I Have No Mouth

I Have No Mouth
Kekuatan Orang Dalam



"Teh ...?"


Aku yang sedang makan rujak sehabis Ashar ini lantas menghentikan kunyahan kala mendengar ada ibuku memanggil, "Iya, Ma?"


Ia muncul dengan membawa ponselnya dan duduk di sisiku di atas bale belakang rumah, "Barusan Mama-nya Edel telepon, ijin ke mama buat minta Teteh nginep di rumah Edel. Terus ... mama ijinin, deh,"


Deg!


Hening.


Aku tak berkedip, menoleh horor dengan menaruh kunyahan mangga asam itu di pipiku, "Nginep di rumah Edel?"


Ibuku mengangguk, "Teteh berangkat sekolah dari rumahnya aja, katanya ada hal penting soal Edel. Mama ijinin Teteh nginep sampe Ibunya selesai urusan sama Teteh, ongkos sekolah sama jajan, ditanggung katanya,"


Kupingku menajam saat mendengar Ibunya Edel akan membiayai hariku selama di rumahnya.


Tapi ... diberi sogokan apa ibuku sampai mengijinkanku menginap dalam jangka waktu 'terserah' di rumah orang, sedangkan ia ingin aku membantunya dengan segala kerjaan di rumah?


Bahkan ia mengijinkanku berangkat sekolah dari rumah Edel. Di satu sisi aku senang karena bisa bebas dari kerjaan rumah sejak pagi buta, tapi kalau larinya ke rumah temanku yang aneh itu, aku jadi tak tahu harus merasa senang atau sedih. Apalagi hanya tinggal berdua dengan Edel di rumah dua tingkat yang luas halamannya bisa dipakai bermain sepak bola itu. Bisa insomnia mendadak tiap malam!


Aku memastikan keputusan ibuku, "Seriusan, Ma?"


"Iya udah, sana. Siapin seragam sekolah buat tiga hari. Entar keburu sore, loh?" ia langsung pergi meninggalkanku dengan selera makan rujak yang langsung hilang. Yang kudengar hanya detak jantungku hingga ke pelipis.


***


Perjalanan ke rumah teman anehku itu.


Hari sudah senja, sudah lebih dari pukul lima tentunya. Langit mengoranye, matahari meredup dan angin mulai terasa menusuk dinginnya. Membayangkan tinggal bersama Edel, membuat sejenak bulu romaku meremang ngeri. Apa saja yang akan terjadi? Apa aku bisa pulang dalam keadaan tenang? Pikiranku melantur ke mana-mana. Aku melangkah melewati beberapa rumah dengan menggendong tas berisi baju tidur dan seragam sekolah Kamis, Jumat dan Sabtu.


Setelah cukup makan waktu, aku pun sampai di teras luas rumah megahnya Edelweissha, "Asalamualaikum ...?" ujarku sambil mengetuk pintu, "Edeeeel?"


Terdengar suara putaran kunci dari dalam.


Jantungku tak lagi tenang.


Ceklek ....


Edel membukakanku pintu dengan wajah kusam, "H--hai,"


Aku tersenyum memcemaskan suaranya, "Hai,"


"Langsung ke kamarku aja, yuk?" ajak Edel dengan suara lemah, "Mamaku pulang sebentar lagi," sambungnya lalu melebarkan pintu untukku.


Aku dibiarkan dia masuk duluan. Seperti seadanya ruang tamu luas ala orang kaya itu, terdapat satu set sofa bludru abu-abu yang mahal di kiriku. Lantainya bersih mengkilap. Furnitur kayu jati dan aksesoris cantik yang terbuat dari keramik putih terpajang memanjakan mata. Chandelier bercahaya keoranyean meggantung di langit-langit ruang tamu. Aku seperti berada di rumah yang ada di film-film.


"Ayo ikut aku," kata Edel berjalan mendahuluiku menaiki tangga. Ia dan kesehariannya masih dengan baju terusan, seperti daster modern berwarna putih polos dengan rambut yang sejak lama sangat gatal ingin kutata.


Kami pun sampai di lantai kedua.


Di mana mataku langsung disambut koridor putih dengan beberapa lukisan artistik yang menghiasi sepanjang jalan. Sejauh mata memandang, terdapat dua pintu di sebelah kiriku. Pintu pertama tertulis plang putih bertuliskan 'Kamar Tamu 2' dan pintu satunya lagi tersemat mahkota bunga putih di pintunya yang tertulis nama 'Edelweissha's Room'.


Edel menekan gagang pintu kamar tamu dan mendorongnya agar terbuka, ia sekilas melirik isi kamar, isyarat mengajak masuk. Aku pun mendahului langkahnya.


Kamar ini sejuk, ukurannya dua kali lebih luas dari ruang tamu di rumahku. Luas kasurnya pun bisa ditiduri lima orang. Ada kamar mandi, televisi, lemari, kulkas, dan pemandangan balkon yang menampilkan sunset yang samar tertutup gorgen transparan. Aku merasa seperti menginap di sebuah kamar hotel tapi gratis.


"Meski gratis, ada Edel di dalamnya." geming otak jahatku.


Aku menghadap Edel dan berusaha membuatnya bicara lebih banyak, "Edel, apa kamu tau soal aku menginap di sini?" Sengaja kutanya pertanyaan tak bermutu, basa-basi, "Kamu senang gak aku ada di sini?"


Ia mengangguk antusias dan tersenyum lembut.


"Serius? Kalo serius, jawab dong," tuntutku.


Ia menghela napas, tersirat takut salah bicara di wajahnya, "I--iya, Yun. Ini hal yang paling aku mau selama kenal sama kamu," lalu tersenyum lembut.


Aku menemui masalahnya, "Aku harap itu bener,"


"I--ih iya bener, kok nggak percaya?" sahutnya bersuara.


Tahukah kalian?


Saking jarangnya Edel berbicara, mungkin seumur hidupnya, sekalinya ia bicara akan terdengar sangat polos, seperti anak kecil yang baru bisa bicara. Kecuali ketika ia murka, tragedi manapun tak 'kan lolos. Suaranya terdengar manis dan lembut. Namun jarang kemungkinannya Edel akan membalas atau menjawab pertanyaan kalian lebih dari enam kalimat.


Kubilang, "Aku mau ganti baju, abis itu kita main,"


Alisnya mengernyit, "M--Main?"


Beberapa menit berlalu setelah aku ganti baju dan Edel masuk ke kamarnya. Sekarang aku sudah berada di kamarnya, di atas kasur aku duduk berhadapan dengan Edel yang sebelumnya sudah kusuruh mandi sore. Rambutnya sudah kukepang ala Elsa di animasi Frozen, setelah cukup lelah kubuat rambutnya rapih. Aku pakaikan masker wajah berwarna ungu, beraroma lavender untuknya. Dengan telaten kupotong semua kukunya lalu kuberi cat kuku berwarna putih ber-glitter.


Kataku dengan senang, "Mulai sekarang ... aku ngga mau tau. Edelweiss harus jadi sosok yang lebih baik lagi!" kusadari matanya yang mulai hidup itu menatapku polos, kulanjutkan, "Baik di luar maupun dari dalam. Kamu berharga, kamu pantas bahagia,"


Edel membuka mulutnya hendak bicara, tapi bungkam lagi.


Aku tertawa kecil, kusudahi kegiatan menguteki sepuluh kuku jarinya, membereskan semua barang kecantikan itu ke dalam kotak yang kubawa sendiri dari rumah. Sejenak kutaruh kotak itu ke kolong kasur, ''Nanti sebelum aku pulang, kita mainin semua barang ini lagi,"


Edel tersenyum lebar dan menunjukkan gigi rapihnya.


Aku kembali ke hadapannya, lalu menatapnya penuh perhatian, "Aku mau ngomong sesuatu. Karena masker kamu belum kering, kamu cuma harus dengerin dan pikirin aja, ya?"


Ia mengangguk dengan senyum mungil.


Sebelum mengusik mentalnya, kusiapkan dulu psikisku, "Aku gak tau gimana masa lalu kamu, sampai buat kamu malas atau bahkan takut buat ngomong kaya gini. Awal kenal sama kamu, maaf, aku kira kamu bisu. Tapi setelah banyak kejadian nyata yang kukira kebetulan, padahal itu berasal dari ucapan kamu, apalagi setelah apa yang dialami Toro, aku paham kenapa kamu takut buat ngomong,"


Mata Edel langsung berkaca-kaca.


"Lagi-lagi ... aku memang gak tau banyak soal masa lalu seorang Edelweissha," tambahku, "Tapi yang aku tahu, kamu manusia yang punya otak. Kamu dianugerahi perasaan. Kamu juga bisa bicara. Kamu pun berhak angkat suara. Yang perlu kamu tahu, gak apa-apa kok ngomong, karena gak semua yang kamu ucapkan selama itu baik bakal membahayakan orang lain ...."


Dia menarik cairan di hidungnya dengan air mata yang mengalir. Entah telah kusentuh hati belah yang mana sampai belum tiga paraghraf pun kuucapkan, ia sudah menangis duluan.


Aku senyum, "Kalau kamu menyemangati orang lain, maka orang itu akan semangat. Tapi kalau kamu menyumpahi orang lain, ... maka kejadian yang selama ini gak kamu inginkan, bakal terjadi lagi. Hal itu juga yang buat kamu makin takut buat menggunakan mulut. Aku gak mau kamu berpikir, kamu terlahir tanpa mulut karena kelebihan yang kamu punya,"


Edel tak berkedip sejak pertama aku bicara. Aku jadi benar-benar berpikir keras untuk memilih kata demi bisa dipahami Edel soal dirinya sendiri untuk bisa mengetuk sadarnya.


"Aku punya saran yang cuma seorang Edel yang bisa lakuin. Tapi kamu tetap gak perlu banyak omong kok,"


Sembari memperjelas setiap kata-kataku, "Edelweiss yang baru ... adalah Edel yang ngutamain tindakan daripada ucapan. Talk less, do more. Sebagai contoh ... kalo orang hina fisik kamu, kamu gak perlu simpan dendam dan sumpah buat balas mulut mereka. Edel yang baru ... akan buktikan kalau Edel bisa mematahkan hinaan mereka. Caranya? Dengan cara bikin Edel bersih, cantik, baik fisik maupun hati. Jadi cantik fisik gampang kok, ... cantik hati yang susah. Jadi ... dengan Edel menyingkirkan niat menyumpahi orang lain dan berusaha menjadi lebih baik buat diri sendiri, cantik hati dan fisik bakal Edel dapatkan."


Samar-samar kulihat Edel mengangguk kecil.


"Mulai sekarang, kalau ada orang yang bicara, tanggapi ya? Selama itu baik, orang gak akan marah sama suara kamu. Jadi, kamu yang harus perhatikan bahasa buat bicara. Jangan ada takut lagi buat ngomong. Kamu punya mulut. Kamu juga punya attitude. Kamu bisa jadi Edel yang mama kamu, ayah kamu, teman kamu bahkan diri kamu sendiri inginkan. Mulai aja dulu ... ini udah waktunya kamu berubah. Meski secara perlahan-lahan,"


Setitik ceria kutangkap di matanya.


"Yun," ujarnya mengagetkan sadarku.


"Ya?" kataku senang mendengar suaranya.


Dengan gerakan bibir yang minim karena maskernya yang mulai mengering, "M--Mukaku ... kok kaku, ya?"


Aku tertawa kecil.


***


Aku sudah memakai seragam sekolah di hadapan Azalea, ibunya Edel. Dari perbincangan kami tadi, beliau memintaku untuk membuat Edel menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Ia memberiku kunci kamar CCTV rumah ini. Bahkan ia memberiku sebuah nomor kontak.


Kami sedang di ruang makan sembari menunggu Edel turun dari kamarnya untuk sarapan, ia bicara di sisiku agak pelan, "Yun, nomor tadi itu punya teman sebangku Edel. Namanya Yasmin. Dia sudah saya minta buat ngasih tau kegiatan Edel di sekolah hari ini sama kamu. Kamu sudah saya kenalin sama dia. Dia salah satu teman yang gak dianggap sama Edel. Makanya untuk hal ini dia mau komunikasi sama kamu soal aktivitas Edel di sekolah. Dia bakal jadi mata-matanya Edel selama komunikasi sama kamu,"


Aku membungkam mulutku yang tadinya menganga kecil, aku tak pernah berpikir akan punya 'informan' atau orang dalam di kehidupan sekolah Edel. Aku merasa harus menjadi teliti selama tinggal di rumah keluarga ini.


Mengingat barusan Ibunya Edel memberiku uang seratus ribu untuk jajan, tak sebanding dengan tanggung jawab yang diberinya. Apalagi aku harus merespon pesan dari Yasmin itu saat berada di kelas. Ini hari penting yang pertama bagiku.


Klap ... klap ... klap.


Edel turun dan ibunya langsung bangkit dari duduknya untuk membuatkan kami roti lapis selai, "Edel ... Ayo, nak, kita sarapan. Sebentar lagi mama harus berangkat arisan dan pergi ke Kantor," katanya pintar akting di mataku.


Edel menyahut, "I--iya, Mah," lalu melirik ke arahku yang sedang merapihkan kerudung.


Aku menudingkan jempol.


Ibunya terdiam sejenak karena mendengar balasan dari Edel. Kulihat Edel menguncir kuda rambutnya dengan rapih. Omong-omong, tadi pagi saat matahari baru muncul, ia kubantu buat poni tipis karena tipikal wajahnya yang agak bulat. Alhasil dengan poni tipis itu dan rambut yang rapih membuatnya terlihat lebih sehat dan hidup.


Edel duduk di seberangku, Bu Azalea berdiri di antara kami sambil mengoles lembaran roti tawar. Sesekali tanpa munafik ia melirik-lirik anak semata goleknya yang berubah drastis dari yang sebelumnya. Kukunya bersih dan masih cantik, wajahnya cerah berseri. Seragamnya rapih juga memakai sedikit minyak wangi.


Aku tersenyum padanya.


Dia melirik ibunya, "Selamat pagi, Mama,"


Ibunya samar-samar melotot kaget, "P-pagi, Sayang,"


Tinggal kutunggu kabar dari Yasmin nanti siang.


***


Aku tengah meremas perutku yang mules di tengah jam istirahat, ditemani tiga teman aku pergi ke toilet. Tak lupa kukantongi hapeku agar bisa sekalian dicek apakah ada pesan dari sosok yang bernama Yasmin itu.


Berta, teman Batak-ku yang luar biasa. "Yun, cepat lah kau masuk tandas ... nanti kalau brocot di sini kan gawaat! Ah!"


"Iya, iya, Ber. Sabar dong," aku langsung memasuki salah satu toilet dan menutup pintu. Baru saja aku bersiap untuk buang hajat--


Drrtttt--Drrrrttt!


Kurogoh hapeku dari kantung rok, dan kulihat Yasmin mengirimku satu panggilan tak terjawab.


Cting!


Satu pesan video masuk ke nomor WhatsApp-ku. Mataku dibuat melotot, perutku makin mulas tapi tak tahu harus mendahulukan mulasnya panggilan alam atau mulas saat melihat apa yang Edel lakukan. Demi sebuah tanggung jawab, kutahan mulasnya perutku demi melihat ulah Edel.


Tlik.


Caption videonya dibuat Yasmin begini, "Tadi pagi Edel mengumpulkan tugas yang selama ini ketinggalan, dan Kirana (saingan belajarnya yang juga ketua kelas) malah merobek lembar tugas Matematika Edel hari ini karena kebiasaannya membully apapun yang Edel lakukan. Apalagi Edel terlihat cantik dan berbeda hari ini. Dan video ini kudapatkan saat kelas sepi dan bel berbunyi ...."


Kubuka file video itu.


Tlik.


Yang kulihat pertama adalah kamera depan yang menunjukkan wajah Yasmin, seperti sedang vlog dari arah kolong meja. Lalu tangannya bergerak secara diam-diam menyorot semua murid yang berhamburan keluar sembari bel istirahat berdering. Saat kelas sepi, hanya sisa ia dan Edel yang duduk di kursi paling belakang.


Cekrit.


Edel berdiri tiba-tiba dan berjalan menuju meja Kirana. Dengan gerakan gesit namun tenang, Edel membuka tas Kirana dan mengambil sebuah buku bersampul cokelat dan pergi bersamanya. Yasmin nampak sigap mengikuti Edel saat Edel dirasa tak menyadarinya.


Dibawanya langkah Yasmin sekitar satu menit ke belakang sekolah lewat akses koridor toilet cewek yang agak gelap. Dan berakhir di belakang sekolah di mana hanya ada gang sempit dan tembok pembatas antara belakang sekolah dan jalan raya di belakangnya. Yasmin pun masih setia merekam apa yang dilakukan Edel.


Edel melihat-lihat isi buku Kirana.


Yasmin sempat merapat diri pada tembok agar tak terlihat Edel yang tengah memeriksa sekitarannya dengan wajah datar namun tersinggung seringaian di bibirnya.


Buff--Puk.


Lalu Yasmin kembali merekam, dan melihat buku Kirana tengah di bakar habis oleh korek api gas yang dibawa Edel.


Deg!


Edel menjatuhkan buku Kirana yang terbakar habis dan hampir menjadi abu. Aku menutup mulut saat melihat Edel menunggu buku saingannya lenyap dimakan api.


Kamudian setelah habis jadi abu, Edel menoleh ke sana ke mari, menggesek-gesekkan kakinya ke tanah agar terkumpul pasir agar menjadi gundukan. Lalu ia dorong gundukan asir itu ke arah bekas bakaran demi menutup abu buku Kirana dan menyamarkannya seolah buku itu tak pernah dibakar dan lenyap begitu saja.


Tlik.


Rekaman berhenti.


Aku terdiam saat rekaman itu berhenti dengan beberapa kerjapan mata. Sebenarnya apa yang baru saja dilakukan Edel?


Ingatanku berkata sesuatu, "Talk less, do more."


BERSAMBUNG ....