I Have No Mouth

I Have No Mouth
Dia Bunuh Diri. Part 5 Pergi Secara Diam-Diam



Ini adalah hari dimana Mina bunuh diri.


Setelah membaca dua pesan tadi, aku memutuskan untuk keluar dari sana dan kembali ke meja makan. Bukan untuk makan, tapi untuk memperhatikan Mina. Apakah aku akan membawanya pulang untuk tetap kuajak bersamaku? Kata hatiku setelah mengingat ada Mina Palsu, ayahnya dan Bang Okto ditangkap, aku merasa Mina akan aman.


Mina sudah menatapku dari posisinya. "Aku gak mau pulang ...," katanya dengan nada sekilas manja yang lirih.


"Iya, Min. Kamu pulang ke rumah aku aja," gantiku.


Bu Eulis menjawab, "Kalian singgah di sini dulu aja atuh."


Kang Dana sontak menyahut, "Iya, bener, Teh. Nggak baik dua perempuan tinggal di rumah tanpa ada lelaki atau orang tua. Apalagi orang tua Teteh pulangnya besok, kan?" lembutnya dibalas anggukan bapaknya.


Aku menghela napas, berusaha menyiapkan jawaban. "Terima kasih banyak, Pak, Bu, Kang. Bukannya menolak. Cuma ... Mama udah titip rumah ke saya. Kebetulan Mina diminta tinggal sama saya dan mereka pulang besok. Jadi saya bakal baik-baik aja sama Mina."


Kang Dana menghela napas lembut.


Pak RT menjawab, "Ya udah kalo maunya gitu, kita gak bisa maksa juga .... Sebagai gantinya, karena saya juga was-was sama kondisi kalian. Dana bakal sering datang ke sana hanya sekedar untuk mengecek."


Aku hanya tersenyum karena merasa tak enak. "Kalau begitu, saya sama Mina pamit pulang, ya, Bu, Pak, Kang?"


Mina bangkit dari duduknya, dibuntuti Mina Palsu yang kini menempel di punggungnya. Kami mencium tangan orang tua di sana dan tentunya hanya mengatupkan tangan kepada Kang Dana. Lalu kami pun pergi.


Sampailah di rumahku.


Kubilang, "Sebaiknya kamu mandi dulu," ujarku, "Terus lanjut istirahat. Sampai kamu lebih tenang."


Aku bukan tak ingin membicarakan hal ini. Namun, aku tahu betul Mina bukan orang yang ingin dikasihani dan tak suka jika hal yang baru terjadi kembali dibahas. Pertanyaanku pasti menyangkut, mengapa ia tak bicara soal ini. Mengapa ia rela menjual dirinya pada Adnan. Lain sebagainya, yang pasti ia akan menjawabnya dengan kesal dan mengecapku tak paham apa-apa.


Alhasil aku kembali tak membahasnya.


Satu ganjalan dalam dadaku. Rasanya besar, berat dan panas. Batu ini terbuat dari beberapa hari yang berisi ketakutan yang tak terjelaskan, kebingungan yang bisa membuatku gila dan rasa ingin menangis yang selalu kutahan. Semua itu menyatu dan menggumpal dalam hatiku dan menjadi sangat sesak. Apalagi masalahku bertambah soal Adnan. Aku masih bingung mengapa ia tahu nomorku. Mengapa Mina sempat mengajakku ke acara yang ia bilang Reuni itu. Apa jika aku ikut dengannya, ia akan mengajakku ke rumah Adnan?


Mina pergi mandi tanpa bicara apapun.


Cting!


Cting!


Cting!


Karena kesal dan sedang tak ingin mendengar berisik, kusetel hapeku ke dalam mode 'Jangan Ganggu'. Namun mataku terpaku pada sebuah grup pesan. Yang bertuliskan kapital 'CHILDHOOD FRIENDS', yang bisa diartikan sebagai teman di kala masih anak-anak. Aku bingung. Sebab sejak kecil aku sering pindah-pindahan karena urusan orang tua. Setiap daerah, aku punya teman kecil. Nah, yang membuat grup ini, teman kecilku dari daerah mana?


Kubuka, kusimak tanpa membalas.


Ternyata mereka adalah teman kecilku dari Indramayu. Nomor mereka semua tak pernah kusimpan, namun dalam grup tersebut, nama mereka tertera, lebih tepatnya nama panggilan/julukan kami semasa kecil.


Yayu : Yang baru di add kenapa nyimak~


Icha : Iya nih, Yunita. Sombong amat?


Kevkev : Tinggal di mana dia sekarang?


Yayu : Cikarang, katanya mah.


Dimdim : Libur mah main, Yun, ke Indramayu.


****** : Gue lagi di Sukabumi nih, di rumah ortu.


Lele : Yun jawab yun, jangan sampe gue spam nih grup!


Aku yang tersenyum pun membalas.


Aku : Iya, iya ... apa salahnya si nyimak?


Dimdim : Masih inget kita emang, haa?


Lele : Lagi di mana, Yun?


Aku : Lagi di Sukabumi, nih. Liburan.


****** : Share-loc lah, biar bisa mampir gue. Mumpung lagi sama ade cewek nih. Biar kenalan juga ya kan.


Aku : Ngapain di Sukabumi? Baru tau gua.


****** : Buat nyariin kamu ... ehehe~


Icha : Kemaren temen gue gombal, besoknya mati.


Yayu : Punya hati gada akhlak emang.


Lele : Share-loc yun, biar kalo ngota bisa ke rumahmu~


****** : Ini yang lagi hotspotan gada akhlak.


Dimdim : Merasa terpanggil~


Icha : Dim, lu lagi sama si ******?


Dimdim : Iya, biasa ... ngopi-ngopi santai.


****** : Ciee yang Bluetooth-nya dinyalahin. Colek Yunita.


Aku menautkan alis.


Aku pun langsung membuka bar notifikasi dan melihat Bluetooth milikku tiba-tiba hidup. Entah sejak kapan aku menghidupkannya. Bahkan aku tak melakukan apapun dengan Bluetooth baru-baru ini. Tapi yang jelas, Si ****** tahu dari mana?


Aku : Eh, Btw. Si Yayu kan Ayu. Kevkev, Kevin. Lele, Lena. Icha, Marisa. Dimdim, Dimas. Si ****** siapa, dah?


Yayu : Yah, parah, mpak. Lo dilupain, ***.


Icha : Itu yun, bocah maruk yang demennya narikkin tali sempaknya si Dimas pas SD, dulu. Masa iya lupa?


Dimdim : Paling tajir, paling ganteng ge dia.


Lele : ****** teh Si Adnan, Yun. Lo lupa apa gimana?


Jleb!


Aku menutup mulutku yang menganga kaget. Melotot mencoba mengingat. Jantungku tiba-tiba tidak santai. Perutku melilit mulas. Kepalaku pening. Aku tak habis pikir dan tak pernah menyangka bahwa dia itu Adnan! Terlalu banyak pindah dan punya teman, aku juga pisah dengan mereka sejak SD dulu. Dan kini aku kelas 1 SMA, mereka pasti banyak berubah parasnya. Sudah tidak seperti dulu saat masih gempal dan lucu-lucunya.


Tok-tok-tok!


Deg!


Yayu : Si Adnan pindah-pindahan mulu, kek manusia purba.


Icha : Kata Si Dimas, Si Adnan biangnya komplek ya?


Dimdim : Iya dong, satu basis sama gua. Ehehe~


Lele : Gaya lo basis, basecamp aja di warteg.


Dimdim : Woo, iyadong.


****** : Gue udah di depan rumah Yunita doong~


Yayu : Anjay, ngelancong.


Dimdim : Tathering mati kalo gue pisah dari Adnan. Alhasil, sekarang gue reunian duluan dong sama Yunita.


Jleb!


Kalo memang si ****** itu Adnan, apa benar sekarang ia ada di depan rumahku? Aku masih tak terlalu ingat siapa Adnan. Aku benci nama panggilannya. Bahkan aku tak ingat julukannya sama sekali.


Mina keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar. Namun, wajah lesu dan murung. Naik ke kasur dan mengabaikanku.


Tok-tok-tok.


Cting!


 


Pesan masuk :


+62822274013××


Baru saja


Gue cuma mau ketok pintu doang kok. Jangan takut di apa-apain, ya, Sayang ... Gue lebih suka lo ketakutan di dalam situ daripada gue harus berhadapan dengan cewek sok berani kaya lo. Bakal gue rusak mental lo. Seengganya gue tau lo tambah camtik, gue tau dimana rumah lo.. lo cuma lagi sama Mina.. Pintu belakang gak dikunci.. Yakin udah cek semua kunci jendela? Hehe. Love ya♥️


Jleb!


Rasanya ingin kubanting hapeku sendiri. Masuk ke dalam drama memuakkan seperti ini. Dimana temanku menjadi aneh. Temannya temanku juga ... adiknya Adnan itu, ikut membully Mina. Teman kecilku juga jadi seperti orang gila, bisa-bisanya ia mengancamku dengan mengirim pesan semacam itu! Mengetahui lokasi dan nomor hapeku entah dari mana. Film mana yang ia tiru untuk menakutiku? Benar-benar gila. ********.


Cting!


Aku melirik lagi hapeku di posisi yang sama.


 


Kang Wardana


Baru saja


Teh? Rumah aman, kan?


Tring!


 


Pesan masuk :


+62822274013××


Baru saja


Kalo nggak mau terjadi apa-apa sama Mina ... Ketemuan, yuk? Gue janji deh gak bakal apa-apain lo. Gimana? Sebentar doang kok. Kalo setuju, temuin gue di rumah. Jangan ajak Mina. Pergi diem-diem aja. See ya.


Aku yang memikirkan kondisi Mina daripada diriku sendiri, lantas menyetujui permintaannya. Daripada terjadi apa-apa dengan Mina, lebih baik aku yang terluka. Jika aku harus membuat orang berdarah hari ini, aku akan melakukannya demi membela Mina dan diriku sendiri.


Kalau kalian ada di posisiku, mungkin setuju dengan ini. Sebelum pergi, aku mengambil sebilah pisau dapur baru ukuran sedang di tas selempang miniku. Aku sudah hilang akal? Belum. Tapi sebisa mungkin aku tak akan marah dan membunuhnya. Aku paling tak bisa tolerir orang yang meneror dan membuatku takut.


Sampailah di rumah Adnan.


Aku berani sekali? Ya, demi Mina.


TINGNONG!


Kupencet bel di teras rumah besarnya. Sambil menyiapkan kalimat dan menyusun perlawanan jika pun terjadi sesuatu. Memgumpulkan nyali di hadapan enam orang. Juga satu cewek, adiknya Adnan. Jantungku terasa mati rasa, sampai aku tak peduli lagi dengan irama jantungku.


Ceklek.


Adnan berdiri di hadapanku dengan wajah dingin. "Hai,"


Aku hanya diam, mencengkeram tali tasku dengan hati gondok. Kutahan seluruh emosiku dan berusah lebih tenang. Kalau tidak santai, bisa kuludahi mukanya. Agar tidak terlihat gegabah dan ceroboh, aku sadar kondisi. Apalagi ada sebilah pisau di tasku.


Aku dipersilahkan masuk.


"Jangan banyak bacot," ketusku tak sudi duduk di sofa bersama lima temannya dan satu adik perempuan yang berwajah songong itu, "Gue di sini. Ada perlu apa?"


"Duduk aja, dulu--"


"Gak ada duduk-duduk!" omelku, "Ada apa?!" Aku melipat tangan di bawah dada dengan angkuh. Kami, aku dan Adnan seperti sebuah tontonan. "Langsung aja."


"Ini soal nge-enam-in Mina."


Deg!


"Iya, lo apain sahabat gue?! Sakit jiwa lo, ya?!"


"Dia yang minta demi dapet duit banyak!"


Aku terdiam, telingaku berdenging. "Apa lo bilang?"


Adnan mengatur napasnya, "Mina belakangan ini bilang ke adek gue ... kalo dia butuh duit banyak dalam waktu cepet. Bukan sombong, kalo kita peduli, kita bakal kasih temen lo itu duit kapanpun dia mau. Asal ... ada balesannya."


Aku terpatung.


Adnan melanjutkan, "Dia langsung bilang mau diapa-apain. Mau sama gue aja kek, mau digilir kek, atau di-enam-in pun dia mau asal dapet duit hari itu juga!"


Air mataku menetes.


"Alhasil, gak mungkin dong gue nanggung semua bayaran jatah yang didapet temen-temen gue sendirian? Akhirnya kita patungan ... gue bayar empat juta, sisanya satu juta! Jadi sepuluh juta. Kalo lo mau tau, ya ... dia mohon-mohon dengan alasan takut dipukulin orang tuanya kalo gak bawa duit itu! Jadi sekarang salah siapa?!"


Jleb.


Dreg!


Tanganku mengepal mendorong bahunya agak kasar. "Lo kan temen gue, Nan! Kenapa lo mau-maunya gituin temen gue—"


Stap!


Dia ambil tangan gue. "Lo tenang aja. Kita berenam pake pengaman, kok. Jadi gak ada resiko dia bakal hamil—"


PLAAAK!


Kutamparlah dia dengan sekuat tenaga. Dia hanya diam dengan pipinya yang jadi agak merah karena tamparanku. "Lo gila? Mau pake pengaman atau ngga, hal ini gak bisa dibenerin! Sekalipun lo bayar dia karena kasian, bro, ... lo berenam tuh udah pake dia! Dia kaya gitu karena duit! Coba kalo lo gak kasih ... mungkin judulnya dia gak bakal jadi jual diri—"


"Sekarang lo sepenuhnya nyalahin gue, Yun? Hmm? Lo gak nyalahin temen lo itu? Dia bahkan gak jujur apa-apa ke lo soal ini. Yang penting temen lo itu gapapa dan duitnya dia ambil!" ujarnya merasa dirinya tak salah, begitu juga aku.


Aku menggeleng kepala tak percaya. Sejenak menoleh ke arah temen-temannya yang agak merunduk. Adik ceweknya seperti menahan tangis. Aku bilang, "Nan ... bayangin. Adek cewek lo, butuh duit. Apa lo rela liat dia jual diri, meskipun dia nggak apa-apa? Nggak abis pikir gue."


Dia terdiam.


Aku bilang. "Kalo emang ini salah Mina, gue gak bakal salahin kalian dan aduin ini ke siapapun. Tenang aja."


Aku pergi begitu saja. Membiarkan pisauku terpendam di balik fakta yang aku tahu soal Mina. Tak menyangka? Memang ... tapi untuk orang yang putus asa dengan hidupnya, pasti tahu betul mengapa ini bisa terjadi.


Sekarang sudah masuk pukul lima hampir sandekala.


Ceklek.


Aku memasuki rumah dengan tergesa hendak menemui Mina. Ia pasti sekarang sedang tertidur. Aku tak segan membangunkannya dan mengajaknya debat soal ini. Aku ingin memastikan apa yang terjadi sama dia. Bagaimanpun aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan Adnan.


Kubuka pintu kamarku.


Ceklek—


Jleb.


Mina tak ada di kamarku.


Ke mana Mina? Bahkan yang palsu pun tidak ada di sini. Mataku jelalatan ke mana-mana. Apa dia berjalan sambil tidur? Kurasa tidak. Apa dia di kamar mandi, dapur, ke halaman belakang? Aku tak bisa menemukannya sama sekali. Aku menelusuri rumahku seperti sedang house tour dengan diri sendiri. Tapi tak ada satupun bayangan atau suara selain diriku sendiri. Panik? Linglung lebih tepatnya.


Aku akan melakukan yang biasa kulakukan kala panik pada sesuatu yang hilang ... yaitu mengingat dan menganalisa.


Aku jadi ingat saat pertama kali kulihat Mina setelah kembali dari kamar mandi. Ingatkah kalian tentang Mina bilang ia tak ingin pulang? Pulang ke rumahku sudah. Otakku merespon, apakah Mina pulang ke rumahnya?


Aku berlari kencang seperti tak ingat jatuh. Tak peduli anak-anak yang sedang main bola atau ibu-ibu yang sedang mencuci di kali sambil memperhatikanku. Aku berlari sekuat tenaga, tak peduli akan tersandung atau terperosok ke jurang. Yang penting kulihat Mina, aku tenang.


Tok-tok-tok!


Tok-tok-tok!


Tok-tok-tok!


Aku seperti rentenir yang hendak menagih tunggakan hutang. Aku melongok-longok ke dalam rumah. Tak ada yang merespon. Setelah Okto dan ayahnya ditangkap, rumah ini harusnya tak berpenghuni. Namun, yang kuamati, tidak biasanya lampu depan mati dan lampu dalamnya menyala saat tidak ada orang. Apa ini tidak aneh?


Aku segera membuka hape, berusaha menghubungi ... Kang Dana, pikirku. Dia pasti akan segera datang membantu.


Namun ....


"Teh?" Kang Dana tiba-tiba muncul dan menatapku dengan cukup aneh. “Teteh ngapain ke sini? Lagi cari siapa—"


"Kang, Mina hilang, Kang." Spontanku panik.


"Hilang gimana?" tanyanya mengecek sekitar dan lampu di atas kepala menjadi perhatiannya. "Di dalam ... ada orang?" tanyanya padaku.


Kupasang wajah horor, wajahku pucat saat tahu Kang Dana menyetujui pikiranku, "Ng-ng-ngga tau, Kang. Saya pikir Mina ada di dalam—"


"Ya udah kalo gitu kita dobrak aja," katanya langsung mendobrak pintu itu dengan cukup keras.


Brak.


Aku dan Kang Dana berlari masuk. Kang Dana mencari ke dapur dan aku mengecek ke setiap kamar. Rumah ini tidak terlalu luas dan bertembok warna biru muda. Pintu-pintunya terbuat dari kayu dan atapnya belum diberi gypsum putih, sehingga pemandangan genting dan balok-balok nampak malang-melintang di atas sana.


Crrtt---crrk DEB!


Listrik mati!


Astaga, aku ini takut gelap. Kakiku gemetar, mataku lamgsung berkunang-kunang dan bulu kudukku merinding. Aku masih haid dan merasa tidak nyaman berada di rumah Mina, sangat tidak nyaman. Tempat di mana Mina mungkin berada di sini bersama Mina palsu. Khayalan mengerikan ketika Mina Palsu muncul dengan senyum creepy itu, astaga mungkin aku akan teriak.


Dengan tanpa gengsi karena takut, kupanggil dia. "Kang ...."


Klap-klap-klap.


"Iya, saya di sini, saya di sini ...," katanya agak berbisik sembari menyenteri kami dengan senter dari android miliknya. "Mina sudah ketemu?" Lalu ia menoleh ke arah pintu di depanku dalam keadaan kami yang gelap-gelapan. Lalu ia membuka pintu itu dengan spontan.


Ceklek ... brug.


Hanya ada kamar Mina yang kondisinya cukup berantakan. Aku menutup hidungku karena mencium wangi pandan dan bebungaan semacam kenanga dan mawar yang menyengat. Langkahku pun di awali Kang Dana dan aku membuntutinya. Diary milik Mina tergeletak di atas kasur, sementara bunga makam itu bertebaran di bawah kakiku.


Aku membuka hapeku. Terdapat banyak notifikasi pesan. Ada 102 pesan masuk dan 5 panggilan tak terjawab. Dan semua itu berasal dari nomor Mina. Tak sempat kubuka karena takut, aku pun menyalakan senter terlebih dahulu agar tahu apa yang ada di depanku dan mengurangi imajinasi mengerikan di otakku.


Tlik.


Aku melihat sekitaran ku sendiri.


Puk.


Aku merasa ada yang jatuh tepat ke atas kepalaku. Jika ini cicak, aku akan menangis ketakutan. Kuraba ubun-ubunku, kuraup dengan jari dan kulihat dan--langsung kubuang! Itu sejumput bunga makam! Ini ... jatuh dari atas?


Aku mendangakkan kepala senter ke atas.


JLEB!


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!"


Brug.


Aku jatuh duduk dan meringsut teriak sambil menyoroti Mina yang gantung diri tepat tak jauh di atas kepalaku. Kang Dana terdiam saat melihat Mina dengan wajahnya yang sudah berurat, mata melotot, mulut sedikit terbuka dengan lidah yang sedikit terjulur dengan segumpal bunga yang menyumbat di dalam mulutnya. Hatiku ... hancur lebur. Ganjalan di dadaku makin berat seolah akan tambah besar dan memecahkan jantungku.


Minaku bunuh diri!


Bulu kudukku hendak copot karena merinding. Aku masih terus mendangak menatap ke arah wajahnya kalut sambil teriak histeris dan menangis bukan main. Tubuhku bergetar hebat. Kang Dana terjongkok tepat si sisiku dan menelpon seseorang. Tangisku menggerung-gerung dengan air mata yang turun seperti air hujan. Tubuhku lemas, dadaku sesak, kepalaku pusing, napasku terbatas sembari terus melihat badan Mina menjuntai hilang bobot di atas sana.


Tangisku menggema seisi rumah., "MINAAAAAAAAAAAAA!! AAAAAAAAAH---hiks! AAAAAAAAAAA-uhuk! MINAAAAAA!!!" Air mataku terus mengalir deras.


Tak ada yang bisa kukatakan selain menjerit memanggil namanya agar ia menjawabku dan segera turun dari sana. Kukeluarkan suaraku sekeras sebisaku. "MINAAAAAAAAA!!!"


Jantungku sudah serasa hancur lebur. Aku seperti mengamuk dan memukul-mukul lantai dengan tangan kosong, menendang-nendang udara dengan kalab. Sambil terus berseru dengan perihnya. "MIIINNNAAAAAAAAAA!!!! AAAAAAAAAAAAAAA!!! AAAAAAAAAAA!!! hiks-uhuk! MIN-hiks--MINAAA!!!"


Crrrt--DEB!


"MIIIIINAAAAAAAAAAAAA!!!!


Listrik kembali hidup, penampakan Mina menggantung sempurna di atas sana. Wajahku sudah basah. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Lantas Kang Dana mendekapku dari samping sambil mengusap lenganku. Aku mencengkeram kemejanya sambil terus menangis sekencang-kencangnya. Andai saja! Andai saja aku tahu dan lebih banyak bertanya pada Mina! Andai saja aku ikut dengannya ke acara Reuni itu! Andai saja aku menjauhkannya dari rumah ini! Andai saja aku tahu apa penderitaannya! Andai saja aku tidak mengheningkan ponselku! Andai saja-andai saja aku tak meninggalkannya pergi!


DIA PASTI TIDAK AKAN BUNUH DIRI!!!


Ini salahku, Ini salahku!


Napasku lemah, kepalaku sakit dan jantungku terasa tertekan dan mulai sulit bernapas. Ada rasa dingin yang menusuk ubun-ubun. Dan semuanya menjadi gelap.


Bersambung...