
Gengs, kalian inget kejadian Edel bakar buku tugas Kirana—Ketua sekaligus saingan di kelasnya, karena buku lembar tugas Matematikanya disobek, ‘kan? Balasan yang sangat lebih dari cukup, ya, kan, buat membayar perbuatan Kirana saat ini? Bayangkan saja ... buku tugas Matematika kalian yang isinya tugas dan nilai dari dua semester yang gurunya killer ... tiba-tiba hilang, tanpa tahu ternyata sudah lenyap dibakar? Aku sendiri tentu akan sangat syok dan panas dingin!
Dalam hati, aku menyalahkan perbuatan Edel, tapi di sisi lain perbuatan Kirana tidak bisa dibenarkan.
Aku yang berjalan kaki setelah turun dari angkot kebetulan melihat Edel memasuki gerbang rumahnya. Aku yang untuk beberapa hari ini menjadi teman serumah Edel merasa harus menegurnya. Namun, aku tak bisa langsung membahas perbuatannya tadi setelah melihatnya dilingkupi hari buruk dan perbuatan buruknya sendiri. Apalagi dia benar-benar mendengarkanku. Talk less do more.
Ya, tapi nggak gitu juga, ya, ‘kan?
Ceklek ... brug.
Suara pintu mobil tertutup.
Langkah terhenti di ambang gerbang rumah megahnya saat melihat dua mobil hitam terparkir di halamannya yang luas. Aku akan sangat merasa asing, jika memang ada tamu atau keluarga Edel datang hari ini. Alih-alih kabur dan Edel sendirian, ibunya juga pasti belum pulang, aku pun ikut masuk ke rumah Edel dengan rasa sakit perut.
"Asalamualaikum ...," kataku sembari melongokkan kepala ke masuk, seolah aku juga tamunya Edel yang baru datang.
Edel dan beberapa tamunya lantas menoleh ke arahku. "Waalaikumussalam.”
Demi apa pun, aku tak berniat mengamati. Namun, beberapa detik setelah mataku berpapasan dengan orang di sekitar Edel, aku sadar bahwa mereka ganteng. Sepertinya mereka lebih tua, dua atau tiga tahun di atasku. Jumlah mereka ada tujuh orang, tampan seperti anggota boyband hits. Tinggi dan berpakaian jas yang rapih.
Mereka semua tersenyum ke arahku.
"Yun, kita ke kamar aja, yuk?" ajak Edel mengulurkan tangannya dan meninggalkan lirikan kesal pada saudara-saudaranya, aku pun menggandengnya dan ditarik ke lantai dua menuju kamar Edel.
Cebruk!
Edel nampak sangat emosi. Seumur-umur baru kulihat wajahnya penuh ekspresi. Aku tidak tahu siapa kakak-kakak cogan tadi, tapi Edel seolah sangat kesal dengan kehadiran mereka. Kalau ibuku tahu aku berada di rumah yang isinya ada cowok ganteng lebih dari satu, ibuku pasti akan histeris.
Edel menghadapku menyiapkan kata-katanya dengan sorot mata bengis. "Yun, kalau, kalau misal mereka ajak kamu ngomong, jangan dijawab, ya?" tuntutnya. Aku sama sekali tak berkedip, bingung harus mengangguk atau menggeleng kepala, "Pokonya aku bakal marah kalo kamu ngobrol sama mereka!"
Edel menjatuhkan dirinya ke kasur, memejamkan mata dengan wajah frustasi. Aku yang masih pakai tas dan wajah tercengang, lantas terkaku bingung harus bagaimana, apalagi dengan semua pertanyaan di otak.
Tring! Tring!
_______
Bu Azalea
08226543***
5 detik yang lalu.
Asalamualaikum?
Yunita? Saya harap kamu tidak kaget, hari ini saya sengaja mendatangkan sepupunya Edel untuk menemani kalian. Mungkin yang datang tadi tujuh orang, tapi yang menetap pasti hanya tiga orang. Saya tidak pulang dua ke depan. Juga, saya harap kamu temenin Edel selalu ya gimana pun kondisinya? Dia butuh kamu. Tolong, ya?
_______
Aku jelas sudah terlanjur kaget saat melihat mereka berhadap-hadapan dengan Edel di ruang tamu sesaat kakiku melangkah masuk. Rasanya aku ingin pulang saja jika semakin hari persoalan Siapa Edel makin aneh dan seperti alur di sinetron. Tapi, ini amanah, Edel temenku, maka aku harus menepatinya.
Masalahnya ... mengapa Edel terkesan tak suka dengan kehadiran mereka?
"Del? Aku.. ganti baju dulu, ya?"
Edel menoleh ke arahku. “Tapi abis itu ke sini lagi, ya?"
"Iya."
Ceklek, brug.
Aku mengangguk dan pergi keluar dari sana dengan perasaan aneh. Entah mengapa sesaat setelah melihat ekspresi Edel barusan, kelakuannya di sekolah dan saat sebelum ia berubah, aku sudah merasakan beberapa keanehan. Entah kalian menyadarinya atau tidak, keanehannya sangatlah jelas.
Deg!
Aku menatap kamar yang masih sepuluh langkah jaraknya. Sudah berdiri tiga cowok, kakak-kakak atau om-om, aku tak tahu pasti, yang jelas mereka ganteng lah, berdiri di depan pintuku dengan wajah cemas. Rasa melilit tiba-tiba melintir isi perutku. Kaki ingin lari. Jantung berdegup kencang. Serasa mau pipis, tapi ‘kan mereka bukan orang jahat.
Aku pun memberanikan diri, bagaimana pun ini rencana Bu Azalea. Ayahnya Edel pun belum juga kembali setelah kejadian dibuat lumpuh oleh Edel tempo hari.
Aku sudah berada di depan mereka yang dua jengkal lebih tinggi dariku, aku memegang gagang pintuku. “Permisi, ka—"
Drb-
Satu tangan kekar menghalangi ambang pintu yang belum semat kubuka, ketiganya memperhatikanku seperti akan menggigit, ia bicara agak pelan. "Kamu Yunita?"
"I-iya, Kak."
Kakak berjambul lepas itu menjawab, "Saya Handa."
Lelaki dengan poni seperti Oppa Korea membalas, "Saya Danendra, panggil aja Andra."
"Saya Axel."
Aku merasa seperti karakter Anime yang dikerubungi cowok ganteng. Seperti mimpi rasanya bisa melihat langsung sepupu dekat Edel seperti ini.
Kak Andra bilang, "Jangan takut ya sama kita? Kita di sini buat bantu kamu." Lagi-lagi dengan suara pelan. Aku heran kenapa mereka bicara pelan-pelan. Padahal jarak kamarku dan Edel cukup jauh.
Aku dibuat tak berkedip. "I-iya, Kak, terima kasih."
Kakak yang satu lagi, berdiri di kiriku juga bilang, ini kak Axel. "Nanti malam, pintu kamarmu jangan dikunci, ya?"
Jleb.
APA-APAAN OM-OM GANTENG INI?! jerit hatiku.
Sumpah, itu aku rasanya seperti mau pipis di celana. "K-kenapa, Kak? M-mau apa?" ujarku masih takut pada mereka.
Kakak ganteng yang berdiri di depanku, Handa. "Nanti malam, pas Edel tidur, kita bakal ajak kamu ke gudang di mana barang-barang masa lalu Edel ada di sana. Kami mau kamu tau siapa dan apa yang sebenernya terjadi sama Edel yang asli."
Jrrrg—cekrek—
Terdengar pergerakan Edel membuka pintu, ketiganya langsung meninggalkanku dengan gerakan cepat. Sepatu mereka melangkah gesit menuruni tangga tanpa suara yang berarti. Aku tertegun memegangi gagang pintu. Mengulang ucapan mereka di otakku sekaligus terekam wajah tampan mereka yang secara otomatis tersimpan.
Edel melongok dari pintunya, ke arahku. "Y-Yun?"
"Ya?" Aku memasang wajah polos yang malah jadi aneh.
"Kamu ... kenapa belum masuk juga? Nunggu apa?"
Aku melihat gagang pintu yang kupegang dan bergumam dalam hati. "Sepertinya aku harus ikut kakak-kakak itu ke gudang yang dimaksud.”
Edel masih menatapku, dengan gelagapan kujawab, “Tadi pintunya macet gitu, Del. Ini baru bisa kebuka.” Setelahnya berjalan masuk sebelum Edel bereaksi lebih.
•••
Sumpah demi apapun aku tidak bisa tidur sampai pukul satu dini hari hanya karena tidak mengunci pintu dan takut ada yang masuk ke kamarku diam-diam. Aku kembali dari kamar Edel sekitar pukul sepuluh malam, menemaninya maskeran. Sekarang, aku duduk di pinggir kasur sambil merasakan irama jantungku sendiri yang terasa sampai ke seluruh tubuh. Aku bukan detektif yang siap siaga untuk segala kondisi, aku remaja puber yang berusaha menolong urusan teman. Itulah aku.
Ceklek...
Kulihat satu wajah tampan melongok masuk sembari membuka pintu, bicara tanpa suara mengisyaratkanku untuk ikut keluar. Ini kalo di rumah jam segini belum tidur, bisa-bisa disundut obat nyamuk pipiku.
Aku keluar dan melihat mereka bertiga dengan kaos dan celana panjang training. Kami berempat berjalan menuju lantai tiga yang mengharuskan melewati kamar Edel.
Kakak Handa sedikit membungkuk dan bicara agak berbisik di depan wajahku. "Edel itu peka banget sama suara apapun, meskipun cuma langkah kaki atau bayangan yang lewat di depan kamarnya. Jadi, jangan berisik, ya?"
Aku mengangguk cepat, tak menjawab.
Kenapa Edel terdengar seperti mengerikan di mulut mereka?
Kami berjalan dengan langkah mantap tanpa sisa suara. Dibimbing kakak berjambul lepas itu, kami pun menyusuri koridor lantai dua sembari mencari mana pintu gudang dengan langkah dan tatap mereka yang sigap. Aku tidak akan lupa bagaimana heningnya langkah mereka.
Kami pun berhenti setelah cukup banyak mengambil tikungan di lantai dua, sebuah pintu diujung lorong yang agak gelap. Dua di antara kakak berjambul lepas itu menyalakan ponselnya untuk menyorot langkah kami agar tak menyinggung apalagi membunyikan sesuatu.
"Ini dia gudangnya," kata Kak Axel mengeluarkan kunci dari saku celananya. Aku menunggu pintu itu terbuka di sisi Kak Handa dan Andra dengan jantung yang belum juga santuy.
Ceklek..
Kami pun masuk tanpa menutup pintu.
Gudang ini punya cahaya yang agak redup, oranye pula, seperti kandang ayam. Banyak barang-barang bertumpukan di ruangan yang hanya seluas 3x2 meter ini. Debu dan bau usang menyeruak menusuk hidungku. Rasanya ingin batuk, tapi takut terdengar Edel yang jauh di sana, ingin bersin pasti tidak akan jadi-jadi.
Srbb.
Aku kaget saat Kak Handa memegang pergelangan tanganku dan menarikku ke depan sebuah kardus agak besar yang diturunkan Kak Andra dari atas lemari berkaca. Aku bisa melihat wajah cemasku di cermin panjang itu. Setelahnya aku berjongkok di sisi Kak Handa yang kini tengah membuka kardus besar tersebut.
Kak Axel juga bertumpu lutut di belakangku saat melihat kami membongkar isi kardus berdebu itu. Kalau di sini ada kecoa, aku tak akan segan teriak. Untungnya tidak ada. Kak Andra memegangi bola pingpong di tangannya, entah untuk apa. Yang jelas aku tak sabar melihat isi kardus dan maksud dari tiga sepupu Edel ini.
Kak Handa mengeluarkan tiga buah figura foto perempuan yang usianya sekitaran 13 tahunan dari dalam kardus. Rambutnya hitam panjang, tetapi ditata sedemikian rupa yang membuat mereka bertiga berbeda. Mereka semua berwajah sama. Namun, dengan pakaian yang tidak sama.
Aku langsung berasumsi, "E-Edel punya saudara kembar?"
Kak Handa menoleh ke arahku. “Bukan, ini—"
Tlik!
Lampu mati total. Kami terdiam di tempat, dengan hening dan penuh tanya. Siapa yang menekan saklar lampu yang posisinya di belakang Kak Axel?
Kami berempat menoleh ....
Melihat Edel berdiri dan masih memegang saklar lampu.
Napas kami tertahan dan kami tidak bergerak sedetik pun.
Tlik.
Lampu kembali hidup,
Edel menatap kami bengis, lalu berteriak seperti orang gila ke arahku dengan mata melotot. "AAAAAAAAAAAAAAAA!!!"
Kak Andra reflek melempar kencang bola pingpong di tangannya ke arah cermin lemari yang berjarak dua langkah di sisi tubuhku, Kak Handa sontak menarikku agar tak kena pecahan kacanya.
CPRAANG!
Brugh.
Edel tergeletak, pingsan.
"Edel!" seruku hendak menghamiri Edel, tapi Kak Handa menahanku. "K-kak Handa.. Edel pingsan—kita bawa dia—"
"Jangan, Yunita. Sebentar—"
Aku berontak namun masih ditahan.
"Edel!"
Kak Axel geram. “D-Dia cuma pingsan pura-pura, Yunita!"
Deg.
A-Apa?
BERSAMBUNG ...