I Have No Mouth

I Have No Mouth
Mengenal Edel, Chika, Tirta dan Gina



Ceklek.


Semua mata penghuni lab komputer pun sontak mengarah padaku yang baru masuk. Saking 'bodo amat' karena aku terlalu serius soal Edel, aku langsung menghampiri bangku kosong dan satu set pc yang tersedia di pojok dengan langkah cepat dan terkesan buru-buru.


Aku pun mencari 'Edel' di internet.


Apa yang paling mungkin terjadi pada sahabatku itu?


Yang jelas ada yang aneh dengan dirinya selain sumpahannya manjur. Kalian tak lupa kan bagaimana kondisi Toro saat terakhir kali ia disumpahi Edel?


Apa yang akan kudapatkan sekarang?


•••


Aku sudah pulang, ke rumah gadis yang sedang kuselidiki permasalahannya. Aku bahkan belum menghubungi ibuku. Sekarang hanya fokus pada anak orang, dia sahabatku. Aku berjanji pada diriku sendiri, besok atau lusa, jika saja masalah ini tidak selesai, setidaknya aku bisa mengurai benang kusut, atau menemukan potongan-potongan puzzle agar bisa disusun oleh Ibunya Edel.


Ceklek—


Deg.


Langkahku terhenti. Kulihat sudah ada Kak Handa seorang di dalam kamarku, seketika jiwa siagaku menggebu-gebu. Aku kelelahan, kepalaku agak pening harus buru-buru dilampiaskan ke kardus berisi barang pribadi Edel itu. Namun, Om Ganteng itu sudah berdiri di ruangan yang sama denganku seolah hendak membuyarkan pikiranku dengan ketampanannya. Apa-apaan kakak-kakak ini?


"Kak Handa? Ng-ngapain di sini kak?" kataku di ambang pintu. Lalu aku menoleh ke luar, mengecek apakah Edel sudah pulang atau belum. "Kalo Edel tau kakak di sini, gimana?"


"Sepertinya saya ingat sesuatu soal Edel."


"Apa?" sahutku masih berdiri di lawang pintu.


"Soal teriakan, bola pingpong dan kaca, lampu hidup dan mati, dan keinginan bunuh diri. Edel mengalami hal—"


"Hal apa, Kak?" Aku jelas tak paham apa maksud dari ucapan ringkas Kak Handa. "Tolong, to the point saja."


Kak Handa mengambil kardus itu, aku pun masuk dan menutup pintu lalu menghampirinya, melepas tas ke kasur dan jongkok di seberang kardus dalam keadaan masih memakai baju sekolah. Demi apapun, dalam kondisi ini aku akan menghindari tatapan Kak Handa. Dia ganteng banget. Aku takut gagal fokus. Alhasil aku akan merundukkan pandanganku dan berusaha menganggap wajahnya biasa saja supaya aku tak membayangkan ekspresi wajahnya ketika hanya mendengar suaranya.


Tiga foto itu kembali di keluarkan dan disusun di depan kakiku. Ketiganya foto Edel, atau kembarannya, aku tak paham. Lalu Kak Handa mengeluarkan cermin kotak yang kacanya remuk dan nyaris pecah. Sebuah bola pingpong berlumuran lumpur cokelat kering. Sebuah senter yang tidak berfungsi, dan terakhir ia mengeluarkan sebuah tali tambang tebal yang biasa dipakai untuk ... apa? Kalau kuamati, tambang itu seperti yang sering dipakai di Film untuk adegan gantung diri.


Akhirnya aku bergeming. "I-ini semua ... apa, Kak?" Perasaanku campur aduk, otakku terus bergerak keras, ini barang milik Edel, kan?"


"Dia ini Chika." Kak Handa menunjuk sebuah foto Edel kecil yang manis dan imut dengan rambut kuncir dua, baju feminim dan bandana telinga kelinci berwarna merah muda.


"Kalau ini, Gina." Jari Kak Handa berpindah ke figura berisi Edel yang berpakaian dress mini putih polos, wajahnya pucat tanpa senyum, rambutnya terurai lurus begitu saja.


"Dan ini, Tirta." Figura terakhir menunjukkan foto Edel kecil berwajah songong dengan memakai pakaian tomboy dan topi hitam polos. Tangannya terlipat di bawah dada.


Aku mengernyit sambil menatap tiga figura itu. "Mereka ini kembaran Edel, kan? Apa hubungannya sama benda-benda di dalam kardus ini?"


"Yunita."


Aku sontak langsung menatapnya. "I-iya?" Refleks, woy, aku melanggar perjanjianku sendiri.


"Dengarkan saya baik-baik."


Aku mengangguk seperti terhipnotis.


"Edel adalah anak pertama dari empat saudara kembar. Tante Azalea melahirkan empat anak di hari yang sama, hanya selisih satu jam saja. Mereka adalah Edel, Chika, Gina dan Tirta. Tumbuh begitu sehat dan akur. Di usia mereka yang sama-sama lima tahun, Chika, Gina dan Tirta ... meninggal dunia."


Deg-deg ... deg-deg.


Telapak tanganku tiba-tiba mendingin dan basah.


"Penyebab kematian mereka bertiga masih misterius," lanjutnya memasang wajah datar, yang tetap tampan. "Tapi, Tante Azalea menemukan barang-barang terakhir di dekat jasad ketiga anaknya. Bola pingpong dan cermin itu, adalah benda yang berada di sisi tubuh Tirta, kembaran Edel berkepribadian paling tomboy, yang meninggal tanpa luka."


Glegek.


Anjay, aku baru saja memegang bola itu dan berkaca di remukan cerminnya! Astaga, untung saja tidak ada penampakan! Huft.


"Senter tak berfungsi ini, ditemukan menyala oleh Tante Azalea saat menemukan tubuh Chika yang terkapar tanpa luka dalam keadaan kamar tidurnya yang gelap. Padahal, Chika takut gelap."


Aku dibuat tak berkedip. Aku baru saja memegang benda sepeninggalan orang yang sudah wafat! Astaga!


Lalu Kak Handa memegang tali tambang tebal itu. "Dan Gina, meninggal dalam keadaan tergantung di atap bolong dengan tambang tebal ini."


Jleb.


"A-ah Kak Handa pasti bercanda, kan? Masa iya Gina—"


Aku mengangguk was-was. “Meninggal tanpa luka, bisa saja karena penyakit. Tapi untuk Tirta dan Chika, bisa saja meninggal tanpa perlu dilukai. Bisa disekap dengan bantal, seperti Chika yang meninggal di kamar dalam keadaan gelap. Masa iya yang takut gelap, tidur dalam gelap? Chika masih terlalu kecil untuk berusaha melawan rasa takutnya dengan gelap. Makin aneh rasanya, jika Gina bunuh diri. Gina tidak akan cukup sampai ke atap kamar hanya dengan bantuan bangku di atas meja. Ia pasti terlalu pendek, mengingat atapnya harus dibolongi dulu agar bisa mengikatkan tambang di balok loteng. Pasti ada yang ... sengaja menggantungnya di atas sana. Yang pasti dia ... adalah orang dewasa."


"Pikiran kamu lebih kritis dari saya. Tapi ada yang lebih penting dari itu," katanya membuatku terdiam. "Semenjak kematian tiga anaknya, Tante Azalea sedikit berbeda. Dia seperti terganggu jiwanya, sampai akhirnya ia dibuat lupa dengan tiga anaknya yang meninggal itu ... dengan cara mistis."


"Dibuat lupa? Maksud Kak Handa ... Tante Azalea dibawa ke dukun atau semacamnya agar lupa bahwa tiga anaknya itu sudah tiada … ah, bukan. Tante Azalea juga dibuat lupa telah memiliki empat anak, paranormal itu membuat Tante Azalea berpikir bahwa ia hanya melahirkan Edel, seumur hidupnya. Karena ini juga, suami Tante Azalea ... sengaja, tak pernah membawanya ziarah ke tiga makam anaknya, seperti yang seharusnya."


"Terus?"


"Teman saya yang 'bisa' pernah bilang, tiga arwah kembaran Edel itu ... tidak tenang. Mereka marah dan tidak terima atas kematian mereka. Apalagi sampai ibunya dibuat lupa dan tak pernah mendoakan mereka. Alhasil, seminggu setelah kematian Chika, Gina dan Tirta, Edel berubah menjadi labil. Temen saya bilang, mereka bertiga, bersemayam di satu tubuh yang sama dengan Edel ... agar bisa hidup bersama di satu rumah, satu tubuh, tanpa perlu membuat ibunya tahu kalau mereka bertiga sebenarnya ... masih ada dan tak akan ke mana-mana."


Deg!


Aku merinding sumpah.


"Terus, Kak?"


"Tak lama setelah itu, Ayah Edel yang merasa aneh dan gelisah dengan sikap Edel lantas langsung membawanya ke Psikolog. Kata psikolog itu, Edel mengalami kerusakan syaraf traumatis di otaknya setelah meninggalnya tiga saudara kembarnya, otaknya menerjemahkan bahwa mereka bertiga masih hidup karena saking tak menerima kenyataan bahwa tiga saudaranya sudah tiada. Walaupun psikolog itu tak bilang ini Alter Ego atau DID, tapi psikolog itu yakin bahwa yang dialami Edel ini bisa dijelaskan secara medis. Kecuali soal ... Edel yang 'Pahit Lidah'."


Hatiku menjerit. "AKU HARUS MEMPERCAYAI YANG MANA?!"


Jujur saja, internet yang kutelusuri di sekolah, menunjukkan gejala Edel itu (jika aku boleh mendiagnosa, sayangnya tidak) ia mengidap DID (Dissosiative Identity Syndrome). Dimana kepribadiannya terbelah secara ekstrim karena suatu kejadian traumatis. Tepat saat ini, aku baru tau kalau Edel punya trauma yang dimaksud. Namun di sisi lain, aku terusik dengan pernyataan temen Kak Handa yang katanya 'bisa', yang alasannya juga masuk akal.


Akhirnya aku bertanya pada Kak Handa. "Menurut Kak Handa, Edel itu kenapa? Kakak setuju dengan pemikiran yang mana?"


Ia menjawab, "Kalo saya, karena cukup dekat dengan Edel sejak kecil, melihat kejanggalan pada diri Edel yang sering diluar nalar, saya percaya kalau ... Edel dirasuki tiga arwah saudara kembarnya. Bagaimana kalau kamu?"


Aku terdiam. "A-aku harus mempercayai yang mana?"


Drrtt!


Ponselku bergetar, kuambil dan kubuka, takut penting. Ternyata ada pesan masuk dari Tante Azalea.


Kubaca dalam hati.


[Yunita, gimana? Gimana kondisi Edel?]


Aku mengerjapkan mata berkali-kali, lalu menatap Kak Handa yang masih berpikir, dan mendapatkan ide. "Kak, gimana ya caranya kita cepet usut ini? Maksudku, bahaya juga kalo misal Edel terus-terusan kaya gini. Aku ada ide."


"Ide apa?"


"Umm … gimana kalo besok, Kak Handa ajak temen kakak yang katanya 'bisa' itu ke rumah ini? Atau apapun, bahkan—"


"Saya paham,” kata Kak Handa seolah menyentil ginjalku. "Saya bakal hubungin Bi Saras, bibi kami, saya juga akan bawa teman saya ke sini. Kita akan melakukan pembersihan pada Edel—"


"A-apa? Maksud Kak Handa ... Exors—"


"Ya, itu," selanya, "kalau masih tak bisa juga, kita anggap semua ini jelas, sebab berarti Edel memang gangguan jiwa. Seperti yang dikatakan psikolog itu sebelumnya."


Aku tak setuju. "A-apa gak beresiko, kak? Pembersihan kan—"


"Bibi kami itu ... bisa dibilang cenayang. Cukup ahli."


Aku skak mat.


"Tante Azalea juga seharusnya gak bisa merepotkan kamu sejauh ini, Yunita. Hal-hal kaya gini mungkin akan ... aneh buat kamu. Mengingat ... objeknya Edel dan kisah tiga kembarannya yang belum terungkap."


Padahal aku sering mengalami kejadian mistis.


Pikirku.


Aku meluruskan. "J-jadi ... besok kita?"


"Ya, saya akan persiapkan semuanya. Kita amankan barang-barang ini. Tugas kamu itu cuma buat Edel jangan sampai curiga. Paham?"


Aku mengangguk setuju.


Dia mengulurkan tangannya ke arahku seperti hendak kenalan. “Mohon bantuannya."


Telapak tangan kami berjabat cepat.


“Demi Edel."


BERSAMBUNG ....