I Have No Mouth

I Have No Mouth
You Just Know Me After This.



Ini masih hari yang sama dimana Mina bunuh diri.


Rasa sesak dan sedih tak terjelaskan. Setelah pingsan kurang dari setengah jam, aku kabur dari rumah Pak RT dan lolos dari pengawasan Kang Dana untuk kembali ke rumah Mina. Masih dalam keadaan menangis. Dimana aku yakin polisi belum datang, tidak ada yang berani menyentuh mayat Mina yang mungkin masih menggantung di sana, atau bahkan sudah ramai orang di sana, aku pun nekat datang kembali untuk mengutip apa yang bisa kutemukan. Dan cepat atau lambat Kang Dana pasti mencariku.


Dengan wajah pucat, tubuh terasa panas dari dalam dan kepala sedikit pening, aku kembali ke rumah Mina. Mata dan hati masih perih. Tidak ada siapapun di sini. Hening dan tidak ada yang lewat satu orang pun. Sudah ada pengganti garis yang terbuat dari tali rafia. Aku tak tahu siapa yang melakukan ini. Namun, yang jelas tak akan menghalangiku untuk melakukan yang ingin kulakukan.


Aku melangkahi tali rafia itu dan menerobos masuk ke pintu yang masih dalam keadaan tidak terkunci. Berlari dan berusaha menahan untuk tidak menangis sewaktu-waktu melihat Mina masih menggantung di atas sana.


Ceklek!


Ya, dia masih di sana. Mataku kembali berbinar, sekarang aku masih bisa berpikir dan menahan tangisku. Dia masih berkondisi sama di atas sana. Kamar yang masih wangi bunga makam yang sama. Rasa sedih semakin terasa. Lehernya terlihat patah karena tambang yang mencekik dan menjerat sempurna di lehernya. Matanya yang melotot itu mulai menunjukkan bintik-bintik pecah pembuluh darah dan urat-urat yang menyembul di bola matanya. Kulit wajah sudah kendur tertarik tali sehingga membuat mulutnya sedikit terbuka dengan menjulurkan setengah lidahnya yang sudah warna putih. Melotot ke bawah, tepat di atasku, seperti akan copot bola matanya ke arahku. Jika aku terus memperhatikannya, aku akan kembali menangis histeris.


Alhasil, aku mengamati sekitar. Mau tidak mau, suka tidak suka. Ada yang tahu atau tidak, aku harus menjadi penyidik dadakan di sini. Setidaknya aku tahu siapa Mina Palsu, dan apa isi dari diari pribadinya. Tentu tidak bisa sombong atau merasa bangga saat berusaha menjadi detektif untuk kasus meninggalnya sahabatku sendiri. Aku juga berposisi sebagai saksi mata pertama atas kematian Mina.


Aku menemukan sebuah handphone cukup bagus bermerek Ad*an bersampul hitam, diari dan sebuah kotak seukuran kotak jam tangan di atas kasur single milik Mina.


Kuambil semua itu dengan tangan kosong, tanpa takut juga tanpa sarung tangan. Hal pertama yang kulihat adalah hape miliknya. Kupencet tombol power untuk membuka kunci.


Klik!


Layar terkunci oleh sistem keamanan berupa pola.


Aku tidak tahu apa bentuk polanya, sementara aku belum menyentuh layarnya sama sekali. Kusingkirkan perasaan kalut, sementara Mina terus mengawasiku dari atas sana. Lantas aku berusaha berpikir jernih sembari menghadap kaca ventilasi kecil di atas sana dan menyinari layarnya agar terlihat bekas gerakan pola dari tangan mina.


Aku melihatnya! Bekas sentuhan polanya berbentuk 'Z'.


Tuk!


Deg!


Mina memasang wallpapernya dengan foto kami berdua.


Tangis ini masih kutahan.


Aku langsung membuka log panggilan, Mina menghapus semuanya. Membuka pesan, sudah di hapus semua. Bahkan chat yang ia kirim padaku juga di hapus! Baiklah, aku akan mengeceknya dari ponselku. Kulanjut mengecek note yang berlambangkan kunci, yang pastinya ada kata sandi.


Aku sentuh lambang catatan itu dan benar saja. Ada panel sandi yang harus dibuka demi bisa melihat isinya.


Lambang baterai habis muncul.


Tut! Tut! Tut!


Ponselnya pun mati tanpa sempat kulihat apa isi catatan di ponselnya. Lantas tanpa pikir panjang, kuambil diari Mina dan membukanya dengan tangan dan napas gemetar. Diari ini sudah ada bersamanya sejak dulu ibunya meninggal. Bertahun-tahun usianya dan hanya peristiwa penting yang tercatat di sana. Mina pernah bilang, tidak setiap hari ia menulisnya, tapi selalu ada saja momen yang dia bocorkan ke dalam sana. Namun, baru kali ini aku menyentuhnya.


Srek!


Aku harap aku tidak akan menangis. Semoga saja.


[Dikutip dari catatan asli.]


Lembar pertama :


"Setiap orang bisa merasakan rasa sakit, tapi aku gak tau lagi bagaimana rasanya setelah melihat ibuku meninggal karena dipukuli Bapak. Di depan Mina kecil yang menangis, perut Ibu diinjak, kepalanya dibentur ke tembok, telinganya ditendang, wajahnya dihantam kepalan tangan besarnya sampai berdarah. Aku cuma bisa menjerit sejadi-jadinya. Sekarang, akulah yang menggantikan posisi menyakitkan itu. Setiap hari, bahkan saat aku gak salah apa-apa."


Dadaku kembali sesak. Air mata kembali menetes.


Lembar kedua :


"Sehari setelah Ibu dikubur, bapakku malah membawa perempuan lain ke rumah ini. Gak tahu apa yang lagi mereka lakukan, Mina kecil cuma bisa tutup kuping di kamarnya. Lalu dari sini, muncullah kembaranku. Dia mengaku namanya Mina. Padahal cuma aku yang punya nama Mina di rumah ini! Dia bilang, dia yang paling kenal aku lebih dari siapapun, bahkan sebelum aku lahir. Dia bahkan mengaku sebagai seorang Kakak. Dia mengaku sebagai yang menemaniku di dalam perut Ibu. Dia gak diperlakukan baik sama Bapak, setelah aku lahir ke dunia ini. Katanya, Bapak buang dia sampai akhirnya dimakan kucing. Dan sekarang dia muncul karena tidak ada yang bisa menjagaku setelah Ibu meninggal. Jadilah, kupanggil dia Mina yang kedua. Aku gak akan cerita ini sama Yunita."


Jleb!


A-apa? Apa kalian paham maksudnya? Aku mendongakkan wajahku dari diari itu dan berpikir keras. Hal apa yang menemaninya di dalam perut ibu, ia menyebut dirinya sebagai seorang kakak dan bisa di makan kucing!


Apa ada yang berpikiran sama denganku soal ini? Aku pikir ... maksudnya adalah ari-ari atau plasenta. Hah? Aku gila? Aku tidak tahu. Sebab sebagian orang kampung yang tahu soal supranatural pasti percaya bahwa ari-ari disebut sebagai 'Teman Ari-Ari', yakni makhluk yang menemani kita di dalam rahim Ibu, menyalurkan makanan pada kita dan menemaninya bergerak di dalam sana. Sebagian orang percaya mengapa ari-ari harusnya dikubur dengan baik karena mereka bisa dianggap sebagai anak mereka juga yang menemani anak yang akan lahir. Mungkin, itulah sebabnya Mina Palsu ini menganggap dirinya sebagai seorang Kakak. Masuk akal? Sepertinya tidak, ya.


Namun, kupikir-pikir lagi. Terkait mitos atau urban legend yang pernah kubaca dan kutonton pada sebuah film, kembaran yang muncul dalam bentuk sama atau buruk tapi mirip dengan kita disebut Doppelganger. Sosok ini katanya menandakan bahwa si orang aslinya akan meninggal dalam waktu dekat. Tapi apa bunuh diri adalah takdir dari Tuhan? Tentu tidak! Mina yang memutus takdir itu sendiri! Jadi, tidak ada ceritanya Doppelganger muncul karena ada yang mau bunuh diri! Jadi menurutku Mina Palsu lebih masuk di akal muncul sebagai seorang 'teman dalam rahim' tadi, daripada sebagai mitos Doppelganger.


Lembar ketiga :


"Dari kecil, aku dipukuli Kakakku kalau menangis. Aku disuruh tetap senyum dan tidak boleh cengeng apa pun kondisinya. Jangan seret orang ke masalah kita. Jangan merepotkan orang lain. Jangan buat orang lain pikir kalau kita lagi sedih atau menderita. Sejak saat itu, gak tau kenapa, aku merasa geli dan ketawa kalau lagi sedih. Padahal, aku gak mau ketawa! Yunita gak suka kalo aku selalu senyum dan cengengesan tanpa alasan dan dia selalu kaget kalau aku ketawa pas ditanya hal yang gak lucu sama sekali. Yunita ... andai kamu tahu aku kenapa, kamu pantas jadi psikolog. ♥️"


Aku menangis dan menutup mulutku.


Merinding tak hentinya menggosok kulitku.


Sekarang aku mengetahui sindrom ini sebagai sebuah kelainan. Dulu, kuanggap ini sebagai kegilaan karena Mina selalu bersikap kebalikan dari yang dia rasakan. Namun, sekarang aku sudah SMA. Bacaanku sudah beraneka macam seiring dengan banyaknya hal yang kutonton.


Pseudobulbar. Kondisi kelainan jiwa dimana seseorang akan tertawa atau menangis secara mendadak di waktu yang tidak tepat. Tawa atau tangis dadakan ini muncul karena cedera otak karena trauma dan suasana hati yang sedih dan kalut. Ungkapan tak terjelaskan yang selama ini terpendam dan dikeluarkan dengan tawa atau menangis.


Lembar keempat :


"Aku sama Yunita ketemu paling sering cuma sekali dalam setahun. Dia ke sini kalau liburan aja. Alhasil aku begini gak bisa salahin dia juga. Ini masalah jarak dan waktu. Dia gak tau kalo temen SMP-ku itu temennya Adnan. Adnan itu lelaki terseram buatku. Dia bisa tau siapa, di mana dan berapa hal tentang kita tanpa bertanya. Pintar banget, katanya. Dia anak orang kaya yang cukup semena-mena."


Lembar kelima :


"Aku sayang Bapak. Aku sayang Ibu. Aku sayang Kak Okto. Meskipun Ibu gak adil karena ninggalin aku duluan. Bapak yang sering omelin aku, pukulin aku, aku tau itu karena sayang. Kak Okto yang suka pukul aku, minta aku buat gak nangis, buat masa depanku biar gak cengeng, 'kan Kak? Kakak baik banget. Meskipun aku sering dibikin nangis, dibikin sakit dan gak dikasih makan. Aku tetep sayang kalian.♥️"


Aku tak bisa berkata apa-apa, isakanku kembali bersuara.


Lembar keenam :


"Kalau semisal nanti aku mati ... aku mau Yunita ceritain kisah yang dia alami dan rasain tentang aku. Aku tuh mau semua orang tahu. Hidup kita ini terlalu sempit untuk paham sama kondisi orang lain. Tapi kebanyakan dari kita itu gak peduli dan terlalu berlebihan. Mereka yang dicueki orang tuanya, karena kesalahan mereka sendiri, koar-koar di akun sosial mereka buat dapet simpati. Aku? Yang setiap hari dipukuli, gak berani ngadu ke siapapun kecuali Yunita dan buku ini. Mereka marah sama orang tua karena keinginannya gak dituruti ... aku yang mengurus segala yang ada di rumah, malah kesannya aku yang menafkahi Bapak dan kakakku sendiri, bahkan saat gak salah pun aku digebukin. Aku melihat ibuku gak bernapas di depan mata. Kakakku pulang dalam keadaan mabuk. Bapak yang bawa wanita lain ke rumah ... siapa yang harus jadi sadgirl di sini? Gak peduli seberapa kuat aku bersyukur dan berusaha paham maksud mereka, tetap aja. Yang aku dapet cuma penyiksaan. Yah ... syukur kalau yang tau ceritaku sadar, tapi kalo yang anggap lebay atau bahkan gak percaya ... ya, terserah sih. Yang jelas nanti kalau aku mati, aku tau dunia ini udah gak sehat lagi."


Aku diam sejenak dan menangis melepas sesak yang menggores tenggorokanku. Setelah agak lepas, kubaca lagi lembar yang selanjutnya.


Lembar ketujuh :


"Wah ... sekarang aku udah SMA. Udah lama gak nulis di sini. Terlalu banyak kertas yang aku robek karena malu pas baca tulisanku sendiri. Kenapa aku suka banget ngeluh, pikirku. Sudah berapa tahun ya badanku jadi samsak? Aku tak tahu apa harus bersyukur masih hidup atau tidak. Makin ke sini. Bapak dan Kakak makin besar dan banyak kebutuhan dirinya. Sampai aku disuruh mengemis, aku tidak mau. Dipukuli diminta bawa uang, aku masih belum bawa. Masakan yang kumasak tak pernah tersisa untukku. Aku sering tidak makan dan menganggapnya sebagai puasa. Diancam akan dijual ke juragan-juragan untuk dikawini. Aku terus dicekoki hal seperti itu sembari dipukuli. Dipukuli ini rasanya sakit. Saking seringnya aku bisa membedakan sakitan mana pukulan mana yang membuatku teriak. Tetap saja, sampai saat ini, aku masih dipukuli agar bawa uang."


Napasku bergetar membayangkan bagaimana ia kelaparan.


Lembar ke delapan :


"Hari ini aku menginap di rumah Yunita atas permintaan Ibunya yang ingin pulang dulu ke Cikarang. Ibunya baik sekali karena memberiku sembako dan uang untuk bapakku sebelum menjemputku ke rumahnya. Aku sangat senang, karena tidak tidur di sana. Karena tidur terakhir kaliku terenggut saat Kakak pulang dalam keadaan mabuk, dan memperkosaku secara paksa aku merasa (maaf ini tidak saya tampilkan) dan aku takut hamil kala itu. Dan sekarang ... aku sudah hamil, sudah 3 bulan, kayanya."


Aku melotot, memperhatikan kalimat terakhir itu dengan napas tersendat-sendat. Mendongak perlahan ke arah Mina dengan tatapan hancurku ke arah perutnya. Secara tidak langsung ada dua orang yang mati. Dan ternyata kala ia di rumahku, itu sudah dalam keadaan mengandung?


"Teteh!" Kang Dana tiba-tiba muncul. Nampaknya ia habis berlari. Ia masuk membawa banyak polisi ke sini. Langsung kusembunyikan diari ini di balik badanku. Aku pun berdiri, sambil menahan nangis lagi.


Aku keluar.


Kang Dana membuntutiku.


"Teh, tunggu, Teh," tegurnya langsung memegang tanganku agar berhenti berjalan menjauh darinya.


Kutarik kasar kembali tanganku dengan agak kasar. "Kang ... tolong secepatnya evakuasi Mina, dan dikubur secara layak."


"Ibunya Teteh udah pulang, sekarang ada di rumah Bapak," ucap Kang Dana dengan spontan.


Aku mengangguk tak berperasaan. "Ya udah kalo gitu. Aku sama keluarga bakal ikut melayat. Terima kasih banyak buat semua keterlambatannya, Kang. Terima kasih juga buat bantuannya. Permisi," kataku langsung berjalan pulang dari sana.


***


Tak bisa kuceritakan lagi bagaimana rasanya melihat Mina dikubur. Tak hentinya kemarin sore aku menangis sepanjang penguburan. Yang jelas, Adnan tidak hadir. Semua orang menyalahkan kematiannya karena bunuh diri tanpa paham permasalahannya apa. Ada yang kasihan karena tahu Bapak dan Kakaknya pemabuk. Aku makin tersedu-sedu saat mendengar celetukan mereka.


Dan sekarang aku sudah siap pulang ke Cikarang.


Mengingat urusan Ayahku makin banyak di sana, Ibuku juga tak ingin aku terus menangis karena berada di sini. Ia paham betapa dekatnya aku dengan Mina. Jadi ia tak mau ada hal buruk terjadi padaku. Tapi sebelum pulang, aku meminta untuk datang ke kuburannya dulu.


Aku turun sendirian dari mobil, memasuki area pemakaman dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Otakku sudah merespon bahwa Mina akan berdosa besar karena keputusan hidupnya. Di sisi lain aku juga tak bisa menyalahkan siapapun selain diri sendiri.


Aku berjongkok, menatap nisan dan tanah serta bunga yang masih baru kemarin. Aku tak peduli sedang haid, yang jelas aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada Mina sebelum aku pergi. Aku ingin mengirim doa keselamatan padanya dengan khusyuk. Tak peduli sambil menangis atau apa, aku tak ingin terus menangis untuknya. Aku paham dia tak akan kemana-mana 40 hari ke depan.


Bulu kudukku merinding. Air mataku masih menggenang di pelupuk mata sembari terus merasa makhluk dari segala penjuru memperhatikanku menangis.


"Dek?"


Aku terdiam. Menoleh ke arah kiriku. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Mungkin karena aku terlalu sedih dan sering melihat hal aneh sehingga aku bisa melihat arwah Kak Rian Davi berdiri dengan senyum manisnya. Dia ikut berjongkok di sisiku. Tak peduli aku sudah gila atau apa, yang jelas Kak Rian Davi ada di sisiku sekarang!


"Kak Rian?" tanyaku bicara sendiri, di mata orang lain. "Kakak kenapa ada di sini?" lanjutku sambil menyeka air mataku.


Dia bilang, "Kalau kamu punya teman banyak, minta mereka buat doain Mina, ya? Dia anak baik yang gak bernasib baik. Jadi tolong ... kalau kamu udah gak di sini, bantu Mina tenang. Sekarang mungkin dia ada di dekat kamu, cuma karena tindakannya, untuk beberapa alasan, kamu gak bisa lihat dia."


Aku menautkan alis. Kak Rian melanjutkan, "Tapi kakak bisa lihat dia ada di seberang kamu. Senyum sambil menangis."


Aku langsung menatap ke seberang gundukan tanahnya. "Mina, aku pulang, ya," lirihku dengan suara bergetar.


Kak Rian bilang, "Dia ngangguk." Ia terdiam. "Dan Mina bilang, tolong jaga diarinya."


Aku melambaikan tangan ke arah Mina yang tak bisa kulihat. "Iya, Min." Kak Rian hanya tersenyum di sisiku.


"Neng?!" panggil Ayahku dari jauh, "Hayu buruan mau hujan!"


Aku langsung bangkit, tersenyum dan pamitan pada Kak Rian. Berjalan menjauhi makam Mina dan berjanji pada diri sendiri untuk terus mendoakannya. Menyebar cerita ini untuk bisa dipahami dan diambil hikmahnya oleh anak seusiaku. Sambil menghapus air mata, aku kembali masuk ke mobil.


Langit yang mendung dan angin sore yang dingin menamparku untuk terus menangisi Mina. Aku terus menangis dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang kualami. Dan kelak aku bingung akan cerita mulai dari mana. Aku juga akan selalu mendoakannya setiap ibadah.


Mina ....


Selamat jalan.


TAMAT