I Have No Mouth

I Have No Mouth
Ketukan



Menyesal.


Ya, hanya kata itu yang mewakili seluruh perasaanku sekarang.


Aku menyesalkan diri yang bodoh ini kenapa terlalu ingin tahu sehingga mengintip komentar di sebuah forum horor tentang tak boleh mengintip jendela pada jam-jam tertentu di malam hari.


Katanya ketika jarum jam menunjuk angka sebelas, satu dan tiga, kita tidak boleh melihat ke luar jendela seberisik apa pun suara di luar sana.


Lalu sekarang, aku sendirian di rumah nenek yang jauh dari pemukiman penduduk ini, menempati kamar depan yang ranjangnya bersebelahan dengan jendela yang menghadap halaman rumah nenek.


Sialnya, jarum jam kini menunjuk angka sepuluh dan aku sama sekali belum mampu memejamkan mata karena suara gaduh kucing-kucing liar di luar sana yang di telinga justru terdengar seperti jeritan kuntilanak.


Menyeramkan.


Bukankah ini seperti nasib sial yang datang bertubi-tubi?


Segala upaya telah kulakukan untuk membuat mata ini terpejam, untunglah ketika menjelang pukul sebelas malam, aku berhasil tertidur.


Namun, ketenangan itu tak bertahan lama, rasanya baru beberapa menit berada di alam mimpi saat telinga menangkap suara aneh di luar jendela.


Seperti ... suara garukan.


Terus menerus, naik turun, dan sangat intens. Kadang meninggalkan bunyi decit nyaring yang sedikit membuat telinga berdenging.


Kedua netra terbuka seketika, kegelapan kamar menyambut kesadaran diiringi degup jantung yang mulai tak beraturan.


Suara apa itu?


Tangan meraba-raba mencari ponsel untuk kunyalakan layarnya, tertera angka 00.45 yang menyergap pandangan.


Aku ... harus bagaimana?


Menyibak tirai untuk melihat asal muasal suara berisik ini atau tetap diam seakan tak ada apa pun yang terjadi sehingga aman sampai pagi?


Suara petir menggelegar seiring hujan yang mendadak turun begitu deras, beberapa detik kemudian, gelap gulita semakin meraja karena listrik yang tiba-tiba padam, sementara suara garukan di jendela tak kunjung berhenti.


Perlahan, ujung kaki menarik selimut yang tertendang ke pojok ranjang saat tidur tadi, seakan takut satu inci gerakan mampu membuat nyawa melayang, dengan sangat perlahan kututup seluruh badan, bersembunyi dengan ketakutan yang merajam persendian.


Depan rumah nenek adalah sekolah tua yang beberapa tahun ini terbengkalai karena murid-muridnya dipindahkan ke gedung yang lebih besar, engsel pintu gerbangnya sudah hampir copot sehingga jika hujan deras disertai angin seperti ini, gerbang itu mengeluarkan bunyi nyaring karena bergerak tertiup angin.


Aku benar-benar bisa mati karena ketakutan atas semua situasi menyeramkan ini, tapi untunglah, saat napas sudah sesak karena degup jantung yang tak terkendali, suara garukan itu berhenti.


Kini hanya tinggal suara hujan dan aliran airnya yang menetes-netes dari atap rumah nenek.


Hawa dingin karena hujan membuatku yang kelelahan karena beberapa menit lalu terserang rasa takut tanpa sebab perlahan tergiring ke alam bawah sadar.


Ketika kedua mata mulai terpejam, telinga justru dengan lancangnya kembali menangkap suara tak wajar dari luar sana.


Kini bukan garukan, melainkan sebuah ... ketukan.


Awalnya jauh, lalu semakin dekat, dekat dan ... mengetuk jendela kamarku. Suaranya keras, tergesa-gesa, seperti tak sabar.


Darah seakan naik ke kepala saat sebuah suara mengiringi bunyi ketukan itu, suara seorang perempuan yang merintih putus asa.


"Tolong ... tolong aku, tolong aku ...."


Ketukan di jendela pun semakin keras, diiringi rintihannya yang semakin mengerikan, ketakutan menderaku sampai membuat telinga seakan berdenging karena aliran darah yang memenuhi kepala.


Makhluk apa di luar sana?


Kenapa menghantuiku seperti ini?


Apa salahku?


Rintihannya semakin menyayat hati, dengan bunyi ketukan yang mulai melemah karena rasa putus asa. Kadang suaranya terdengar di pintu depan, kadang beralih di jendela kamarku.


Sialnya, rasa penasaran ini seakan membunuh secara perlahan, mengabaikan peringatan dilarang membuka jendela ketika pukul satu malam segaduh apa pun suasana di luar, kusibak tirai di depanku, dan ....


Apa yang kulihat di luar sana benar-benar mampu membuat siapa pun yang penakut seperti diriku mati di tempat.


Tepat berdiri di luar jendela, sesosok perempuan, dengan rambut panjang acak-acakan dan gaun putih basah kuyup penuh noda lumpur.


Tak cukup sampai di situ, ekspresinya sungguh tak mampu ditulis dengan kata-kata, kedua bola matanya berwarna merah dengan wajah kacau dan kotor sampai tak bisa dikenali seperti apa bentuk aslinya.


"Tolong ... bukakan pintunya, kumohon ...."


Rintihan seraknya membuatku refleks meloncat mundur dengan tubuh gemetar hebat, cepat-cepat menarik selimut dan bersembunyi di sana dengan rasa takut yang benar-benar menggila.


Perempuan di luar kamarku semakin keras mengetuk jendela, bahkan menggedornya dengan terus merintih minta tolong. Seakan tak mau menyerah untuk terus menyiksaku dengan rasa takut.


Seumur hidup, baru kali ini aku bertemu dengan makhluk dunia lain, betapa menyeramkannya! Harusnya aku tak pernah membuka tirai itu! Harusnya rasa penasaran seperti ini tak perlu dituruti!


Makhluk itu masih terus menggedor jendela kamar, tak mau menoleransi ketakutan yang hampir mampu membunuhku kapan saja.


Tiba-tiba terdengar suara debam sangat keras, seperti seseorang melempar benda berat ke dinding, dan perempuan di luar jendela itu menjerit dengan begitu memilukan, melolong keras seperti suara kucing-kucing liar yang sedang bertengkar.


Suara jeritannya masih terus menggema sampai beberapa detik kemudian, sedang bunyi gerimis semakin menambah seram jeritannya yang begitu mengerikan.


Tubuh masih terus meringkuk di balik selimut dengan seluruh sendi mati rasa, pengalaman horor ini begitu mengerikan dan mengguncang jiwaku. Aku mungkin tak akan selamat malam ini.


Tak tahu sampai kapan bertahan dalam posisi seperti itu, kesadaranku terenggut begitu saja.


****


Aku terbangun karena suara gedoran di pintu, terdengar nenek memanggil seakan sedang diburu sesuatu.


Suasana sudah terang benderang kini, segera aku meloncat dari tempat tidur dan membuka pintu kamar disambut oleh gurat khawatir di wajah nenek.


Apakah nenek tahu kalau semalam aku dihantui makhluk seram yang mengetuk jendela kamar sehingga cepat-cepat datang menemuiku?


Baru saja mulut terbuka untuk menceritakan pengalaman beberapa jam lalu, tangan keriput nenek menyeretku ke luar dengan tergesa.


Aku tak mampu menangkap seluruh ucapannya karena belum sadar benar, tapi ketika nenek bertanya:


"Kamu tidak tahu ada pembunuhan di sini semalam?"


Langkah pun sontak membeku, bertepatan dengan ketika pandangan mata menangkap sebuah benda berwarna putih menelungkup di depan rumah ....


Bukan, bukan benda. Melainkan sebuah mayat perempuan berambut panjang yang seluruh gaun putihnya kini berlumuran darah ....


Para warga yang berkerumun di situ membalik badan sang perempuan, dan ... pemandangan di depan benar-benar tak terlupakan.


Wajah dengan kedua mata melotot itu ....


Wajah yang semalam merintih minta tolong bukakan pintu padaku.


Spontan aku terduduk di lantai dengan wajah pias dan badan lemas, rasa menyesal menghantam dada seperti ombak di waktu pasang.


Seandainya ... seandainya tadi malam aku menolongnya dan mengabaikan bayangan gila tentang makhluk tak kasat mata serta mitos dilarang melihat jendela ketika pukul satu malam ....


Apakah ... apakah saat itu aku telah menyelamatkan nyawanya?


****


END.