
Satu Hari Buruk Mina
Ini cerita sehari sebelum Mina bunuh diri.
Emosi sudah sampai ke ubun-ubun dan siap meledak. Aku tak membayangkan bisa mendengar percakapan seperti di sinetron yang aku tonton. Apalagi Mina yang di bahas. Kini aku mendengar suara langkah saat kaki ini hendak masuk untuk melabrak dan menjambak kepala mereka semua sampai copot karena terlalu emosinya.
Suara itu milik Mina.
Suaranya agak lemah. Tuhan ... aku tak tahu apa yang baru saja terjadi dan dilakukan adik dari Iblis Adnan itu di dalam sana. "A-adnan ... Aku mau pulang, ya. Tugasku udah selesai."
Pakai nyali baja, aku mengintip dari balik pintu dengan hati dongkol, aku menyumpah-serapahi mereka berenam duduk di sofa yang berbentuk L yang tak juga menyadariku. Adnan pergi sejenak dan Mina berdiri di hadapan mereka dengan merunduk seperti sikap pembantu pada majikannya. Aku tak tahu mengapa aku merasa ada di lokasi syuting film sinetron saat ini.
Adnan kembali dari perginya.
Plok.
Ia membanting santai amplop panjang yang kurasa isinya adalah uang bayaran bagi Mina. Kurasa itu lebih dari lima juta rupiah. Soalnya agak tebal. Entah mungkin segitu harga diri Mina demi keluarga bejatnya. Seperti aku sangat ingin membakar habis rumah ini dan penghuninya agar mereka bisa merasakan neraka dua kali.
Adnan kembali duduk. "Pergi sana."
Aku yang mendengar Mina akan keluar langsung mengambil langkah seribu tanpa suara sedikitpun. Berlari cukup jauh, kemudian kembali berjalan santai agar tak dicurigai orang komplek ini. Mataku kembali berkaca-kaca. Dadaku sesak, tenggorokanku pegal dan nafasku perih karena menahan tangis sejak awal menguntitnya. Apalagi setelah ini aku akan melewati rumah duka Kak Rian. Makin ingin menangis pula aku saat mengingat wajah dan kebaikan lelaki itu.
Langkahku reflek terhenti di depan rumah duka Kak Rian yang ramai. Suara tangis terdengar jelas bahkan dari yang duduk di teras. Air mataku menetes deras seolah aku begitu mengenalnya. Padahal pertolongan dan perkenalan singkat itu belum ada apa-apanya.
Namun setelah ia mendekapku dari belakang dan melindungiku dari kejaran Adnan, aku tak tahu betapa baiknya ia lebih dari orang yang kukenal. Dan saat tahu ia telah tiada, hatiku ambyar bukan main. Hancur berantakan. Apalagi aku tahu bagaimana orang mati yang belum sadar mereka mati, sebelum masuk hari kematiannya yang kedua. Sehingga ia masih menolong orang seolah ia masih hidup. Sungguh kebaikan tak pernah berpaling dari orang terpilih meski sudah bukan manusia.
Bayangkan saja bagaimana rasanya takut dan menahan tangis karena habis dikejar enam orang laki-laki, lalu ditolong sosok Kakak baik yang ternyata baru saja meninggal dunia dan juga mendengar sahabat kita rela di-enam-kan oleh anak orang kaya dan dibayar dengan mudahnya.
Rasa sakit membayangkannya meresap ke seluruh tubuhku hingga membuatku lemas dan ingin pingsan. Rasanya aku ingin mematahkan tenggorokanku dan memutus pita suaraku sendiri agar bisa menjerit dan menangis sekuat tenaga tanpa bisa didengar oleh siapapun.
Tak punya waktu lagi. Kebetulan, aku Mina kembali bertemu di angkot yang sama, padahal naik di waktu yang berbeda. Tadinya aku ingin sampai belakangan agar bisa mengikutinya dari belakang. Firasatku terus mengatakan, bahwa ia tak akan langsung ke rumahku karena harus mengantarkan uang itu dulu ke sebuah keluarga yang tak pantas kusebut dengan keluarga itu.
Mina tinggal bersama Ayah dan seorang kakak laki-laki yang bernama Okto. Ayahnya tukang selingkuh yang sering membawa jablay desa masuk ke rumahnya. Kakaknya itu tukang judi dan suka menyabung ayam dengan kampung sebelah. Suka mabuk dan menyakiti Mina kala pulang ke rumah. Segala sesuatunya, Mina yang cari. Uang, makanan, kebersihan rumah. Mereka hanya menganggur, tidur, makan dan minta uang saja. Mina sendiri yang bilang padaku baru beberapa tahun lalu setelah lama kami kenal. Pun, ibunya meninggal karena dipukuli ayahnya sewaktu membela Mina kecil untuk tidak meminta-minta pada juragan sawah.
Keluarga macam apa itu?
Aku sembunyi dan bersila di balik semak-semak, yah tak peduli akan gatal atau takut ada ular, hanya di sini aku bisa mengawasi Mina dari jauh. Nanti Kalau Mina masuk, aku akan bergerak maju ke terasnya dan menguping. Mina baru datang, memasang senyumnya yang selalu kubenci itu.
Senyumnya entah mengapa selalu palsu tapi polos.
Ceklek.
"Assalamu'alaikum ...."
"DARI MANA AJA LU, HAH?! BARU PULANG?!"
Deg!
Jantungku langsung masuk mode panik dan berdebar sangat kencang saat suara gertakan Bapaknya menggema sampai keluar rumah. Termasuk mendobrak lubuk hatiku yang paling halus. Perasaanku sudah tak enak kalau begini. Padahal kata ibuku kemarin, Mina sudah diperbolehkan menginap. Kenapa gertakan mereka seolah itu tak terjadi?
Suara Mina tak lagi terdengar.
Brak!
Pintu terbanting penuh emosi. Telingaku berdenging, hatiku bergetar. Mataku melotot sambil berusaha mengontrol kaki yang gemetar, aku menghampiri teras seperti hendak maling sendal. Merapat ke tembok di dekat pintu dan mengamati pembicaraan yang terjadi.
Bug!
"Aduh--sakit, Pak!" jerit Mina baru pertama kali kudengar merespon kekerasan Ayahnya. Mataku langsung berkaca-kaca. Bayangan pukulan keras menghantui otakku. Rasanya ingin kudobrak saja pintu itu dan menarik Mina jauh-jauh dan memecat ayahnya sebagai Bapak.
"GUA SAMA KAKAK LU CUMA DITINGGALIN SEMBAKO! GAK ADA YANG MASAK! GAK ADA YANG BEBENAH! LU MALAH TIDUR DI RUMAH ORANG ENAK-ENAKAN! GAK BERGUNA BANGET SIH LU JADI ANAK?! GUA JUAL JUGA LU YA KE JURAGAN LELE?!"
Deg!
"T--tapi Mina bawa uang buat bapak sama kakak ...," lirih Mina sambil menangis tersedu-sedu, "Ini hasil kerja Mina buat Bapak, Pak--"
Astaga ... hasil kerja?
"DUIT SEGITU DUA HARI JUGA ABIS! JANGAN SOMBONG, LU! KERJA APA SIH LU?! MENDING JUAL DIRI AJA SANA!"
Makin keras suara Mina menangis menggerung-gerung sampai terbatuk-batuk. Air mataku sudah meluncur bebas. Saat ini aku tidak boleh menangis, meski Mina terdengar sangat tersakiti dengan ucapan ayahnya. Bahkan lelaki itu tidak tahu apa yang dilakukan Mina demi mendapat uang. Mungkin hal ini juga yang membuat mina menangis.
Klap-Klap-Klap-Klap--
Aku langsung melipir gesit saat melihat kakaknya pulang. Tangannya mengepal dan wajahnya beringas. Aku mengatur napasku dan berusaha berpikir jernih demi bisa menolong Mina. Rasanya ingin kututup telingaku agar menjaga hati ini agar tak menangis setelah melihat apa yang terjadi hari ini.
"MINA! MANA DUIT?! GUA MAU JUDI!"
Deg!
Langsung tersundut otakku untuk melaporkan keluarga ini ke RT. Aku cukup kenal dengan RT kampung kami. Aku bisa berlari ke sana cukup cepat dan sampai dalam keadaan RT melihat Mina masih dipukuli dua lelaki sialan itu. Dalam hatiku masih terus menggema. Jangan nangis dulu, jangan nangis dulu, Yunita.
Kuawali dengan jalan santai, dan setelah agak jauh, aku berlari menuju rumah RT. Aku minimalisir tangis dan mataku yang berkaca-kaca. Boleh panik, tapi harus tetap terkendali.
Pak RT sedang main catur dengan anak laki-lakinya yang sudah kuliah dan calon Sarjana Hukum. Nama anak lelaki itu adalah Wardana, disapa Kang Dana. Dia sempat suka aku, katanya. Tapi aku masih polos dan memilih bodo amat.
"Pak RT, Pak RT!" Seruku sambil sejenak menumpu badanku, ruku di lutut, ngos-ngosan lebih tepatnya. "Tolong, Pak RT!" lanjutku seperti akan kehabisan suara.
Kang Dana menyahut. "Masya Allah, Teh Yuna?" sahutnya memanggilku dengan panggilan Teteh, Yuna pula, "Ada apa ini? Kenapa buru-buru?" ujarnya tegas namun nadanya enak didengar telingaku yang tengah berdenging.
"Betul itu--ada apa, Yun?" sahut RT dengan mata antusias kakinya turun dari bale dan menelusup ke sendal jepitnya.
Aku mengatur napas. "Mina, Pak. Mina dipukulin lagi sama bapak dan kakaknya!" Aku merasa susah napas, "Hayu, Pak, Kang, kita ke sana cepetan!" seruku kesal melihat mereka masih menyimak.
Kami bertiga pun berlari. Pak RT paling depan yang berlari cukup kencang meski sudah tua. Aku di tengah serta Kang Dana yang berparas manis dengan gigi yang taring gingsul itu ada di belakangku. Rasanya aku ingin terjerembab karena detak jantung, napas sesak dan kepala mulai terasa pusing, aku juga tak kuat lagi berlari. Tapi aku harus tahan!
Kurasa ... ini sudah yang ke 2 kalinya RT berlari ke rumah Mina untuk memisahkan pertengkaran mereka. Dan baru kali ini bersama Kang Dana juga.
Sesaat sebelum sampai, suara Mina menjerit terdengar.
"Dan dobrak, Dan!" kata RT meminta Kang Dana.
Gubrak!
RT masuk duluan seperti polisi yang siap menyergap. Lalu aku dan Kang Dana. RT fokus mencari ayah Mina. Aku dan Kang Dana serius mencari sumber suara jeritan Mina. Dan saat kami sadar itu berasal dari kamar, aku dan Kang Dana sempat bertatapan ragu akan masuk atau tidak.
Kang Dana bilang, "Kamu langsung amanin Mina ke rumah Bapak, ya?" lembutnya agak berbisik, "Nanti saya sama bapak menyusul," sambungnya agak cepat. Kubalas anggukan tak kalah buru-buru.
Ia kembali mendobrak pintu kayu itu.
Brak!
Kang Dana teriak dan langsung menghalangiku, "Teh tutup mata, Teh!" katanya, "ASTAGA BANG OKTO! LEPASIN MINA!" Sentak Kang Dana, aku mengintip, ia langsung menarik Okto yang tengah menindih Mina dalam keadaan sudah membuka resletingnya. Mina menangis ketakutan.
Kang Dana menonjok wajah Okto.
Buagh!
Langsung pingsan, lelaki itu.
Aku bergegas menarik Mina bangkit dan membawanya keluar. "Kang aku bawa Mina, ya?" kataku disela langkah kami yang tergesa dan anggukan Kang Dana. Pak RT tak menemui ayah Mina dan pergi entah ke mana. Bodo amat, kubawa Mina sesuai arahan Kang Dana. Rasanya aku yang ingin pingsan karena semua yang kutahan sejak pagi.
Cukup lama kami menunggu Kang Dana dan Pak RT kembali, aku dan Bu RT masih menemani Mina. Sekiranya ... mungkin sudah tiga jam kami di rumah Pak. RT.
Tak ada hal yang bisa kukatakan lagi pada Mina. Aku hanya duduk di sisinya, memijit kakinya dan sampai pada aku mengelus rambutnya. Ia sama sekali tak mau menatapku. Hanya merunduk dengan tatapan kosong. Bu RT kembali membawakanku minum setelah duluan membuatkan Mina teh hangat.
"Wa'alaikumussalam ...," sahutku dan Bu RT kompak sambil menoleh ke ambang pintu ada Pak RT.
Pak RT berdiri di sisi istrinya, "Yun, terima kasih banyak, ya?"
Aku membulatkan mataku, "Terima kasih buat apa dan gimana sama Bang Okto sama Ayahnya Mina?" tanyaku.
Kang Dana muncul di ambang pintu, "Teh? Boleh ngobrol sebentar sama saya di luar?" tanyanya membuat Bu. RT bengong karena suara maskulin anaknya pada anak gadis orang, rasaku, "Biar Mina sama Ibu dan Bapak dulu."
"Ah, iya. Biar Mina sama Ibu," sahut Bu. RT, namanya Bu Eulis, "Nanti Ibu buatkan makan siang, ya." sambungnya.
Aku pun bangkit dan menghampiri Kang Dana. Entah mengapa, mungkin karena aku pernah dengar ia suka padaku, aku jadi deg-degan sendiri saat dekat dengannya. Tapi aku tidak ada rasa, hanya kagum karena dia manis dan seorang Mahasiswa Hukum di universitas ternama di Bandung. Hanya sebatas itu.
Aku dan dia ke ruang tamu, duduk di sofa yang berbeda. Dia di sofa yang sendiri dan aku di sofa yang khusus tiga orang. Memang bagus seperti ini. Berjarak dan nyaman buatku.
Dia bilang. "Kondisi teteh gimana? Enggak luka atau apa, kan?" katanya intens menatapku, aku jadi malu sendiri.
"Saya enggak apa-apa, Kang." Lalu kualihkan pembicaraan, "Mina, Kang. Gimana soal ayahnya sama Bang Okto?" Tanyaku membuat wajah tenangnya kembali jadi serius.
"Teteh tahu sendiri kan, Bapak saya sudah melabrak ke rumahnya tahun lalu karena laporan Petani yang lewat sana? Dan sekarang teteh yang melapor. Mumpung ada saya dan Bapak juga mau mengusut soal ini, hari ini semuanya terbongkar," lugasnya dengan tertata.
"Ada apa, Kang?" tanyaku.
Ia sempat menghela napas. "Barusan setelah melihat rekaman jejak dan melakukan pencocokan laporan yang pernah ada di kantor polisi, Ayah Mina terlibat kasus pencurian dan perampokan malam bersenjata di daerah Cisaat beberapa waktu lalu. Begal, begitu. Dan Bang Okto ketahuan sudah mengedarkan bir oplosan di kawasan Gunung Putri. Untuk hal ini saya juga melibatkan mereka dalam kasus pelecehan dan kekerasan fisik pada Mina. Putusan akan turun nanti. Ada sidangnya. Didukung 200 orang responden dari kampung ini karena ditakutkan menimbulkan keresahan. Yang berarti keduanya akan dijatuhi hukuman penjara ... paling sedikit dua tahun karena pelanggaran pasal berlapis."
Kagum hatiku. "Tapi saya khawatir soal Mina, Kang."
"Khawatir soal apa, hmm?"
DEG.
Jantungku kembali tak santuy karena deheman tanya di akhir pertanyaannya yang selalu berhasil membuatku luluh. "Akang tau enggak, anak yang namanya Adnan?" tanyaku.
Dia terdiam, "Bukan anak kampung sini, ya? Anak orang kaya, dia. Ada apa? Teteh diganggu sama dia?"
"Oh, enggak, Kang. Umm...," Dan aku menceritakan soal apa yang kudengar di rumah Adnan terkait Mina dan transaksi itu. "Gitu, Kang. Saya juga enggak tau apa yang dilakuin adiknya sama Mina. Saya enggak tau harus apa,"
Kang Dana terdiam cukup dalam.
Aku menyimak cukup serius.
Dia bilang, "Sayangnya. Mereka orang kaya yang akan pintar berkelit. Mereka akan beralasan semua itu sudah disepakati oleh kedua belah pihak, antara Mina dan perjanjian gila yang dibuat Adnan. Kalaupun ditindak lanjuti, mereka semua saja belum 17 tahun."
Aku merunduk murung.
"Tapi tenang aja, Teh."
Aku kembali mendangak.
"Saya akan berusaha usut semuanya. Saya enggak bisa nyerah gitu aja karena keadaan. Lagipula tadi Bapak bawa barang bukti dari rumah Mina berupa uang senilai sepuluh juta. Mungkin itu yang Teteh maksud bayarannya, ya?"
Aku mengangguk cepat.
Ia tersenyum. "Oh, iya. Teteh--"
"Jaaang? Teh Yuni ...," panggil Bu. Eulis memotong ucapan Kang Dana padaku. Aku bersyukur, "Makan dulu, sini!"
Kami pun berjalan ke ruang makan sederhana yang dekat dengan dapur bersih. Sebuah meja dan enam bangku di kedua sisinya yang saling berhadapan. Aku pun memutuskan untuk duduk di sebelah Bu. Eulis dan Mina. Sementara Kang Dana dan Pak. RT duduk di seberang.
Secara sadar, kita pasti tahu ada orang yang melirik-lirik kita. Dan kita selalu menolak hal itu karena alasan gede rasa. Tapi kali ini aku memergoki Kang Dana menatapku dari seberang sana tanpa bicara apa-apa. Mina makan cukup banyak dan lahap. Entah karena dia lapar atau melampiaskan emosinya pada makanan.
"Neng Mina ... pelan-pelan atuh makannya. Masih banyak kok, mau tambah ambil aja," Lembut Bu Eulis sedikit menggeser lauk ke hadapan Mina.
Aku kaget dan tak sengaja mendenting piring dengan sendokku.
Crrk--Ting.
Semuanya ikut kaget. Termasuk Kang Dana langsung menatapku dan mengikuti arah mataku dengan begitu penasaran. Mina masih makan dan aku bisa melihat ada sosok Mina Palsu yang berdiri di belakang bangku yang diduduki Mina. Hanya diam, matanya bolong mulutnya masih dengan senyum Creepy yang kalian kenal menetes cairan hitam ke atas kepala Mina. Tanganku gemetar dan tak bisa menahan tangis karena takut.
Aku bangkit, "Permisi, Pak, Bu, Kang. Saya ijin ke belakang." hanya dibalas anggukan, aku langsung bergegas memutari meja demi menjauhi dua Mina itu.
Ceklek.
Drg.
Crsss ...
Byurrr--byurrr.
Aku menatap wajahku di cermin westafel kamar mandi tamu. Kubasuh wajahku agar sedikit segar sambil mengatur ekspresiku. Aku pasti akan mengalami frustasi berat karena takut dan menahan tangis beberapa hari ini. Aku sedikit memiliki Mata Panda. Ekspresiku agak serius dan lelah.
Cting--Cting!
Kuraih hape dan mengecek notifikasi pesan.
----------------
Pesan pertama :
+62822274013××
Baru saja
Bakal gue cari, lo sampe ketemu. Tunggu aja.
-Adnan
---------------
.
.
Deg!
.
.
---------------
Pesan kedua :
Kang Dana
Baru saja
Teh? Baik-baik aja kan?
-----------------
Bersambuung..