I Have No Mouth

I Have No Mouth
Mengusir Chika, Tirta dan Gina



Sekarang hari Minggu yang muram. Entah karena pikiranku yang agak gelap karena membayangkan proses pengusiran setan dari tubuh Edel atau memang hari ini datang karena proses mengerikan itu akan terjadi. Kupikir, teknik rukiah masih bisa diterima akalku sebagai tindakan yang lebih manusiawi, memang sama, tapi dalam otakku, Exorcism juga cukup menyiksa wadahnya—badan Edel—lebih dari rukiah.


Sekarang aku tengah berdiri di balkon kamar. Merasakan angin setengah siang yang terasa masih dini hari.


Kalian tahu tidak? Sebenarnya, aku tidak mau menularkan apa yang kurasakan sekarang. Namun, bahuku terasa berat. Tengkuk leherku pegal. Aku merasa angin masuk dalam tubuhku dari ujung kaki sampai menusuk ke ubun-ubunku hingga terasa sakit. Perutku juga mual dan tidak enak di lidah. Kulitku tak hentinya merinding dan telapak tanganku berkeringat. Napasku ringan dan dingin. Sulit fokus dan begitu deg-degan.


Perasaan macam apa ini? Apa kalian pernah merasakannya? Atau sekarang kalian merasakannya? Gak enak, kan, ya?


Tok! Tok! Tok!


Aku menoleh ke arah pintu, lalu menyahut, "Siapa?"


Ceklek!


Wajah Kak Handa melongok ke kamarku. "Dek."


Aku langsung menghampirinya. "Iya, Kak?"


Dia sekilas melihat penampilanku. Saat ini aku pakai kaos hitam polos lengan pendek, dengan celana jeans selutut warna serupa. Dengan poni tipis, rambut hitam sepunggung ini kubiarkan terurai dengan anak rambut yang kuikat ke belakang. Lalu dia bilang, "Kamu punya kardigan panjang?"


Deg!


Aku mengingat, berlari ke arah bajuku dan menarik sebuah kardigan panjang semata kaki berwarna putih polos dengan lengan panjang berbahan tipis, tapi tidak tembus pandang. Aku kembali ke hadapan Kak Handa. "Ini kak."


"Kamu yang pakai itu."


"Hah?"


"Ya, kamu pakai kardigan. Oh iya, apa Edel sudah bangun?"


Aku menjawab sembari memakai kardigan itu. "Sepertinya belum. Balkonnya belum terbuka."


Dia manggut-manggut. "Bibi kami, teman saya yang 'bisa' itu sudah ada di bawah. Ayo ikut saya, kenalan dulu. Biar Andra dan Axel yang urus Edel. Kita akan mulai prosesinya—"


"T–tapi—"


Kak Handa langsung menarik tanganku dengan langkah hening. Bukan masalah buru-burunya, dia menggenggam jemariku, tangannya hangat, duh. Sepanjang kutapaki anak tangga, lantai dasar, tepatnya ruang tamu, menjadi tampak lebih ramai. Mataku berpapasan dengan seorang wanita seusia Kak Handa, kurasa, dia cantik dengan manik mata berwarna hitam pudar yang terlihat kosong, menatapku cukup dalam dan agak suram.


Bahkan saat sampai di lantai dasar, aku yang melepas tangan Kak Handa. Apa-apaan om ganteng ini, kalau tidak kontrol hati, mungkin aku akan baper. Aku juga melihat ada sosok wanita paruh baya berwajah lembut dengan memakai liontin perak yang melingkar di lehernya.


"Bi, ini Yunita, teman yang Handa ceritakan itu. Dan, Dek, panggil saja beliau Tante Voya."


Aku tersenyum ke arahnya. Wanita itu berwajah lembut, tapi aku bisa merasakan aura 'tidak ingin disentuh' oleh siapa pun. Padahal, aku sangat ingin mencium tangannya, kebiasaan. Lalu aku agak sedikit berdebar-debar saat wanita muda itu masih menatapku, tepat di depanku.


Kak Handa bilang, "Ariana, ini Yunita."


Dia membuka mulutnya, "Boleh saya pegang tangan kamu?"


Deg!


Aku menutupi rasa gugupku dengan senyum ramah dan mengulurkan tangan ke arahnya, dia menjabat tanganku, melihat telapak tanganku dan menaruh tangan kirinya di atas itu lalu memejamkan matanya. Aku diam dengan jantung yang hendak copot. Kak Handa masih berdiri di sisiku dengan wajah yang sulit ditebak. Ekspresi apa itu, seperti cemas tapi senang.


Lalu matanya terbuka dan senyum hambar, dan meletakkan tanganku kembali ke sisi tubuhku. "Salam kenal, ya."


Aku yang tadinya speechless langsung cengengesan, "Eh iya, Kak. Salam kenal juga.."


Tadi dia ngapain ya? Baca garis tangan? Kok merem? Terus kenapa dia melek, terus senyum? Alamak, ada apa ya dengan diriku? Kok jadi ... parno gini?


Dari atas tangga terdengar suara menyebut nama Handa. Itu Kak Andra.


Semuanya mendongak ke arahnya, Kak Andra bilang, "Udah beres nih. Kita mulai aja?"


Kak Handa mengangguk. "Ayo semuanya, kita ke kamar Edel."


Kami pun bersama-sama naik ke lantai dua dengan dipimpin langkah Kak Handa dan Tante Voya di depan. Aku berjalan di sisi Kak Ariana. Aku ... sedikit takut padanya, entah karena dia pendiam dan beberapa kali menatapku tanpa bisa kutebak maksudnya.


Aku, selayaknya anak yang sok akrab, kutanya dia. "Kak, kenapa kita melakukannya di kamar Edel?"


Dia menoleh ke arahku. "Karena Edel anak pertama. Kalau kamar yang kamu tinggali itu, anak kedua, kamarnya Chika."


Jleba


*****. Sumpah nyesel gue nanyaaa!


Ketika sampai ke kamar Edel, Kak Andra menyambut kami di depan pintu. Saat memasuki kamar Edel yang tidak asing bagiku, Kak Axel tengah menutup rapat gorden balkon kamar Edel. Suasana kamar masih sejuk dengan pendingin ruangan. Kulihat Edel yang masih terlelap, berbaring di kasur dengan tangan dan kaki yang diikat ke kaki kasur. Tepat seperti yang kulihat di film. Jantungku rasanya seperti akan copot.


Di sisi kiriku sudah ada meja mini dorong yang di atasnya ada satu guci ukuran sedang berisi air berwarna sedikit putih, seperti air cucian beras, di sampingnya ada kardus berisi barang barang Chika, Tirtan dan Gina. Tante Voya menghampiri meja itu dan aku digandeng Kak Handa menarik diri menjauh dari Tante Voya.


Tubuhku tiba-tiba gemetar tak karuan. Kakiku tak kuat menahan berdiri. Telapak tanganku terasa basah meski masih bisa merasakan hangatnya tangan Kak Handa. Bibirku kering. Tenggorokanku kering dan isi mulutku serasa tidak enak. Lidahku terasa kelu. Perasaan aneh langsung membayang di relung punggung. Mata gak lemas untuk fokus. Sementara tangan kananku masih digandeng Kak Handa.


Gret!


Tangan kiriku seketika digandeng erat oleh Kak Ariana. Aku pun kaget dan langsung menoleh ke arahnya dengan wajah bingung. Dia tersenyum. "Kalo gak kuat, bilang ya?"


Aku yang heran, refleks membalas senyumnya. Jadilah kami bertiga bergandengan tangan. Menyaksikan Tante Voya yang menunggu Edel bangun. Sementara kulihat Kak Axel sesekali memperhatikan kami bertiga yang bergandengan.


Edel terbangun, mataku terbelalak. Ia menguap dan menyesuaikan tatapnya pada sekitar. Lalu ia sadar tangan dan kakinya dipasung tali. Berontak, dan semakin berontak saat melihat Kak Andra, Kak Axel, lalu matanya terarah menuju Kak Ariana. Tante Voya seolah menunggu kalimat pertama dari Edel.


"KALIAN SEMUA NGAPAIN DI SINI?!"


Deg!


Gertakan Edel cukup memompa jantungku lebih dari yang sebelumnya. Aku bisa merasakan genggaman tangan dua kakak kelas ini mengerat di jemariku. Rasanya tak karuan. Aku merasa akan segera tumbang dan ingin mengecek belakangku. Punggungku seperti didorong sesuatu secara tipis namun terasa panas. Seolah menyuruhku tumbang.


Tante Voya menjawab, "Edelweissha. Boleh Bibi bicara sama adik-adikmu sebentar?"


Edel awalnya diam, seolah tak mau aku tahu soal itu, tapi akhirnya matanya berkaca-kaca. Sepertinya sadar ia akan dipisahkan dari adik-adiknya. "Gak boleh! Chika, Tirta sama Gina gak boleh kemana-mana! Harus tetep sama Edel!"


Aku butuh semenit lagi untuk bilang aku tidak kuat lagi.


"Jangan buat Bibi pakai cara kasar, Sayang."


Aku sudah mulai sulit berdiri, tapi berusaha tetap berdiri dengan rasa-rasa hendak pingsan. Sebenarnya ada apa denganku? Perasaan macam apa ini?


Edel memberontak brutal. "JANGAN GANGGU KAMI!"


Mata Tante Voya langsung mengarah padaku, lalu ia kembali menatap Edel. "Bahkan adik-adikmu itu mau keluar, dari tubuh kamu, Edel. Mereka mau menyampaikan sesuatu! Jadi jangan tahan mereka dalam badan kamu! Mau bagaimanapun, mereka harus lepas dan pergi ke dunia yang selanjutnya. Kamu sendiri yang buat mereka sulit pergi, Edel! Kamu yang paling punya dendam pada apa yang terjadi sama adikmu!"


Deg!


Rasanya aku ingin muntah.


Tante Voya terdiam. "T–ternyata, ada makhluk lain yang masuk ke tubuh kamu, selain adik-adikmu?"


Edel pun berwajah senang, lalu tertawa terbahak-bahak. "WAAHAHAHA! KAMU TAU AKU ADA? IYA?! AKU MEMANG ADAAA!"


Tante Voya menggeleng tak menyangka. "Chika! Tirta! Gina! Kalian keluar dari Edel! Keluar sekarang!"


"KELUAR KALIAAAN, KELUAAAR! AKU YANG BERKUASAA DI SINIII! WAAHAHAHA!" Edel berontak dan tertawa tak ingat dunia.


Pendengaranku mulai mati-nyala.


Hening.


Dbbrug!


[Aku kerasukan, ini diambil dari sudut pandang Kak Handa.]


Yunita dan Ariana tiba-tiba ambruk terduduk. Yunita sambil menutup matanya, sementara Ariana membuka matanya, kepalanya agak tenggleng ke kiri, kutahu itu bukan dia. Kulihat Axel juga tersungkur di lantai. Jangan bilang dia ... kerasukan juga? A–apa apaan ini? Kalau melihat Yunita dan Ariana kerasukan, aku ... yah. Tapi melihat Axel kerasukan, bagaimana jadinya?


Tante Voya menoleh ke arah Ariana, Ariana berwajah putus asa dan sangat sensitif. Wajahnya berubah seperti tak ingin diganggu. Kurasa, dia dirasuki oleh Gina. Dan Yunita, gadis cantik ini duduk bersandar di dadaku, matanya tertutup dan menuturkan senyum imut. Tangannya memelintir rambutnya sedikit genit sembari sesekali kudengar suara cekikikan kecil. Suara tawanya juga terdengar ditekan.


Bibi Voya mengabsen. "Chika? Kamu di mana?"


Drrg!


Yunita duduk tegak dan langsung mengangkat tangan kanannya. "Chika di sini, Bi!" Dengan nada senang dan ceria. Sumpah demi apapun, ... Yunita menjadi sangat lucu. Meski menutup mata, aku suka melihat senyum yang dihiasi gigi taringnya itu.


Ariana menghela napas kesal, dan berdeham.


Kenapa kepalanya miring begitu ya?


"Tirta?" Bi Voya menoleh ke arah Axel yang kini duduk sila, memangku dagu di atas pahanya dengan wajah bete. "Kok kamu masukin Axel?"


Axel cemberut, suaranya agak ditekan, rasanya ingin kutabok wajah sok imut itu. "Mau masukin Kak Handa, susah!" gerutunya. Aku ingin tertawa melihat Axel begitu. Rasanya ingin kurekam dan menunjukan itu padanya saat sudah sadar.


Chika bersandar lagi padaku, sepertinya tubuh Yunita dan Yunita sendiri kurang bisa menerima kendali atas Chika. Sehingga harus bersandar agar bisa tetap duduk. Tidak sekuat dan sepasrah Ariana.


"Semuanya harus serius, ya?" kata Bi Voya. Membuat senyum Chika menghilang di wajah Yunita. Gina juga jadi menatap Edel. Sama halnya dengan Axel. "Tolong bantu Bibi, membantu kalian lepas dari Edel. Kalian, kan, adik-adik yang baik—"


Chika menjawab dengan nada bergetar, kini ia memainkan kukunya. "Tapi kenapa Mama gak pernah jenguk kita, Bi? Mama udah gak sayang lagi ya sama Chika, Gina sama Tirta?"


Gina menyahut, "Mama itu gak sayang tau sama kita!"


"Iya!" sahut Tirta ngegas pada diri Axel, "kalo nggak ikut Edel, kami, kan, gak bisa ketemu Mama!"


"Sabar, sabar ...," kata Bi Voya, "mama kalian itu sayaang sekali sama kalian, Chika, Gina, Tirta. Makanya dibuat lupa. Sayang Mama itu sepanjang masa, Mama kalian hampir gila karena kehilangan kalian, Nak. Orang tua pasti sayang sama anaknya!"


Kudengar Yunita—eh, Chika menangis. "Terus, kenapa Papa matiin lampu kamarku dan bekap Chika pakai bantal?! Papa gak sayang ya sama Chika?!"


Deg!


A–apa? Jadi ... ini ulah Om—


Bi Voya nampak tersentak kaget. "Papa kamu yang—"


Gina menjawab, masih dengan kepalanya yang tenggleng ke kiri. "Papa kejam! Dia pikir enak kali ya di atas sana? Dia gak mau lepasin aku, gak peduli sekuat apa aku teriak!"


Deg!


Ah, berarti tulang lehernya patah saat digantung, makanya kepalanya tenggleng ke kiri. Aku masih sangat tak menyangka, bahkan dadaku rasanya sakit saat tahu keduanya dibunuh ayahnya sendiri! Astaga!


Gina melanjutkan, "Saat Papa terbujur kaku, aku yang membisikkan sesuatu ke telinganya, makanya dia bisa bergerak lagi dan langsung peluk aku."


Deg!


Tirta menjawab dengan agak murung. "Aku masih ingat rasanya gak bisa nafas karena bantal itu."


Bi Voya langsung terdiam, lalu ia menatap sosok yang kini menguasai tubuh Edel. "Lalu kamu siapa?!"


"AKU ADALAH PERWUJUDAN DENDAM EDELWEIS ATAS KEMATIAN ADIK-ADIKNYA! AKU SEMAKIN KUAT KETIKA EDEL MENGINGAT AYAHNYA! ANAK INI SAMA TIDAK BERGUNANYA SEPERTI MEREKA BERTIGA! WAHAHAHA!"


"TAK BERGUNA?!" gertak Bi Voya langsung mengambil air suci itu dan membacakan air itu doa-doa. Air mata terus menetes dari mata Yunita, kuseka berkali-kali. Gina masih mengerikan dengan kepala tenggleng, Tirta tengah menutup wajahnya dengan dua tangan, sepertinya ia menangis juga.


Cprat!


"GRAAA!!!"


Cprat!


"PANAAS HAHAHA!!"


Wajah Edel berubah menjadi seputih mayat, dengan urat-urat, mata yang putih total dan gerakan beringas untuk ukuran sosok Edel yang tidak seagresif itu.


"KATAKAN APA YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM SEMUA INI BERAKHIR! APA MAUMU AGAR LEPAS DARI TUBUH EDEL?!"


"AKU HARUS MENGHAPUS RASA DENDAM INI!" gertak Edel sembari berontak begitu brutal sampai menggeser-geser badan kasur.


"HAPUS SAJA JIKA ITU AKAN MEMBUATMU PERGI!"


Hening.


Edel tersenyum dengan mulut yang mengeluarkan liur yang cukup banyak, aku tak suka melihatnya. Alhasil aku hanya berusaha menenangkan Chika yang menangis dengan suara kecil di dekapanku.


"SUDAH KUHAPUS!" kata Edel cekikikan.


"HAPUS APA?!" sentak Bi Voya.


"AKU TAK AKAN MENGGANGGU ANAK INI LAGI."


"Apa maksudmu?!"


"NYAWA DI BALAS NYAWAAA!"


TEB!


Lampu kamar seketika mati, hanya ada cahaya redup saru dari gorden balkon. Lalu terdengar suara petir yang cukup berat, seolah akan turun hujan.


Terdengar suara tarikan napas sangat panjang dari Edel.


"HHHMMMPPHH ...."


Lalu dihembuskan.


Brug!


Hening.


Wajah Edel kembali normal. Tubuhnya melemas dan warna wajahnya sudah kembali normal. Ia nampaknya pingsan.


Bi Voya bilang dengan wajah bersirat bingung. "Chika, Tirta, Gina, hal apa yang kalian mau supaya bisa lepas dari Edel mulai besok?"


Chika bilang, "Hiks, Chika mau Mama datang ke makam kami .... Mama harus inget sama kami. Doain kami juga ... kami ga bisa kemana-mana kalo Mama belum ikhlas. Rasanya berat, kami belum ketemu sama cahaya itu."


"Tirta mau, kalau semisal Papa mati, kuburnya harus di samping kami bertiga."


Gina menjawab, "Kalo aku mau ... Kak Edel gak berakhir mengenaskan kaya aku. Aku mau dia berubah dan lebih baik lagi. Kak Yunita sudah berjuang buat dia."


Bi Voya menyeka air matanya, "Baik. Akan kami turuti semua mau kalian. Asal, sekarang kalian keluar, ya?"


Chika mengangguk. "Iya, Bibi. Chika minta maaf, ya ... maaf udah masukin Kakak Yunita. Abisnya dia cantik sih, kaya Chika. Bobonya juga di kamar Chika. Dia bersihin kamar Chika, mengaji di kamar Chika juga. Jadinya adem ... banget. Pokoknya ... besok Kakak Yunita harus dateng ya ke makam Chika? Haarus."


Tak sadar aku tersenyum saat mendengar pengakuan Chika.


Chika kembali senyum. "Chika keluar duluan yaa, dadah ...."


Drg!


[Kembali ke sudut pandang Yunita]


What the? Tadi aku kenapa? Kok wajahku basah? Aku tadi habis bersandar di Kak Handa apa gimana? Aaah tidak! Apa tadi aku ... kesurupan? Aduh, aku ngapain ya tadi? Semoga gak yang aneh-aneh! Duuh perasaanku jadi canggung kalau melihat Kak Handa.


Kak Ariana meregangkan lehernya, mengebuti bajunya dan mengatur napasnya. Sementara kulihat Kak Axel berwajah bingung dan menggaruk kepalanya.


Aku dibantu berdiri oleh Kak Handa. Kak Ariana berdiri sendiri.


Krriiinggg!


Bi Voya mengangkat panggilan masuk itu. "Halo?"


Hening.


"A–APA?! SUAMIMU KECELAKAAN?!"


Aku tercengang, Kak Ariana juga terdiam. Semuanya terhening. Sementara Edel masih tak sadarkan diri.


Apa yang akan terjadi setelah Edel sadar dan tahu berita soal Ayahnya yang kecelakaan? Apa akan ada singgung dengan polisi? Apa yang akan terjadi besok?


Crrsss!


Hujan pun turun dengan deras.


Bersambung ....