I Have No Mouth

I Have No Mouth
Ada Apa Dengan Edel?



Sstt!


Kak Andra reflek melempar bola pingpong yang dipegangnya ke arah cermin lemari yang hanya berjarak dua langkah di sisi tubuhku dengan kekuatan penuh, entah emosi dari rasa takut atau reflek macam apa itu, yang jelas kaca itu akan pecah dan habis dibuatnya, sedangkan Kak Handa sontak menarikku agar tak terkena pecahannya.


CPRAANG!


Brug!


Edel tergeletak tak sadarkan diri.


"Edel!" seruku kaget, hendak menghampiri Edel, tetapi Kak Handa menahan tubuhku, aku pun protes karena tak bisa membiarkan Edel pingsan begitu saja, "K--kak Handa … Edel pingsan—kita bawa dia—"


"Jangan, Yunita. Sebentar—"


Aku berontak. Namun, masih ditahan. “Edel!"


Kak Axel geram, "D--Dia cuma pura-pura pingsan, Yunita!"


Deg!


Apa-apaan pingsan tapi pura-pura?


"A--apa? Pura-pura pingsan?" telingaku sontak berdenging, "Pura-pura pingsan gimana, sih, Kak?"


Tiba-tiba Edel yang tadinya pingsan kini bangkit dengan hening, terduduk dengan wajah sunyi seperti saat pertama kali mimik wajahnya ketika menyumpahi Toro kala itu.


Sinyal pertahanan kami masuk siaga satu.


Terpatung di tempat, ekspresi kami berempat lantas kompak was-was dan ngeri jika saja ada satu kalimat yang keluar dari mulutnya, atau ini adalah sifat Edel yang pertama kali, saat seolah ia tak punya mulut.


"Edel?" tegurku dengan hati ngeri. "Kamu … gak apa-apa?"


Edel perlahan memejamkan matanya, seolah menukar apa yang kini dirasakannya dengan sesuatu. Kemudian ia kembali membuka matanya dengan ekspresi yang berbeda lagi, kini wajahnya terlihat seperti linglung, tak tahu apa yang terjadi, mengapa ia ada di sini atau bagaimana bisa duduk di ambang pintu. Puas bertanya-tanya ia pun berdiri dengan gesit dan memperhatikan sekitar.


"K--kalian ngapain di sini? A--aku ngapain di sini?"


Ia malah bertanya apa yang sejak awal kami pertanyakan.


Lantas kudekati dan langsung merangkul bahunya, dengan perasaan janggal bersamaan dengan banyak pertanyaan yang memenuhi dadaku, aku jadi tak tahu harus dan berpikir macam apa soal yang kulihat barusan. Hal yang kupikirkan, Bu Azalea, selaku ibunya, mungkin tahu banyak hal soal ini.


"Kak, a--ku … antar Edel tidur lagi, ya?" kataku dibalas anggukan pada mereka, berusaha melupakan kejadian barusan di depan Edel yang nampak kebingungan.


Lalu menggiring Edel dengan suasana canggung. Entah mengapa, aku masih bertanya-tanya tentang kondisi di antara kami. Sebelumnya ia melarangku bicara pada sepupunya. Baru saja ia berteriak ke arahku saat melihat kami bertiga ada di dalam gudang. Dan kini ia malah terlihat tak tahu apa-apa, bahkan tak marah saat melihat kami ada di gudang. Teka-teki manusia macam apa ini?


Ceklek, brug.


"Sekarang ... kamu bobo lagi, ya? Aku temenin.”


Malam berlalu tenang, untuk Edel. Langit yang hitam perlahan terganti arunika yang mekar di ufuk timur. Saat aku kembali ke kamar, kardus-kardus yang kami geledah di gudang sudah ada di kamarku. Sepertinya mereka bertiga ingin aku mengamatinya sendiri agar aku bisa mendapat petunjuk dan peristiwa tadi malam tak terulang lagi.


Aku sudah di sekolah sekarang, dalam keadaan baru bisa mengantuk. Diantar Kak Handa, tentunya. Sementara Edel lebih memilih angkutan umum, setelah sikap linglungnya, kini berubah jadi seperti awal lagi, membenci sepupunya.


Semangkuk mie ayam sudah ada di hadapanku, tapi nafsu makan tiba-tiba hilang dengan banyak kecemasan yang lalu lalang. Mataku tak hentinya mondar-mandir berpikir. Sejenak sekitar menjadi hening, padahal ramai. Namun samar-samar heningku diusik gosipan ria.


Teman-temanku sedang bergosip ria di sekeliling aku yang sedang ingin berpikir daripada mendengar ocehan.


"Pacar lo labil banget sih, ih."


"Iya bener, tapi gak main tangan, ‘kan?"


Aku yang merasa pembahasannya seketika mirip Edel, atau karena aku terlalu memikirkan Edel, sontak menyimak sambil berusaha memakan mie ayam pesananku.


"Waktu itu gue pernah baca artikel, katanya, gue juga gak mau salah sebut atau gimana, ya, tapi kalo orang yang punya emosi beda-beda dalam waktu yang gak bisa ditebak, di hari yang sama atau dalam kurun waktu tertentu, kemungkinan besar ada yang salah sama diri dia. Kata fakta-fakta psikologi yang gue baca, sih."


"Apaan namanya?"


"Temperamen aja kali ah itu mah."


"Bipolar?"


"Maksud lo ... pacarnya Nirina ini—sakit jiwa gitu?"


Aku langsung berhenti mengunyah, otakku terjernihkan dengan satu pernyataan yang tercetus dari mulut Berta. Tentang hubungan antara emosi dan kepribadian. Edel juga mungkin mengalami hal yang sama, tapi otakku terkecoh dengan tiga figura foto yang seperti anak kembar di gudang itu. Satu hal terhapus, dua hal muncur di pikiranku.


"Yun? Tumben diem aja? Bahasannya seru, nih!"


"Iya ... biasanya paling gesit kalo soal kepribadian."


Aku langsung mengeluarkan uang dari saku kemeja, mengangkat mangkok mie ayam yang belum habis itu dan segera membayarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun pada temanku karena sibuk memikirkan Edel.


Aku pun bergegas ke lab komputer.


Aku akan meminta izin pada guru lab untuk numpang searching sampai bel istirahat berakhir. Aku akan mencari bahan dan mengumpulkan banyak kemungkinan soal Edel. Agar masalah ini cepat terbongkar.


Aku tak boleh lengah. Aku diemban tanggung jawab aneh demi temanku sendiri sampai harus menginap di rumahnya dan dibuat tak tenang sampai tak bisa tidur semalaman.


"Eh, Yunita? Mau kemana, Neng?" tanya guru lab dari meja piket. “Buru-buru amat, kayaknya?"


"Pak, boleh saya numpang internet di dalam? Ada bahan tulisan yang harus saya cari.” kataku sambil melepas sepatu agak buru-buru, "Sampai istirahat selesai."


Ia mengangguk, "Iya silahkan, tapi di dalam ada yang lagi--"


"Iya, Pak, gak apa-apa. Saya masuk ya, Pak?"


Sekilas kulirik guru itu mengangguk dengan wajah kepo.


Aku akan berselancar di internet demi Edel, setidaknya jika aku tak tahu apa-apa, aku akan mencari tahu. Tak peduli akan bagaimana ke depannya. Aku yakin hasilnya akan sejalan pantas dengan usahaku.


Ceklek.


Semua pasang mata tertuju padaku. Wajar, seisi ruang pintu lab yang kubuka ini hampir dipenuhi anak kelas Akselerasi, ah, kelas unggulan. Terdapat anak-anak lomba sains juga. Aku kenal mereka semua. Mau tak mau, sejenak menyapa demi mencairkan suasana.


"Woi, lagi pada sibuk ya?" kataku langsung buat mereka cengar-cengir, "Santai aja santai, jan tegang."


"Yun, lu bukannya ikit FLS2N Cipta Puisi? Udah bikin?" kata seorang temanku yang FLS2N bidang Cerpen, "Nyantai amat keknya?"


Aku berjalan ke depan pc kosong, "Udah, dong."


"Kemaren gue ke rumahnya kok dia gak ada ya?"


"Dih, ngapain lo ke rumah dia? Ngelancong, Paak?"


Sorak dan tawa pecah mengisi lab yang tadinya hening. Sementara aku kembali memikirkan masalah Edel, tak peduli dengan apa yang mereka tertawakan. Hal itu tak lebih lucu dari aku yang mengurusi anak orang.


BERSAMBUNG ...