I Have No Mouth

I Have No Mouth
Lizary 'Creepypsata'



By : Ajeng Karunia Utami


Aku masih asik mematut pantulan diri di depan cermin. Penuh persiapan, sampai berputar-putar mencari apa ada yang salah pada dandananku malam ini?


Dress merah selutut dengan anting bunga menjuntai serta rambut sepunggung yang kubiarkan tergerai bebas menjadi pilihanku. Berharap jadi ratu sejagat semalam, aku ingin jadi tipikal seperfeksionis mungkin demi malam ini.


Nampaknya, aku akan menandingi sang pemilik pesta yang akan kudatangi. Hahaha ... bercanda. Nyatanya aku tidak senarsis dan tak cukup percaya diri. Lagipula tak akan ada yang bisa menandingi kecantikan Lizary, gadis tercantik di sekolah yang membuat siapapun ingat dan terpana meski hanya baru mendengar namanya itu malam ini akan merayakan ulang tahunnya.


Aku memastikan penampilanku sekali lagi, gaun modis, heels, rambut terias, dan aku bergegas pergi. Kuharap dandananku tidak salah, ah, bukan, semoga tidak memalukanku di acara se-istimewa itu.


Sekumpulan orang-orang menawan, meja-meja cantik yang dipenuhi minuman dan kudapan, kerlap-kerlip lampu pesta dan alunan musik klasik menggema merdu ke seisi ruangan megah ini. Lizary memang suka musik klasik, menurutnya itu adalah sebaris melodi terindah sepanjang hidupnya.


Lizary tampak cantik. Tidak, sangat cantik. Gorgeous from top to the toe; mata besar bulunya lentik, alis presisi bak mahakarya yang telaten dilukis, kalau diperhatikan dengan teliti, ada bintik-bintik hitam di bawah mata dan hidung Lizary.


Kulitnya seputih salju, dengan netra kebiruan yang membuat siapa saja akan terpana menatapnya.


Mata sempurna dan bibir ranum itu akan menggoda para bidadara.


Memakai gaun warna putih dengan rambut yang ditata bak seorang putri lengkap dengan tiara; persis seperti putri raja.


Diidamkan kaum Adam. Lizary yang ramah, baik, dan yang pasti dia sangat fasih tentang sejarah. Terutama sejarah tentang Elizabeth Bathory. Dia bahkan bisa menceritakan detail dari kehidupan wanita yang dikenal cantik namun sadis itu. Mengagumkan, bukan?


"Malam semuanya. Sebelumnya aku berterima kasih pada kalian semua karena telah memenuhi undanganku," ucap Lizary sambil tersenyum pada semua orang, "Malam ini adalah malam yang sangat bahagia buatku. Karena malam ini akan menjadi awal dari lembar hidupku yang baru, dan satu di antara teman-teman semua akan membantuku untum mendapatkannya."


Gemuruh tepuk tangan dan sorak kagum memenuhi suasana. Tidak sekata, kalimat-kalimat Lizary yang manis dan menyenangkan itu selalu bisa membuat siapapun jatuh cinta pada pandangan pertama. Kupandangi dia dengan seksama sejak ia datang.


Tiba-tiba mata kami berpapasan. Mimpi apa aku bisa menjadi sasaran tatap bintang malam ini. Lizary menatapku sambil tersenyum manis. Entah karena aku terlalu sensitif sebab iri padanya atau apa, tapi senyuman itu malah terkesan seperti ... menyeringai bagiku.


"Baiklah semua. Selamat menikmati pestanya!" sambungnya kembali.


Semenjak tatapannya tadi aku sempat merasa aneh. Aku bahkan tidak dapat mengartikan apakah itu senyum tulus atau seringai licik. Licik? Ah, bahkan aku tak yakin senyum jenis apa itu. Tapi untuk apa dia menyeringai licik padaku?


"Bella!"


Deg!


Setelah bertemu mata, dia memanggilku?


Berbesar hati, kujawab. "Eh iya, Liz. Ada apa?"


Ia mendekat seolah kita pernah kenal sangat dekat. "Bisa kita bicara sesuatu, Bel," ujarnya serius.


"B--bisa."


"Tapi jangan di sini, aku takut teman-teman yang lainnya dengar." katanya seolah akan gawat jika ada yang tahu selain aku. Betapa ... tidak bangganya aku.


Oh, Tuhan ... aku harus apa?


Huh, singkirkan pikiran burukmu, Bella!


Kami naik ke lantai atas rumah Liza. Seharusnya aku kagum dengan kemegahan rumah ini, tapi memang hatiku sedang tidak bisa diajak kompromi. Di samping tingkah dan senyum Liza yang masih kuragui ketulusannya.


Aku dibawa masuk ke kamar Liza. Kamarnya luas, mungkin empat kali lipat dari ruang tamuku. Sejuk, harum. Banyak figura-figura potret sejarah di tempat ini. Rak-rak model klasik nan artistik terpajang banyak barang-barang antik.


Belum selesai kukagumi ruangan ini, ia memulai topiknya.


"Apa kau percaya dengan reinkarnasi, Bella?"


What? Tidak ada basa-basi tiba-tiba bahas Reinkarnasi?


Aku menyengeh santai, "Aku kurang percaya dengan semua itu." jawabku dengan senyum yang terpaksa, agar tekesan tertarik pada bahasan yang menurutnya menarik.


Aku masih berusaha berfikir positif, sebagaimana manusia yang seharusnya. Dia hanya bertanya, 'kan, apa salahnya?


Kurang sering apa dia menceritakannya, "Tentu saja. Wanita sadis yang mengorbankan banyak wanita itu, 'kan?"


"Dia sangat menarik bagiku. Banyak hal tabu yang kucari tahu mengenai dia. Dan ... apa kau tahu dia juga suka menghabisi sendiri nyawa korbannya? Kau tahu lah ... seperti menguliti, mengambil jantungnya--bahkan dia berlama-lama berendam di dalam darah korbannya, loh?"


Aku tertegun, dia bicara seolah semua itu keren dan patut dicontoh. Alisku mengernyit, merasa tak nyaman. Berusaha menelan ludah yang nampaknya sudah kering sedari tadi. Yang kutangkap, dia ... benar-benar menyeringai kali ini.


Tapi ....


Bagaimana dia bisa tahu sedetail itu?


Langsung saja kujawab, "Aku ikut senang kau tahu banyak hal soal dia. Tapi mengapa cara bicaramu jadi aneh begini?"


Ia tak menggubris pertanyaan murahku itu. Ia hanya beranjak sejenak mengambil sebuah lukisan tua berbingkai kayu mengkilap yang lumayan besar dari dalam lemarinya lalu menyandingkan lukisan itu di samping wajahnya.


"Bukankah kami mirip?"


Sial! Kenapa wajah mereka mirip?


I--itu potret Elizabeth Bathory, b--bukan?


"A-ah apa-apaan--bicaramu semakin kacau! Ayo kita kembali ke bawah saja, pasti banyak teman yang ingin menemuimu untuk mengucapkan selamat." Ajakku membalikkan badan dan bergegas pergi.


"Apa kau mau tahu sesuatu, Bel," ujarnya pelan, bernada agak gila, namun penuh penekanan. "Tidakkah kau mau dengar sebentar?"


Seketika langkahku terhenti. Rasa penasaranku seolah menandingi rasa takut dengan apa yang akan dikatakan Liza selanjutnya. Aku menoleh dengan tatapan horor yang agak antusias. Ucapannya akan melantur kemana lagi?


"Ini kali ketiga aku berulang tahun yang ke-tujuh belas di abad ini."


Deg!


"Apa yang kau bicarakan, Liz. Cukup! Aku mau keluar."


Kutekan-tekan handel pintu kamar mewah ini, sekali, dua kali--Sial! Terkunci! Sejenak sigap kuputar badan untuk memastikan Lizary masih berdiri di tempatnya.


Dia terlihat masih di sana. Namun dengan sebilah pisau tua berkarat yang dikepal erat tangannya. Adrenalinku terpacu, seisi perutku bergejolak pilu, ingin rasa kaki ini lari terbirit-birit, sampai tak terasa air mata mulai mengalir lembut di atas pipiku dengan deru napasku yang mulai hangat.


"Sstt! Jangan menangis, Bella Cantik. Seharusnya kau bangga bisa menjadi bagian dari sejarah Lizary, Elizabeth Bathory."


Dengan cepat Lizary menghampiriku dan seketika benda tajam dan dingin itu menghujam leherku dengan kasar.


Aku tersungkur, menggelepar seperti ikan yang terdampar. Ia berjongkok anggun dengan pisau itu di sisi tubuhku, samar-samar kudengar ia bicara dengan nada tenang dan bahagia.


"Belum apa-apa kau sudah siap mengisi bak mandiku dengan darahmu. Dasar payah,"


Tenggorokanku tersendat, terbatuk sembari menelan darah. Mataku sudah buka-tutup untuk bisa merasakan hidup.


Senyum gadis itu bisa kulihat.


"Sebelum bersenang-senang, tamu tidak boleh lupa kewajibannya," dia senyum kala aku sekarat.


Seharusnya aku tidak datang ke sini,


Bagiku ini bukan pesta ulang tahunnya!


Tapi pesta perayaan hari kematianku!


Wajahnya bukan lagi baik, tapi seperti iblis yang diberi kamuflase wajah cantik, aku terpejam setelah gertakannya, "Ucapkan 'Selamat Ulang Tahun, Lizary ...,' sebelum kau mati ... CEPAT!"


Medan, 27 September 2020