I Have No Mouth

I Have No Mouth
Prolog



Perkenalkan, namaku Edelweissha. Biasa disapa Edel.


Nyatanya parasku tak seindah namaku, kata orang.


Gelap warnaku, rambut kusam dan mata yang kosong. Tidak glowing ataupun langsing. Gadis tidak berguna dan dianggap sebagai pembawa sial di keluarga sendiri. Dicaci dan dimaki sebagai anak haram yang terlahir untuk ditindas dan dihina. Entah mengigau apa ibuku memberi nama seindah itu, padahal kenyataannya ia juga membenciku.


Hidupku hampa dan kosong, sejak mataku bisa terbuka. Seolah aku hidup untuk tersakiti agar akhirnya mati karena tersiksa.


Namun malaikat itu datang padaku, sosok gadis dewasa lebih awal yang punya jiwa yang lebih semangat dari milikku. Namanya Yunita. Satu-satunya gadis yang menganggapku berharga dan bisa bahagia.


Dia juga lah yang tahu soal kutukan sekaligus kelebihanku.


"Edel, kok muka kamu lebam begitu?!" panik Yunita melotot cemas tepat di depan wajahku, "Kamu dipukulin siapa?"


Seperti biasanya, aku hanya diam menatapnya.


Sepertinya dia kesal karena tak dapat jawaban. Namun ia selalu berlaku lembut dan sabar meski pada manusia tak tahu diri sepertiku. Seolah ia yang tua di sini dan aku adalah adiknya. Padahal usia kami sepantaran.


Dia duduk di sisiku dan bilang, "Edel ... udah aku bilang, putusin aja Toro. Kamu sampai kapan mau maafin dia? Dia selingkuh, loh, berkali-kali. Suka kasar dan gak peduli sama kamu! Alasan apa yang mau kamu pertahanin?"


Aku masih diam, bukan tak ingin menjawab.


"Edel, jawab aku."


Masih tak kubalas.


Yunita, seperti biasanya saat tidak mendapat apa yang dia mau dari mulut siapapun akan selalu terdiam menatap targetnya, seolah sedang membaca pikiran tanpa bertanya. Entah mungkin itu kelebihannya atau apa, yang jelas ia lihat dalam hal menebak isi pikiranku. Baik caranya dengan ia analisa, bisa mendengar isi hatiku langsung atau sekedar menebak tapi benar, aku tak peduli, nyatanya semua itu selalu akurat.


Ya meski sebenarnya aku selalu berhasil dibuat was-was jika ia sudah memperhatikanku seperti ini. Aku takut ia membaca pikiranku yang belah mana.


Saat ia sudah tahu, ia akan menghela napas lemah, "Barusan kamu ketemu dia ... terus ditampar, rambut kamu dijambak dan dipermalukan di depan umum, ya?"


DEG!


Aku melotot, apa ia menganalisa semua lukaku?


Ah, ini akan jadi bahasan buruk setelah dia tahu.


''Aku anggap itu sebagai 'Ya'." ia pun berdiri dengan percaya diri, "Ayo aku antar kamu ke sana. Aku yakin ada yang mau kamu omongin, 'kan, sama dia?"


Dalam hatiku, apa gadis ini gila?


Memang ada yang ingin kukatakan pada Toro.


Tapi dari mana dia bisa tahu hal itu ... sementara aku dan dia seperti halnya hubungan manusia dengan patung! Jarang bersahut-sahutan kala bicara, bahkan aku sering menyembunyikan hal yang ingin aku rahasiakan.


Dia pun melanjutkan, "Dalam kondisi begini, kamu harus berani angkat bicara. Kamu punya mulut. Gak perlu bicara banyak-banyak, kalo memang gak perlu. Satu kalimat yang mewakili perasaanmu, itu udah cukup buat menjelaskan segala hal. Aku gak mau lebam-lebam di badan kamu itu terulang lagi, sementara kamu cuma bisa diam aja."


Kutatap dia, dengan diri sendiri yang tak yakin.


"Aku yakin kamu bisa. Buktikan hari ini, ucapan kamu bakal merubah segalanya. Apapun yang terjadi, aku bakal tetep ada buat kamu, kok, Del," ungkap Yunita dengan tegar, mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.


***


Kami berdua sudah berada di salah satu warkop langganan anak bolos di belakang sekolah pacarku. Seperti biasa, sebagai sosok berani yang mudah tersundut, Yunita sudah berwajah emosi duluan saat melihat gerombolan laki-laki dengan satu cewek di antara mereka duduk bersama dengan gelak tawa, puntung rokok dan kulit kacang yang berserakan di mana-mana.


Sedangkan aku yang tadinya hanya ingin pulang dan duduk di pojok ruangan, kini merasa lebih berani dan aman saat ada Yunita, meski aku tak tahu hal apa yang akan dilakukannya.


"Wah, ada Yuyun! Halo, Yun? Tumben ke sini?" seru Toro menyambut sok asik, "Wah, wah, wah ... Ada Edel juga. Itu muka kenapa kek abis disedot cowok--"


"HEH--JAGA YA MULUT LO!" sentak Yunita menggelegar satu tongkrongan dan membuat semuanya bungkam, "Mana Si Toro?!"


Sedetik kemudian kulihat pacarku keluar dengan cewek lain di rangkulannya dengan muka tanpa dosa.


Yunita menoleh, melotot menatapku dengan nanar.


Aku pun sontak merunduk, menelan ludahku susah payah. Mataku memanas tak tahu harus bagaimana lagi. Bahkan otakku kehabisan kata untuk berniat menjawab. Yunita pasti merasa buruk saat mendengar kalimat jelek dari Toro. Aku punya harga diri saat bersama Yunita. Makanya niat ini muncul setelah sekian lama.


Aku tak berpikir akan melakukan kutukan ini, tapi itu sangat memukulku. Kusiapkan nyali, kutatap bulat-bulat mata Toro dengan semua kedongkolanku selama ini.


"Ngomong woi! Punya mulut, 'kan?" cecar Toro.


Cewek murahan itu menjawab, "Mana berani dia lawan kamu, Yang. Tampangnya aja keliatan lemah."


Yunita seolah hendak menghabisi cewek murahan itu.


Kucoba, kupaksa membuka mulutku, kutarik pita suaraku yang lama diam. Dengan suara yang kusiapkan cukup untuk di dengar tongkrongan yang kini sunyi, kukatakan dengan mantap, "Kamu bakal mati dalam keadaan terlanjang, Toro!"


Semua indera mereka seolah mati rasa, Toro menautkan alis bingung. Sementara kulihat Yunita mengernyitkan alisnya dengan tatapan tak tahu apa yang kukatakan.


Aku yang kaget dengan ucapanku sendiri lantas langsung menutup mulutku, berlalu dengan cepat meninggalkan Yunita dengan keheranannya.


Yunita langsung mengejarku, "Edel!--Edel!"


***


Keesokan harinya.


Brak!


Yunita membuka pintuku secara kasar dan menatapku dengan ekspresi kalut serta sorot mata yang sulit ditebak. Matanya sontak berkaca-kaca seperti menahan sesuatu dan menangis histeris dalam diam. Dia memang cewek perasa, setahuku. Sehingga ia menghampiriku yang sedang menyisir rambut bertekstur sapu ijuk ini dan duduk di depanku dengan napas bergetar dan tubuh gemetar.


Aku menaikkan sebelah alis ke arahnya.


Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Menggerakkan jari dengan cepat ke dalam galeri fotonya. Kemudian menayangkan sebuah video di depan wajahku.


Suaranya bergetar sembari menarik kembali cairan hidungnya. Tangannya bahkan gemetar hebat saat menyodorkan layar ponselnya ke arahku. "E--Edel ... kemarin---T--Toro meninggal diserbu empat anjing liar!"


Deg!


Videonya membuatku setengah bahagia.


Bisa kulihat dengan jelas, ******** itu mati dalam keadaan mata terbuka lebar seolah tewas salam keadaan takut dan terkejut dan mulutnya menganga. Seperti sudah didatangi malaikat pencabut nyawa. Dengan muka yang untungnya masih utuh, itu memanglah Toro. Dikerumuni warga dekat warkop kemarin dengan tangan obrolan penuh tanya dan sebut-sebut ampun pada Tuhan karena kasihan. Kamera Yunita bergerak secara amatir merekam mayat Toro yang tergeletak di jalan aspal dengan bajunya yang terkoyak habis.


Tubuhnya tercabik-cabik seolah diserang secara ganas, bahkan hingga ke *********** yang nampak hancur. Perutnya robek hingga tak lagi bebentuk.


Darah bermuncratan di mana-mana. Hanya warna merah yang menyelimuti tubuhnya seolah membuat bajunya tidak ada. Dia telanjang dalam keadaan penisnya yang terputus habis. Wajah yang kaku dan pasi penuh sakit. Dan mungkin juga anjing-anjing liar yang baru setengah kenyang sudah kabur saat diusir warga.


Aku tersenyum ke arah Yunita dengan perasaan campur aduk, entah rasa apa hati ini. Sambil menggeleng kepala, "A--aku gak punya mulut ... aku gak punya mulut ...," ulangku sambil menyeringai dan menggerakkan tubuhku pelan ke depan dan ke belakang dengan reflek.


Terdengar embusan napas kasar darinya. Lantas Yunita pun menangis tak bersuara sembari menutup wajahnya.


Entah apa yang sedang ditangisinya. Apa ia kesal dengan reaksiku? Atau ia tak puas Toro langsung mati? Atau ... apa dia tak terima jika Toro meninggal? Apa mungkin? Padahal kupikir selama ini ia membenci Toro dan akan ikut senang untukku saat menyaksikan lelaki itu kehilangan nyawanya. Tapi nyatanya setelah harapan itu terjadi, ia malah menangis. Padahal yang tersakiti dan pacar Toro adalah aku. Entahlah, kalian semua boleh benci aku selamanya.


Yang jelas ia tahu, semua sumpah serapah apapun yang keluar dari mulutku ... akan menjadi nyata.


Tapi bagaimana pun, Toro mati karena kehendak Tuhan, 'kan?


Apa kalian pikir ini adalah salahku?


Atau bahkan salah Yunita?


BERSAMBUNG ...