
•••
Tante Voya mengangkat panggilan masuk itu, "Halo?"
Hening.
"A-APA?! SUAMIMU KECELAKAAN?!"
Aku tercengang, Kak Ariana juga turut diam. Semuanya lantas bungkam dengan tenggorokan yang terasa keram. Sementara anak yang baru saja membocorkan kelakuan Ayahnya pada ketiga adiknya itu, masih tak sadarkan diri.
Apa yang akan terjadi setelah Edel sadar dan tahu berita soal Ayahnya yang kecelakaan? Sebuah kebetulan atau memang ulah makhluk tadi?
Apa pula yang akan dirasakan Edel setelah tahu sosok Ayah yang merupakan dalang dari kematian adiknya, ditemukan tewas duluan sebelum sempat meminta maaf padanya?
CRRRRSSSSS ...
Hujan pun menyerbu muka bumi dengan deras.
***
Esoknya.
Sejak kemarin hingga siang ini, Edel masih belum siuman. Di kamarnya, ia ditemani Kak Ariana. Hari ini aku jadi ikut izin tidak masuk sekolah sebagai bentuk belasungkawa atas meninggalnya Ayah Edel karena kecelakaan tragis yang bertepatan dengan ucapan makhluk yang masuk ke tubuh Edel. Namun aku tetap menjaga dan membantu siapapun untuk berpikir bahwa hal ini memang sudah waktunya, bukanlah karena siapapun dan apapun halnya. Apalagi celaka insiden basah itu membuat jasad Ayah Edel terkapar sudah tak berbentuk lagi, penguburan kemarin cukup membuat siapapun miris.
Sementara di ruang tamu terdapat Kak Handa, Kak Andra, dan Kak Axel duduk bersamaku yang masih menenangkan Tante Azalea. Wanita ini menangisi suaminya, ia masih belum ingat soal ketiga anaknya, dan hanya Tante Voya yang bisa membuatnya ingat kembali. Cenayang berliontin itu akan kembali setelah selesai dengan suatu urusan. Tante Azalea memangku tisu sambil menangis dan bercerita terkait sikap dan tingkah mendiang suaminya yang agak aneh, padahal memang aneh dan ia juga dalam kondisi lupa soal berapa jumlah anaknya sendiri.
"Sebenernya, hiks ... Saya sadar, suami saya tidak sama lagi sejak Edel berusia enam tahun. Srrk--hiks. Dia ... jadi sering marah, takut dan frustasi, entah ada atau tanpa sebabnya. Jarang pulang, sangat sering saya pergoki dalam keadaan melamun tak karuan. Ekonomi kami memang agak surut waktu itu, jadi perasaan saya campur aduk. Antara bingung dan juga merasa sulit karena kondisi. Entah kenapa, atau memang karena suami saya, Ayahnya Edel, berubah atau apa. Tapi saya sadar, ada yang salah sama dia. Dan saya merasa sangat kehilangan. Sekarang saya merasa sangat menyesal karena sempat mengabaikannya, dan kembali peduli hanya untuk mencium jenazahnya."
Deg.
Mataku langsung perih, dong. Tidak ada perempuan yang tidak tersentuh dengan sesamanya yang menangis, bersuara dan meluapkan isi hatinya meski dijeda isakan. Aku hanya menahan tangis sembari menggenggam satu tangan Tante Azalea dan tak bisa berkomentar. Sedangkan aku melihat Kak Andra dan Kak Axel hanya merunduk, kecuali Kak Handa yang beberapa kali kupergoki tengah memperhatikanku dengan wajahnya yang sulit ditebak.
Ceklek.
"Azalea."
Kami menoleh ke arah pintu utama dan melihat Tante Voya yang berjalan menghampiri kami dan menaruh sebuah kotak kayu ukuran 30x30 senti bersampul kulit terkunci. "Kamu ikut saya, sebentar. Andra dan Axel juga ikut." Lanjut wanita paruh baya itu dengan wajah seriusnya menatap Tante Azalea. Lalu menatapku, "Nak, kamu pahami isi kotak itu bersama Handa. Lalu beritahu pada Edelweiss. Sebab itu kotak pribadi milik Ayahnya."
Aku reflek mengangguk, "Baik, Tante."
Setelah melempar pamit lewat mata, kini hanya sisa aku dan Kak Handa. Om ganteng ini pindah dan duduk di sisiku benci situasi begini, ketika hanya berdua dan berbagi fokus dengannya. Rasanya aku ingin kabur terbirit-birit mengingat kemarin dibuat bersandar padanya karena ulah Chika.
Kak Handa mengambil kotak itu, meraba setiap sisinya lalu mencabut sebuah kunci dan membuka gembok mininya.
Tug.
Saat dibuka, ia mengeluarkan sebuah ponsel bertombol era cukup jadul. Lalu aku juga mengambil tiga foto Chika, Tirta dan Gina dalam kondisi terakhir mereka ditemukan di TKP. Apa bapak ini gila? Ia memotret dan mencetak foto kondisi terakhir anaknya? Sungguh gila. Kami berdua hanya sekilas melempar tatap tanpa bicara.
Terakhir di dalam kotak itu, terdapat sebuah tape-shield berisi kaset atau CD yang agak berdebu luarnya.
Suara langkah kaki terdengar di anak tangga, "Handa! Edel sudah sadar!" kata Kak Ariana kembali naik ke atas. Kami pun ikut membawa kotak itu ke kamar Edel.
Ceklek..
Edel tengah melamun dengan matanya yang sembab. Kak Ariana berdiri di sisiku, "Aku sudah beritahu Edel soal Ayahnya, dia menangis, tapi wajahnya nampak benci."
Kak Handa membalas, "Yun, bagaimana kalau isi kotak ini langsung kita dengar bareng sama Edel juga?"
"Apa nggak apa-apa, Kak?" tanyaku khawatir. Aku pun menaiki kasur dan duduk di sisi Edel yang membuang wajahnya masih duduk bersandar pada bantal dengan selimut yang membalut hingga pinggangnya. "Edel?"
Dia menoleh ke arahku dengan wajah yang cukup bengkak dan memerah karena menangis, menjawab dengan nada tersinggung padaku, "Kenapa? Kamu nggak sekolah hah? Ngapain kamu di sini?"
Deg!
Dadaku tentu langsung sesak dan mataku berair. Kak Handa pun menyodorkan kotak itu ke arahku, aku meraihnya dan mempersiapkan kata-kata untuk sahabatku yang satu ini agar tak salah bicara. "M-maaf kalau aku ganggu kamu. Tapi sebelum aku pergi ...," aku merasa ada batu yang menyumbat tenggorokanku, "A-aku mau kasih tau dulu soal pemberian ini sama kamu ... Ini barang punya Ayah kamu." dengan rasa ingin menangis, aku letakkan kotak itu di pangkuan kaki Edel dan merasa tak diperlukan dan tak berguna lagi di sini.
Aku turun dari kasur sambil menahan air mata--
Tlik.
Langkahku terhenti.
Kudengar suara rekaman itu diputar,
Dengan nada lelaki paruh baya yang bergetar hebat dan penuh sesak. "Te-ter-teruntuk keempat anakku tersayang ... Edelweiss, Chika, Tirta dan Gina."
Deg!
Aku pun kembali berbalik menatap Edel yang tangannya gemetar memegang ponsel jadul itu dengan volume full. Telapak tanganku lembab. Tubuhku jadi ikut gemetar, seisi perasaanku sontak ketar-ketir saat mendengar suara sosok yang meninggal baru kemarin.
"S-saya Broto [nama samaran], mungkin kamu yang dengar ini, entah keempat peri kecil Ayah ... atau bidadari hidupku, Azalea. Ayah mungkin sudah ada di liang lahat sekarang. A-aku ini sosok Ayah yang tidak berguna. Ayah selalu bilang ... ayah mampu untuk keempat anak cantikku, sebenarnya aku ayah sellau takut melakukan hal yang salah. Ayah sangat takut akan mengecewakan kalian. Ayah juga takut tidak lagi dipanggil Pahlawan oleh kalian. Ayah takut, nak ... hiks."
Deg!
Edel menutup mulutnya, dan menangis di baliknya.
"A-ayah selalu berharap, bisa melihat kalian tumbuh dewasa dengan cantik. Mengingatkan kalian pada hal tabu soal laki-laki agar tak dapat sosok yang salah, seperti Ayah. Sebab, Ayah ... hiks--A-ayah--akan menghantar kalian ke syurga duluan sebelum lihat siapa Ayah yang sebenarnya."
Deg!
Air mataku menetes. Wajahku terasa panas dan dadaku terasa terbakar. Kak Handa menoleh ke arahku dengan tatapan tak menyangka.
"A-ayah ... ingat waktu ulang tahun kalian yang ke-ke-ke-5. Kalian memperebutkan Jaket milih Ayah sebagai hadiah. Te-tepat satu minggu sebelum rencana bejat itu terjadi. Yang perlu kamu tau, Azalea. Bisnisku bangkrut, tapi aku selalu mengaku itu baik-baik saja. Sampai ke titik aku benar-benar tidak punya uang dan bayang-bayang ketakutan wajah peri-peri kecil-ku yang nantinya akan kelaparan! Aku tidak mau Edel dan adik-adiknya kurang jajan! Aku tak mau mereka tahu Ayahnya tidak mampu! Aku ingin memberi apapun yang terbaik untuk anak-anak perempuanku! ... meski aku mencoba bertahan, aku melampiaskan ke rumah teman dan memutuskan tak mau mendengar dan melihat anak-anak cantik itu bermanja denganku yang tak bisa menahan perasaan hancur dan tak mampu."
Wajah Edel kembali basah dan isakannya terdengar.
"Salah Ayah ... salah Ayah, nak. Ayah menikahi ibumu saat kesiapan diri Ayah belum sepenuhnya. Ayah terlalu egois karena merasa selalu mampu. Ibumu masih sangat muda untuk menjalani lima tahun usia kalian dengan tingkah tak dewasa Ayah. A-ayah sudah merasa akan tinggal di neraka selamanya. Kalian, janin-janin kecil dari darah dagingku, kalian tak minta lahirkan, dan juga tak minta dibunuh oleh Ayah! Melihat kalian tertawa dan manja, melihat istri bahagia, juga melihat nantinya kalian akan dewasa dan punya rumah tangga, sekarang tak pantas untuk Ayah sepertiku."
Hening.
"A-akhir kata, A-ayah minta maaf ... sungguh minta maaf. Ketika tubuh Ayah telah tertimbun tanah, tolong maafkan dan doakan Ayah. Api neraka rasanya tidak akan cukup membayar dosa membunuh tiga anak kandung. Ayah sadar diri soal itu. Ayah harap, Edel, anak gadis yang Ayah paling sayangi, ... bisa tumbuh menjadi gadis yang Ayah harapkan. Ayah menyisakan Edel untuk Mama. Salam, dari Ayah yang membunuh tiga adikmu karena takut tidak bisa menafkahi kalian. Kalau kalian tanya siapa manusia paling bodoh di dunia ini, jawabannya adalah Ayah. Ayah ... sangat mencintai kalian, Azalea. Dan Edelweissha, jangan lupa jenguk Chika, Tirta dan Gina, ya? Salamkan Ayah pada mereka bertiga. Untuk kalian, dari Ayah yang penuh dosa."
Tut.
Wajahku sudah basah karena air mata.
Edel menjambak rambutnya, menatapku, "Yun--hiks. K-kamu mau anter aku ke makam Chika, nggak?"
Aku reflek mengangguk tanpa suara.
Edel turun dari kasur dengan tergesa dibantu Kak Ariana, sementara tubuhku digiring Kak Handa segera keluar dari ruangan dan dituntun menuju mobilnya. Lalu kami pun pergi ke pemakaman ketiga adiknya dalam keadaan aku yang tak bisa bicara karena terlalu sesak, aku ingin pulang. Juga Edel yang terus mengipas wajahnya di kursi belakang bersama Kak Ariana yang mendekapnya.
Kami sampai di pemakaman.
Saru-saru dari posisiku keluar dari mobil, kudengar suara tangisan pecah Tante Azalea langsung menggema seluas pemakaman umum. Ia memeluk dan mencengkeram secara bergantian tiga kayu nisan. Ditemani Tante Voya yang berdiri bersama seorang Polisi.
Dreg!
"Edel!" seru Handa melihat Edel berlari ke arah ibunya.
Handa sejenak melirikku, aku memalingkan muka.
Kak Handa pergi dari hadapanku tanpa bicara, sebenarnya aku tak enak karena reflek membuang wajah dari tatapnya. Karena Kak Ariana yang bilang, aku jadi menurut saja, biar aku punya jarak dengan Kak Handa.
Saat kami tinggal berdua, bersandar di badan mobil sambil memperhatikan ibu dan anak yang menangis pada tiga makam, kurasa memang Kak Ariana hendak mengatakan sesuatu padaku. Namun ia masih menahannya.
"Saya senang kamu dekat dengan Handa."
Deg!
Ya tuhan cobaan apa lagi, ini. Jantungku butuh istirahat. Aku menoleh ke arahnya, "A-aku sama Kak Handa gak ada--"
"Saya hapal tatapan Handa ketika dia masih mencintai saya. Dan sekarang saya melihat itu mengarah sama kamu. Saya gak marah, gak juga punya hak lagi. Tapi jujur, saya sangat cemburu. Rasa sesal saya kembali ada, sekarang."
Aku menjawab, "A-aku nggak bakal berpikir ke sana soal Kak Handa, Kak. Aku kenal cuma sebatas tahu dia itu sepupu Edel. Udah, gak lebih, maaf soal itu, karena aku gak tau kalau Kakak ini pernah sama Kak Handa."
"Pokoknya saya senang Handa sayang sama kamu."
Aku tak bisa menjawab apa-apa lagi. Namun terbesit kalimat ini, "Aku di sini cuma buat Edel, Kak. Ketika Edel membaik, aku juga gak akan usik siapapun lagi. Aku cuma pemeran pendamping. Bukan siapa-siapa. Aku juga gak bakal selamamya ada di sekitar Edel, apalagi Kak Handa. Jadi, Kak Ariana gak perlu cemburu."
Wanita itu menghembuskan napas marah namun malu.
•••
Esoknya.
Aku tengah membereskan bajuku. Aku akan pulang, hal yang sangat ingin kulakukan sekarang. Mengingat kamar ini punya Chika, aku jadi ingat bahwa kisah ini tak akan kulupa. Edel mengurung dirinya sejak kemarin pulang dari makam. Aku ditahan Kak Handa dan Tante Azalea untuk tidak pulang setidaknya sampai hari sudah pagi.
Drrrtt!
Kuangkat panggilan dari ibuku, "Halo, Ma?"
"Teteh kapan pulang? Betah amat di situ ...,"
"Ini mau pulang kok, Mah. Kenapa?"
"Ini ... hari ini kita harus pergi ke Indramayu. Habis itu langsung ke Sukabumi. Kita berangkat malam ini. Cepet pulang, ya. Biar bisa bantu Mama, ya?"
"Iya, Mah. Teteh pulang, secepatnya."
"Oke, sip deh."
Panggilan berakhir, kupercepat gerakanku dengan pikiran, ada apa tiba-tiba pergi ke Indramayu lalu pulang kampung?
Tok-tok-tok.
Aku menoleh ke arah pintu,
Ceklek.
Kulihat Edel datang dengan pakaian yang sama dengan kemarin. Wajahnya kusam, namun tak lagi terlihat muram. Mendatangiku dengan mengaitkan tangan di depan tubuh, lalu duduk di sisiku dengan pipi merona. "Yun,"
Aku menjawab, "Ya? Gimana, Del? Kamu ... udah baikan?"
Dia memegang tanganku, aku menoleh ke arahnya. Matanya berbinar, "Mulai besok, aku mau berubah demi kamu, Mama, Adik-adik, dan ... Ayah."
Hatiku kembali perih.
Aku mengangguk, "Ya, tugas kamu cuma menjaga lisan kamu. Kamu tau kamu bisa buat orang celaka karena sumpahanmu. Makanya kamu harus bicara yang baik-baik aja sama orang lain. Yang sewajarnya aja kalo marah, baku hantam lebih baik," kataku spontan.
Dia tersenyum, "Manusia memang seharusnya bicara yang baik-baik saja kan untuk orang lain?"
Aku terdiam.
"Gak peduli sumpahanmu manjur apa ngga, ucapan adalah senjata dan pelindung bagi siapapun. Tak perlu aku, kamu juga pasti didengar Tuhan ucapannya. Aku banyak belajar dari kamu. Kamu udah sabar banget hadapin aku. Dan jadi saksi kematian Toro. Itu udah dosa besarku sendiri."
Aku menghela napas. "Aku dukung kamu, Del. Baik-baik ya, di sini. Sekolah yang bener. Kamu harus bisa berbaur, kalo gak bisa berbaur, buat lingkaran kamu sendiri. Selalu lah jadi pihak yang baik. Kamu pasti bisa. Kalau kamu gak bisa menyakiti orang dengan tangan, jangan juga sakiti mereka dengan kata-kata. Tegur saja mereka supaya sadar sama ucapan mereka. Satu kalimat bisa merubah segalanya loh."
Ia mengangguk, "Lusa ... kita main, yuk?"
Aku jadi sendu, "Yaah... aku mau pergi sama keluarga. Ada urusan mendadak. Nanti aku kabarin deh kalau sudah sampai. Lagipula kamu masih dalam suasana--"
"Aku udah ikhlas, Yun. Gak perlu ada dukacita lagi. Mama juga gak mau sedih lagi. Aku juga harus lebih kuat dari itu."
Aku tersenyum lebar, "Pinter."
Lalu Edel tersenyum agak mengerikan, "Yun, aku sumpahin-"
"Wo-wo-woi," sergahku, "Sumpahin itu yang baik-baik aja."
"Aku sumpahin ... kita tetep sahabatan sampai kapanpun."
Aku nyengir, "Nah, gitu dong. Itu namanya doa."
Grep.
Edel memelukku dari samping, "Baru mau ajak kamu seneng-seneng, eh kamunya udah mau pergi aja. Terima kasih banyak ya, buat segala hal. Aku udah merasa utuh dan bisa kendaliin emosi, sekarang. Aku udah gak cape lagi. Dan ... udah merasa bisa hidup. Edel sayang Yunita ...,"
"Love you too." sahutku lalu tertawa kecil.
Tok-tok-tok.
Edel melepas peluknya dan kami menoleh ke arah pintu, Kak Handa berdiri di sana, "Lah? Kamu ... mau ke mana, Yun--"
"Dia mau pulang, Kak. Mau ada urusan keluarga." jelas Edel.
Kak Handa nampak berwajah sedih, suaranya melembut dari yang sebelumnya, "Ya ... udah, oke. Saya antar. Gak terima penolakan, saya tunggu di depan, ya?"
Aku mengangguk dan senyum, lalu ia pergi.
Edel bilang, "Nanti, kalo aku punya pacar, aku kabarin kamu."
DEG!
Apa-apaan? Sangat cepat sekali Edel berubah dari kondisi psikis yang sebelumnya. Apa mungkin karena jiwanya sudah tinggal satu-satunya? Aku tak tahu.
Yang jelas, aku senang. Sangat senang.
Dan curiga soal keperluan mendadak ini.
TAMAT.
Note : Cerita ini diambil dari kisah nyata, di tulis oleh salah satu author grup Cerbung Horror Indonesia 'Yunita Putri'.
Sudah resmi mendapatkan ijin untuk di publish di noveltoon. Kreadibilitas sepenuhnya milik penulis asli.
To be continue, cerbung baru berjudul 'Dia Bunuh Diri'. Sebuah kisah nyata yang bukan hanya seram, tapi juga penuh dengan persoalan kehidupan yang akan membuat siapa saja yang membacanya ... akan lebih mensyukuri hidup.