi agak hangat. Tubuhku yang tadinya dingin menjadi terasa panas di dalam, butiran keringat membayang di dahi Cari aman, aku pura-pura tidur, dengan mata sedikit mengintip. Dengan harapan sosok itu tak melihatku menontoninya, agar aku bisa melihat apa yang dilakukannya. Tak bisa bohong, tubuhku gemetar di dalam selimut.
Mau lihat apa yang kulihat?
Sosok Mina yang kulihat dalam gelap ini, sangatlah jelek. Wanita seusiaku yang memakai baju yang sama dengan Mina. Tubuhnya kurus kerontang hingga terlihat bentuk tulang di tubuhnya. Jemarinya lentik dengan kuku panjang. Wajahnya keriput dan kelopak matanya turun. Bibirnya kering dan senantiasa nyengir. Bukan nyengir biasa, tapi.
Ingat bagaimana Mina nyengir di tepi sungai? Nah.
Ya. Di dalam kegelapan, gigi putihnya terlihat. Senyum lebar hingga ke telinga itu memancarkan hawa menyeramkan dengan mata melotot, namun kepolak yang kendor yang membuat matanya terlihat setengah, namun menyala. Aku tak tahu harus bagaimana mendeskripsikannya. Yang jelas, dia seram, dengan senyuman yang ... begitu Creepy dalam remang-remang gelapnya kamarku.
Dia bergerak maju!
Berjalan dengan tergopoh-gopoh yang siap patah ke arah Mina, seolah siap menerkamnya. Seperti dalam mimpi yang nyata, aku merasakan pusing seperti pelipisku ditusuk-tusuk, niat teriak bungkam karena terlalu takut. Langkahnya seketika terhenti ... kudengar ia mengendus-endus, menoleh ke arah kamar mandi.
Ah tidak!
Ia pasti mencium bekas halanganku! Aku sangat takut saat membayangkan makhluk tak kasat mata mengganggu apapun yang berasal di tubuhku. Aku selalu membayangkan bagaimana mereka suka darah, dan menjilat darah itu dari pembalutnya langsung .. Eewh!
Dia benar-benar masuk ke kamar mandi. Badan kurusnya makin terlihat saat tersorot lampu kamar mandi yang agak berwarna oranye itu.
Beberapa menit setelah aku hendak pingsan ketakutan, Mina yang jelek itu keluar dari kamar mandi dan langsung tercium aroma amis. Aku lantas langsung menangis dalam diam. Dia pasti melakukan apa yang kubayangkan. Aku tak rela jika darahku diperlakukan seperti itu! Amis menusuk hidung dan membuatku mual tak karuan.
Siksaan batin selanjutnya, makhluk jelek itu turun ke lantai, dan merangkak secara aneh menuju kolong kasurku seperti laba-laba. Dengan gerakan patah-patah ia masuk ke kolong kasurku. Entah apa yang dilakukannya jika ini kasur lantai. Yang jelas aku tiba-tiba mendengar gemuruh di langit-langit kamarku.
Apa itu tikus? Yang jelas tubuhku semakin meringsut saat membayangkan makhluk itu ada di kolong kasurku. Aku masih tak bisa membayangkan jika kasurku tak punya kolong, mungkin sekarang ia menindihku dan senyum creepy di atas wajahku.
Bunuh saja aku, Tuhan!
Aku langsung menutup mata saat melihat ia keluar dari kolong kasur, kepalanya menyemb tepat di sisi wajahku. Aku bisa merasakan hawa panas hingga ke kuping. Semakin menjauh, makhluk itu menghampiri lemariku. Sebenarnya apa sih yang sedang ia cari?!
Ceklek ... brub.
Ia membuka lemariku.
Tangan kurusnya yang keruput itu meraih baju-bajuku, tapi hanya sekedar menyentuhnya. Merabanya seperti tengah mengelus sesuatu ... sumpah demi apapun, akan kucuci semua baju itu besok. Kalau perlu dengan lemari-lemarinya sekalian! Karena jangankan hantu, manusia yang berani menyentuh bajuku saja, akan kugampar dan marah bukan main.
Mataku membelalak, tangannya menggeledah laci khusus penyimpanan celana dalamku! Dan kalian tahu? TIBA-TIBA AKU TIDAK BISA TERIAK! Mulutku terbuka sangat lebar dan menarik pita suaraku untuk menjerit, tapi tak ada sepatah jerit pun keluar dari mulutku. Sampai-sampai aku memukul tenggorokanku karena kesal.
Hantu, mungkin setan itu ... menciumi celana dalam yang di ambilnya. Dan mengendus-endusnya penuh suka. Ewh! Aku langsung menangis tanpa suara melihatnya mencumbui dalaman milikku. Setan kurang ajar! Kalau kalian tanya lebih memilih dicekik atau dicuri celana dalam kalian, maka aku lebih memilih dicekik!
"Mamaa! Mamaaa!" jerit hatiku.
Kepalanya perlahan menoleh ke arahku dengan tidak santai. Dia memergokiku menontoninya. Matanya yang bulat itu menyala seperti mata kucing dalam kegelapan. Mulutnya terbuka seperti terowongan yang gelap, seakan tak suka aku memergokinya melakukan pelecehan, halah.
Apa yang kurasakan saat menatap mata menyalanya? TUBUHKU TIDAK BISA DIGERAKKAN! Wah aku benar-benar terkunci energinya oleh dia yang merasa aku lemah dalam keadaan haid. Sedikit demi sedikit napasku tersendat. Ubun-ubunku rasanya hendak meledak, tubuhku berat dan mati rasa, seperti ditindih oleh oleh dewasa. Aku erep-erep!
Dalam diriku yang seperti mati ini, aku berontak bukan main. Teriak tidak bisa, bergerak pun tidak mampu. Napas tinggal sisa dan air mata menetes dari sudut mataku. Bahkan Mina yang ternyata asli itu tidak bangun.
Aku membaca-baca doa keselamatan keras-keras dalam hati. Menutup mataku erat-erat, jika saja malam ini aku mati, setidaknya aku mati dalam keadaan berdoa. Makhluk mata menyala itu menciumi apa yang dipegangnya sembari memelototiku dengan mengerikan. Mulutnya yang tadinya terbuka lebar, gelap tanpa gigi itu kini kembali bergigi dan tersenyum lebar, sangat lebar hingga tak terlihat ada daging pipi di wajahnya. Matanya yang menyala tak pernah nyaman membuatku bergerak. Aku akan benar-benar mati sekarang.
Deg ... Deg ...
Deg ... Deg ....
Deg … Deg ....
Brug!
"HWAAAAAAAAAA!!!"
Aku langsung bangkit dari terbaringku pagi ini. Mengecek dan meraba tubuhku apa masih utuh atau tidak. Kulihat sekeliling, pintu lemari masih terbuka, pintu kamarku yang tadinya terkunci jadi terbuka lebar. Mina sudah tidak ada di sisiku. Kemana gadis itu?
Aku terperanjat dan loncat ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ini, kulihat ada sebuah celana dalam, bukan milikku, yang menggantung di sebuah paku. Aku meraihnya dan mengamatinya. Sepertinya ini milik Mina.
Saat kulihat secara keseluruhan.
Di tengah celana dalam itu, ada sedikit bercak darah.
Aku buru-buru keluar kamar mandi dan menemui Mina yang baru saja selesai memakai bajunya. Ia menoleh ke arahku dan senyum agak kaget karena aku tiba-tiba muncul. "Yun? Aku kira kamu ke mana. Ternyata dari situ."
Mataku berkaca-kaca ketakutan bukan main, "M-mina? Ini punya kamu, ya?" dengan suara bergetar ingin menangis.
Ia berwajah ceria dan menghampiriku, "Wah iya, punyaku." Lalu setelah ia melihat bercak darah yang kulihat. Ia pun kembali menunjukkan senyum manisnya.
Aku meneteskan air mata, "I--itu darah apa? K--kamu haid?"
Wajah Mina nampak sangat bahagia, ceria dan riang setelah mendengar pertanyaanku. Wajahnya memerah seperti menahan dan hendak menyemburkan tawa ke hadapanku. Dan aku bingung apa yang menurutnya lucu.
"M-Mina?--"
"Bwaaaaaahahahahahahaha!!!"
Deg!
Tawanya meledak di hadapanku.
"Aaahahaha! Ahahah!! Aduh, hahaha!"
Aku mematung dalam sesak, saat melihatnya tertawa terpingkal-pingkal sampai tak sadar menjatuhkan apa yang dipegangnya tadi. Aku masih bingung dan mencari apa yang lucu dari kejadian malam ini dan barusan. Tidak ada sama sekali yang lucu. Bahkan kalian akan kehilangan kotak tertawa kalian sejak saat itu.
Apa Mina sedang kambuh?
Bersambung...